You Make Me Crazy

You Make Me Crazy
Ch. 71


__ADS_3

Setelah melepas kepergian mama papa nya, Dara ingin segera pulang. Jika biasanya ia akan ikut bersama Riko ke rumah sakit, menunggu sampai Riko menyelesaikan pekerjaannya. Meskipun ia tahu pekerjaan seorang dokter tidak ada habisnya. Pasien selalu datang silih berganti.


Namun sekarang, keadaan sudah berbeda. Baginya, entah bagi Riko. Karena hadirnya Kai secara langsung telah mengubah kesehariannya.


Ia lebih memilih pulang ke rumah, ketimbang menghabiskan waktu bersama Ken di rumah sakit seperti biasanya. Sebab ada hati yang harus ia jaga.


Saat hendak melangkah pergi, barulah ia menyadari sesuatu. Serasa ada yang kurang. Yaitu Ken.


Di mana anak kecil itu?


"Dok," panggilnya mulai memasang wajah panik.


"Ada apa?" Riko mengernyit melihat wajah panik Dara yang memucat. "Kamu sakit?"


"Ken ke mana? Apa kamu tau dia ke mana?" tanyanya panik. Sembari mengedarkan pandangan gelisah ke segala penjuru arah.


Bandara siang itu cukup ramai. Ia kesulitan menemukan sosok Ken diantara keramaian.


"Loh, bukannya tadi dia berdiri di samping kamu?" Riko pun panik jadinya begitu mengetahui Ken menghilang.


"Iya. Dia memang berdiri di sampingku tadi. Tapi sekarang dia ke mana?" Dara semakin panik. Tidak biasanya Ken pergi tanpa memberitahu sebelumnya.


"Aku nggak tahu Dara."


"Kenapa kamu bisa nggak tahu? Kan kamu Daddy nya? Kamu ini gimana sih? Perhatian kamu itu ke mana? Kok bisa tiba-tiba Ken hilang? Kenapa kamu bisa ceroboh sebagai Daddy nya." Amarah Dara malah tersulut, saking panik dan ketakutan.


Jangan sampai sesuatu yang buruk terjadi pada Ken. Kalau sampai itu terjadi, ia tidak akan memaafkan dirinya sendiri.


Ken adalah segalanya, seluruh hidupnya. Jika saja sesuatu yang buruk menimpanya, itu adalah kesalahannya.


"Kamu Mommy nya. Seharusnya kamu yang lebih memperhatikan dia. Bukannya kamu malah menyalahkan aku." Riko sedikit tersinggung dengan ucapan Dara.


Sakit hati nya mendengar obrolan Dara dengan seseorang malam itu di dalam kamar mandi masih terngiang. Diam-diam Dara sudah membohonginya, bahkan mengkhianatinya.


Hanya karena cinta lah ia masih bisa menerima dan memaafkan. Namun ia tak pernah berhenti berharap, suatu hari nanti akan ada keajaiban.


"Oh iya, aku lupa. Kamu bukan Daddy kandungnya." Tanpa berpikir lebih dahulu, kalimat itu menyembur begitu saja dari mulutnya. Saking cemas dan tak bisa menahan emosi, hingga Dara tidak menyadarinya.


Lalu bagaimana reaksi Riko mendengar kalimat itu?


Tersinggung?


Jelas!


Sebab semenjak Ken lahir, ia sudah menyayangi dan mengasihinya seperti anak sendiri. Lalu bagaimana bisa kalimat itu Dara lontarkan untuknya tanpa memikirkan perasaannya terlebih dahulu?


"Bukan Daddy kandungnya? Kamu benar." Raut wajah Riko mulai berbeda. Ada getir dalam dada saat mendengar kalimat itu. Kalimat yang sukses melukai hatinya.


Begitu melihat raut wajah itu, baru lah Dara menyadari kesalahannya. Seketika itu juga rasa bersalah datang mendera.


"Do ... Dok, maafkan aku," sesalnya sembari menghampiri perlahan. Ia baru menyadari telah melukai hati Riko.


Ibarat air susu dibalas dengan air tuba.


Peribahasa itu terlalu kejam untuknya. Dan memang, menyerupai. Bukankah diam-diam ia telah mengkhianatinya?

__ADS_1


Disaat tanggal pernikahan mereka akan segera ditentukan, ia malah sembunyi-sembunyi bertemu Kai di belakang Riko. Jelas, peribahasa itu amatlah pantas untuknya.


Wanita jahat!


Tapi, sejahat itukah ia?


Lalu apa yang harus ia lakukan. Melangkah mundur saja begitu sulit rasanya. Apalagi harus melangkah maju. Banyak aral dan rintangan yang membentang yang harus ia lewati.


Ibarat kata, maju kena mundur pun kena.


Lantas langkah apakah yang harus ia ambil?


"Dok, aku sungguh minta maaf. Aku nggak bermaksud bicara seperti itu. Aku hanya terbawa emosi. Aku terlalu cemas dan takut saat tahu Ken hilang," sesalnya sekali lagi.


"Aku tahu. Bukan hanya kamu yang cemas dan takut. Aku juga." Riko menghela napas sejenak. "Ya sudah. Kalau begitu, kita cari sama-sama. Kamu ke bagian informasi. Dan aku akan mencarinya di sekitar sini," titahnya. Yang mendapat anggukan oleh Dara.


.


.


Sementara itu. Di toilet pria.


Ken baru saja keluar dari salah satu bilik toilet saat orang asing yang menemaninya kembali datang menghampirinya.


"Udah selesai?" tanya orang asing. Lalu berjongkok di depannya.


Ken mengangguk. Masih belum berani membuka suara. Mommy Daddy nya kerap mewanti-wanti agar ia menjauhi orang asing.


