
"Jangan tinggalkan aku," pinta Kai sekali lagi. Masih dengan mata terpejam.
Entah Kai telah tertidur atau pria itu hanya mengigau saja. Namun telah berhasil mengetuk pintu hati Dara. Hingga ia semakin enggan meninggalkannya.
Atas dasar rasa iba, Dara pun memutuskan untuk menemani dan menjaga Kai sampai demam pria itu turun. Dan kondisinya pulih.
Hingga malam menjelang, Kai masih tertidur. Sementara suhu badannya makin naik. Membuat Dara yang tengah memastikan kondisinya kian cemas.
Sepanjang malam Dara dengan setia menjaga dan merawat Kai, mengompres dahinya layaknya seorang anak kecil. Demi menurunkan demamnya.
Waktu menunjukkan pukul 12 malam, Dara masih setia merawat Kai. Ponselnya yang berdering berkali-kali dan menampilkan nama Mama Maya, tak ia hiraukan. Bahkan hampir puluhan pesan chat yang masuk tak ia balas. Saat ini yang lebih penting baginya adalah kondisi kesehatan Kai. Ia baru akan pulang jika Kai telah pulih sepenuhnya.
Dara duduk di tepian tempat tidur, sambil memandangi wajah Kai. Pria yang membuatnya jatuh hati itu kini terbaring sakit. Disaat seperti ini, Dara ingin menjadi orang pertama yang selalu setia menemani dan menjaganya.
"Jo ..." Lirih Kai memanggil nama Jo. Membuat Dara sedikit terkejut.
"Jo ..." Sekali lagi Kai menyebut nama itu.
"Jo? Siapa itu? Temannya?" gumam Dara menerka-nerka.
Entah siapa pula yang bernama Jo. Beberapa kali Kai memanggil namanya, sebelum akhirnya Kai tak memanggil nama itu lagi.
"Mungkin memang temannya."
Dara tak tahu menahu dan tak ingin tahu siapa Jo itu. Mungkin benar, Jo itu adalah teman Kai. Teman lelaki Kai.
Jo.
Bisa saja itu adalah Jono, Joni, Jordi, Joko, atau mungkin Jonas.
Entahlah.
Tidak mungkin juga Jo itu adalah teman wanita nya Kai.
What ever. Dara tak peduli. Yang terpenting baginya adalah Kai. Memikirkan tentang seseorang yang bernama Jo membuat Dara mengantuk saja.
Dara menguap berkali-kali. Kantuk yang menyerang membuat matanya terasa semakin berat. Tanpa berpikir panjang lagi, Dara memilih tidur di sofa ruang tengah. Yang bersebelahan dengan kamar Kai.
Sebelumnya, Dara telah mengirim pesan chat pada Yola dan Ditha, agar memberitahu Mama Maya jika ia menginap semalam di rumah Yola. Agar Mama Maya tidak mencemaskannya. Dan berhenti menghubunginya.
Dara menyetel alarm di ponselnya, sebelum akhirnya ia terlelap. Menyelami lautan mimpi indahnya.
.
.
__ADS_1
Sinar mentari pagi yang menembus jendela kamar, menyilaukan sepasang mata Kai yang baru saja terbuka.
Kai mengerjap, menatap nanar seisi kamar. Tangannya tanpa sengaja menyentuh kain kompresan di dahinya. Ia singkirkan handuk kecil itu. Dan hati bertanya-tanya, siapa gerangan yang merawatnya hingga pulih.
Kai hendak beranjak dari tempat tidur, saat ia merasakan ada sesuatu yang melingkari pinggangnya. Ia lantas menurunkan pandangan, dan mendapati sebuah lengan putih mulus mendarat di atas perutnya. Melingkari pinggang begitu bebasnya.
Kai pun menoleh. Dan terkejut melihat paras jelita tersaji di depan mata. Begitu dekat. Terpampang jelas dengan helaian rambut yang menutupi pipi kanannya.
"Dara?" gumam Kai lirih.
Kai sungguh terkejut mendapati Dara tidur di tempat tidurnya. Melingkarkan lengannya manja, bahkan gadis itu sangat pulas. Tak terusik sedikitpun, meski Kai berusaha menyingkirkan lengan gadis itu dari perutnya.
Pelan Kai menggeser lengan Dara. Tetapi Dara justru melingkarkan kembali lengannya saat Kai hampir berhasil menurunkan nya.
Sekali lagi Kai mencoba, dan yang terjadi masih saja sama. Dara malah lebih mengeratkan rangkulan di pinggangnya. Ditambah lagi sebelah kaki Dara tiba-tiba ikut melingkar. Membuat Kai terkesiap dan menahan napasnya kuat lantaran lutut Dara yang hampir saja mengenai juniornya yang masih tertidur di bawah sana.
