
"Maaf kalau kehadiran kami mengganggu kenyamanan kalian." Ujar Beno memandangi ketiga gadis cantik itu satu per satu.
"Nggak. Malah kita-kita senang kok. Se nggak nya, kita bisa punya teman baru. Iya kan Dara, Yola." Sahut Ditha antusias memasang senyum manis nya menatap Kai dan Beno bergantian. Lalu beralih menatap Dara dan Yola.
Dara mengulas senyum nya. Sementara Yola malah memasang wajah cemberut. Lantaran Beno yang sedari tadi menatapnya sambil tersenyum-senyum.
"Oh ya, boleh kenalan nggak nih?" Tanya Ditha memberanikan diri.
"Of course (tentu saja). Aku Beno. Dan ini Kai." Ucap Beno mengulurkan tangannya. Yang disambut ramah oleh Ditha.
"Ditha. Dan ini Dara. Dan yang ini ..."
"Yola. Udah kenal kok." Sela Beno cepat. Menatap Yola dengan senyum terukir lebar.
Yola malah membalas tatapan Beno dengan wajah cemberut. Lalu berpaling muka. Yola hanya tak memahami perasaannya saat ini, yang mendadak hati berdebar-debar. Bahkan ia gugup dan salah tingkah. Untuk meminimalisir hal itu, Yola memasang tampang jutek.
"Atasannya Yola kan?" Tanya Ditha.
"Iya sih. Tapi bentar lagi bakal jadi_"
"Tupai!" Yola menyela ucapan Beno dengan cepat. Sebelum pria itu berkata hal yang tak masuk akal.
Serentak mereka menatap aneh Yola. Yang sama anehnya dengan tingkahnya kali ini.
"Kok tupai sih Yol?" Ditha mengernyit. Sama dengan yang lainnya.
"Nggak tau. Aku suka aja nyebut kata tupai." Kilah Yola cuek bebek.
"Nggak ada sopan santunnya kamu sama atasan sendiri." Kata Dara mengingatkan Yola. Yang memang terkesan tak suka dengan kehadiran Beno.
Tingkah Yola justru membuat satu ide terbersit di benak Beno. Jika ia ingin membantu sahabatnya move on dari masa lalunya, setidaknya ia harus mencari cara agar Kai dan Dara bisa lebih dekat.
Dari gelagat nya, Beno memperhatikan, tidak salah jika ia memilik ide untuk mendekatkan Kai dengan Dara. Sebab tampak nya Dara punya ketertarikan terhadap Kai.
Beno sempat beberapa kali tanpa sengaja melihat Dara sering mencuri pandang pada Kai. Jadi, ia hanya perlu mencari cara yang tepat untuk mendekatkan keduanya.
Dara berparas cantik, baik, dan juga dari keluarga baik-baik. Beno yakin, Dara pasti bisa merebut hati Kai yang telah terlanjur terpaut dalam dengan Joanna. Masa lalu yang sulit Kai lupakan.
Untungnya, disaat ia memiliki ide. Ditha telah lebih dulu pamit pulang. Sebab teman lelakinya menelepon dan meminta untuk bertemu.
"Sorry ya guys. Aku duluan. Kalian silahkan ngobrol dulu. Lain kali aku akan meluangkan waktu lebih lama. Aku tinggal dulu ya ..." Pamit Ditha sebelum akhirnya meninggalkan tempat itu.
Tinggallah mereka ber empat. Dengan perginya Ditha, artinya akan lebih mudah bagi Beno untuk membujuk Yola agar beranjak dari tempat itu. Demi memberi kesempatan pada Kai dan Dara berdua.
"Yol. Kayaknya ada hal penting yang mau saya bicarakan dengan kamu." Ujar Beno. Membuat Yola melotot memandanginya.
"Hal penting? Dengan saya?" Yola menunjuk dirinya sendiri.
__ADS_1
"Iya. Penting banget. Dan saya butuh pendapat kamu."
"Memangnya hal penting apa sih Pak? Nggak salah Pak Beno butuh pendapat saya."
"Nggak lah. Kamu kan karyawan saya. Dan saya mau tau pendapat kamu tentang kafe." Kilah Beno. Kemudian bangun dari duduknya, menghampiri Yola. Menarik lengan Yola dan beranjak dari tempat itu. Agar Kai dan Dara lebih leluasa mengobrol berdua.
Beno menggandeng lengan Yola, membawanya sampai ke tempat parkir.
"Kok malah ke parkiran sih Pak Beno? Hayo ... Pak Beno mau ngapain? Jangan macam-macam loh ya?" Yola menarik kasar lengannya dari cengkeraman tangan kekar Beno. Pikiran-pikiran aneh mulai mengotori otaknya saat ini.
