
"Kita lihat saja nanti. Tapi aku nggak bisa menjamin. Karena aku ini juga wanita normal." Ujar Dara gamblang. Dengan memberanikan diri menatap Kai dalam. Dan hanya bisa membatin,
"Andai semudah itu aku mengakui perasaanku di depan kamu." Batin Dara bergumam.
Dara tak bisa menahan perasaannya terhadap pria itu. Yang kian hari kian menggebu.
Kai pun menatap Dara dalam. Tak seperti Dara, yang telah memiliki perasaan terhadapnya, Kai malah memikirkan Joanna saat ini. Hati dan pikirannya masih dikuasai Joanna hingga detik ini.
Terlebih, jika Kai memikirkan soal Ziyo, yang telah kehilangan sosok ayah di usianya yang masih sangat kecil. Kai semakin iba dan semakin ingin membantu Joanna.
Seperti kata Beno, bahwa perasaan Kai yang tersisa untuk Joanna hanyalah sebatas obsesi semata. Bukanlah cinta. Kai hanya dibuat penasaran akan pribadi Joanna.
Sejujurnya, terkadang Kai pun sering dibuat bingung akan perasaannya sendiri. Terlebih disaat ia bertemu Dara. Yang diam-diam mampu membuatnya terhibur. Bahkan ia merasa nyaman berada di dekat Dara. Membuatnya pun bingung akan perasaannya terhadap gadis itu.
.
.
Esok hari.
Tanpa hadirnya Kai membuat Dara tak bersemangat. Kai ibarat mentari di siang hari, ibarat rembulan di tengah malam gelap gulita, bagi Dara.
Tetapi setidaknya, ia bisa membantu Kai. Itu saja sudah cukup jadi penyemangat nya hari ini.
"Yaaah ... Kok bukan Pak Kai sih?" Salah seorang mahasiswi mengeluh. Seraya mengerucutkan bibirnya, memasang tampang cemberut.
Dara tak peduli. Ia acuh tak acuh. Seperti apapun mereka mengeluh, ia akan menganggapnya seperti angin lalu saja. Karena yang terpenting baginya saat ini hanyalah menyelesaikan tugasnya. Yaitu membantu Kai.
Kembali terdengar keluhan seorang mahasiswi yang begitu ingin Kai lah yang mengisi mata kuliahnya.
"Nggak seru deh nggak ada Pak Kai. Jadi nggak semangat belajarnya." Ujarnya sembari mengedarkan pandangan ke seisi ruangan. Seakan tengah meminta dukungan dari teman-temannya.
"Iya nih. Kenapa Pak Kai hari ini nggak hadir ya?" Tambah yang lainnya.
"Kalian tuh maunya aja Pak Kai. Kalian bukannya konsen belajar, malah konsen merhatiin Pak Kai. Makanya Pak Kai nggak mau masuk kelas ini lagi. Udah syukur hari ini ada yang gantiin ngajar. Cakep lagi." Ujar seorang mahasiswa.
Semula memang Dara tak peduli. Bahkan tak menampakkan ekspresi di wajahnya yang ia buat sedatar mungkin. Agar terkesan punya wibawa. Dan mahasiswa bisa sedikit menghormati dan menghargainya.
Namun kalimat yang terakhir membuat senyum tipis tercetak di wajahnya. Dan batin berbisik,
"Baru sadar kalian kalau aku ini cantik?" Batin Dara kepedean.
Dara sibuk menuliskan topik pembahasan materi di papan tulis. Tak ia hiraukan lagi keluhan-keluhan dari mahasiswi.
"Ehem ... Ehem." Dara berdehem sebentar, sebelum ia memulai materinya. Sambil menyapukan pandangannya. Memandangi mahasiswa dan mahasiswi satu per satu.
"Hari ini kebetulan Pak Kai sedang ada urusan mendadak. Dan beliau meminta saya yang menggantikan untuk mengisi materinya hari ini. Sebelum kita mulai, pertama-tama, ijinkan saya memperkenalkan diri dulu. Nama saya Andara Leandra Aditama." Ujar Dara percaya diri.
__ADS_1
Mahasiswa menyimak, meski hanya sebagian. Dan sebagian lagi acuh tak acuh.
Namun Dara tetap tak peduli. Ia memilih memulai materinya meski mereka enggan. Dara tak menghiraukan lagi keluhan bahkan ocehan mereka. Fokus dan konsentrasinya ia curahkan untuk menyampaikan materi. Agar selesai tanpa hambatan.
Hingga akhirnya, perkuliahan pun berakhir dengan aman.
Kini Dara tengah berjalan menyusuri koridor, menuju ruang dekan. Saat tiba-tiba seorang mahasiswi menabraknya tanpa sengaja. Hingga minuman dingin dalam kemasan cup plastik yang sedang diseruputnya itu tumpah di kemeja Dara.
"Ups. Maaf, maaf Bu. Saya nggak sengaja." Ucap mahasiswi itu gelagapan.
Sejujurnya, Dara kesal. Ia bukan wanita lemah lembut yang bisa menerima hal itu begitu saja. Akan tetapi, mengingat status nya saat ini, serta tempat dimana ia berpijak saat ini, Dara pun meredam kesalnya. Ia sunggingkan senyumnya terpaksa.
