You Make Me Crazy

You Make Me Crazy
Ch. 36


__ADS_3

Tanpa sadar, terbawa oleh suasana, Dara perlahan mendekatkan wajahnya. Hendak mengikis jarak yang memisahkan. Tanpa aba-aba, terdorong oleh perasaannya, ia bahkan memberanikan diri mengecup singkat bibir Kai yang begitu menggoda. Sehingga membuat Kai terkesiap seketika.


Mendadak jantung pun semakin berpacu. Darahnya mengalir deras di sekujur tubuh. Kai menelan saliva dalam-dalam, kala menelisik paras Dara yang menampakkan siluet berbeda dalam cahaya temaram.


Astaga.


Apa Beno sengaja membuat pencahayaan dalam unit apartemennya remang-remang seperti ini? Dan lagi, Beno malah meninggalkan mereka berdua. Yang jelas-jelas mereka bukanlah bocah kecil ingusan. Yang tak akan tergerus arus suasana yang terkesan romantis seperti ini.


Kai menelisik paras Dara, dan terhenti di bibir merah Dara yang sedari tadi membuatnya hampir tak bisa menahan diri.


Bukan hanya hampir, Kai memang sudah tak bisa menahan diri lagi. Cepat, bibirnya menyapu lembut permukaan bibir Dara. Menyesapnya dalam, lembut, namun memabukkan.


Dara tak berdiam diri. Ia menyambut hangat ciuman itu. Membalas setiap luma tan lembut Kai. Saling menjelajah, mengeksplor hingga ke bagian dalam rongga mulut. Saling bertukar saliva, saling mencerup dalam.


Satu sama lain kian rakus tak terkendali. Lupa tempat, lupa status, terbujuk rayu setan mengikuti naluri. Sehingga tak mampu lagi menguasai diri. Keduanya saling mencumbu layaknya sepasang sejoli yang sedang kasmaran.


Dara akhirnya melepas tautan bibirnya saat napasnya terasa sesak. Kai terlalu menyesapnya dalam dan rakus sampai membuatnya terengah-engah.


"Aku sudah pernah minta sama kamu sebelumnya. Kenapa kamu nggak mencegahku?" tanya Kai menatap Dara dengan tatapan berbeda.


"Karena aku nggak bisa," sahut Dara enteng.


"Aku ini pria norma, Dara. Memangnya kamu nggak takut berada di dekatku?"


"Enggak. Aku suka berada di dekat kamu."


"Why (kenapa)?"


"Because, i love you (karena, aku mencintaimu)." Entah Dara sadar atau tidak saat mengakui perasaannya.Sehingga membuat Kai tertegun.


Keduanya saling menatap dan saling menyelami sorot mata masing-masing. Dara dan Kai pun tanpa sadar justru semakin dibuat larut dalam tatapan yang kian menghanyutkan itu.


Dara sudah berani jujur dengan perasaannya. Gadis itu tak kuasa membendungnya lagi. Hingga ia memberanikan diri untuk berterus terang.


"Why you love me (kenapa kamu mencintaiku)?" tanya Kai.


"Love doesn't need a reason (cinta nggak butuh alasan)."


Kai terdiam sejenak. Tapi kemudian ia berkata, "jangan mencintaiku, Dara. Kamu belum kenal aku dengan baik. Banyak hal yang kamu nggak tau tentang aku. Gimana kalau nanti ternyata aku ini bukan pria baik-baik seperti yang kamu lihat?"


"Aku nggak peduli. Yang aku tau aku mencintaimu Kai. Aku jatuh cinta padamu."


"Dara ..." lirih Kai mulai merasa aneh dengan perasaannya sendiri.

__ADS_1


"Aku sudah mengesampingkan harga diriku demi kamu. Butuh keberanian lebih untuk aku mengakui perasaanku sama kamu. Tolong jangan tanya lagi kenapa."


"Dara, kamu ..." Kai sungguh tak kuasa membendung perasaannya. Walau sebetulnya ia terkejut, bahkan masih tak bisa mempercayainya. Ia sungguh kagum dengan keberanian gadis yang satu ini.


Dara pun mengulum senyuman, membuat debaran di dada Kai kian menggila. Entah sejak kapan senyum itu begitu indah di matanya. Kai merasa ada yang berbeda.


Dara telah mampu menarik perhatian Kai. Mengetuk pintu hatinya yang telah tertutup rapat untuk wanita lain. Dara sukses menyelinap, lalu diam-diam telah mengisi cela di hatinya.


Kai berusaha memahami perasaannya saat ini. Yang begitu tersentuh mendengar kejujuran Dara. Yang tak banyak gadis yang mampu melakukannya.


Perlahan Kai pun membawa jemarinya menyentuh wajah Dara. Mengusap lembut sebelah pipi Dara. Dan jemari itu pun perlahan mulai menyelip diantara helaian rambut, meraih tengkuk Dara. Menekannya pelan hingga jarak pun terkikis seiring dengan wajah Kai yang kian merapat.


Kembali Kai mendaratkan bibirnya. Menyesap lembut namun dalam bibir merah Dara yang telah menggodanya.


