
"I'm sorry (maafkan aku)," lirih Kai berucap masih dalam posisi mengungkung tubuh Dara di bawahnya.
Dara mengulum senyum tipis. "Maaf untuk apa?" tanyanya tanpa sesal. Akan kesucian yang telah terenggut dalam sekejap mata.
Dara berpikir, hal itu adalah sebagai bukti cintanya teruntuk Kai. Untuk itu, ia tak menyesali.
Astaga.
Dara benar-benar telah dibutakan cinta.
"Aku sudah pernah bilang sebelumnya. Aku ini pria normal. Aku nggak bisa mengendalikan diriku jika berada di dekat kamu. Kenapa kamu nggak bilangĀ kalau kamu masih..."
"Untuk apa meminta maaf. Aku sendiri yang menyerahkannya untuk kamu. Agar kamu tau, betapa aku sangat mencintaimu."
Kai tertegun. Bingung harus berkata apa lagi. Rasa bersalah datang disaat bersamaan. Bersalah telah merenggut kehormatan gadisnya. Yang seharusnya ia jaga.
Kai kemudian bangun, mulai beringsut hendak turun dari tempat tidur. Telapak kakinya baru saja menyentuh lantai, saat Dara tiba-tiba merangkulnya dari belakang. Dagu gadis itu bertumpu di pundaknya. Tubuhnya yang masih berbalut selimut, menempel sempurna di punggung Kai.
"Aku mau bersih-bersih dulu. Mau bareng?" Kai memiringkan kepala.
"Nanti saja. Aku masih ingin memeluk kamu seperti ini, sebentar saja."
"Orang tuamu pasti sedang mencemaskan kamu. Kamu yakin masih mau nginap di sini?"
"Aku ini sudah dewasa. Aku juga ingin menjalani hidupku seperti yang aku inginkan. Aku ingin bebas melakukan apapun yang aku mau. Dan orang tuaku nggak pernah ngelarang. Kamu tau kenapa?" Dara mengurai rangkulannya.
Kai pun merubah posisi duduk. Memiringkan tubuh berhadapan dengan Dara. Gadis itu mengulum senyum manisnya. Kedua tangannya menahan selimut agar tak melorot.
"Kenapa memangnya?" tanya Kai.
"Coba tebak."
Kai mengulum senyumnya. "Mana bisa aku tebak."
"Karena aku sedikit berjiwa pemberontak. Aku nggak suka di kekang. Aku berjiwa bebas. Dan orang tuaku tau betul hal itu. Jadi ..." Dara membawa kedua tangannya melingkari pundak kekar Kai. Selimut dalam genggaman pun otomatis melorot. Dan menampakkan dua gundukan kembar.
"Kamu nggak perlu cemas. Mama Papaku itu berjiwa muda. Mereka juga nggak mau melihat anak mereka satu-satunya ini menjomblo seumur hidup," sambungnya.
Kai menarik selimut dan menutupi tubuh Dara. Yang dengan tak tahu malu menampakkan diri. Kemudian meraih tangan Dara, menuntunnya memegangi selimut agar tak melorot lagi.
"Tapi tetap saja, Mama Papamu pasti cemas."
"Jadi, kamu mau aku tetap pulang ke rumah malam ini? Udah tengah malam loh. Apa kamu nggak takut kalau nanti terjadi apa-apa padaku?"
Mencubit gemas pipi Dara, Kai akhirnya menyerah dengan gadis itu. "Ya sudah. Kamu boleh tidur di sini. Tapi ingat, jangan ngorok," celetuknya menggoda.
Dara memasang wajah cemberut seketika. "Iiih ... Kamu ngeselin. Masa cewek secantik aku tidurnya ngorok. Emang kamu tau dari mana?" sungutnya.
"Waktu kemarin kamu nggak sengaja ketiduran di kamarku ini."
"Oh ya?" Dara terkejut, plus melotot sempurna.
Kai menjawabnya dengan kekehan geli. Tak menghiraukan reaksi Dara, Kai hendak berdiri. Namun cepat dan kuat Dara menarik lengannya. Hingga ia jatuh terlentang. Dalam sekejap mata, tubuh ramping gadis itu yang masih berbalutkan selimut pun telah berada di atasnya. Menindihnya dengan berani.
Kai terkejut menerima perlakuan Dara yang sungguh berani.
"Dara," pekik Kai tertahan.
"Emang bener aku ngorok?" selidik Dara dengan tatapan menuntut.
Kai menarik sudut bibir, lalu menggeleng sembari berdecak tak percaya akan tingkah gadisnya.
__ADS_1
"Turun nggak?" tantang Kai.
Dara menggeleng. "Enggak sebelum kamu jawab dengan jujur."
"Astaga Dara. Aku cuma bercanda. Nggak serius."
"Bener?"
"Iya. Memangnya kenapa kalau kamu ngorok?"
"Aku malu lah."
"Malu sama siapa?"
"Ya jelas malu sama kamu. Aku malu kamu melihat kekuranganku."
Kai terkekeh. Lalu membawa jemarinya mengusap sebelah pipi Dara. Kemudian jemari itu turun perlahan menyentuh bibir.
"Untuk apa malu. Mau seperti apapun kamu, aku tetap suka," ucap Kai mengusapkan jempol di bibir Dara.
"Aku cinta kamu apa adanya. Justru kekurangan kamu itulah yang bikin aku jatuh cinta sama kamu. Mungkin ini yang namanya cinta tulus. Aku suka semua yang ada padamu. Bahkan kekuranganmu," tambahnya. Membuat Dara tersentuh dan terharu. Menatap Kai dengan mata mulai berkaca-kaca.