"Tidak apa-apa." Ucap Dara singkat. Sembari mengulum senyum.
"Sekali lagi maaf ya Bu?" Mahasiswi itu pun berlalu.
Dara membuang napasnya kasar, lalu memicing tajam memandangi punggung mahasiswi tersebut. Sebab mahasiswi yang menabraknya tertawa-tawa begitu berlalu meninggalkannya.
"Sialan. Dia pasti sengaja tuh." Kesal Dara.
Entah apa sebabnya, mahasiswi itu sengaja menabrak dan menumpahkan minuman di kemejanya. Andai saja Dara tahu, ia tak kan diam saja.
Akhirnya, Dara memutuskan untuk kembali pulang. Niatnya ingin bertemu dekan ia urungkan.
Dengan kesal Dara membuka pintu mobil. Sambil mulutnya tak henti mengoceh.
Dara sudah bersiap hendak masuk ke mobilnya, saat tiba-tiba terdengar seseorang menyapa.
"Sudah mau pulang?" Tanya seorang pria.
Sontak Dara menoleh ke belakang. Suara itu sangat dikenalnya.
"I_iya. Kok kamu bisa ada di sini? Bukannya kamu ada di kampus lain?" Tanya Dara.
Kai mengulas senyum tipisnya. "Kenapa? Nggak boleh ya aku datang kemari? Aku hanya ingin memastikan, materinya tersampaikan dengan baik."
"Kalau soal itu, nggak usah khawatir. Dara bisa diandalkan." Dara menyombongkan diri. Membuat Kai semakin tersenyum lebar.
Namun senyumnya memudar saat melihat kemeja Dara yang kotor.
"Baju kamu kenapa?" Tanya Kai menunjuk kemeja Dara yang basah tepat di bagian dadanya.
"Oooh ... Ini nggak sengaja ketumpahan minuman."
"Kalau dibiarkan nanti kamu malah sakit karena pake baju basah."
"Nggak apa-apa. Ini juga aku udah mau pulang." Dara meringis malu sambil berusaha mengeringkan bajunya dengan tisu.
__ADS_1
Detik berikutnya, Dara tersentak kaget. Sebab tiba-tiba Kai meraih pergelangan tangannya. Menariknya, membawanya mengikuti langkah Kai sampai ke mobil Kai yang terparkir tak jauh.
"Kenapa aku malah dibawa kemari?" Tanya Dara bingung.
Tak langsung menjawab pertanyaan Dara, Kai membuka pintu mobilnya segera. Mengambil t'shirt dari dalam sana. Lalu memberikannya pada Dara. Yang tengah kebingungan akan sikap Kai.
"Pakai itu. Kalau nggak, nanti kamu kedinginan." Titah Kai.
Dara pun menerima t'shirt itu meski tak enak hati.
"Nggak apa-apa nih?" Dara memastikan.
"Iya. Nggak apa-apa. Pakai saja."
Dara hendak melangkah menuju ke mobilnya. Tetapi langkahnya terhenti saat terdengar Kai berkata,
"Ganti saja di mobilku."
Dara menoleh, memandangi Kai yang tanpa ragu menawarkan.
"Nggak usah. Biar aku ke mobilku saja." Tolak Dara halus. Namun hati begitu ingin.
"Duh Dara ... Kenapa malah menolak sih? Siapa tau aja, Kai nawarin pulang bareng lagi. Kesempatan yang bagus kan? Duuuh ... Bego banget sih ..." Gerutu Dara membatin. Wajahnya cemberut seketika.
"Nggak apa-apa kok. Kalau kamu nggak mau juga nggak masalah." Kata Kai.
"Iya deh. Kalau ke mobilku, kayaknya kejauhan. Nanti malah keburu masuk angin." Dara meringis malu. Dan hati bersorak gembira.
"Jangan ngintip ya?" Ujar Dara sebelum akhirnya masuk ke mobil Kai di kursi penumpang.
Kai terkekeh mendengarnya. Lalu memutar tubuhnya membelakangi jendela mobil.
Bergegas Dara mengganti pakaiannya. Hatinya begitu senang dan berbunga-bunga. Memakai t'shirt Kai rasanya seakan seperti dipeluk oleh Kai. Rasanya nyaman dan menyenangkan.
Astaga.
Segila itukah Dara saat ini?
Sementara di luar mobil itu, Kai menunggu dengan sabar. Namun hati berdebar-debar, saat sekelebat bayangan kekhilafan malam itu melintas di benaknya.
Entah kenapa, dan entah apa pula sebabnya, jantungnya berdegup kencang saat menatap Dara.
Kai menggelengkan kepalanya. Mengusir bayangan-bayangan itu. Yang serasa mulai menggodanya.
TBC
😓 Makin lelet aja nih update nya thor.
__ADS_1
Meski update nya lelet, author akan tetap menyelesaikan cerita ini sampai tamat. Karena prinsip author, AKAN MENYELESAIKAN APA YANG SUDAH AKU MULAI.