You Make Me Crazy

You Make Me Crazy
Ch. 16


__ADS_3

"Jo ... Can i be honest with you (boleh aku jujur sama kamu)?" Tanya Kai.


"What about (tentang apa)?"


"I miss you (aku rindu kamu)." Ucap Kai dengan tatapan semakin dalam.


Joanna tertegun mendengar kalimat itu. Sudah lama, sejak hubungan mereka berakhir, kalimat itu tak pernah ia dengar lagi dari mulut Kai.


Joanna sadar, sejak ia memutuskan menikahi Revan, kakak kandung Kai. Secara langsung ia telah menyakiti Kai. Yang tak tahu menahu alasan sebenarnya ia memilih Revan.


"Maaf jika aku lancang." Ucap Kai.


"Kai ... Maaf. Aku pikir kamu_"


"No (nggak)." Kai menggeleng pelan.


"Aku masih belum bisa melupakan mu." Tambahnya.


Joanna terdiam. Sambil menatap Kai dalam. Detik berikutnya, matanya tampak mulai berkaca-kaca. Namun Joanna berusaha agar cairan bening itu tak luruh dari sudut matanya.


"Kai. Diantara kita tuh udah nggak ada apa-apa lagi. Nggak seharusnya kamu mengatakan hal itu."


"Aku tau. Maaf udah bikin kamu nggak nyaman."


Suasana pun hening sejenak. Hanya suara helaan napas yang terdengar. Hanya tatapan keduanya yang seakan saling berbicara.


Kai tak memungkiri perasaannya yang masih tersisa untuk Joanna. Sedangkan Joanna, tak ingin memberi harapan palsu. Kai punya masa depan. Kai pantas mendapatkan yang lebih baik darinya.


Joanna hanya tak ingin menjadi penghambat Kai meraih apa yang diinginkannya. Joanna tak ingin merusak masa depan Kai. Yang diyakini orang tuanya akan jauh bersinar tanpa hadirnya ia di dalam hidup Kai. Salah satu alasan kenapa Joanna memilih menjauhi Kai.


.


.


Hari yang cerah bagi Dara. Secerah rona wajahnya yang tampak berseri-seri pagi ini.


Sambil bernyanyi-nyanyi, Dara mencatut diri di depan cermin. Berdandan sesuai seperti saran Kai. Rapi, cantik, menarik, namun tetap santun.


Seperti kata Kai, seorang wanita tidak harus tampil seksi agar terlihat menarik. Hanya dengan berpakaian sederhana saja, seorang wanita sudah terlihat cantik. Jika dibarengi oleh sikap dan tutur kata yang santun.

__ADS_1


Tidak harus berparas cantik, tidak harus menampakkan keindahan raga. Kecantikan seorang wanita senantiasa terpancar dari sifat dan akhlak nya, budi bahasanya, serta kelembutan hatinya.


"Jadi selera mu seperti ini ya Pak Kaivan yang terhormat." Gumam Dara sambil tersenyum-senyum sendiri. Memandangi pantulan dirinya di depan cermin. Yang tampil tak biasa hari ini.


Untuk memberi kesan formal, Dara memilih mengenakan blazer. Serta celana panjang berbahan kain untuk melengkapi penampilannya. Tidak seperti kemarin, hari ini Dara memilih flat shoes untuk menghindari tampilan yang kata Kai SEKSI.


Dara tersenyum-senyum sendiri dengan hati yang semakin berbunga-bunga kala mengingat kata itu.


"Kamu tau aja Pak Kaivan, kalau aku ini emang seksi." Gumam Dara memuji dirinya sendiri. Dengan senyum yang kian terkembang sambil memandangi pantulan dirinya di cermin.


Hari ini Dara hanya punya satu jam mata kuliah. Setelahnya ia tak punya kegiatan apa pun lagi.


Di kelas yang berbeda, dengan karakter mahasiswa yang berbeda pula, Dara sedikit bisa menanganinya.


Benar apa kata Kai. Dengan ia tampil santun, tak ada lagi kejadian seperti kemarin di kelas. Ia bisa sedikit tenang menyampaikan materinya. Bahkan selesai dengan aman dan sentosa. Sungguh membuat Dara semakin menyukai Kai.


Setelah menyelesaikan tugasnya, Dara pun memutuskan menemui Yola di kafe Black Butterfly. Karena hanya Yola yang bisa ia temui meski di jam kerjanya. Sementara Ditha, begitu sulit bertemu dengannya. Kecuali di jam makan siangnya.


Dara mengambil duduk di tempat tempo hari ia duduk bersama Kai. Ia duduk tenang menunggu Yola membawakan pesanannya. Yang sudah ia pesan beberapa saat lalu via pesan chat.


