You Make Me Crazy

You Make Me Crazy
Ch. 63


__ADS_3

Dara terdiam. Sekujur tubuhnya seketika gemetaran. Rasa takut pun perlahan mulai hinggap.


"Aku ada di depan rumah kamu sekarang. Aku tunggu kamu. Temui aku sekarang."


Segera Dara memutus sambungan telepon. Ia tak ingin menanggapi perintah Kai. Ia sungguh tak ingin lagi menemui pria itu. Pria yang sudah ia tinggalkan bertahun-tahun lamanya. Namun masih sulit ia lupakan.


Ia hanya tak ingin benteng kokoh yang sengaja ia bangun runtuh begitu saja dalam sekejap. Susah payah ia berusaha untuk melupakan masa lalu. Kini Kai kembali hadir dalam hidupnya, serasa menggoyahkan pendiriannya.


Ia tak ingin membuat Riko kecewa, yang tanpa berpikir panjang ia terima lamarannya. Entah kenapa, hatinya tergerak begitu saja.


Jika memang ia sedang mencoba membuka hati untuk pria itu, mengapa tidak dari dulu. Kenapa justru saat ini, disaat Kai hadir kembali dalam hidupnya.


Apakah yang ia lakukan saat ini pun tak jauh bedanya dengan apa yang ia lakukan lima tahun belakangan?


Mungkinkah ia kembali mencoba lari dari masalah?


"Siapa?" tanya Riko lagi.


"Bukan siapa-siapa. Orang iseng kali," kilah Dara lantaran tak ingin Riko mengetahuinya.


"Orang iseng?" Riko mengernyit. Kemudian turun dari tempat tidur.


"Kalau memang orang iseng, sebaiknya handphone kamu dimatikan."


"Iya, itu ide yang bagus." Dara menonaktifkan ponselnya segera, sebelum Kai kembali menghubunginya.


"Aku balik ke kamarku dulu. Sebaiknya kamu istirahat." Riko memutar tubuh hendak beranjak saat Dara lagi-lagi menahan pergelangan tangannya.


"Kenapa?" tanya Riko menoleh, menatap sayu. Ada kekecewaan terlihat dari raut wajahnya.


"Maafkan aku," pinta Dara karena tak enak hati membuat hasrat pria itu kembali terbendung.


Riko tersenyum. Lalu mendekat, melabuhkan satu kecupan hangat di kening Dara.


"Kenapa harus minta maaf? Tidurlah, lagian ini udah larut. Besok kamu ada jadwal kuliah kan? Calon istriku ini harus banyak istirahat. Aku nggak mau kamu kecapean nanti."


"Tapi ..."


"Tidurlah." Kembali Riko mengecup kening Dara. Sebelum akhirnya beranjak meninggalkan Dara yang masih terduduk di tepian tempat tidur sembari memandang cemas ke luar jendela.


Sementara di luar rumah itu, di dalam mobil warna hitam yang terparkir di seberang jalan. Kai masih setia menunggu. Berharap Dara menuruti perintahnya.


Namun apa yang ia harapkan ternyata hanyalah harapan kosong belaka. Sudah lebih dari satu jam saat ia menghubungi Dara, tetapi wanita itu sama sekali tak menampakkan batang hidungnya. Bahkan nomor ponselnya pun kini susah dihubungi.


Kai kesal setengah mati. Dipukulnya kuat stang kemudi dengan amarah berapi-api.


"Dara, kamu keterlaluan." Kai tak bisa lagi menahan amarahnya. Terlebih saat lampu kamar Dara dipadamkan. Guratan amarah itu pun semakin jelas terlihat.

__ADS_1


Dari tempatnya mengintai saat ini, Kai bisa melihat jelas kamar Dara yang berada di lantai dua. Bahkan saat Dara dan Riko tengah memadu kasih pun, bisa ia lihat jelas dari bayangannya. Bayangan yang sukses membuat jiwanya meronta-ronta.


Akhirnya, hingga pagi menjelang pun, Dara tak jua menampakkan diri. Rupanya Dara benar-benar ingin mengabaikannya.


Kai masih setia menunggu saat perlahan mentari mulai memancarkan sinarnya. Bahkan kini mentari itu pun kian meninggi, Kai masih setia menunggu di tempatnya.


Sepasang matanya masih mengawasi saat mobil sedan warna putih keluar dari pekarangan rumah. Setelah mobil itu menghilang dari pandangan, Kai kemudian turun dari mobilnya.


Bergegas ia menghampiri seorang wanita paruh baya yang sedang menutup pagar rumah itu.


"Permisi," sapa Kai.


Wanita paruh baya itu cepat mengunci pintu pagar. Sesuai pesan tuan rumah agar ia tak membiarkan siapapun masuk.


"Siapa ya?" tanya wanita baya.


"Saya temannya Bu Andara. Bisa saya ketemu Bu Andara? Bu Andara nya ada kan?"


"Nyonya baru aja pergi. Diantar sama Tuan."


Nyonya?


Hah, perih rasanya hati ini mendengar kata itu. Kai hanya bisa membuang napasnya kasar.


"Oh gitu ya. Kalau begitu saya permisi dulu. Tolong sampaikan saja salam saya untuk Tuan dan Nyonya rumah."


Kai tak mengindahkan pertanyaan wanita yang bekerja sebagai pembantu di rumah itu. Kai malah pergi begitu saja tanpa memberitahu identitasnya. Tanpa ia beritahu pun, Dara sudah pasti bisa mengenalinya.


