You Make Me Crazy

You Make Me Crazy
Ch. 52


__ADS_3

Dara tidak menolak. Ia menurut saja. Ia biarkan Riko menggenggam jemarinya, hingga membuat Kai kesal. Menatapnya penuh amarah.


"Jadilah Anna. Hadapi, bukan menghindar," bisik Riko, setelah melepas genggamannya. Saat menghampiri papa mamanya Dara.


Sedikit banyak, meski baru mengenal Dara, tetapi dari situasi yang ada, ia sudah bisa memahami.


Bisikan Riko setidaknya sedikit memberinya kekuatan. Setidaknya kuat menahan amarah yang perlahan mulai merasuk.


Mungkin lantaran cemburu, atau mungkin bermaksud membalas, Dara meraih kembali jemari Riko. Menggenggamnya erat, seakan jemari itu memberinya kekuatan lebih.


Riko pun tidak melarang. Ia biarkan Dara menggenggam erat jemarinya. Ia bahkan membalas genggaman Dara sama eratnya. Seakan tengah memberi Dara kekuatan.


Kai masih memperhatikan. Meski ia bungkam, bukan berarti ia membiarkan Dara mempermainkannya seperti ini. Meski tak sepatah kata pun ia menanggapi, bukan berarti ia tak cemburu.


Hanya saja, situasi dan kondisi saat ini memang tidak memungkinkan.


"Kai, ayo kita pulang," ajak Joanna menarik lengan Kai.


Menyadari situasi tak mendukung, Kai hanya bisa menuruti ajakan Joanna. Sama seperti Dara, ia biarkan saja Joanna menggamit lengannya. Berjalan bersama menuju mobil yang terparkir.


Setengah mati Dara menahan geram menyaksikan pemandangan itu. Ingin rasanya ia mencakar dan mencabik-cabik tubuh Joanna, sampai wanita menjengkelkan itu tak bisa dikenali lagi.


Astaga.


Sampai seperti itu pikiran Dara, saking cemburunya.


"Dara ... Kamu apa-apaan sih. Lepas dong tangannya," bisik Mama Maya sembari melirik tangannya yang menggenggam tangan Riko.


"Ups!" Dara menarik segera tangannya. Melepas genggaman yang saling bertaut itu sembari meringis malu.


"Maaf ya Dok," ucap Dara malu-malu. Malu karena memanfaatkan keadaan.


Riko mengulas senyumnya. Ia tahu Dara memang sengaja melakukannya untuk membuat pacarnya cemburu.


"Nggak dilepas juga nggak apa-apa," canda Riko.


"Ya sudah, ayo kita pulang. Dara harus istirahat di rumah," ajak Papa Yuda.


"Oh ya, Dok. Saya ucapkan terima kasih banyak atas pertolongannya pada putri kami. Saya nggak tau harus membalasnya dengan apa. Saya hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk Dokter Riko. Kalau begitu, kami permisi dulu. Tolong sampaikan salam saya untuk Dokter Rudi," tambahnya. Kemudian mengambil langkah lebih dulu.


"Ayo, Mah, Dara," ajaknya.


"Ayo, Dara. Dok, makasih banyak ya? Kami permisi dulu. Maaf sudah merepotkan Dokter," imbuh Mama Maya.


Riko menyunggingkan senyumnya. "Sama-sama Bu."


Mama Maya menyusul langkah suaminya yang sudah jauh di depan.


Dara hendak mengayunkan langkah, saat ia mengingat, kata terima kasih saja tak cukup untuk membalas kebaikan Riko. Bahkan jika diucapkan beribu-ribu kali pun.


"Makasih ya Dok. Maaf, aku banyak merepotkan Dokter," ucap Dara santun. Tak ketus seperti biasanya.


"Sama-sama. Aku hanya menjalankan kewajiban sebagai dokter. Aku akan tetap membantu, siapapun itu jika memang membutuhkan bantuan. Oh ya ..." Riko celingukan mencari-cari sesuatu.

__ADS_1


"Sus, tunggu sebentar." Riko menghentikan seorang suster yang sedang lewat.


"Bisa minta kertas selembar," pintanya.


Suster itu pun memberinya selembar kertas.


"Makasih, sus," ucapnya sebelum suster itu berlalu.


Riko mengambil pena yang terselip di kantong snelinya. Lalu mulai menuliskan sederet angka di kertas itu. Yang kemudian ia sodorkan ke tangan Dara.


"Hubungi aku jika membutuhkan bantuan. Aku selalu siap membantu," ucapnya lagi.


Dara menerimanya dengan senang hati. Meski sejujurnya tak ingin menyusahkan pria itu lagi.


"Cara menghubunginya gimana? Handphone aku aja rusak," kelakar Dara dengan wajah setengah cemberut.


"Mau aku belikan yang baru?"


"Oh, enggak, enggak. Aku nggak bermaksud seperti itu." Dara jadi salah tingkah. Padahal ia hanya bercanda. Tetapi Riko malah tak sungkan-sungkan menawarkan. Sungguh pria itu, benar-benar membuatnya jadi tak enak hati.


Entah hati pria itu terbuat dari apa. Kenapa bisa sampai sebaik itu.


Dan Riko, pria itu malah tersenyum memandangi Dara yang justru terlihat menggemaskan saat kebingungan dan salah tingkah.


"Oh ya, aku permisi dulu. Nggak enak membuat Mama dan Papa menunggu," pamit Dara.


