
"Kenapa kaget? Masih ingat aku?" Kai menyeringai tipis usai melempar pertanyaan itu.
Sementara Dara, meringis malu. Sekaligus canggung, lantaran lagi-lagi ia bertemu dengan pria yang menyebalkan.
Dara memutar otak, mencari cara menghindari Kai. Kalau berhadapan terus dengan Kai, ia akan semakin malu. Belum lagi, Kai pasti sudah melihat tingkah konyolnya di depan kaca tadi.
Tanpa aba-aba, Dara pun beranjak dari duduknya. Hendak melarikan diri. Namun, belum sempat kakinya melangkah, Kai telah mencegahnya leboh dulu. Dengan mengeluarkan jurus andalan. Yaitu mengancam.
"Kalau kamu pergi dari sini, video tingkah konyol kamu di depan kaca itu dalam sekejap akan jadi viral di sosial media." Ujar Kai demi mencegah Dara.
Dara pun terdiam. Tak berani melangkahkan kakinya. Perlahan ia kembali duduk. Kali ini, ia menatap kesal Kai. Tak ada lagi rasa malu ataupun rasa canggung. Dara telah dibuat geram oleh ancaman murahan Kai.
"Apa sih mau kamu?" Ketus Dara.
Kai memasang senyum remeh nya. "Tanggung jawab kamu."
"Tanggung jawab? Atas dasar hal apa? Apa aku berbuat salah sama kamu?"
"Noda jus di bajuku waktu itu, sampai sekarang masih sulit dihilangkan."
"Yaelah ... Tinggal di bawa aja ke laundry. Ribet amat sih?" Gerutu Dara sembari membuang muka.
Dan Kai malah mengulurkan tangannya. Membuka telapak tangannya di depan wajah Dara. Membuat Dara otomatis kembali memalingkan wajahnya. Dan mendapati telapak tangan kekar yang terbuka lebar di depan wajahnya.
"Maksudnya apa ini?" Tanya Dara bingung.
"Biaya buat ke laundry." Jawab Kai enteng.
"Sudah gila nih orang. Apa dia pikir aku ini ibunya apa?" Gerutu Dara lirih. Namun masih bisa terdengar oleh Kai.
"Kamu sendiri yang nyuruh aku ke laundry. Sekarang, ongkosnya mana?"
"Wah, ngajak berantem nih orang."
"Ya sudah, kalau kamu nggak mau." Kai menarik kembali uluran tangannya.
"Hari itu, aku kembali lagi ke bandara. Hanya untuk berjaga-jaga dari hal yang nggak diinginkan. Misalnya seperti saat ini. Kamu nggak mau ganti rugi." Ujar Kai setelahnya.
"Maksud kamu?" Dara semakin dibuat bingung.
"Rekaman CCTV di depan toilet waktu itu, ada padaku."
Otomatis kedua mata Dara sukses membola. Tentu saja ia tahu isi rekaman itu. Jelas ia panik. Sebab tak menyangka, pria asing di depannya ini akan bertindak sejauh itu. Bisa-bisa malah ia sendiri yang akan dibuat malu.
Sedangkan Kai berusaha menahan tawanya. Sebab ia merasa telah berhasil mengerjai Dara.
"Gimana? Kamu mau rekaman itu tersebar?" Kai kembali menakut-nakuti Dara.
"Kamu tuh ya ..." Dara hanya bisa mengepalkan tinjunya erat, menahan geramnya. Pria asing itu membuatnya kesal setengah mati.
"Atau begini saja. Aku akan memesan apapun yang aku inginkan. Dan kamu ..." Kai menggantung kalimatnya.
Dara menyimak dengan seksama dalam harap-harap cemas. Cemas kalau pria asing itu akan meminta hal yang aneh-aneh. Atau bahkan malah akan menyusahkan nya.
Kai mendekatkan wajahnya. Menatap intens kedua bola mata Dara. Detik berikutnya ia tersenyum tipis. Meski tipis namun masih tampak menawan. Membuat Dara harus menelan saliva susah payah.
__ADS_1
"Gila. Cowok nyebelin ini ternyata cakep juga." Puji Dara membatin tanpa sadar.
"Kamu yang bayar. Gimana? Setuju?" Ujar Kai. Lalu menjauhkan wajahnya. Kembali duduk tegak.
"Kamu mau memeras ku ya?"
"Nggak. Aku nggak memeras. Anggap saja itu sebagai ganti rugi. Atau kamu mau rekamannya tersebar dan jadi viral?"
Dara membuang napas nya kasar. Mau bagaimana lagi. Mau tidak mau, suka tidak suka, ia harus menerima tawaran Kai. Daripada viral dengan video yang memalukan.
Dara mendengus kesal. Lantas berkata, "ya sudah. Silahkan, pesan saja semua yang mau kamu pesan. Aku yang bayar."
Kali ini Kai tersenyum lebar. Semakin menampakkan garis-garis ketampanannya. Dara kembali menelan saliva nya payah. Tak menyangka pria menyebalkan itu memiliki paras yang tampan.
"Oke. Deal?"
"Deal!"
"Are you sure?"
"Yes. Of course!"
Tanpa berlama-lama, Kai pun mengangkat tangannya. Memanggil pelayan yang sedang bertugas. Seorang pelayan datang menghampiri meja Kai.
"Dara?" Sapa pelayan itu, yang tidak lain adalah Yola.
"Siapa lagi? Kamu pikir hantu?" Kesal Dara sembari memutar bola matanya jengah.
