You Make Me Crazy

You Make Me Crazy
Ch. 65


__ADS_3

Memang benar apa kata orang. Rindu itu berat dan menyiksa. Menyiksa jiwa-jiwa yang sepi.


Sama halnya dengan Kai dan Dara. Yang membendung rindu setelah bertahun-tahun lamanya terpisah karena keadaan dan kesalahpahaman. Hingga rindu itu pun terasa amat menyiksa.


Rindu yang terbendung hingga bertahun-tahun lamanya itu kini membawa langkah Kai dan Dara, dengan hati berdebar-debar memasuki sebuah kamar hotel yang tak jauh dari area pantai.


Klek


Kai mengunci pintu terburu-buru. Cepat diraihnya pinggang ramping Dara ke dalam rangkulan begitu pintu terkunci.


Dengan rakusnya Kai mulai menciumi Dara. Rindu yang telah lama terpendam membuat hasrat yang bergejolak itu kian menggebu-gebu.


Begitu rakusnya Kai mencumbu, hingga Dara kewalahan mengimbangi. Alhasil, Dara dibuat hampir tak bisa bernapas.


"Kai ..." desah Dara disela napas yang memburu kala Kai mulai menurunkan kecupan menyusuri sepanjang garis leher.


"Hm ..." Kai tak peduli Dara kewalahan. Ia terus saja mencumbu. Menghirup aroma memabukkan wanitanya.


Tah bisa menahan lagi, Kai lantas mengangkat tubuh Dara ala bridal. Membawanya, membaringkannya di tempat tidur.


Membuka kancing dengan tak sabaran. Kai bahkan hampir saja mencabik paksa kemeja Dara. Saking tak bisa menahan lagi.


"Kai ..." desah Dara lagi dan lagi begitu Kai kembali mendaratkan kecupan. Memagut bibir Dara rakus, mencerup semakin dalam. Berusaha membawa Dara mengikuti permainannya.


Dara pun berusaha mengimbangi. Meski kadang ia dibuat kewalahan, lantaran Kai terlalu bersemangat. Alhasil Dara hanya bisa pasrah. Membiarkan Kai merealisasikan rindu yang membuatnya kian menggebu.


Dara tak bisa membohongi diri sendiri, masih ada cinta untuk Kai. Walau kadang ego masih menguasai.


Dara kian terbuai, terbawa arus permainan Kai. Yang semula rakus, kini mulai lembut. Mendaratkan kembali kecupan di sepanjang leher, tulang selangka, sampai terhenti dan bermain-main sejenak di bagian dada. Membuat Dara menggelinjang tak tentu. Sementara jemari kekar Kai, berkelana menyusuri setiap lekuk tubuh sehalus sutera.


Kai terlalu pandai membuatnya terhanyut. Kai terlalu ahli membawanya terbang melayang. Menikmati sejuta rasa yang menggetarkan jiwa. Membuat ia jatuh sedalam-dalamnya pada pesona pria itu.


"Oh Kai ..." Dara tak menolak begitu Kai mulai menyatukan diri. Memberinya rasa yang telah lama ia rindukan.


"Dara, i miss you so much (Dara, aku sangat merindukanmu)" ucap Kai lirih disela desah nikmat kala berpacu.


"I am sorry (maafkan aku)."


"What for (untuk apa)?"


"Leave you and make you suffer (meninggalkan kamu dan bikin kamu menderita)."


"Aku sudah melupakan semua itu."


"Ah Kai ..." desah Dara tak kuasa menahan nikmat kala hentakan Kai yang semula lembut kini semakin menggebu. Beringas menyerangnya bertubi-tubi. Ia jambak kuat rambut lebat Kai.


Kai tak peduli. Ekspresi Dara justru membuatnya bersemangat, semakin terbakar api gairah. Kai semakin mempercepat hentakan, membawa wanitanya merasakan sejuta kenikmatan.


Lima tahun tak bertemu membuat Dara dan Kai seakan tak ingin terpisahkan lagi. Cinta itu kembali tumbuh dan bersemi. Sama seperti lima tahun lalu. Tak ada yang berubah. Rasa itu masih tetap sama.


Dara yang tergila-gila kepada Kai, begitupun sebaliknya. Membuat keduanya tak peduli keadaan. Rindu sudah kepalang membuncah. Hingga realisasi pun tak cukup hanya sekali.


"Oh Dara ..." desah Kai nikmat kala puncak asmara di raih entah untuk yang ke berapa kalinya.


Dara masih mengatur napas, saat Kai menjatuhkan diri di sampingnya.


Dengan napas masih memburu lantaran kelelahan, Kai meraih pinggang Dara. Menariknya lebih merapat. Lengannya pun ikut melingkari pinggang itu begitu eratnya. Satu kecupan hangat menyusul, berlabuh di kening Dara. Disertai bisikan sensual di telinganya,

__ADS_1


"I love you so much, Dear (aku sangat mencintaimu, sayang)," bisik Kai, lalu mempererat pelukan.


"I love you too (aku juga mencintaimu)."


"Dara, please (aku mohon), berjanjilah, kamu nggak akan pernah meninggalkan aku lagi. Apapun yang terjadi, kamu akan tetap di sisiku."


Dara mendongak, menatap wajah Kai yang nyaris tanpa jarak. Dikecupnya bibir Kai, berkali-kali.


"Aku janji," ucap Dara mantap. Meski ada bimbang di hati.


Entah mengapa, bayang wajah Riko melintasi benaknya tiba-tiba. Mungkinkah ada rasa bersalah di hati Dara saat ini?