Kedatangan Dara ke kafe bukan tanpa alasan. Pemilik kafe adalah sahabat Kai. Ia hanya berharap bisa bertemu Kai di tempat ini, alih-alih sekedar untuk makan siang.


"Thank's ya Yol." Ucap Dara menyunggingkan senyumnya.


"Kok tumben sih nggak bilang-bilang dulu." Tambahnya sembari mengambil duduk di depan Dara.


"Nggak sempat. Aku kan lagi nyetir." Kilah Dara. Yang sebetulnya ia tak ingin Yola mengetahui alasannya datang adalah karena Kai. Siapa tahu saja ia bisa bertemu Kai di tempat ini.


"Hari ini kamu beda Dar. Lagi kesambet kamu ya?" Celetuk Yola sambil menelisik penampilan Dara dari ujung kakinya hingga ke ujung kepala. Yola sampai harus mengintip di bawah meja demi mengamati penampilan Dara yang tampak berbeda hari ini.


Dara yang diamati Yola dengan tatapan aneh pun jadi salah tingkah.


"Lagi liatin apaan sih kamu Yol. Emang tampang ku mirip pencuri ya? Enak aja ngatain aku kesambet." Ketus Dara kesal. Sembari memperbaiki posisi duduknya dengan berpangku kaki. Sesekali tak apalah ia tampil bak wanita anggun nan elegan.


"Kayaknya ini bukan kamu deh Dar. Lagi kehabisan baju ya? Kok tampilannya kayak gini. Mana nih, Dara yang seksi, Dara yang sok imut padahal mah amit-amit segudang."


"Sialan kamu. Sahabat sendiri malah diledekin. Awas nanti nggak laku-laku kamu dan jadi perawan tua, baru tau rasa kamu." Umpat Dara semakin kesal.


Yola cekikikan hingga tubuhnya berguncang mendengar umpatan Dara yang baginya hanya candaan. Yola dan Dara memang terkadang saling mengumpat bahkan saling meledek. Tetapi persahabatan mereka tetap terjalin erat. Dan sudah seperti saudara sendiri.

__ADS_1


"Abisnya kamu mirip Betty Lavea sih." Celoteh Yola sambil tertawa-tawa.


"Jadi maksud kamu aku cupu, gitu? Sialan kamu. Nggak ada sopan nya sama sahabat sendiri."


"Kenapa juga kamu tampil kayak gitu. Kamu seperti bukan Dara yang aku kenal. Dara yang selalu tampil up to date meski budget minim. Kemana tuh Dara ku yang seksi aduhai."


"Aku tuh baru aja selesai ngajar tau nggak. Ya, masa aku tampil di depan kelas dengan penampilan yang seksi. Yang ada entar aku malah digodain."


"Tinggal pake jurus andalan kamu aja gampang kan? Jurus sodok biji. Ha ha ha ..." Yola malah tergelak mengingat Dara yang sudah terlalu sering di goda pria mesum. Dan justru dihadiahi Dara jurus andalannya.


"Astaga. Tuh mulut di filter dikit napa sih. Nanti kedengaran malu tau." Sewot Dara kian kesal.


"Sorry, sorry. Gitu aja sewot. Canda kali Beb."


Dara memasang wajah cemberutnya mendengar candaan Yola.


"Ya udah, aku tinggal dulu. Di belakang banyak kerjaan. Nikmati aja hidangan spesial kamu ini." Ucap Yola lalu beranjak dari duduknya. Dan bergegas ke pantry kafe.


Pucuk di cinta ulam pun tiba. Usaha Dara ternyata tidak sia-sia. Seorang pria yang ia nantikan sejak tadi baru saja memasuki kafe.


Kai memindai seisi kafe. Mencari-cari tempat kosong yang bisa ia duduki. Sampai pandangannya terhenti pada seorang wanita yang duduk seorang diri dan tengah menikmati santap siangnya dengan tenang.


Kai pun lantas membawa langkahnya menghampiri wanita itu.


"Boleh nggak aku duduk di sini?" Tanya Kai. Membuat Dara tersentak. Cepat Dara mendongak. Sebab suara yang terdengar menyapa sudah sangat tak asing lagi di telinganya.


"Kai?"


Kai menyunggingkan senyum manisnya. Yang dibalas Dara dengan senyum yang tak kalah manisnya.


"Tempatnya kosong kan?" Tanya Kai sekali lagi.


Dara mengangguk cepat. "Iya, kosong. Sama seperti hati ku. Kosong." Sahut Dara tanpa sadar.


"Apa?" Kai mengernyit mendengar sahutan Dara yang terdengar aneh.


Dara pun terhenyak, dan baru menyadari ucapannya.


"Ups! Kepeleset lidah nya." Gumam Dara malu.

__ADS_1


TBC


__ADS_2