
Ucapan Riko yang begitu menohok semakin menyudutkan Dara. Perkara ia telah mengkhianati Riko tak terbantahkan. Ia yang masih saja plin-plan, tak tegas dalam mengambil keputusan. Sifatnya yang satu itu kini malah membawanya pada permasalahan yang kian pelik.
Tidak akan mungkin ia bisa membujuk Riko untuk membatalkan pernikahan mereka.
Terlalu mendadak baginya rencana kedua orang tuanya. Akan tetapi ia bisa berbuat apa? Bahkan saat Riko meminta ijin untuknya kepada Dekan pun ia tak bisa berbuat apa-apa.
Dekan mengijinkan. Tentu saja dengan alasan tertentu yang dibuat Riko. Hingga esok hari, sampai tiba jadwal keberangkatan mereka pun ia masih saja tak tahu harus berbuat apa.
Ia hanya bisa diam seribu bahasa. Namun hati menjerit-jerit pilu. Berharap Kai berhasil menemui dan meyakinkan orang tuanya. Agar sekiranya mau membatalkan rencana konyol mereka. Yang tentu saja akan menyeret sang putri ke dalam kubangan derita yang berkepanjangan.
Di lain kota.
Susah payah, dengan tekad bulat, ia mengumpulkan keberanian menemui orang tua Dara. Namun hasilnya tak seperti yang ia harapkan. Sungguh diluar ekspektasinya.
Persiapan pernikahan Dara dan Riko telah rampung. Hanya tinggal menunggu kedatangan kedua calon pengantin. Kesemua itu telah disiapkan oleh keluarga dari pihak calon mempelai pria.
Orang tua Dara pun tidak bisa berbuat banyak. Mereka sudah terlanjur menyetujui. Mereka pun tak ingin reputasi dan nama baik keluarga dipertaruhkan.
"Sudah terlambat," ucap Papa Yuda saat Kai datang menemuinya.
Kai bahkan tak sempat dipersilahkan memasuki rumah. Ia hanya berdiri di depan pintu rumah yang terbuka lebar dengan Papa Yuda berdiri di ambang pintu rumah itu.
"Pernikahannya besok. Sebentar lagi Dara tiba. Maaf, saya nggak bisa berbuat apa-apa. Seluruh persiapan pernikahannya sudah disiapkan oleh keluarga mempelai pria. Jadi kami nggak bisa berbuat apa-apa," terang Papa Yuda dengan wajah datar. Tidak ada ekspresi penyesalan di wajah itu. Jika ada penyesalan pun, ia menyesal membiarkan putrinya bergaul dengan pria seperti Kai.
"Tapi, Om. Apa Om tega melihat Dara menderita? Dara nggak akan bahagia dengan pernikahan itu, Om. Dan lagi, saya dan Dara sudah punya Ken. Apa Om tega Ken tumbuh dengan kasih sayang orang lain, sementara saya sebagai ayah kandungnya masih ada. Dan masih sanggup memberinya kasih sayang yang berlimpah."
"Sekali lagi maaf. Saya nggak bisa mempertaruhkan reputasi dan nama baik keluarga saya begitu saja. Bukan hanya itu, hubungan saya dengan Dokter Rudi juga akan turut terkena imbasnya."
"Tolong pertimbangkan sekali lagi. Saya mohon dengan sangat. Tolong bantu saya, Om. Saya ingin menikahi Dara. Kami masih saling mencintai. Saya dan Dara sudah kembali bersama. Jadi, tolong restui kami."
Memang benar apa kata Dara. Papa Yuda memang susah untuk ditaklukkan. Sebesar apapun usaha Kai merebut kembali hari pria paruh baya itu, tetap saja tidak membuahkan hasil.
Papa Yuda tetap bersikukuh ingin menjaga nama baik keluarganya serta hubungan kekerabatan dengan Dokter Rudi, ayah Riko.
__ADS_1
Seribu macam alasan yang Kai berikan pun, sedikitpun tidak dapat mempengaruhi pemikirannya. Bahkan tidak dapat merubah keputusannya.
Alhasil, Kai ditinggalkan berdiri di depan pintu rumah yang menutup. Sementara Papa Yuda telah mengurung diri di dalam kamarnya. Tak ia pedulikan lagi Kai yang masih menunggu kerendahan hatinya untuk mengubah keputusannya demi masa depan putri dan cucunya.
Tak ingin menyerah begitu saja, biarkan kali ini bersikap sedikit tidak sopan. Berulang kali ia mengetuk pintu rumah itu. Berulang kali pula ia menekan bel pintu rumah itu. Berharap penghuni rumah itu sedikit berbelas kasih terhadapnya. Sebab yang sedang ia perjuangkan saat ini adalah masa depan putri mereka.
"Om, Tante, tolong dengarkan saya dulu!" seru Kai meminta. Sembari terus mengetuk pintu rumah itu.
Mama Maya yang merasa terganggu dengan suara ketukan pintu berulang dan suara bel pintu yang memekakkan telinga, bermaksud hendak membukakan pintu. Tetapi langkahnya terhenti lantaran Papa Yuda mencegahnya.
Papa Yuda menyembulkan kepalanya dari balik daun pintu kamarnya.