Riko adalah pria yang baik. Yang tanpa sengaja terbawa ke dalam situasi ini. Dara hanya tak ingin membuat Riko kecewa. Walau bagaimanpun, semua ini salahnya. Ia sendiri yang memilih ikut bersama pria itu. Tidak seharusnya ia menyakiti pria yang sudah banyak membantunya.


"Satu lagi yang aku mau dari kamu."


"Apa?"


"Pertemukan aku dengan anak kita."


Dara terdiam detik itu juga.


Bagaimana?


Bagaimana caranya ia mempertemukan Kai dengan Ken?


Bagaimana jika Ken menolak?


"Soal itu aku nggak janji. Aku nggak bisa maksa kalau Ken nya nggak mau," sahut Dara ragu. Ragu jika Ken mau menuruti permintaannya untuk menemui seseorang yang belum pernah Ken temui sebelumnya.


"Menikahlah denganku. Ikutlah bersamaku. Kita bangun keluarga kecil kita. Aku yakin, lambat laun, Ken bisa menerimaku sebagai ayah kandungnya."


"Tolong, beri aku waktu. Semuanya nggak akan semudah itu. Banyak hal yang harus aku pikirkan."


"Kamu nggak sendiri. Ada aku yang akan selalu menemanimu. Kita berjuang sama-sama."


Dara mengulum senyum. Yang mendapat balasan satu kecupan hangat Kai di keningnya.


"Oh ya, siapa yang memberinya nama? Kamu?" tanya Kai kemudian.


Dara tertawa kecil. "Kenapa? Jelek ya?"


"Enggak. Namanya bagus kok. Ken. Hampir mirip dengan namaku."


"Sengaja. Karena aku berharap, suatu hari nanti, jika kalian bertemu tanpa sengaja, kamu bisa mengenali putra kita. Oh ya, kamu mau lihat foto-fotonya?"


"Mau banget dong."


Dara bangun dari posisinya, lalu turun dari tempat tidur. Lantas memungut kembali pakaian yang berserakan di lantai kamar hotel itu.


"Setelah aku mandi aja ya? Nggak nyaman soalnya, badanku lengket semua," ucap Dara berlalu ke kamar mandi.


Kai tersenyum-senyum memandangi Dara sampai menghilang di balik pintu kamar mandi yang menutup.


"Dara, aku janji, mulai sekarang aku nggak akan pernah menyakitimu lagi," lirih Kai berjanji.


.

__ADS_1


.


Sementara itu di lain tempat.


Jam yang menggantung di dinding rumah menunjukkan pukul sepuluh malam.


Sesekali melirik gelisah ke arah pintu. Menunggu seseorang yang hingga malam selarut ini belum jua menampakkan batang hidungnya.


Riko kemudian bangun dari duduknya, berjalan ke arah pintu begitu mendengar suara mobil berhenti.


Dara datang dengan wajah sumringah. Tersenyum-senyum sendiri entah apa sebabnya.


"Dara, kenapa baru pulang jam segini?" tanya Riko sembari melirik arloji di pergelangan kirinya.


Langkah kaki Dara terhenti tepat di hadapan Riko. Ia salah tingkah, bingung harus menjawab apa. Mana mungkin ia jujur secepat ini. Ia bahkan belum menyiapkan mental untuk berterus terang.


Dara pulang bukan naik taksi. Ia pulang diantar Kai sampai depan pagar rumah.


"Emm ... Anu ... Tadi di kampus mendadak ada rapat lagi. Jadi aku ..." Kalimat Dara terputus lantaran cepat Riko menyela.


"Rapat di kampus sampai selarut ini?" Riko mulai menelisik tajam. Entah mengapa, mendadak hati didera gelisah tak menentu.


"I...iya." Dara meringis. Baru kali ini ia berbohong pada Riko. Hingga ia tak tahu harus berkata apa.


"Padahal aku tadi sempat mampir ke kampus. Dan kamu nggak ada di kampus. Handphone kamu juga kamu matiin. Coba periksa, sudah berapa banyak pesan yang aku kirim?" Riko mulai tampak kesal. Sebab perilaku yang Dara tunjukkan kali ini, tak biasanya.


Dara merogoh tas nya, mengambil ponsel dan mulai memeriksa.


Memang benar, ada puluhan chat dari Riko yang memang sengaja ia abaikan. Jangankan membalas, membacanya pun tidak.


"Ma...maaf." Hanya kata itu yang sanggup Dara ucapkan.


Riko menghela napas panjang, menghembuskannya perlahan. Gelagat Dara kali ini sungguh membuatnya gelisah.


"Ya sudah. Ayo masuk."


Dengan perasaan bersalah Dara membawa langkahnya masuk. Namun langkah itu harus terhenti saat pandangannya tertumbuk pada sosok wanita paruh baya yang sedang duduk di sofa ruang tamu.


"Mama?" seru Dara tak percaya.


Mama Maya menyunggingkan senyum manisnya. Seraya bangun dari duduknya.


"Dara?" seru Mama Maya sumringah.


Dara hendak menghampiri sang Mama saat sosok lain tiba-tiba datang menghampiri.


"Mommy?" seru Ken yang berada dalam gendongan seorang pria paruh baya. Bukan ayahnya melainkan Dokter Rudi. Sementara Papa Yuda berdiri di samping Dokter Rudi. Menyunggingkan senyum ke arahnya.


"Mommy, Ken senang ada Kakek Dokter di sini," seru Ken antusias.


TBC


🤧Maafkan othor baru bisa up sekarang, saking sibuknya di real life. Tapi semoga bab ini masih aman di bulan puasa ya? Gak bikin puasa kalian batal kan reader ☺️


Salam Hangat


Otor Kawe

__ADS_1


__ADS_2