
"Kenalkan, aku Riko," ucap dokter tampan bersneli putih itu mantap. Sembari mengulum senyum menatap Dara.
Dara masih tak menggubris. Dipandanginya dingin uluran tangan Riko, si dokter tampan. Sementara Riko, tangannya masih terulur. Menunggu Dara menyambutnya.
"Baiklah. Mungkin ka..." ucapan Riko terpotong lantaran Dara dengan cepat meraih uluran tangannya.
"Dara," ucap Dara singkat. Lalu menarik kembali uluran tangannya. Tetapi sedikit terhambat. Sebab Riko menggenggam jemarinya erat. Riko malah semakin mempererat genggamannya saat Dara hendak menarik kembali uluran tangannya.
"Dok. Nggak ada niat buat lepasin tangan aku nih?" sindir Dara. Membuat Riko semakin tersenyum lebar.
"Sakit loh ini," tambahnya. Hingga akhirnya, Riko pun melepas genggaman tangannya. Sembari tertawa kecil.
"Sorry."
"Dok," panggil Dara lembut. Membuat Riko meninggikan kedua alisnya. Menatap tak percaya pada gadis menggemaskan, yang tiba-tiba saja memanggilnya dengan nada lembut.
"Kamu dokter kan?" Dara malah seakan meledeknya. Lantaran tak nyaman dipandangi Riko seperti itu.
Riko pun terkekeh. Sungguh gadis itu menggemaskan di matanya.
"Menurut kamu?" Riko malah bertanya kembali.
"Ya elah Dok. Aku nggak lagi pengen bercanda nih. Aku cuma mau bilang makasih sekali lagi. Kalau saja Dokter nggak menolong aku, mungkin sekarang ini aku udah jadi bidadari surga."
"Ha ha ha ..." Riko tergelak. Menggeleng tak percaya. Sungguh gadis ini menggemaskan. Baru saja kenal tapi rasanya sudah seakrab ini.
"Emang kepengen banget jadi bidadari surga?" tanya Riko balik.
"Kalau emang udah takdir, mau gimana lagi."
"Nggak kepengen gitu jadi bidadari di hati seseorang?"
"Di hati siapa emang?"
"Di hati aku, misalnya?" tembak Riko langsung, dengan nada bercanda.
"Dokter ternyata suka bercanda juga ya? Setahu aku, dokter-dokter itu biasanya dingin. Rada-rada balok es gitu."
"Nggak gitu juga. Terkadang seorang dokter itu dituntut akan kepribadiannya. Harus tetap bersikap ramah dan santun terhadap pasien. Dan harus sebisa mungkin mengutamakan pasien."
"Berarti Dokter cuma pura-pura baik dong."
"Astaga. Siapa yang bilang begitu?"
"Enggak, cuma nebak aja, Dok." Dara salah tingkah. Lantaran Riko menatapnya intens kini.
"Tebakan kamu mengerikan juga. Ya sudah, kalau begitu, aku permisi. Kamu istirahat saja dulu. Besok akan ada dokter lain yang akan datang memeriksa kondisi kamu. Kalau kamu butuh bantuan, hubungi saja aku."
"Cara menghubunginya gimana?"
"Minta bantuan suster jaga."
"Oke. Makasih sekali lagi, Dok."
__ADS_1
Riko melempar senyum manisnya, lalu beranjak meninggalkan ruangan itu. Belum sempat tangannya meraih handel pintu, pintu itu tiba-tiba saja ada yang membukanya dari luar.
"Riko ... Di sini kamu rupanya. Papa cari ke mana-mana, ternyata kamu di sini." Seorang pria paruh baya berprofesi sama dengan Riko datang.
"Ada apa, Pa?" Riko bertanya sembari memalingkan wajahnya sejenak, memandangi Dara yang juga mengarahkan pandangan kepadanya.
"Papa cuma mau membicarakan masalah perpindahan kamu ke cabang rumah sakit di luar kota."
"Kita bicara di ruanganku saja Pa."
"Oh ya, pasien yang kamu tolong itu, gimana keadaannya?"
Riko kembali memandangi Dara. "Sudah sadar. Sekarang dia baik-baik saja. Papa bisa lihat sendiri." Riko menunjuk dengan dagunya ke arah Dara.
Dokter yang dipanggil Riko papa pun mengikuti arah pandang Riko. Detik berikutnya, dahinya mengerut. Seakan mengenali pasien yang tengah terbaring itu.
Bukan hanya seakan, dokter paruh baya itu memang mengenali Dara. Perlahan dihampirinya Dara yang menyunggingkan senyum ke arahnya.
"Kamu ini bukannya putrinya Yuda?" tanya dokter itu menerka.
Riko yang merasa penasaran pun ikut menghampiri.
"Memangnya Papa kenal?" tanya Riko.
"Kenal lah. Yuda itu teman lama Papa." Lalu kembali menatap Dara.
"Benar kan kamu ini putrinya Yuda?" tanyanya lagi.
"Iya, Dok. Saya Dara. Andara Leandra Aditama," jawab Dara lengkap sampai embel-embelnya.
"Oh ya, kamu pasti belum kenal saya. Saya Dokter Rudi, dokter ahli jantung, teman lama papa kamu. Kita pernah ketemu waktu itu di parkiran. Masih ingat kan?" tanyanya lagi mengingatkan Dara akan pertemuan mereka tanpa sengaja di parkiran rumah sakit beberapa minggu yang lalu.
