
Setengah berlari Dara keluar dari restoran. Menyetop taksi yang lewat terburu-buru. Begitu taksi berhenti, Dara langsung masuk.
"Ke mana Neng?" tanya si supir taksi.
"Ke rumah sakit terdekat, Pak."
"Baik, Neng."
Taksi pun mulai melaju. Obrolan Joanna dalam keadaan panik beberapa saat lalu, pun sempat terdengar oleh Dara. Yang mana, Joanna akan membawanya ke rumah sakit. Dan Dara menyimpulkan, kemungkinan mereka akan membawa anak kecil itu ke rumah sakit terdekat.
Bukan bermaksud menguntit, hanya saja Dara ingin tahu siapa wanita itu. Dan apa hubungan wanita itu dengan Kai.
Itu saja!
Tidak lebih.
.
.
Kaki jenjang Kai melangkah panjang dan tergesa-gesa menyusuri koridor rumah sakit terdekat yang ia datangi. Mencari-cari di mana Joanna dan Ziyo berada.
Dalam perjalanan Kai sempat kehilangan jejak Joanna. Sehingga ia tak tahu apakah Ziyo telah tertangani.
Langkah panjang Kai pun terhenti saat netranya menangkap sosok Joanna yang sedang berbincang dengan dokter. Bergegas Kai menghampiri.
"Jo," panggil Kai.
Joanna menoleh ke arah sumber suara. Dan terkejut melihat Kai datang ke rumah sakit itu.
Perbincangan Joanna dan dokter itu pun usai. Dokter hendak berlalu pergi saat Kai tiba-tiba mencegah dokter itu.
"Dokter," panggil Kai.
Kaki yang baru saja melangkah pun, terhenti. Dokter lalu menoleh.
"Maaf, Dok. Boleh saya tahu apa yang terjadi dengan Ziyo?"
Joanna tersentak. Dalam hati bertanya-tanya, dari mana Kai mengetahui kondisi Ziyo saat ini? Apakah Jack yang memberitahunya?
Tetapi, bukankah ini adalah waktu yang tepat untuk Joanna memberitahu Kai tentang identitas Ziyo yang sebenarnya?
"Anak itu alergi terhadap makanan laut. Tapi sudah tertangani dengan baik. Untung saja ibunya cepat membawanya ke rumah sakit."
"Alergi?"
"Iya. Mungkin hal itu diturunkan dari ayah atau ibunya barangkali. Yang memiliki riwayat alergi yang sama."
__ADS_1
"Begitu ya Dok."
"Kalau begitu saya permisi dulu." Dokter itu pun bergegas pergi.
Kini Kai melempar pandangan kepada Joanna.
"Kamu kan ibunya, kenapa kamu bisa nggak tau kalau Ziyo alergi seafood?" Kai merasa ada sesuatu tentang Ziyo yang ia tak tahu.
Joanna mungkin tidak mengenal baik Revan selama ini. Sebab, Revan tidak punya riwayat alergi terhadap makanan laut. Dalam keluarganya, ia lah satu-satunya yang memiliki riwayat alergi itu.
"Kamu tau dari mana aku bawa Ziyo ke rumah sakit ini?" Joanna malah balik bertanya, alih-alih menjawab pertanyaan Kai.
"Aku juga sedang berada di restoran itu."
"Bersama siapa?"
"Apa penting buat kamu aku sedang bersama siapa?"
Joanna tersenyum kecut. Tanpa Kai beritahu pun, ia sudah bisa menebak Kai sedang bersama siapa. Sebab pria itu jarang terlihat makan sendiri di luar. Terkecuali jika Kai memilih kafe sahabatnya.
"Ziyo alergi. Apa hal itu menurun dari kamu?" Kai kembali bertanya.
"Dalam keluargaku, nggak ada yang punya riwayat alergi sama seafood."
"Kak Revan juga nggak punya alergi yang sama. Apa kamu tau soal itu?"
Joanna menggeleng pelan. Karena sesungguhnya, ia tak tahu menahu tentang hal itu. Jika alergi itu tidak menurun darinya dan juga Revan. Itu artinya, alergi itu menurun dari seseorang yang punya riwayat alergi yang sama. Siapa lagi kalau bukan Kai.
"Apa ada sesuatu yang kamu rahasiakan dari aku selama ini?" tanya Kai menyelidik.
Joanna tersenyum sinis. Jika Kai sudah bertanya, lalu untuk apa lagi ia merahasiakan tentang Ziyo.
"Aku nggak pernah memberitahu kamu tentang hal ini. Ziyo punya riwayat alergi yang sama dengan ku."
Joanna tidak terkejut mendengarnya. Sebab ia ingin Kai tahu tentang Ziyo. Jika Kai mulai menyadari, bukankah itu lebih bagus?
"Tanpa aku beritahu pun, aku rasa kamu sudah bisa menebak, apa yang aku rahasiain selama ini dari kamu."
Raut wajah Kai kini mulai terlihat serius. Ada satu kesimpulan yang ia ambil berdasarkan kejadian ini. Dan ia hanya harus memastikan agar tidak salah menyimpulkan.
"Joanna, tolong katakan dengan jujur, apakah Ziyo itu adalah ..." Bibir Kai mulai bergetar. Rasanya tak mampu lagi membendung perasaannya.