Astaga.
Kelakuan tanpa sadar Dara membuat Kai menggeleng tak percaya. Apa iya, gadis cantik tidurnya seperti ini?
Kembali Kai berusaha menurunkan lengan Dara. Dan yang terjadi, masih saja sama. Gadis itu menggeliat pelan sambil bergumam,
"Yola, jangan iseng ah. Aku masih ngantuk banget nih. Jangan ambil guling ku. Gulingnya nyaman banget."
Gumaman tanpa sadar Dara itu mencetak senyum di wajah Kai. Gadis ini benar-benar menggemaskan. Wajah polosnya yang tampak tenang, sedikit mengusik perhatian Kai.
Yang entah kenapa, semakin ditatap semakin membuat hatinya berdebar. Ada desiran indah dalam darahnya yang membawa perasaan damai dan bahagia disaat bersamaan.
Entah ini perasaan apa namanya. Kai tak ingin salah menafsirkan. Jika ini cinta, mana mungkin dia hadir secepat ini. Bahkan Kai belum mengenal baik gadis itu.
Jika benar perasaan ini adalah cinta, lalu bagaimana dengan perasaannya terhadap Joanna?
Apakah yang dikatakan Beno itu benar? Bahwa perasaannya terhadap Joanna tidak lebih dari obsesi semata? Ia hanya tak ingin terlalu cepat berkesimpulan.
Namun hati pun tak memungkiri, perasaan yang ia rasakan terhadap Dara dan Joanna sungguh berbeda. Meski ia baru mengenal Dara, tapi hadirnya gadis itu mampu menghadirkan getar-getar tak biasa. Yang banyak orang mengatakan bahwa itu adalah cinta.
"Why are you so beautiful when you sleep like this (kenapa kamu sangat cantik saat kamu tidur seperti ini)," gumam Kai lirih sembari menatap lekat paras Dara dengan senyum tercetak di bibirnya.
"Oh my gosh. Am i crazy? (astaga. Apa aku sudah gila)?" Kai menggeleng. Menghalau pikiran-pikiran nyeleneh yang mulai merajalela di benaknya. Membuatnya semakin berandai-andai.
Andai saja ia bertemu dengan Dara lebih dulu. Mungkin saat ini Dara lah yang teristimewa di hatinya.
Andai saja ...
Andai saja ...
__ADS_1
Astaga.
Kembali Kai menggeleng.
Tidak! Tidak mungkin!
Perasaannya pada Dara mungkin hanya sebatas kagum semata. Bukan tertarik yang ujung-ujungnya Cinta.
Perut Kai mulai keroncongan. Meminta jatahnya yang sejak kemarin sore belum diisi. Kai pun kembali mencoba menurunkan lengan Dara perlahan. Agar tak membangunkan tidur gadis itu.
Berhasil.
Kai bernapas lega. Selanjutnya tinggal kaki jenjang Dara. Pelan Kai berusaha menyingkirkan kaki jenjang yang hampir saja mengusik jiwanya yang tenang itu. Begitu pelannya Kai menggeser kaki Dara, saat tiba-tiba sepasang mata berbulu lentik itu terbuka.
"Hei!"
Seruan itu membuat Kai menoleh seketika.
"Kamu ..." Dara terperanjat seketika. Saat menyadari siapa yang berbaring di sampingnya saat ini.
"Kai?" Dara lantas membekap mulutnya. Kemudian menurunkan pandangan. Ia terkejut bukan kepalang melihat kakinya tanpa sopan melingkari paha Kai.
Cepat Dara menurunkan kakinya.
"Astaga." Dara memekik lantaran malu akibat lututnya yang tinggal beberapa centi lagi akan menyentuh junior Kai.
Kai masih menatap Dara tajam. Membuat Dara malu dan serba salah.
"Kenapa kamu bisa tidur di kamarku? Bukannya aku udah minta kamu pulang?" tanya Kai menatap Dara tajam.
Dara menelan salivanya dalam-dalam, kemudian meringis malu. Bagaimana ini? Apa ia harus jujur, jika ia begitu mencemaskan pria itu?
"Sorry, aku ... Aku ..." Ya ampun, Dara sampai tak tahu harus menjawab apa.
"Kamu yang mengompresku semalam?"
"I ... Iya. Eh, bu ... bukan."
"Oh ya?"
"Sorry." Dara hendak beranjak dari tempat tidur itu, saat tangan kekar Kai dengan cepat menarik lengannya. Hingga ia jatuh tepat diatas tubuh Kai.
Disaat bersamaan, pintu kamar Kai terbuka lebar. Seseorang membuka dari luar tanpa permisi.
"Oh gosh (astaga)!"
__ADS_1
TBC