You Make Me Crazy

You Make Me Crazy
Ch. 12


__ADS_3

"Siapa di situ?" Dara kembali bertanya lantaran tak ada sahutan.


Perlahan Dara membawa langkah kakinya menghampiri.


Ia semakin menghampiri, sampai tiba-tiba seseorang mendorong daun pintu itu dari luar.


"Kamu." Seru Dara tertahan. Lantaran Kai tanpa permisi masuk ke kelasnya. Detik itu juga, kelas heboh dengan kehadiran Kai.


"Selamat pagi Pak Kai." Salah seorang mahasiswi terdengar menyapa Kai lembut.


Kai menyunggingkan senyumnya. Membuat para mahasiswi histeris, salah tingkah, bahkan terpesona. Hari ini adalah hari kedua Kai mengajar di kampus ini. Wajar jika ada mahasiswa yang sudah mengenalnya.


"Maaf, saya masuk tanpa ijin." Ucap Kai melempar pandangannya pada Dara.


"Sejak tadi anda menguping?" Tanya Dara sok-sok formal.


Kai mengendikkan bahu nya.


"Saya kebetulan lewat saja. Dan tanpa sengaja mendengar ada sedikit keributan di kelas ini."


"Oh, begitu ya. Jadi sekarang anda sudah bisa keluar dari ruangan ini. Dan keributan ini bisa saya atasi sendiri." Pinta Dara tegas.


Namun Kai tak menghiraukan. Kini ia melempar pandangannya pada mahasiswa tersebut. Mahasiswa yang dikenal paling bebal di kampus. Karena kabarnya, mahasiswa itu adalah putra seorang Pembantu Rektor di kampus itu.


"Kamu mahasiswa?" Kai melempar pertanyaannya pada mahasiswa tersebut.


"Tentu saja, Pak." Jawab mahasiswa angkuh.


"Siapa nama mu?"


"Brian Pak."


"Kalau begitu Brian, kamu pasti cerdas. Dan hanya orang cerdas yang mengerti apa itu etika. Sedangkan orang bodoh akan bersikap seperti sikap yang kamu tunjukkan tadi."


Mahasiswa yang bernama Brian itu terdiam. Namun raut wajahnya tampak seperti sedang menahan kesal.


"Kamu orang yang cerdas. Jadi, bersikaplah selayaknya orang cerdas. Jangan bertingkah seperti orang bodoh yang tidak punya sopan santun. Saya rasa kamu sudah paham sekarang." Tambah Kai.


Brian diam membisu. Tak berkata-kata lagi. Bahkan sikap kurang ajarnya tak ia tunjukkan lagi. Brian menatap Kai dengan seksama. Kai pun membalas tatapan Brian tajam. Seakan Kai tengah menunjukkan rasa tak sukanya.


Perlahan, dengan wajah tertunduk, entah malu atau memang sudah tak berkutik lagi. Brian memutar tubuhnya, membawa langkahnya kembali ke tempatnya semula.


Bukan hanya Brian, semua yang ada dalam ruangan itu diam membisu. Ucapan Kai bagai menyinggung harga diri mereka sebagai mahasiswa. Hingga mereka pun tak berani berkata-kata lagi.


Kini, Kai menggulirkan pandangannya pada Dara. Yang berdiri mematung, menatapnya tanpa berkedip.


Tak bisa dipungkiri, Dara pun tak bisa berkata-kata lagi. Hati kecilnya berkata lain saat ini. Bukan hanya kagum akan sikap Kai, bahkan Dara mungkin terpesona. Sejenak ia melupakan rasa tak sukanya pada pria itu.

__ADS_1


Kai melempar senyumnya pada Dara. Membuat jantung Dara berdetak lebih kencang saat ini. Darahnya seakan berdesir melihat senyum nan menawan itu.


"Lain kali jangan berpakaian seperti itu." Ucap Kai sembari memandangi Dara dari ujung kaki hingga ke ujung kepala.


Sontak Dara pun memandangi tampilannya. Mencari-cari letak kesalahan penampilannya hari ini.


"Apanya yang salah dengan penampilanku?" Gumam Dara membatin. Sambil terus menelisik tampilannya sendiri.


Bagi Dara, mungkin memang tak ada yang salah dengan penampilannya. Akan tetapi bagi Kai, penampilan Dara dengan kemeja ketat dan dan rok selutut yang tak kalah ketatnya, sungguh mengganggu penglihatan. Ditambah lagi dengan heels yang membuat langkahnya berlenggak lenggok layaknya seorang model yang sedang berjalan diatas catwalk.


Memang tampilan Dara formal, tetapi agak seksi. Dan hal itulah yang mungkin mengundang keusilan para mahasiswa untuk menggodanya.


"Besok jangan tampil seperti ini lagi." Ujar Kai lirih mengalihkan perhatian Dara dari tampilannya sendiri.


"Memangnya kenapa dengan penampilanku? Nggak ada yang salah kok." Sahut Dara setengah berbisik. Khawatir jika terdengar oleh seisi kelas.


Kai sedikit membungkuk mendekatkan wajahnya. Dengan setengah berbisik pula ia menyahuti ucapan Dara.


"Bikin sakit mata tau nggak." Lalu Kai berdiri tegak kembali.