Joanna mengangguk pelan. Ia tahu persis apa yang akan dikatakan oleh Kai.
Kai hendak menuntaskan kalimatnya saat seseorang tiba. Langkahnya cepatnya terhenti begitu melihat Kai. Dengan napas yang memburu lantaran berlari-lari menyusuri setiap koridor, demi mencari keberadaan Kai.
Dara.
__ADS_1
Gadis itu terengah-engah sembari perlahan menghampiri Kai. Tetapi Kai, tidak menyadari kedatangannya.
Hanya Joanna yang melihat kedatangan Dara. Detik itu juga, kernyitan di dahinya tampak. Sebab, wajah Dara seperti sudah tidak asing lagi baginya.
"Joanna," panggil Kai dengan bibir bergetar menahan sejuta rasa yang mulai mendera. Antara bahagia, terharu, menyesal, kecewa, bahkan sakit disaat bersamaan.
Mendengar Kai memanggil nama Joanna membuat Dara terhenyak. Detik itu juga ia teringat saat Kai terbaring sakit dan berulang kali memanggil nama Jo. Mungkinkah Jo yang dipanggil Kai saat itu adalah Joanna?
"Iya, kamu benar. Apa yang kamu pikirkan itu nggak salah. Ziyo adalah anak kamu. Anak kandung kamu," ungkap Joanna sejujur-jujurnya. Hingga Kai pun meneteskan air matanya. Perasaannya saat ini campur aduk. Terkejut bahkan terharu mendengar pengakuan Joanna.
Bukan hanya Kai yang meneteskan air mata saat mendengar kebenaran itu. Dara, yang berdiri di belakangnya pun ikut meneteskan air mata. Bukan air mata bahagia, melainkan air mata kehancuran. Hancur lebur seluruh jiwa dan raganya, menahan sakit yang tiada tara.
"Revan menikahi aku itu hanya agar Ziyo tidak lahir tanpa seorang ayah. Aku ngerahasiain ini dari kamu karena orang tua kamu nggak setuju dengan hubungan kita. Aku dan Revan pun menikah secara diam-diam, demi anak yang aku kandung saat itu. Supaya saat dia lahir, dia juga punya orang tua yang lengkap." Panjang lebar Joanna menerangkan, hingga Kai pun semakin tak bisa menahan tangisnya.
Selama ini Kai menyangka, Joanna berselingkuh dengan Revan. Tetapi ternyata, Revan justru menyelamatkan harga diri Joanna. Yang saat itu tengah hamil di luar nikah akibat ulahnya.
"Jo, maafkan aku. Selama ini aku salah menilaimu," ucap Kai di sela isak tangisnya.
Joanna tersenyum tipis. Tetapi netranya masih tertuju pada Dara yang menangis pilu tanpa bersuara di belakang Kai. Pemandangan itu sedikit mengusiknya. Lantaran gadis itu menangis tanpa sebab.
"Kamu siapa?" tanya Joanna tiba-tiba membuat susana berubah seketika itu juga.
Sontak Kai menoleh ke belakang. Ia tersentak begitu melihat sosok Dara sedang berdiri di belakangnya dengan berderai air mata.
"Dara?" Cepat Kai memutar tubuh dan hendak menghampiri Dara. Namun langkahnya tak sempat mengayun lantaran Dara mengangkat tangannya. Melarang Kai menghampirinya.
Dara semakin terisak dalam tangisnya. Perasaannya hancur lebur, sakit sesakit-sakitnya. Perihnya bagai teriris sembilu. Hingga pedih pun terasa kian menyesakkan dada.
Dara merasa seluruh dunianya hancur seketika. Bersama impian yang sudah ia bangun. Runtuh dalam sekejap saat satu rahasia terungkap.
Lantas bagaimana dengan rahasia lain yang Dara sembunyikan. Akankah hubungannya dengan Kai masih berjalan mulus jika rahasia itu pun terkuak ke permukaan?
"Dara, please, dengarkan dulu penjelasanku." Kai meminta sembari memberanikan diri menghampiri perlahan. Meski Dara melarangnya.
"Jadi dia yang bernama Dara?" Joanna ingin memastikan seseorang yang saat ini dekat dengan Kai adalah Dara. Gadis yang berpapasan dengannya di rumah sakit beberapa waktu lalu.
Putri Yuda Aditama, gadis penyebab kecelakaan yang menimpa keluarga Arsenio setahun yang lalu.
Dara tak tahu harus berkata apa lagi. Lidahnya serasa kelu saat ini. Tak mampu lagi berkata-kata, bagai hilang seribu bahasa.
"Dara, please, kasih aku kesempatan untuk menjelaskan semua ini sama kamu." Kai meminta sekali lagi.
Tetapi Dara tak menggubrisnya sama sekali. Dadanya begitu sesak menahan sakit. Tangisnya pun bahkan sulit mereda.
"Kai, kamu masih ingat kan, aku pernah beritahu kamu sebelumnya. Kalau penyebab kecelakaan itu adalah seorang gadis?" Joanna agaknya ingin mengungkap rahasia yang ia tahu mengenai kecelakaan itu.
Namun Kai, tak mengindahkan ucapan Joanna. Ia lebih terfokus pada Dara.
__ADS_1
"Gadis itu adalah gadis yang berdiri di depan kamu saat ini." Joanna menambahkan. Membuat Kai terdiam.
TBC