"I love you so much (aku sangat mencintaimu)," lirih Dara disertai buliran bening yang mulai berjatuhan dari pelupuk mata.
Kai kini membawa jemarinya mengusap lembut, menghapus air mata gadisnya. Kemudian meraih tengkuk, menekannya perlahan. Hingga bibirnya menyentuh bibir Dara. Kembali menyesapnya lembut. Memagutnya mesra seiring rasa yang kian menggetarkan jiwa.
Malam itu, untuk kedua kalinya, mereka kembali melebur dalam satu rasa, satu hasrat yang menggelora. Berbagi peluh hingga malam kian larut.
Cinta terkadang sulit dipahami. Kai dan Dara yang baru saja saling mengenal, bahkan belum saling mengenal baik. Siapa sangka akan saling jatuh cinta secepat ini. Bahkan keduanya berani melangkah jauh, melewati batas.
Jika jati diri yang sebenarnya terkuak ke permukaan suatu hari nanti, akankah keduanya dapat menerima dan masih memiliki perasaan yang sama?
.
.
Dara menatap nanar ke sekeliling. Mengedarkan pandangan mencari sosok Kai di setiap sudut rumah itu.
Bunyi pisau yang beradu dengan talenan yang terdengar menuntun langkah Dara menuju dapur.
Kai terlihat tampan dengan celemek yang ia kenakan. Penampakan Kai pagi ini layaknya seorang koki profesional saja.
Pria itu sedang memasak sarapan untuk mereka berdua. Atensinya pun teralih begitu netranya menangkap sosok Dara yang berjalan ke arahnya.
"Morning (pagi)," sapa Kai mengulum senyum manisnya.
Dara balas tersenyum. Tanpa aba-aba ia merangkul Kai dari belakang. Menyandarkan kepala di punggung kekar pria itu.
Sekilas keduanya terlihat seperti pengantin baru. Karena sikap dan kemesraan keduanya menampakkan hal itu dengan jelas. Begitu mesra, hingga siapapun yang melihatnya, mungkin saja akan merasa iri.
"Morning too, dear (pagi juga sayang)," balas Dara semakin mengeratkan rangkulan.
"Kamu mau sarapan apa pagi ini? Koki kamu ini selalu siap melayani."
"Apa aja. Yang penting, kamu yang masak."
"Bantuin dong."
"Aku nggak bisa masak."
Kai tersentak. Kemudian memutar tubuh saat Dara mengurai rangkulan. Kai menatap usil gadis itu.
__ADS_1
"Kamu nggak bisa masak? Yang bener?" Kai penasaran dan serasa ingin menggoda gadisnya.
Dara meringis malu. Diikuti anggukan pelan. Kemudian menggaruk tengkuk yang entah kenapa tiba-tiba terasa gatal.
"Terus, kamu ini bisanya apa?" tanya Kai.
"Mencintai kamu sepenuh hati."
Kai terkekeh. "Gombal."
"Serius. Aku bisanya itu."
Kai melepas celemek. Lantas meraih pinggang Dara. Membawanya merapat agar bisa merangkulnya erat.
"Kalau kamu bisa mencintaiku sepenuh hati, maka aku bisa mencintaimu sebesar dunia." Kai membalas gombalan Dara. Yang meskipun sederhana, namun mampu membuat hatinya menghangat seketika. Bahkan tersentuh akan kejujuran dan kesungguhan hati Dara.
Kai pun mendaratkan satu kecupan mesra di kening Dara.
"Oh ya, Kai, aku boleh nanya sesuatu nggak?" tanya Dara mengalihkan pembicaraan.
"Boleh. Mau nanya soal apa?"
"Keluarga kamu."
Kai terdiam. Lalu menurunkan pandangan seraya menghela napas.
"Aku kok nggak pernah melihat foto keluarga kamu di rumah ini. Biasanya, di setiap rumah, sudah pasti ada foto keluarga. Tapi kok di rumah ini nggak ada foto keluarga. Keluarga kamu di mana sekarang?" tanya Dara lagi.
Kai menatap Dara intens, tetapi belum menggubris pertanyaan gadis itu.
"Kamu masih punya keluarga kan?"
Kai menggeleng pelan. Hingga Dara pun terhenyak.
"Keluargaku sudah lama meninggal dalam kecelakaan," sahut Kai dengan wajah murung.
"Maafkan aku. Aku nggak bermaksud bikin kamu sedih."
"Nggak apa-apa." Sembari mengulum senyum.
"Maaf sekali lagi. Aku nggak ada niatan sama sekali mengingatkan kamu pa..."
"Nggak apa-apa, Dara." Kai membawa jemarinya menyentuh wajah Dara. Mengusapnya lembut. Menatapnya sayu.
"Kejadiannya sudah lama. Keluargaku meninggal dalam kecelakaan mobil setahun lalu," sambungnya.
"Keluargamu?"
"Iya. Ayah, ibu, dan kakakku. Revan Arsenio."
Dara tersentak. Terdiam seketika.
Nama itu, nama yang disebutkan Kai, rasanya ia pernah mendengarnya. Seingatnya, setahun lalu. Saat tragedi itu terjadi.
Keluarga Arsenio.
Mungkinkah keluarga itu adalah keluarga yang ia kenal?
Mendadak rona wajah Dara pun memucat.
TBC
__ADS_1