"Silahkan."


.


.


Dalam perjalanan pulang, keadaan hening sejak beranjak dari tempat parkir.


Baik Kai maupun Joanna masih diam membisu. Kai memusatkan perhatian pada jalanan di depannya. Sedangkan Joanna sesekali melirik Kai sembari mengelus puncak kepala Ziyo dalam pangkuannya.


Beberapa menit berlalu, hening masih menguasai. Hanya suara celotehan Ziyo yang sesekali terdengar mengisi heningnya suasana.


Pikiran Kai masih senantiasa berkelana antara Ziyo dan Dara. Ia frustasi memikirkan keputusan apa yang hendak diambilnya.


Sebab jujur saja, baik itu Ziyo maupun Dara, ia tak ingin kehilangan kedua-duanya. Namun juga tak menampik, ada aral melintang yang harus ia lewati untuk meraih cintanya.


"Kai ..." panggil Joanna pelan. Sembari melirik Kai yang tampak tak terusik.


Kai tak menggubris Joanna. Sebab pikirannya masih dikuasai Dara. Terlebih jika memikirkan tingkah Daru baru-baru ini. Membuat hatinya memanas.


Kai juga seorang pria. Yang sudah pasti marah dan cemburu saat melihat gadisnya menggenggam tangan pria lain.


"Kai, sebenarnya aku ingin kasih tau ini sama kamu sejak kemarin," ucap Joanna demi mengalihkan perhatian Kai. Joanna tahu, Kai saat ini sedang memikirkan Dara.


Kai masih tak menggubris. Menoleh pun enggan.


"Aku ingin memberikan kamu kesempatan untuk memulai kembali hubungan kita. Aku sadar, Ziyo juga butuh orang tua yang lengkap. Dia butuh kasih sayang seorang ayah. Apalagi kamu adalah ayah kandungnya," sambungnya.

__ADS_1


"Maksud kamu apa?" Kai pun terusik akhirnya. Ia hanya tak ingin Joanna salah menilai sikapnya. Yang tampak seolah memberi lampu hijau akan hubungan mereka.


"Aku tau, kamu masih mencintaiku."


"Nggak usah ngawur. Ngomong yang serius."


Joanna mengepal kuat jemarinya. Ada sakit yang tiba-tiba menusuk dasar hati. Belum pernah Kai mengabaikannya seperti ini. Dari kalimatnya, sangat jelas terlihat, Kai sudah tak peduli lagi padanya.


"Aku pengen kita membuka lembaran baru."


"Nggak akan semudah itu, Jo. Keadaan nggak lagi sama." Kai masih tak menoleh, walau hanya sejenak. Wajah yang dulu sering dirindukannya, yang dulu sering memenuhi benaknya, kini seakan ia tak ingi melihatnya lagi. Meski kini ada Ziyo, yang bisa saja menjembatani hubungannya kembali dengan Joanna.


"Aku tau, gadis itu hanya kamu jadikan pelarian saja. Aku tau kamu nggak serius."


"Jangan asal ngomong. Dara itu berbeda."


"Berbeda bukan berarti kamu berhak mempermainkan dia. Kamu harus tegas, sebelum dia makin salah paham."


"Kamu ini ngomong apa sih? Yang salah paham itu kamu. Siapa bilang aku nggak serius? Siapa bilang aku cuma mempermainkan dia?" Kai menoleh sejenak disertai kekesalan.


"Are you crazy (apa kamu gila)?" sambungnya tak tahan lagi dengan sikap Joanna yang tak punya pendirian.


"Nggak, aku nggak gila. Kamu yang udah mulai gila. Apa kamu sadar, kamu punya Ziyo sekarang. Yang harus kamu prioritaskan." Joanna tampak mulai emosi. Semakin berapi-api lantaran cemburu.


"Maksud kamu apa sih? Aku juga mikirin Ziyo."


"Tapi dari yang aku lihat, kayaknya enggak tuh. Kamu lebih mikirin gadis itu sekarang. Gadis kecil yang nggak tau apa-apa soal kamu," kesal Joanna terbawa susana hati yang tengah cemburu.


"Kenapa kamu jadi sewot begini? Bukannya kamu sendiri yang sering menolak aku ajak balikan?"


"Dulu, sekarang enggak lagi."


"Whatever (terserah)."


Joanna menghela napas sejenak sebelum mengutarakan maksud dan tujuan yang sebenarnya. Jujur, ia kesal melihat tingkah Kai sekarang ini. Yang sudah banyak berubah sejak mengenal Dara.


"Kai ..."


"Jo, please. Ada Ziyo. Nggak seharusnya kita berantem." Kai masih memusatkan perhatian pada jalanan di depannya. Sampai tiba-tiba ia harus menghentikan laju mobilnya seketika. Saat Joanna semakin ngawur dengan omongannya.


"Aku mau kita menikah secepatnya," tembak Joanna tanpa basa-basi lagi. Ia tentu melakukan ini demi Ziyo.


"What?" Kai bahkan terkejut buka kepalang.


Sementara di lain arah jalan pulang.


Ckiiiiiiiit ...


"Apa?"


Suara ban mobil yang direm mendadak itu terdengar memekakkan telinga. Beriringan dengan suara pekikan Mama Maya yang terkejut luar biasa saat mendengar pengakuan Dara atas hubungannya dengan Kai yang telah terlanjur melangkah jauh.


TBC

__ADS_1


__ADS_2