
Dara tercengang begitu melihat hidangan yang tersaji di hadapan saat ini. Tampak begitu istimewa. Ada beberapa menu yang bahkan Dara sendiri tidak bisa dan tidak tau cara memasaknya. Selain tampan, ternyata Kai juga pandai memasak.
Dara masih terkagum kagum saat Kai menarik satu kursi untuknya.
"Silahkan," ucap Kai memegang pundak Dara. Mendudukkannya di kursi. Baru kemudian menarik satu kursi lagi untuk ia duduk.
"Aku nggak yakin kamu suka. Tapi hanya ini yang bisa aku masak," tambahnya memulai obrolan.
Dara menelan saliva memandangi hidangan yang tersaji istimewa di depan matanya.
"Kalau kamu yang masak, udah pasti enak," ucapnya memuji.
"Di cicipi dulu makanannya. Mungkin saja nggak sesuai dengan selera kamu."
"Siapa bilang?" Dara mulai menyendok lauk. Mencicipinya dengan tak sabaran. Detik itu juga ia tertegun.
"Waaah ... Enak. Pas banget dengan seleraku." Pekiknya pelan.
"Benar?"
"Iya. Ini enak banget. Ternyata kamu jago masak ya."
Kai tersenyum. "Syukurlah kalau kamu suka. Oh ya, silahkan dinikmati."
Dara balas tersenyum. Lalu mulai menyantap makanannya dengan lahap. Bahkan terkesan rakus. Membuat Kai tersenyum-senyum memandanginya. Sikap Dara yang apa adanya membuat gadis itu menggemaskan di matanya.
Kai hanya tak menyangka, ia jatuh cinta secepat ini. Bahkan terhadap gadis yang baru saja dikenalnya.
.
.
Di lain tempat, di malam yang sama.
Joanna tengah menidurkan Ziyo yang kelelahan setelah bermain. Anak kecil itu tampak tenang dalam tidur lelapnya.
Joanna mengecup lembut kening putranya penuh kasih. Ia lantas menarik selimut, menyelimuti tubuh Ziyo.
Memandangi anak kecil itu, membuatnya teringat akan sosok Revan. Yang begitu besar hati, mau menerima Ziyo sebagai putranya.
Belum cukup ia berterima kasih, Revan justru telah lebih dulu dipanggil yang kuasa. Hingga Ziyo pun kehilangan sosok seorang ayah. Ayah pengganti, yang mau bertanggung jawab atas ulah orang lain.
Mengingat soal Revan, membuatnya kembali teringat kecelakaan setahun silam. Bayangan sosok pria paruh baya yang berpapasan dengannya di rumah sakit beberapa hari lalu pun, melintasi benaknya.
Joanna lantas bangun dan beranjak keluar kamar. Mengambil duduk di sofa, ia kemudian mengambil ponsel dari saku celana. Mulai berselancar di dunia maya, membuka kembali berita setahun silam meski membuka luka lama bersamaan.
Ia hanya ingin memastikan penglihatan dan ingatannya tak salah akan sosok pria paruh baya tersebut.
__ADS_1
Tangannya gemetaran, saat berita lama terpampang jelas di depan mata. Penglihatan dan ingatannya tidak salah. Pria paruh baya itu jelas adalah pria yang ada dalam berita. Pria penyebab kecelakaan yang menimpa Revan setahun silam.
Yuda Aditama.
Ingatan Joanna pun kini tertuju pada seorang gadis yang menggelayut manja di lengan pria itu saat berpapasan dengannya di rumah sakit beberapa hari lalu.
"Apakah gadis itu putrinya?" gumam Joanna bertanya-tanya.
"Kayaknya pernah lihat. Tapi di mana?" gumamnya lagi mengingat-ingat wajah gadis itu.
Sementara di lain tempat. Masih di malam yang sama. Di dalam kamar Kai.
Kai sedang menyiapkan materi perkuliahan untuk esok hari di meja belajar. Dara mengambil satu kursi, menaruhnya di sebelah Kai, baru kemudian mendudukkan diri di sana.
Kai tengah serius dengan kegiatannya, saat Dara menyandarkan kepala di pundak kekarnya. Ia tersentak. "Kamu capek?" tanyanya kemudian sembari membawa jemari mengusap lembut wajah Dara.
"Lumayan sih. Tapi kalau di dekat kamu capeknya langsung hilang."
Kai terkekeh mendengarnya. "Ternyata kamu pandai menggombal ya? Sudah berapa banyak laki-laki yang pernah kamu gombali?"
"Cuma kamu."
"Yang bener?"
Dara mengangguk dengan posisi kepala masih bersandar di pundak Kai.
"Oh ya, ngomong-ngomong, ini udah larut. Apa orang tuamu nggak akan marah kalau pulang selarut ini?"
"Mau aku anterin ke rumah Yola?"
"Ceritanya kamu ngusir aku nih skarang?" sungut Dara bangun dari posisi bersandarnya. Menatap Kai dengan wajah cemberut. Tampilan Dara sungguh menggemaskan di mata Kai.