Dara memasang tampang sok berpikir keras, membuat Riko tersenyum-senyum menatapnya.
"Oooh ... Iya, iya, saya ingat Dok," ujar Dara akhirnya. Dengan wajah sumringah, saking senangnya. Rupanya keberuntungan masih berpihak padanya. Masih ada orang baik yang tulus menolongnya.
"Oh ya, kenalkan, ini anak saya. Riko Pradana. Panggil saja Riko, nggak usah sungkan-sungkan. Nggak dipanggil dokter juga nggak apa-apa. Dia ini masih single, rada-rada susah cari pasangan, pemilih orangnya. Makanya sampai sekarang masih menjomblo."
Astaga!
Panjang lebar Dokter Rudi memperkenalkan sang putra. Sampai Dara terkesima dibuatnya. Sedangkan Riko menahan rasa malu akibat ulah sang papa yang membeberkan hampir semua tentangnya.
"Apa-apaan sih Pa, bikin malu aja," protes Riko atas kelakuan papanya yang begitu antusias jika melihat gadis cantik.
Dokter Rudi sangat menyayangkan, jiwa kebapakannya meronta melihat putra keduanya masih saja betah menjomblo hingga detik ini. Padahal ada banyak suster-suster cantik, bahkan dokter-dokter muda yang menaruh hati padanya. Tetapi Riko selalu saja beralasan tak ingin menjalin hubungan dengan kalangan seprofesi. Dengan dalih tak ingin privasinya terganggu.
Tetapi entah kenapa, saat bertemu Dara, justru terasa berbeda.
"Salah sendiri, kenapa masih saja menjomblo." Dokter Rudi malah menyahutinya ketus. Membuat Dara tertawa-tawa melihat kedekatan ayah dan anak itu.
"Jomblo itu pilihan Pa."
"Bukan. Kamunya aja yang bego. Padahal ada banyak perempuan-perempuan cantik yang naksir sama kamu. Memangnya kriteria kamu itu seperti apa sih? Papa jadi penasaran."
__ADS_1
"Astaga Papa. Kenapa ngomongnya jadi ngelantur begini sih? Malu dong Pa." Riko tampak mulai kesal. Lantaran mulut ember sang papa yang tak bisa terkontrol.
"Malu sama siapa?"
Riko tak langsung menjawab. Diliriknya sejenak Dara yang tersenyum-senyum melihat kelakuan ayah dan anak itu.
Melihat lirikan mata Riko, Dokter Rudi pun tersenyum. Ia mengerti arti lirikan mata itu.
"Sudahlah. Ayo, katanya ada yang mau Papa bicarakan. Kita bicara di ruanganku saja. Ayo, Pa," ajak Riko setengah memaksa dengan menarik lengan Dokter Rudi, menyeretnya keluar dari ruangan itu.
Melihat kedekatan ayah dan anak itu, setidaknya membuat Dara sedikit terhibur. Sejenak ia melupakan kesedihannya.
Di luar ruang rawat Dara. Dokter Rudi menghempas tangannya dari cengkeraman Riko.
"Jelasin dulu sama Papa, kok bisa Dara pingsan? Apa orangtuanya sudah tahu tentang ini?" tanya Dokter Rudi.
"Aku rasa belum."
Dokter Rudi menghela napas panjang. "Biar Papa saja yang kasih tahu. Kebetulan, ayahnya temannya Papa."
"Ya sudah, terserah Papa."
"Oh ya, sekalian jelasin sama Papa arti lirikan kamu itu." Dokter Rudi mulai menggoda putranya.
Memang seperti itulah potret ayah dan anak yang satu ini. Terkadang terlihat layaknya sahabat. Tidak ada batasan di antara keduanya. Riko adalah anak penurut, sementara Dokter Rudi adalah sosok ayah yang bijaksana. Tidak pernah memaksakan kehendaknya. Bahkan soal jodoh.
"Lirikan yang mana?" Riko salah tingkah ditatap usil sang papa.
"Yang itu tuh ... Lirikan kamu ke Dara."
"Papa mulai ngawur nih." Demi menyembunyikan wajah malu-malunya, Riko kembali menyeret paksa sang Papa menuju ke ruangannya.
Disaat bersamaan, mereka berpapasan dengan Kai. Yang hendak pulang malam itu, setelah menjenguk Ziyo.
Kai menghentikan sejenak langkahnya tepat di depan pintu ruang rawat Dara, saat ponselnya berdering. Nama Beno tertera jelas di layar ponselnya.
"Halo," sapa Kai.
"Gimana, Dara sudah ketemu?"
"Belum."
"Kamu kurang gigih kali usahanya. Kalau punya masalah tuh jangan di diemin. Diselesaikan Bro. Kalau dibiarkan, bisa berimbas ke hubungan kalian. Kamu mau kehilangan Dara?"
Kai mendesah berat, sembari memijit kening yang mulai berkedut. Entah kenapa, hatinya mulai meragu saat mengetahui kebenaran bahwa Dara lah penyebab kecelakaan yang merenggut nyawa semua anggota keluarganya.
"Entahlah."
"Pikirkan baik-baik, Kai. Jangan sampai kamu menyesal."
"Masalahnya Ben, aku..." Kai tak menuntaskan kalimatnya, sebab terdengar suara pekikan seorang gadis dari dalam ruang rawat itu. Bersamaan dengan suara benda terjatuh.
Kai mengernyit. Suara yang terdengar itu tampak tak asing lagi di telinganya.
__ADS_1
TBC