Namun orang asing yang satu ini, entah mengapa hatinya luluh begitu saja saat menatap sepasang mata soft blue itu. Yang sama persis seperti bola matanya.


Bahkan, beberapa saat lalu, saat mereka hendak ke toilet. Beberapa orang yang berpapasan dengannya mengira mereka adalah ayah dan anak. Lantaran kemiripan wajah yang mereka miliki.


Ken tak langsung menjawab pertanyaan orang asing itu. Ia diam saja sembari menatap lekat bola mata soft blue orang asing itu.


Orang asing itu tersenyum kepadanya. Membuat hatinya menghangat. Entah mengapa. Serasa seperti ada ikatan yang tak terlihat. Ken terus menatap sepasang mata itu.


"Nggak usah takut. Om bukan orang jahat. Oh ya, nama kamu siapa?"


Setelah beberapa saat bungkam, akhirnya Ken membuka suara.


"Kendra Arsenio, Om. Panggil aja Ken."


"Ken? Nama yang bagus. Siapa yang memberimu nama?"


"Mommy."


"Nama kamu hampir mirip dengan nama Om."


Ken meninggikan kedua alisnya. "Oh ya? Nama Om siapa?"


"Kaivan Arsenio. Sering dipanggil Kai." Kai menyunggingkan senyum manisnya.


"Kok bisa sama Om?"


Kai mengendikkan bahu. "Nggak tahu. Kebetulan mungkin. Atau mungkin juga kita memang berjodoh."

__ADS_1


"Jodoh itu bukannya untuk orang dewasa ya Om?" Dengan polosnya Ken mengomentari. Membuat Kai tergelak. Betapa bahagianya ia bisa mengobrol dengan putra sendiri. Tetapi sayang, anak kecil itu tidak mengetahui apapun.


"Oh ya, Om boleh nggak main ke rumah Ken?"


Ken diam sejenak. Ia teringat kembali omongan Mommy Daddy nya agar menjauhi orang asing. Termasuk orang asing yang satu ini.


Bisa saja orang asing ini sebenarnya adalah orang jahat. Yang kata Mommy Daddy nya suka menculik anak kecil.


"Ken nanya sama Mommy Daddy dulu," sahutnya was-was.


"Om cuma mau main sama Ken. Di rumah Ken nggak ada teman mainnya kan?" Orang asing itu yang tidak lain adalah Kai, hanya menebak-nebak saja. Siapa tahu tebakannya benar, lalu Dewi Fortuna berpihak kepadanya.


"Om juga sama seperti Ken. Nggak punya teman main. Jadi, Om boleh kan main dengan Ken?" rayu Kai sekali lagi.


Ken berpikir sejenak. Sembari menatap lekat sepasang bola mata Kai. Lalu entah mengapa, hatinya berdebar saat menatap sepasang mata soft blue itu. Ia bisa merasakan kenyamanan saat menatap mata itu.


Lalu tiba-tiba, ia tersenyum manis. Kemudian mengangguk pelan.


.


.


Dara sudah meminta bagian informasi untuk mengumumkan melalui pengeras suara jika seorang anak kecil yang bernama Ken hilang dari pengawasan orang tua.


Sementara Riko masih mencarinya di setiap tempat yang mungkin Ken datangi. Termasuk toilet pria. Namun hasilnya nihil. Ken tidak ditemukan di toilet pria.


Riko bermaksud kembali ke tempat semula saat tiba-tiba langkahnya terhenti. Tak jauh di depannya, Ken datang bersama seorang pria yang pernah ia lihat lima tahun yang lalu. Mereka berjalan sambil bergandengan tangan.


Pemandangan itu seketika membuat darahnya berdesir. Ken menggandeng tangan seseorang yang berwajah mirip dengannya. Begitu mirip, hingga menumbuhkan benci di hatinya.


"Itu Daddy," seru Ken gembira begitu pandangannya menemukan Riko berdiri memandanginya.


"Daddy." Ken melepas genggaman tangannya untuk berlari menghampiri Riko.


Begitu dekat, Riko langsung meraihnya. Membawanya berdiri di belakangnya. Seakan Kai adalah seseorang yang akan membawa lari anak kecil itu.


Kai melempar senyum kepada Riko yang menatapnya benci.


"Ken." Dari belakang Dara memanggil sembari berlari menghampiri.


"Ken dari mana saja, hah? Ken tahu nggak, Mommy dan Daddy nyariin Ken ke mana-mana. Ken tau nggak Mommy mencemaskan ken? Ken masih ingat kan apa yang pernah Mommy bilang?" cecar Dara tak bisa menahan emosinya lantaran cemas yang teramat.


Namun emosinya yang hampir meledak harus padam lantaran sosok yang berdiri di hadapan tengah memandanginya tajam.


"Kai?" gumamnya cemas.


"Mommy, Om itu tadi nemenin Ken nyari toilet," ujar Ken dengan gembira.


"Oh ya? Terus Ken udah bilang apa sama Om itu?" Sebetulnya Dara terkejut. Namun ia berusaha menguasai diri.


"Makasih Om." Ken melempar senyum manisnya kepada Kai. Yang dibalas Kai dengan senyum yang tak kalah manisnya.


"Sama-sama Ken."


Mereka betul-betul mirip. Hampir bisa diibaratkan bagai pinang dibelah dua.

__ADS_1


"Anak kamu sangat tampan, Dara." Kai kini melempar senyumnya kepada Dara. Membuat Dara salah tingkah. Terlebih Riko menghunus tatapan tajam kepadanya. Sangat terlihat ada amarah dibalik tatapan itu.


TBC


__ADS_2