You Make Me Crazy

You Make Me Crazy
Ch. 6


__ADS_3

Di kafe Black Butterfly. Tampak seorang pria berparas rupawan, dengan tampilan formal, tengah melangkah panjang memasuki kafe.


Pria itu, Kaivan, menyapukan pandangannya ke sekeliling ruangan. Mencari-cari sosok yang dikenalnya.


Yola yang kebetulan dititipkan pesan oleh Bos nya, agar melayani temannya yang akan datang, mengamati Kaivan. Dari gelagat Kai, Yola menebak- nebak, kemungkinan Kai adalah teman Bos nya yang dimaksud. Yola pun bergegas menghampiri.


"Maaf ... Apa anda temannya Pak Beno?" Tanya Yola.


Kai menoleh, menatap Yola. Lalu mengangguk pelan.


"Iya. Saya teman Beno." Jawab Kai.


"Gila, cakep banget. Chris Evans." Gumam Yola membatin, mengagumi ketampanan Kai. Yang baginya mirip aktor Chris Evans, si Kapten Amerika.


"Saya sudah ada janji dengan Beno." Ujar Kai menyadarkan Yola.


"Oh, i_iya. Pak Beno kebetulan sudah memberitahu saya. Mari, silahkan. Saya antar ke meja." Ajak Yola sopan dengan mengambil langkah lebih dulu.


Kai mengambil duduk di meja yang sudah disediakan Yola sejak tadi. Meja di pojokan ruangan, dekat dengan jendela besar. Dengan view jalanan yang tampak ramai.


"Mau minum apa?" Tanya Yola dengan tatapan mata berbinar.


Kai menoleh sejenak. Melempar senyum tipisnya, hingga membuat Yola seakan melayang melihat senyum yang begitu menawan hati.


"Oh my god ... So handsome." Yola kembali membatin kagum.


"Bawakan saja dua cangkir kopi kemari." Ujar Beno tiba-tiba datang dari arah belakang Yola. Hingga Yola tersentak. Lalu mendadak salah tingkah. Lantaran Beno sempat melihatnya berbinar-binar menatap Kai.


"Yola, tunggu apa lagi? Kopi nya, segera." Titah Beno.


"Ba_baik Pak. Kopi nya segera datang." Yola pun bergegas ke belakang.


Tak butuh waktu lama bagi Yola menyiapkan dua cangkir kopi. Bergegas ia bawa dua cangkir kopi itu pada Beno dan Kai. Dengan hati-hati ia menaruh kopi itu di depan pemiliknya masing-masing. Sambil sepasang matanya sesekali melirik Kai yang tampak tenang memandang ke luar jendela.


"Yola ..." Panggil Beno saat melihat Yola seakan enggan meninggalkan mereka.


"Iya, Pak. Ada lagi yang bisa saya bantu?" Yola malah tak menyadari kalau pekerjaannya menyiapkan kopi telah selesai.


"Silahkan kembali bekerja." Titah Beno tegas.


Yola meringis. "I_iya Pak." Dengan berat hati Yola pun beranjak dari tempat itu. Padahal ia masih sangat ingin memperhatikan Kai.


"Gimana pertemuan pertamanya, Kai. Aman kan? Lancar?" Tanya Beno sembari meraih cangkir kopi nya.


Kai menoleh, menatap Beno. Lantas mengurai senyum tipisnya.


"Lumayan tanpa hambatan." Jawab Kai singkat.

__ADS_1


"Maksud kamu?"


"Kelas nya heboh."


Beno terkekeh. "Ya jelas heboh lah. Mana ada dosen secakep ini."


Entah Beno sedang memujinya, atau malah sedang menyindirnya. Kai hanya mengulas senyum tipisnya.


"Kamu bisa aja kalau mau nyindir." Celetuk Kai.


Beno kembali terkekeh mendengar celetukan sahabatnya. "Itu fakta Kai. Tapi ada satu hal yang membuatku penasaran."


Kai mengernyit. "Apa itu?"


"Kamu baik, tampan, mandiri, tapi kenapa Joanna malah me_"


"Sudahlah Ben. Jangan ungkit lagi soal itu. Walau bagaimanapun itu sudah menjadi keputusannya. Aku harus menghormati itu. Dan lagipula, pilihannya itu tidak salah. Pilihannya adalah yang terbaik." Sela Kai cepat, sebelum Beno menyelesaikan kalimatnya.


Beno mengangguk kecil. Ia mulai bisa memahami keikhlasan Kai menerima pilihan Joanna. Toh yang dipilih Joanna bukan orang lain. Hingga Kai pun bisa menerimanya dengan lapang dada. Meski sejujurnya, saat itu, ia tahu betul seperti apa perasaan Kai. Yang terluka sangat dalam.


Namun, seiring berjalannya waktu, perlahan Kai mulai bisa menerimanya. Bahkan tak memutus tali silaturahmi. Meski ada sakit yang pernah singgah di hati. Dan Beno adalah saksi dari perjalanan hidup bahkan asmara Kai.


"Sorry, Kai. Aku tinggal sebentar ya. Oh ya, kalau kamu pengen makan sesuatu, kamu tinggal pesan saja." Ujar Beno sembari bangun dari duduknya.


Kai cukup mengurai senyumnya. Beno pun lantas bergegas ke belakang untuk mengecek kinerja karyawannya.


Sembari menyesap kopi yang disajikan untuknya, Kai kembali melempar pandangannya ke luar jendela. Menatap jalanan yang tampak ramai siang itu.