"Mah, nggak usah dibukain pintu. Biarkan saja dia di situ seperti orang gila," ujar Papa Yuda.
"Tapi, Pah. Berisik banget ini. Mama cuma mau nyuruh dia pulang aja."
"Udah, nggak usah. Biarkan saja. Nanti Papa minta tolong Pak RT untuk mengusir dia dari sini. Ayo Mah, masuk. Nggak usah pedulikan anak itu."
"Udah, nggak usah. Biarkan saja. Apa Mama mau hubungan kita dengan keluarga Dokter Rudi memburuk? Mama lupa ya Dokter Rudi berjasa pada Papa saat Dara mencelakai keluarga Arsenio? Udah, nggak usah peduliin dia." Memang susah menaklukkan ayah yang satu ini.
"Tapi, Pah. Gimana kalau dia menuntut kita atas kecelakaan yang menimpa keluarganya."
"Nggak akan terjadi. Hal itu sudah berlalu."
"Tapi..."
"Ngga ada tapi-tapian lagi. Ayo masuk. Mama mau pernikahannya batal nanti?" ucapnya dengan nada setengah mengancam.
Akhirnya Mama Maya hanya bisa pasrah. Menuruti perintah suaminya, masuk ke dalam kamar. Dan tak mempedulikan Kai yang masih saja mengetuk-ngetuk pintu rumahnya.
Setelah hampir satu jam lamanya menunggu belas kasih dari penghuni rumah, seseorang akhirnya datang menemui Kai. Bukan penghuni rumah itu, melainkan tetangga.
"Maaf ya Nak. Saya RT di lingkungan ini. Saya hanya di minta Pak Yuda untuk memberitahu bahwa kedatangan Anda sangat mengganggu penghuni rumah. Jadi saya sebagai RT di sini, memohon dengan sangat agar Anda segera meninggalkan tempat ini," ujar Pak RT dengan tutur bahasa yang sopan namun tegas.
__ADS_1
Kai tidak ingin menambah runyam masalah. Karenanya ia hanya bisa pasrah. Menuruti perintah Pak RT.
"Baiklah. Tolong sampaikan maaf saya kepada beliau. Sampaikan juga, bahwa saya akan kembali lagi sampai mereka mau merubah keputusannya." Kai masih belum mau menyerah sebelum janur kuning melengkung esok hari nanti. Ia yakin dan percaya, usaha tidak akan mengkhianati hasil. Jargon yang sering didengungkan oleh banyak orang itu berharap juga terjadi kepadanya.
Kai lantas memutuskan kembali ke rumahnya sembari memikirkan bagaimana caranya agar pernikahan Dara dan Riko esok hari tidak akan terjadi. Meski sebenarnya sudah tidak mungkin lagi.
"Aku nggak tau apa caraku ini sudah benar atau salah. Tapi hanya ini yang bisa aku lakukan. Sebagai seorang pria, aku sadar seharusnya nggak melakukan hal memalukan seperti ini. Tapi, mau bagaimana lagi. Karena hanya kamu yang bisa membatalkan pernikahan itu," ujar Kai kala itu. Saat ia menemui Riko di rumah sakit tempatnya bekerja. Sebelum ia bertolak ke bandara beberapa waktu lalu.
"Apa kamu mau aku mempertaruhkan nama baik keluargaku? Kamu tentu nggak tau siapa keluargaku. Sorry, aku nggak bisa," balas Riko datar.
"Ayolah, kawan. Kamu sendiri tau, Dara nggak mencintai kamu. Apa kamu tega ingin membuat hidupnya menderita? Kamu sendiri tau seperti apa rasanya hidup bersama orang yang nggak mencintai kita. Apa kamu tega membuat Dara berada dalam posisi itu?"
"Soal cinta itu urusan kedua. Cinta itu bisa tumbuh seiring waktu karena kebersamaan. Aku percaya, suatu hari Dara bisa mencintaiku dan menerimaku sebagai suaminya."
Kai terkekeh sembari menggeleng.
"Apa waktu lima tahun nggak cukup membuktikan perasaan Dara selama ini terhadapmu? Ayolah, nggak usah munafik. Nggak usah membohongi diri sendiri. Dara nggak mencintai kamu. Aku nggak akan melarang Ken jika dia ingin bertemu kamu. Apa nggak bisa kamu melepaskan Dara demi kebahagiaannya? Kalau kamu ikhlas, hubungan kita bisa menjadi teman."
Riko terdiam. Ia tidak memberi respon lebih selain diam seribu bahasa. Tidak menanggapi lagi setiap ucapan Kai.
Kai menghembuskan napas panjang saat mengingat kembali obrolannya dengan Riko. Mau bagaimana lagi, terpaksa ia menemui Riko saat itu sebelum bertolak ke bandara. Karena hanya Riko yang bisa membatalkan pernikahan itu. Meskipun sebenarnya nama baik keluarga Riko pun akan dipertaruhkan.
Namun hanya itu satu-satu nya cara. Jika Riko saja bersikukuh ingin menikahi Dara, lalu apa lagi yang bisa ia lakukan?
Haruskah ia membuat keributan dalam acara pernikahan itu?
Ataukah ia temui saja keluarga Riko?
Senekat itukah ia saat ini?
Tetapi apa pun akan ia lakukan demi cinta.
TBC
__ADS_1