"Yaelah, nih anak. Malah ngeres mulu pikirannya. Saya mengajak kamu kemari agar teman saya, Kai, dan teman kamu, Dara, punya kesempatan ngobrol berdua." Terang Beno. Untuk mengusir pikiran-pikiran aneh Yola tentangnya.
"Tapi bukan ke parkiran juga kali Pak. Katanya tadi ada hal penting yang mau dibicarakan. Hal penting apa sih?"
"Emm ... Apa ya?" Beno berlagak berpikir keras. Padahal yang sebenarnya, tidak ada hal penting seperti yang ia katakan sebelumnya.
"Pak Beno bohongin saya ya? Kalau memang nggak ada hal penting kenapa saya diajak kemari? Pak Beno keterlaluan deh."
"Saya mau ajak kamu pulang. Saya anterin sekalian. Mau ya?"
"Nggak usah deh Pak. Saya nunggu Dara aja." Yola beranjak hendak meninggalkan Beno. Namun dengan cepat Beno mencekal lengannya. Hingga langkah Yola pun terhenti.
"Eh, jangan. Pengertian dikit dong sama teman kamu. Kasih teman kamu kesempatan untuk dekat dengan seseorang."
"Boleh. Tapi ada syaratnya."
"Gaji saya bulan ini harus naik dua kali lipat."
Beno menelan saliva nya kasar. Tak menyangka Yola tidak bisa diajak kompromi jika tanpa syarat. Tetapi demi Kai, Beno pun rela.
"Oke. Saya setuju. Tapi saya juga punya syarat." Beno pun tak mau kalah dan dipermainkan oleh karyawannya sendiri.
"Kok gitu sih?"
Beno terkekeh. "Mau gajinya naik nggak?"
"Mau dong. Ya udah, apa syaratnya."
"Kamu mau jadi pacar saya."
"Apa?" Yola pun terkejut bukan kepalang. Kedua matanya melotot sempurna. Tak percaya jika Beno akan berkata hal demikian. Yang membuat jantungnya mendadak berdetak lebih cepat.
.
.
"Aku minta maaf sekali lagi." Ucap Kai memecah hening diantara mereka.
__ADS_1
Sudah beberapa menit berlalu tanpa ada suara, akhirnya Kai memberanikan diri. Meski canggung masih terasa.
"Maaf untuk apa?" Tanya Dara datar.
"You know what it's about (kamu tahu tentang apa itu)."
Dara menundukkan wajahnya. Lalu mengangguk pelan. Mungkin Kai menganggap remeh hal itu. Mungkin Kai menganggap itu kesalahan yang seharusnya tak terjadi. Akan tetapi bagi nya, itu adalah ciuman pertamanya. Dan itu adalah kenangan termanis yang tak akan ia lupakan.
"Nggak apa-apa." Kembali ia mengangkat wajah, menatap lurus Kai yang menatapnya datar. Tanpa ekspresi. Tak seperti Kai biasanya, yang akan selalu tersenyum.
"Syukurlah." Kai membuang napas lega.
"Oh ya. Materi nya sudah aku kirim lewat email." Tambah Kai.
"Iya. Aku sudah melihatnya."
"Apa materinya sulit?"
"Nggak sih. Masih lebih sulit mendapatkan kamu." Lagi-lagi Dara keceplosan.
"Maksud kamu?" Kai menatap Dara dengan dahi mengerut.
Dara terhenyak. "Astaga. Aku bilang apa tadi?"
Kai mengendikkan bahu. "Entahlah. Kamu sendiri yang bilang. Kok malah lupa?"
"Beneran, aku lupa bilang apa tadi." Dara berlagak linglung. Kebingungan entah ia harus bersikap bagaimana.
Dan tingkah Dara itu malah menghadirkan kembali senyum di wajah Kai.
Dara akhirnya bernapas lega. Semula ia sempat berpikir, kalau Kai mungkin tak menyukainya lagi. Bukan menyukai dalam arti yang lebih. Setidaknya ia masih bisa bertemu dan mengobrol bersama Kai.
"Kalau nanti kita bertemu lagi, tolong jangan membiarkan aku melakukan hal serupa sama kamu." Ujar Kai yang membuat Dara mengernyit tak mengerti.
"Maksud kamu aku ini cewek gampangan gitu?" Dara malah salah paham akan maksud ucapan Kai. Hingga Kai pun merasa tak enak hati.
"No, no, no. Bukan itu maksudku."
"Trus?"
Kai menghela napas sejenak, sebelum kembali berkata. "Jika aku berbuat hal serupa, tolong cegah aku. Aku ini pria normal."
Kini Dara mengerti maksud Kai. Ia membiarkan Kai menciumnya, karena memang ia menginginkannya. Dan untuk permintaan Kai yang satu itu, Dara tak bisa menjamin.
"Kita lihat saja nanti. Tapi aku nggak bisa menjamin. Karena aku ini juga wanita normal." Ujar Dara gamblang.
TBC
__ADS_1