.


.


Setelah gagal menemui Dara, Kai akhirnya pulang ke rumah kontrakannya. Di kota ini ia tak punya sanak saudara, hingga untuk tempat tinggal pun ia harus mengontrak.


Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Kai bergegas ke kampus. Kebetulan hari ini ia harus mengisi mata kuliah.


Beruntung ia telah terbiasa begadang. Hingga kantuk dan lelah masih enggan menghampiri. Cukup menyambar sepotong roti dan susu kemasan sudah mampu mengganjal perutnya.


Dengan tampilan memukau dilengkapi kacamata hitam yang membingkai wajahnya, Kai melangkah penuh percaya diri menuju kelas.


Kehadiran Kai sebagai dosen baru sudah cukup membuat heboh. Tak sedikit mahasiswi yang sudah mengenalinya. Bahkan berusaha merebut perhatiannya. Ada-ada saja ulah mahasiswi demi ingin bertegur sapa dengan dosen yang satu ini.


Setelah 45 menit berlalu, Kai telah selesai mengisi materi. Dan kini tujuannya adalah mencari seseorang yang berhasil menyiksa batinnya selama lima tahun ini.


Kai tengah menyusuri koridor kampus, saat indera pendengarannya menangkap suara yang familiar. Ayunan langkahnya pun terhenti di depan satu kelas yang pintunya terbuka lebar.


Kai mendekat, mengintip dari balik pintu. Dilihatnya Dara tengah menyampaikan materi perkuliahannya di depan kelas.

__ADS_1


Saat Dara memutar tubuhnya membelakangi mahasiswa, diam-diam Kai memanfaatkan keadaan. Ia melangkah seringan mungkin, agar derap langkahnya tak terdengar saat memasuki kelas. Kemudian ia mengambil duduk di satu bangku kosong.


Dara masih membelakangi, menulis beberapa topik pembahasan di papan tulis. Begitu ia memutar tubuhnya kembali, seketika itu ia dibuat kaget oleh makhluk tampan yang tengah duduk tenang mengamatinya di deretan kursi paling belakang.


Dara dibuat salah tingkah. Bahkan kebingungan harus bersikap bagaimana. Pasalnya, Kai terus memperhatikannya, menatapnya dingin dari kejauhan.


Atensi pria itu sedikitpun tak teralihkan. Meski beberapa mahasiswi mulai heboh dengan kehadirannya.


"Cakep banget," ucap seorang mahasiswi gemas sembari melirik Kai.


"Kamu udah tau nggak, dia itu dosen baru loh," ujar seorang mahasiswi lagi.


"Jadi betah aku di kampus kalau kayak gini. Dosennya cakep banget."


"Ehem, ehem." Dara berdehem keras demi meraih kembali perhatian siswanya.


"Mohon maaf, tolong Anda keluar dari ruangan ini. Terus terang saja, kehadiran Anda sangat mengganggu proses perkuliahan," ujar Dara frontal. Menyinggung Kai secara langsung. Sebab hadirnya Kai semakin menambah gaduh suasana. Para mahasiswi tak ada lagi yang memperhatikannya.


Kai tak mengindahkan sedikitpun ucapan Dara. Ia malah melempar senyum manisnya pada Dara. Sembari berkata,


"I miss you so much, Dear (aku sangat merindukanmu, sayang)."


Sontak semua mahasiswa yang ada dalam ruangan itu tercengang, tak percaya dengan apa yang mereka dengar. Kemudian kelas mulai gaduh dengan bisikan-bisikan yang tak sedap di indera pendengaran.


"Kegenitan deh Bu Andara. Dia kan udah punya suami," bisikan-bisikan menusuk pendengaran.


Dara pun jadi malu dibuatnya. Wajahnya mulai memerah lantaran amarah yang mulai menguasai.


"Baiklah. Kalau begitu biar saya saja yang keluar. Mohon maaf, kelas hari ini terpaksa saya hentikan sampai disini. Kita lanjutkan lagi minggu depan dengan materi yang sama. Saya permisi, selamat siang."


Bergegas Dara mengambil tas, menyimpan buku ke dalam tasnya. Kemudian membawa langkahnya cepat hendak keluar dari ruangan itu.


Satu per satu mahasiswa meninggalkan ruangan. Hanya tersisa Kai yang masih setia di tempatnya.


Langkah kaki Dara sudah mendekati pintu keluar, saat tiba-tiba tangan kekar Kai mencekal kuat lengannya. Menariknya kasar, mendorongnya kuat sampai punggungnya membentur dinding.


Dara meronta kuat, saat Kai mengungkungnya. Namun Kai tak peduli. Ia malah mendaratkan kecupan di bibir Dara. Mencuri ciuman dari bibir merah jambu yang telah lama ia rindukan.


Dara terkesiap. Ia sungguh terkejut dengan perlakuan Kai tiba-tiba. Pria itu bahkan mulai rakus mendaratkan kecupan.


Kekuatan Dara tak seberapa. Ia tak mampu melepaskan diri dari Kai. Tak tahu harus bagaimana menghindarinya.


Kai tak peduli meski Dara meronta. Ia terus saja menciumi Dara. Ia bahkan tak peduli keadaan, dimana mereka saat ini berada.


Dara terengah-engah begitu Kai melepaskan pagutan. Lalu tiba-tiba saja ...


PLAK!

__ADS_1


TBC


__ADS_2