You Make Me Crazy

You Make Me Crazy
Ch. 59


__ADS_3

"Apa sih mau kamu?" sentak Dara.


"Kasih tau aku, dimana anakku?"


Dara pun terdiam detik itu juga. Dara benar-benar tidak ingin Kai bertemu dengan Ken. Apalagi kalau sampai Kai tiba-tiba ingin merebut Ken darinya. Dara sungguh tak ingin hal itu terjadi padanya.


Dara menarik sudut bibirnya, menatap remeh Kai yang masih menatapnya sayu.


"Anak kamu bilang? Apa wanita yang mengalami keguguran itu masih bisa melahirkan?" kilah Dara agar Kai berhenti bertanya perihal anaknya.


"Apa? Keguguran?" Kai sangat terkejut mendengarnya.


"Dara, kamu jangan bohongin aku. Dimana anakku?" tanya Kai sekali lagi. Sungguh kabar ini membuatnya hancur seketika. Air mata yang sedari tadi membendung di pelupuk mata itu pun akhirnya tumpah. Berderai membasahi pipi.


Dara menggeleng. Tak peduli meski Kai menangis. Bergegas ia mengayunkan langkah kaki secepat mungkin meninggalkan Kai. Namun lagi-lagi, Kai berhasil menyusul langkahnya.


Kai menarik pergelangan tangan Dara sekali lagi. Membawanya ke mobilnya yang terparkir. Kai tak peduli meski Dara meronta sekuat tenaga ingin melepaskan diri. Dengan kuat pula Kai menggenggam pergelangan tangan Dara. Tak ingin wanita itu terlepas darinya.


Lama tidak bertemu, membuat rindu itu kian membuncah. Sampai mencuat ingin tercurahkan.


Masih dengan satu tangan menggenggam pergelangan Dara, Kai membuka pintu mobil. Di dorongnya kuat Dara, mendesaknya naik. Kali ini Kai layaknya seorang penculik. Menculik wanita yang sudah berhasil menyiksa batinnya lima tahun lamanya.


Bergegas Kai mengitari sisi mobil. Bergegas pula ia naik di kursi kemudi. Kemudian menghidupkan mesin mobil dan memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi meninggalkan parkiran kampus.


"Kamu udah gila ya? Turunin aku nggak?" sentak Dara memelototi Kai.


"Nggak," balas Kai menyentak Dara.


"Stop. Hentikan mobilnya, kalau nggak aku bakalan loncat," ancam Dara untuk menakuti Kai.


Kai tetap saja tak peduli. Ia malah semakin memacu mobilnya demi sampai ke tempat tujuan lebih cepat.


"Katakan, di mana alamat kamu?" tanya Kai.


"Alamat apanya? Apa yang mau kamu lakukan? Hah?"


"Aku yakin, anakku ada di rumah kamu sekarang."


"Kamu gila. Anak yang mana? Kamu dengar nggak sih? Aku keguguran. Kalaupun sekarang aku punya anak, itu bukan anak kamu. Aku ini sudah menikah."


Ckiiiiit ...


Kai menghentikan mobilnya di bahu jalan. Bunyi decitan ban yang bergesekan dengan aspal merupakan tanda betapa Kai terkejut mendengar penuturan Dara.


Kai berusaha mengatur deru napasnya yang mulai memburu. Lalu menoleh, menatap sendu Dara dengan mata mulai berkaca-kaca. Namun pada akhirnya, Kai tak bisa membendungnya lagi.


"Jadi benar kamu sudah menikah? Dengan siapa? Dokter itu?" Bergetar bibir Kai bertanya. Rasa sakit itu mendadak terasa pedih menusuk sampai ke jantung. Hingga serasa jantung itu berhenti berdetak seketika.

__ADS_1


"Kamu udah nggak mencintaiku lagi?" tanya Kai disela isak tangisnya.


Dara pun terhenyak. Baru kali ini ia melihat Kai dalam keadaan hancur. Jujur, Dara sesungguhnya tak tega. Bahkan ia jatuh iba mendengar isak tangis Kai yang terdengar pilu menyayat hati.


"Maafkan aku," ucap Dara lirih sembari memalingkan muka. Tak ingin pendiriannya runtuh dalam sekejap.


"Dia adalah pria yang baik. Aku nggak tega menolak kebaikannya. Dia juga pria yang sangat lembut," tambahnya.


"Apa kamu mencintainya?"


Dara diam sejenak. Ia tak langsung menjawab pertanyaan Kai. Hingga menimbulkan berbagai asumsi dalam benak Kai.


"Jangan bohongi hati kamu. Aku tau, kamu masih mencintaiku." Kai menyusut hidung. Lalu menyeka air matanya.


"Dara ..." panggilnya lirih.


Tetapi Dara enggan menoleh. Entah kenapa, begitu susahnya melawan ego. Meski ia ingin, meski sejujurnya rindu itu ada, tapi Dara bersikeras menampik semuanya. Karena luka yang terlanjur membekas hingga kini.