Dara dengan senang hati menerima perlakuan lembut Kai. Ia pejamkan matanya rapat-rapat, seraya membalas setiap luma tan Kai. Yang perlahan mulai rakus terasa. Ia berusaha mengimbangi Kai yang berpengalaman dalam hal seperti ini.


.


Sementara di basemen apartemen, Beno dan Yola justru sedang berdebat di dalam mobil. Beno sudah menghidupkan mesin mobil sejak tadi, tetapi mereka belum juga beranjak.


"Katanya mau belanja, kok Pak Beno belum jalan juga dari tadi? Niat nggak sih? Atau jangan-jangan ini cuma akal-akalannya Pak Beno biar bisa deket-deket saya? Jangan mesum ya Pak?" gerutu Yola saking jengkelnya.


Beno terkekeh, "kamu tau aja maksud saya."


"Jangan macam-macam loh Pak. Beneran saya bisa bela diri loh ini. Saya akan melaporkan Pak Beno ke polisi kalau sampai Pak Beno macam-macam."


"Saya bukan orang jahat Yol. Saya cuma mau memberikan kesempatan untuk sahabat saya."


"Kesempatan? Kesempatan apa?"


"Kesempatan untuk lebih dekat lagi dengan Dara."


"Oooh ... Jadi Pak Beno sengaja mau menjerumuskan sahabat saya? Mau menjebak sahabat saya, gitu?" Yola semakin meninggikan nada suaranya. Dan Beno hanya bisa menelan salivanya kasar melihat gadis pujaannya mulai tersulut amarah.


"Bu ... Bukan begitu maksud saya Yola."


"Trus apa kalau bukan? Awas ya Pak, kalau sampai sahabat saya itu rusak gara-gara sahabat Bapak. Bapak harus bertanggung jawab."


"Saya bukan bapak kamu Yola."


"Saya harus memastikan keadaan sahabat saya." Yola hendak turun dari mobil. Namun dengan cepat Beno mencekal lengannya.


"Yola."

__ADS_1


"Apaan sih Pak, lepasin," sentak Yola kasar menarik lengannya.


"Stop kita ngomong seperti ini."


"Ya udah, kalau gitu diam aja kayak patung." Yola melipat tangan di dada dengan kesal.


"Maksud saya, berhenti bicara formal dengan saya."


Yola masih membisu. Dan Beno memberanikan diri meraih jemari Yola. Dekapan tangan Yola pun terurai pasrah saat ia menatap Beno yang mendadak berbeda.


"Yola, aku mau kita bisa lebih dekat lagi," ucap Beno berterus terang.


"Yang aku katakan waktu itu bukan main-main. Aku serius," tambahnya menegaskan. Sembari menatap intens.


Tentu saja Yola terkejut melihat perubahan Beno, atasannya yang selalu membuatnya kesal setengah mati itu.


Beno memang pernah mengutarakan perasaannya. Tetapi Yola menganggapnya tak serius dan hanya main-main saja. Karenanya sampai detik ini Yola belum memberikan jawabannya.


Beno pria yang baik, mandiri, dan berparas tampan. Tak heran kenapa ada beberapa karyawannya yang berusaha menarik perhatiannya.


"Pak Beno jangan bercanda Pak. Saya nggak akan mudah tertipu. Apalagi oleh Bapak. Saya berpengalaman dengan pria modelan Pak Beno. Asal Pak Beno tau aja ya."


"Aku nggak bercanda Yola. Aku serius. Aku suka sama kamu." Tatapan Beno semakin mendalam. Membuat jantung Yola dag dig dug tak karuan.


"Pak Beno kalau mau ngerjain orang, kira-kira dong, Pak. Saya nggak akan mudah dipermainkan."


"Kamu jadi manusia yang peka dikit kenapa sih? Memangnya tampangku ini ada tampang-tampang playboy gitu? Aku tuh serius Yola Puspitasari. Aku serius suka sama kamu." Beno kembali menegaskan ucapannya hingga Yola pun tertegun.


"Pa ... Pak Beno ..." Yola tak tahu harus berkata apa. Mana mungkin Beno menaruh hati padanya, yang nyata statusnya adalah karyawan Beno sendiri.


Ini rasanya seperti mimpi bagi Yola. Detik menit berlalu pun, gadis itu masih belum memberikan jawabannya.


.


.


Suasana di dalam apartemen masih menegangkan. Semakin kontras dengan hawa panas yang mulai menjalar di seluruh tubuh. Kai dan Dara masih saling memagut mesra. Seakan tak ingin terlepas lagi.


Ciuman yang semula lembut menghanyutkan berubah menjadi menjadi ciuman panas yang kian memabukkan. Membakar gairah yang telah lama terpasung rindu. Rindu akan belai kasih yang menuntun hasrat menggelora.


Kai semakin rakus menciumi gadis itu. Aroma memabukkan gadis itu semakin membuatnya lupa diri. Membawa Dara dibawah kungkungannya justru kian membakar gairahnya.


Dan Dara tak memberikan perlawanan sedikitpun. Dengan berani dirangkulnya pinggang Kai. Sangat kentara bahwa ia begitu menginginkan hal ini. Hingga akhirnya, Kai sendirilah yang mengakhiri. Saat terdengar bunyi decitan pintu terbuka.

__ADS_1


TBC


__ADS_2