Dara tersentak. Dipandanginya lagi tampilannya dari ujung kaki sampai ke batas dadanya. Ukuran dadanya yang agak ehem ... Gede mungkin. Mampu mengalihkan perhatian. Ditambah lagi rok ketatnya yang semakin menampakkan kemolekan raganya. Maka hal yang wajar, jika para mahasiswa tergoda.


Sekali lagi Kai menyunggingkan senyumnya melihat tingkah Dara yang dibuat kebingungan akan penampilannya sendiri.


Kembali Kai membisikkan sesuatu di telinga Dara. "Mungkin bagi orang lain kamu terlihat seksi. Tapi bagi ku, kamu lebih mirip badut."


Sementara di luar ruangan, Kai tertawa-tawa sendiri. Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia merasa geli sendiri jika teringat ekspresi Dara saat ia menyebutnya mirip badut. Sungguh, ekspresi Dara itu membuatnya tak bisa menahan tawa.


"Andara? Jadi nama mu Andara?" Gumam Kai lirih sembari melangkah menyusuri koridor kampus.


.


.


"Halo, Yola. Ada apa?" Sapa Dara melalui sambungan telepon seluler, sembari melangkah panjang menuju mobilnya yang terparkir.


Setelah menyelesaikan jam mata kuliahnya, kini Dara tak punya kegiatan apa pun lagi. Dan ia ingin segera pulang ke rumahnya.


"Kamu nggak lupa sama tugas kamu di kafe kan?" Sahut Yola dari seberang. Mengingatkan Dara akan tugas nya mencuci piring selama seminggu di kafe Black Butterfly.


Seketika langkah Dara terhenti. Tepat di tengah jalan. Dan Dara tak menyadari.


"Ya ampun. Untung aja kamu ingetin."


"Memangnya kamu lagi ngapain sih?"


"Aku lagi di kampus. Aku ada jadwal mata kuliah hari ini."

__ADS_1


"Kapan kamu daftar kuliahnya?"


"Aku ngajar Yol."


"Kok bisa? Gimana ceritanya?"


"Udah ah, nanti aja aku cerita sama kamu. Ceritanya panjang soalnya."


Saking asiknya Dara mengobrol, sampai-sampai ia tak menyadari ada sebuah motor gede sedang melaju ke arahnya. Pengendaranya memakai jaket hitam dan helm tertutup.


Pengendara itu seakan tak peduli dengan Dara yang berdiri di tengah jalan. Pengendara itu tetap saja melarikan motornya dengan kecepatan tinggi ke arah Dara.


Dara yang hendak kembali melangkahkan kakinya terkejut saat mendengar suara motor. Cepat Dara berpaling. Ingin menghindar, tapi sepertinya tak mungkin lagi. Kedua kakinya bahkan serasa membeku di tempatnya.


Motor yang melaju itu semakin mendekat. Bisa dipastikan, Dara tak punya kesempatan lagi untuk menghindar. Motor itu kini semakin dekat. Hanya tersisa jarak beberapa centimeter lagi akan menabrak Dara. Sampai tiba-tiba, disaat yang tepat, sepasang tangan kekar menariknya kuat. Dan motor itu lewat begitu saja, nyaris menabrak Dara.


Saking kuatnya seseorang menarik nya, hingga Dara pun terjatuh.


BUGH


Terdengar suara benturan keras di aspal jalanan. Kedua mata Dara terpejam rapat saat ia terjatuh dan menimpa seseorang.


"Aww!" Terdengar pekikan seseorang yang meringis kesakitan lantaran punggungnya yang membentur aspal.


Sontak Dara membuka matanya. Ia terkejut mendapati tubuhnya menimpa seseorang. Seorang pria yang telah menyelamatkannya dari marabahaya yang nyaris menimpanya.


"Ups. Sorry, sorry." Ucap Dara.


Namun detik berikutnya, tatapannya terpaku pada sepasang mata yang menatapnya. Hingga aksi saling menatap pun tak bisa dihindari.


Sejenak suasana hening. Yang terdengar hanyalah suara degup jantung Dara yang semakin gaduh. Posisi itu membuat Dara bisa menatap bebas paras menawan Kai, dengan sorot mata tajam. Yang menatapnya tanpa berkedip.


Tak memungkiri, entah sejak kapan, pria menyebalkan itu telah menghadirkan desiran aneh di hatinya. Dara seakan melupakan semua kekesalannya terhadap Kai. Yang katanya, ia akan membuat perhitungan dengan Kai jika mereka bertemu lagi.


Namun yang terjadi, Dara justru lupa segalanya. Dan berganti dengan debaran-debaran aneh yang mulai menelusup di hatinya. Membuatnya mendadak gugup.


"Bisa bangun dulu? Kamu itu berat tau nggak." Ujar Kai menyadarkan Dara.


Dara pun terhenyak. Seketika akal sehatnya yang sempat melambung, kembali lagi ke tempatnya semula.


"Kamu pikir aku kebo apa. Aku nggak seberat itu tau." Gerutu Dara sembari bangun dari posisinya yang menindih Kai.


Meski kesakitan, tapi Kai masih bisa tertawa mendengar gerutuan Dara.


"Emang nggak seberat kebo. Tapi lumayan seberat sekarung beras." Canda Kai. Hingga membuat Dara otomatis manyun. Mirip anak kecil yang sedang merajuk.


Kai pun semakin tersenyum lebar melihat tingkah Dara. Yang entah kenapa justru menggemaskan di matanya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2