"Dara, please look at me (Dara, tolong tatap aku)," pinta Kai.


Dari masih saja tak mau memalingkan muka. Ia malah mengalihkan pandangan ke luar jendela. Hingga Kai pun membawa jemarinya menyentuh wajah Dara. Membawanya perlahan bertatap muka. Saling menatap dalam.


"I still loving you very much. Please give me one more chance (aku masih sangat mencintai kamu. Tolong kasih aku kesempatan sekali lagi)," ucapnya sepenuh hati.


"Terlambat. Semuanya sudah terlambat."


Dara menggeleng pelan. "Kenapa? Kenapa baru sekarang kamu minta maaf?" Air mata yang telah mengering itu pun pada akhirnya kembali berlinang. Karena sakit yang ia rasakan.


Kai pun membawa jemarinya menghapus air mata itu. Meski air matanya sendiri tak ada yang sudi membasuhnya.


"Aku minta maaf sudah menyakiti kamu," ucap Kai sekali lagi.


"Bolehkah kita mulai semuanya dari awal lagi?" pintanya menatap sendu.


"Kamu ini tuli ya, aku sudah menikah."


"Tinggalkan suami kamu. Dan kembalilah padaku."


"You are crazy (kamu gila)."


"And you're the one who's driving me crazy (dan kamu yang sudah membuatku gila)."


"Kamu..." Dara tak bisa menuntaskan kalimatnya lantaran Kai memagut bibirnya tiba-tiba. Kai semakin terbawa perasaan yang coba ia curahkan saat ini.


Lama ia merindukan bibir manis nan menggoda itu. Lama ia merindukan memadu kasih dengan satu-satunya wanita yang mengisi hatinya.


Kai semakin memagut dalam. Berusaha membawa Dara dalam buai sentuhan lembutnya. Dara yang pun tak memungkiri ada rindu di hati untuk pria itu, hanya bisa memejamkan mata. Menikmati setiap sentuhan lembut bibir Kai. Ia biarkan saja Kai bermain-main di bibirnya.

__ADS_1


Sampai tiba-tiba, ciuman lembut itu harus berakhir karena suara dering ponsel Kai yang terdengar nyaring hampir memekakkan telinga.


"Astaga. Siapa sih? Mengganggu saja," umpat Kai sembari mengambil ponsel dari dalam saku celana bahannya.


Layar ponsel yang menyala terang itu menampilkan satu nama yang menyulut kekecewaan Dara kembali.


Joanna


Ya


Nama itu tertera jelas di layar ponsel Kai. Membuat amarah Dara kembali tersulut. Mungkin benar dugaannya selama ini. Bahwa Kai sudah menikahi Joanna.


Tak ingin termakan bujuk rayu Kai lagi, Dara pun bergegas keluar dan membanting pintu mobil kuat. Membuat Kai tersentak kaget.


"Dara," panggil Kai sembari bergegas turun dari mobil. Panggilan Joanna ia tolak. Bahkan Kai menonaktifkan ponselnya. Agar Joanna tak bisa menghubunginya lagi.


"Dara tunggu. Jangan salah paham dulu. Dara please."


Dara tak peduli meskipun Kai berteriak kencang. Ia memilih menyetop taksi buru-buru. Taksi itu pun melaju meninggalkan Kai yang berusaha mengejarnya.


Kai pun tak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa mendesah frustasi. Sungguh Dara sudah membuatnya gila. Lima tahun berusaha mencari keberadaannya. Saat bertemu pun hanya sebentar saja. Rindunya bahkan masih setinggi langit.


Setengah mati ia menahan rindu selama lima tahun. Namun Dara sama sekali tak memahaminya.


"Dara, akan aku pastikan. Kamu akan kembali padaku lagi. Aku nggak peduli meski harus merebut kamu dari suami sah mu." Kai bertekad kuat ingin mendapatkan kembali cintanya.


.


.


Dalam taksi yang ditumpanginya, Dara mengirim pesan pada salah satu mahasiswa bahwa ia tidak dapat mengisi materi hari ini.


Dara sungguh kesal. Ternyata Kai masih sama seperti dulu.


"Dasar pembohong. Kami pikir kamu bisa memperdayaku lagi? Jangan harap aku kembali sama kamu," umpat Dara saking kesalnya.


"Ke mana, Bu?" tanya supir taksi sembari melirik dari balik kaca spion.


"Ke rumah sakit Sinar Kasih Pak."


"Baik, Bu."


Sebelum taksi yang ditumpanginya sampai. Terlebih dulu Dara mengirim pesan kepada Riko. Yang malah dibalas Riko dengan ajakan makan malam.


Senyum manis itu pun tercetak jelas di bibirnya. Entah kenapa, meski cinta itu tak ada, namun hadirnya Riko mampu membuat hatinya merasa tenang.


Wanita mana yang tidak akan jatuh hati dengan pria tampan yang satu itu. Sejujurnya, Dara tak memungkiri, Riko pantas untuk dicintai.

__ADS_1


TBC


__ADS_2