"Kalian saling kenal?" Tebak Kai.
"Bukan urusanku, kalian saling kenal atau enggak. Oh ya, aku minta daftar menu nya." Kai mengulurkan tangannya. Yola pun menyodorkan daftar menu itu ke tangan Kai.
Kai mulai memilih-milih menu apa yang akan ia pesan sebagai santap siang nya. Sedangkan Dara menatapnya kesal.
"Bisa-bisa nya dia mau memeras ku." Gerutu Dara membatin.
"Aku mau pesan ..." Kai menyebutkan pesanannya satu per satu. Bukan hanya satu menu saja yang ia pesan. Melainkan ada beberapa menu dengan harga yang lumayan mahal.
Yola mencatat semua pesanan Kai dengan teliti. Sementara Dara hanya bisa melotot mendengar pesanan Kai yang begitu banyak.
"Itu perut apa tong sampah sih? Banyak amat." Gerutu Dara membatin.
Diam-diam Dara mengambil dompetnya. Memeriksa isi dompetnya, yang tak kurang dari seratus ribu saja isinya. Dara pun menelan saliva nya susah payah. Keringat dingin mulai mengucur dari dahinya.
"Gawat nih. Aku harus bayar pake apa makanannya? Mana duit tinggal segini lagi." Dara kembali membatin.
Kai terlihat santai memesan semua menu itu. Tak ada sedikitpun rasa bersalah ataupun rasa iba.
"Itu saja pesanannya." Ujar Kai.
"Baik, Pak. Pesanan anda akan segera kami siapkan. Mohon tunggu sebentar." Ujar Yola. Lalu menggulirkan pandangannya pada Dara yang terlihat tegang. Bahkan pucat pasi.
"Kamu sendiri mau pesan apa, Dar?" Tanya Yola.
Dara tersentak. Tersadar dari pikirannya yang mulai menerawang. Lalu mendongak, menatap Yola.
__ADS_1
"Emm ... Aku pesan orange jus aja." Sahut Dara.
"Hanya itu? Nggak ada yang lain?"
Dara menggeleng. "Nggak. Itu aja."
"Memangnya kamu nggak lapar Dar?"
"Nggak. Aku nggak lapar. Kebetulan, tadi sarapan banyak dari rumah."
"Oooh ... Ya udah. Tunggu bentar ya?"
Yola pun bergegas ke belakang untuk menyiapkan pesanan Kai dan Dara.
Dara kembali menelan saliva nya. Yang entah kenapa kali ini terasa begitu sulit melewati kerongkongannya. Keadaan saat ini bukan hanya canggung, Dara bahkan mulai cemas. Cemas kalau ia tak kan sanggup membayar pesanan Kai yang begitu banyak. Menu termahal pula.
Oh god!
Tamatlah riwayat Dara kali ini. Ia hanya bisa berharap akan ada keajaiban nanti. Atau semoga saja pria asing itu berubah pikiran. Dan berinisiatif membayar pesanannya sendiri.
"Kenapa tegang begitu? Santai aja." Ujar Kai sembari mengeluarkan ponselnya dari saku. Lalu mulai mengetikkan sesuatu. Entah Kai sedang mengirim pesan untuk siapa, Dara tak tahu.
Dara membuang napas nya panjang. Meluruhkan segala beban yang mengganjal di hati. Dan entah kenapa, kali ini ia tak bisa berbuat apa-apa. Walau hanya sekedar untuk protes. Ia malah menerima begitu saja perlakuan Kai. Yang jelas-jelas sedang mengerjainya saat ini.
Sepanjang menunggu pesanannya datang, Dara duduk diam. Tak berinteraksi lagi, tak memberikan respon apapun lagi. Sedangkan Kai, memperhatikannya secara diam-diam.
Tak berapa lama pesanan datang. Satu per satu makanan pesanan Kai, Yola letakkan dengan hati-hati. Sambil sesekali matanya melirik ke arah Kai.
"Silahkan dinikmati." Ujar Yola. Lalu kembali ke belakang.
Kai pun dengan santainya mulai menikmati makanan yang tersaji di depannya. Saking santainya, sampai-sampai tak memperhatikan raut wajah Dara yang tampak semakin tegang dan pucat pasi.
.
.
"Apa?" Pekik Dara saat kasir menyebutkan total tagihan yang harus ia bayar. Dara memilih membayarnya langsung di meja kasir agar Kai tidak tahu kalau ia tidak membawa uang yang cukup.
"Mau bayar pakai tunai atau pakai kartu kredit Mbak?" Tanya sang kasir.
"Pakai kartu kredit saja." Dara mengambil kartu kreditnya dari dalam dompet dan memberikannya pada kasir.
"Maaf, Mbak. Apa ada kartu kredit yang lain? Yang ini tidak bisa digunakan. Ujar kasir setelah menggesek kartu kredit Dara.
"Masa sih? Coba sekali lagi."
"Maaf, Mbak. Tidak bisa." Ujar kasir setelah menggesek kartu itu untuk kedua kalinya.
Oh my god!
Dara pun terhenyak. Ia baru ingat, kartu kreditnya sudah di blokir ayahnya sejak ayahnya mengambil pensiun.
Entah Dara harus bagaimana sekarang. Mana uang nya tidak cukup untuk membayar tagihan itu. Ditambah lagi kartu kreditnya yang sudah di blokir. Lalu Dara harus berbuat apa sekarang?
TBC
__ADS_1