Kai pun menyentil manja hidung lancip Dara. Sembari tertawa kecil.
"Nggak ada yang ngusir kamu. Aku justru khawatir kamu pergi ke rumah Yola sendirian."
"Siapa juga yang mau nginap di rumahnya Yola." Masih dalam mode merajuk. Dara malah semakin menekuk wajah berlipat-lipat.
"Oooh ... Jadi kamu bohongin orang tua kamu nih?" selidik Kai.
Dara kini tersenyum. Lalu mengangguk pelan. "Iya," sahutnya malu-malu.
"Astaga Dara. Memangnya kamu pikir kamu ini anak kecil apa? Pake bohong segala. Sama orang tua lagi. Ck ck ck." Kai menggeleng tak percaya dengan kelakuan gadisnya.
"Terus kamu mau nginap di mana sebenarnya?" tanyanya kemudian.
"Di sini. Bareng kamu," sahut Dara berani tanpa mempedulikan harga dirinya.
__ADS_1
"Astaga." Kai kembali menggeleng pelan.
Dan Dara malah semakin cemberut melihat reaksi Kai. Seakan pria itu tidak setuju dengan idenya.
"Kalau nggak suka, ya udah, aku pulang aja." Dara lantas bangun dan hendak melangkah pergi.
Namun secepat kilat Kai menahan pergelangan tangannya. Kemudian berdiri, mendekati Dara yang telah memutar tubuh berhadapan dengannya.
Kai lantas membawa satu tangannya melingkari pinggang ramping Dara. Satu tangannya lagi menyentuh dagu Dara.
"Siapa bilang aku nggak suka?" lirih Kai mulai menggoda. Diikuti sapuan hangat bibirnya yang mulai memagut lembut bibir Dara.
Dara menyambut hangat ciuman itu. Ia pun melingkarkan tangannya di pundak Kai. Membalas dan mengimbangi setiap lum atan Kai yang kian menggebu. Menyalurkan hasrat di jiwanya yang telah lama terbendung rindu.
"Memangnya kamu nggak takut bersama dengan pria sepertiku?" tanya Kai melepas pagutannya sejenak.
"Enggak. Justru aku senang bisa menghabiskan waktu bersama kamu."
"Apa aku sudah pernah bilang sama kamu?"
"Soal apa?"
"I love you, Dara (aku mencintaimu, Dara)." Begitu lirih Kai berucap. Sangat kontras dengan suasana yang sepi saat ini.
Dara pun tertegun. Menatap dalam sorot mata Kai. Yang memancarkan binar-binar cintanya. Membuat Dara hanyut dan terbuai. Hingga tanpa ia sadari, butiran air bening mulai membasahi pipi.
Dara tersentuh mendengar ungkapan cinta Kai. Kalimat sederhana yang ia nantikan selama ini. Akhirnya terucap dari bibir Kai. Membuat hatinya menghangat seketika.
"You make me crazy (kamu membuatku tergila-gila)," tambah Kai jujur.
"I love you too. Always and forever (aku juga mencintaimu. Selalu dan selamanya)," balas Dara dengan segenap jiwa dan setulus hati.
Seiring dengan perasaan yang kian menggebu, Kai kembali mendaratkan bibir. Memagut lembut bibir Dara yang kian menggodanya. Ia begitu lihai memainkan perannya. Membawa gadisnya ke dalam buaian hasrat yang kian menghanyutkan.
Ciuman yang semula lembut itu pun kini kian rakus. Kai semakin beringas menyesapnya dalam. Seiring dengan tubuh keduanya yang mulai beringsut mendekati tempat tidur.
Keduanya masih saling memagut rakus, saat perlahan Kai mulai mendorong tubuh Dara hingga terbaring dan berada di bawah kungkungannya.
Dara sudah tak peduli lagi. Sentuhan Kai yang memabukkan, membuatnya hilang akal. Dengan berani ia melepas t'shirt dari tubuh Kai. Yang dibalas Kai dengan melepas tautan kancing baju Dara satu per satu.
Kai kembali melancarkan aksinya saat kini tubuh keduanya tak berbalutkan sehelai benang pun. Lenguhan dan rintihan Dara yang terdengar, menjadi tanda sepanas apa malam yang mereka lalui.
Kai dan Dara semakin dibuai rasa yang kian syahdu. Menuruti hasrat yang menggebu-gebu, serasa memaksa untuk saling melepas rindu. Rindu yang membawanya melayang hingga terbang ke nirwana. Menggapai sejuta nikmat, membasuh jiwa yang dahaga. Haus akan belai kasih.
Hingga malam semakin merangkak, keduanya masih saling melebur. Berbagi peluh, saling berlomba mendaki puncak asmara.
Kai terengah-engah dengan napas yang memburu saat aktifitas berakhir.
__ADS_1
"I'm sorry (maafkan aku)," lirih Kai berucap masih dalam posisi mengungkung tubuh Dara di bawahnya.
TBC