Detik berikutnya, seorang gadis turun dari mobil itu. Sejenak gadis itu berdiri di samping mobilnya sembari melakukan panggilan telepon. Kai memperhatikan gelagat gadis itu.


Sementara di luar, gadis itu, yang tidak lain adalah Dara, terlihat santai. Meski ada sepasang mata yang memperhatikannya dari balik jendela.


Memang dari luar, pengunjung yang duduk di dekat jendela itu tak tampak. Sedangkan dari dalam, pemandangan luas di luar sana justru terlihat jelas.


"Halo, Yol. Aku sekarang di depan kafe nih." Ujar Dara dalam sambungan telepon.


"Aku berubah pikiran. Makanya cepetan keluar." Titah Dara. Lalu memutus sambungan teleponnya.


Sembari menunggu Yola, Dara membenahi pakaian dan rambutnya sejenak. Di depannya ada kaca riben. Ia bisa melihat pantulan dirinya dari kaca itu.


Dara berjalan pelan mendekati kaca jendela itu, yang dibaliknya tengah duduk seorang Kaivan. Pria itu masih setia memperhatikan gelagatnya.


Dengan santainya Dara membenahi pakaian dan juga rambutnya. Lalu mengambil lip glos dari tas kecil nya. Dengan santai pula ia memulas bibirnya dengan lip glos itu.


Dara tersenyum manis setelah memakai lip glos. Saking manisnya, hingga menampakkan lesung pipit di kedua pipinya. Yang semakin menambah pesonanya.


"You are so beautiful baby." Ujar Dara memuji dirinya sendiri sambil mengedipkan sebelah matanya. Persis seperti sedang menggoda seseorang.

__ADS_1


Dari balik kaca jendela itu, Kai tertawa-tawa melihat tingkah Dara. Yang seakan tengah bercermin di cermin pribadinya. Dara masih tak menyadari ada seseorang yang sejak tadi memperhatikan tingkah konyolnya.


Kini Dara malah memanyunkan bibir merahnya yang baru saja ia timpa dengan lip glos. Hal itu membuat Kai justru semakin tertawa geli melihat tingkahnya.


Namun, detik kemudian, dahi Kai mengerut. Seakan tengah mengingat-ingat sesuatu. Sampai tanpa sadar ia bergumam.


"Kucing betina?"


Sementara di luar sana, Dara masih saja bertingkah konyol di depan kaca jendela itu. Setelah memanyunkan bibirnya, kini Dara membersihkan kedua sudut matanya. Persis seperti orang yang tengah membersihkan belek di matanya. Kai semakin terpingkal-pingkal. Membuat pengunjung lain otomatis menoleh ke arahnya.


"Sorry ..." Ujar Kai dengan nada rendah, sambil melempar pandangannya. Tak enak hati telah mengganggu kenyamanan pengunjung lain.


Di luar kafe, Dara kembali melakukan panggilan telepon. Sebab Yola tak jua keluar untuk menemuinya.


"Lama amat sih, Yol." Keluh Dara.


"Banyak kerjaan, Dar. Kamu masuk aja. Sambil nunggu, pesanlah sesuatu." Sahut Yola dari seberang.


"Ya sudah. Aku masuk nih."


Dara pun beranjak masuk ke kafe. Melangkah dengan penuh percaya diri.


Dara menyapukan pandangannya ke seisi ruangan. Mencari tempat kosong yang bisa ia duduki. Akan tetapi, sial. Siang itu meja nya penuh. Dan hanya tersisa satu tempat kosong untuk bisa ia duduk. Satu-satunya tempat itu adalah sebuah tempat duduk kosong di depan Kai. Sebab Kai hanya duduk seorang diri.


Dara membuang napas nya panjang. Mau bagaimana lagi. Ia sudah terlanjur masuk. Tidak ada tempat lain lagi, selain satu-satunya tempat kosong di depan seorang pria asing.


Terpaksa, meski enggan, Dara pun membawa langkahnya menghampiri meja Kai. Lalu menarik satu kursi dan mendudukkan diri di sana.


"Maaf. Boleh kan saya duduk di sini? Soalnya mejanya penuh. Nggak ada tempat lain lagi selain kursi ini." Ujar Dara sembari mengurai senyumnya.


Kai tak menggubris ucapan Dara. Dan malah menatap Dara datar. Seakan Dara bukanlah makhluk yang menarik di matanya.


Dara tak peduli dengan ekspresi Kai. Yang terpenting, ia mendapat tempat duduk. Ia bersikap masa bodoh, meski pria di depannya kurang nyaman. Atau bahkan tak senang dengan kehadirannya.


Dara memalingkan wajahnya tak acuh ke luar jendela. Detik berikutnya ia terhenyak, seakan baru menyadari sesuatu.


"Tunggu dulu. Jadi sejak tadi aku berdiri di depan kaca itu, pria ini sedang duduk di sini?" Gumam Dara membatin.


Refleks Dara memalingkan wajahnya. Menatap canggung pria yang duduk di depannya. Lantas ia memasang senyum kikuk nya.


"Oh my god ... Malu-maluin banget. Kenapa aku jadi sebego ini sih? Pria itu pasti berpikir kalau aku ini cewek gila." Dara kembali membatin.


Sambil tersenyum kikuk, Dara kembali memandangi Kai yang menatapnya lurus. Detik berikutnya, Dara tersentak kaget. Sebab ia baru menyadari siapa pria yang tengah duduk di depannya saat ini.


Kai mengangkat alisnya, sembari berseru,


"Kenapa kaget? Masih ingat aku?"

__ADS_1


TBC



__ADS_2