
Sepanjang perjalanan pulang hening menguasai. Baik Dara, Riko, juga Ken.
Tidak ada yang bisa menebak isi kepala Riko saat ini. Pria itu mendadak berubah 180 derajat sejak pertemuan tak terduga dengan Kai di bandara beberapa saat lalu.
Riko masih saja membisu. Pandangannya terfokus ke jalanan yang tampak ramai oleh berbagai jenis kendaraan.
Sementara Dara, semakin diliputi rasa bersalah. Diam-diam ia telah membohongi Riko. Hubungannya dengan Kai yang kembali terjalin, Riko sama sekali tidak tahu menahu.
Pertemuan di bandara beberapa saat lalu tidak menciptakan obrolan yang bisa menjembatani untuk sebuah hubungan baru. Setidaknya, antara Kai dan Riko mungkin saja bisa menjalin tali pertemanan.
Namun Riko mungkin terlampau diselimuti amarah dan kecemburuan. Sehingga, begitu Ken ditemukan, Riko langsung mengajak pulang. Tanpa bertegur sapa lebih dahulu dengan Kai. Atau sekedar berterima kasih atas bantuannya menemani Ken mencari toilet.
Amarahnya telah tersulut, belum padam, ingin rasanya ia kobarkan api amarah itu. Tetapi citra, dan harga diri masih ia jaga. Tak ingin terbakar api amarah begitu saja. Yang bisa saja malah menghanguskannya, membawanya pada kerugian.
Sesampainya di rumah pun Riko masih membisu. Ia melangkah lesu menuju kamarnya. Tanpa ia sadari Dara mengekor di belakangnya.
Tangannya sudah memutar handel pintu. Pintu telah terbuka lebar. Belum sempat ia membawa langkahnya masuk, sebuah tangan lembut menahan pergelangan tangannya.
"Riko." Dara memanggil namanya lembut. Untuk pertama kalinya nama itu terucap dari bibir Dara.
Sekian lama, setelah sekian purnama berlalu, entah mengapa tiba-tiba Dara memanggil namanya. Jika biasanya Dara memanggilnya dengan sebutan Dokter saja. Serasa ada jarak yang tidak bisa dilewati.
Dara tidak tahu apakah caranya ini bisa memadamkan api amarah di hati Riko. Kelakuannya saat ini tak ubahnya layaknya istri yang berkhianat.
"Aku mau bicara sebentar," pinta Dara. Memasang wajah memelas.
Riko melepas genggaman tangan Dara pada pergelangannya. Berganti ia yang menggenggam jemari Dara. Menatap Dara sayu namun dalam.
"Adakah yang kamu sembunyikan dariku?"
Bukannya Dara yang memulai, malah Riko yang telah lebih dulu melayangkan pertanyaan. Pertanyaan yang begitu menohok. Membuat rasa bersalahnya semakin mendalam.
Ia adalah wanita pembohong.
Bagaimana bisa ia membohongi pria yang berhati malaikat seperti Riko?
Meskipun amarah menguasainya, namun sanggup ia padamkan sendiri hanya karena cinta. Cinta yang mungkin terlampau besar untuknya.
Pantaskah ia menerima cinta pria itu?
Pandangan matanya mulai kabur. Tertutupi oleh genangan air di pelupuk. Yang akhirnya mulai jatuh perlahan tanpa mampu ia cegah.
Lalu entah keberanian dari mana yang ia dapat. Tanpa bisa ia cegah lagi, kepalanya mengangguk. Disertai isak tangis yang pecah begitu saja.
"Aku dan Kai sudah kembali bersama. Maafkan aku." Dara menundukkan pandangan dengan linangan air mata.
"Aku tau. Aku sudah menduga hal ini akan terjadi. Lima tahun aku menunjukkan perasaanku, memberimu perhatian yang lebih, tapi ternyata waktu sebanyak itu masih nggak bisa merubah hati kamu." Riko berkata dengan nada suara serendah mungkin. Ada kekecewaan mendalam tersirat dari ucapannya.
"Sudah beberapa hari ini aku sering bertemu dengannya diam-diam. Maafkan aku." Ternyata air matanya masih belum bisa diajak berkompromi. Air mata itu semakin deras saja berlinang. Bahkan isak tangisnya pun tak bisa mereda.
Sungguh, sebagai seorang wanita ia benar-benar tidak pantas menerima cinta semurni embun pagi dari seorang pria seperti Riko. Yang tanpa pamrih, membantunya, menolongnya terlepas dari segala kepahitan hidup.
__ADS_1
Namun lihatlah, seperti apa balasan yang ia beri. Kebaikan Riko ia balas dengan pengkhianatan. Sungguh jahat bukan?
Tetapi, tunggu dulu!
Tanpa pamrih?
Benarkah Riko membantunya tanpa pamrih?
Mengharapkan balasan cintanya atas kebaikan yang ia beri, masihkah kebaikan itu tanpa pamrih?
Jikalau memang begitu, bukankah berarti ia tak sejahat itu?
Ia masih terisak. Saat ia merasakan genggaman Riko semakin erat.
"Aku menyayangi kamu dan Ken tulus. Walaupun Ken bukan anak kandungku, tapi bagiku dia sangat berarti. Aku masih belum bisa membayangkan, seperti apa hidupku tanpa kalian berdua."
Genggaman Riko yang semakin erat, kemudian disertai rangkulan kedua tangannya. Yang merengkuhnya, ke dalam dekapan hangatnya.
Dara tak memberikan perlawanan. Berdiam diri dalam pelukan Riko, mungkin bisa sedikit menyembuhkan luka hati pria itu.
"Aku tau sedikitpun kamu nggak bisa melupakan dia. Tapi aku pun masih berharap, suatu hari kamu bisa membuka hati mu untukku." Riko masih belum menyerah, mengharapkan cinta yang jelas-jelas bukan untuknya.
Ibarat kata, dirinya saat ini tak ubahnya bagai pungguk merindukan bulan.
Mengharapkan cinta yang tak pasti amatlah melelahkan.
Bukankah nasibnya sungguh mengenaskan?
Yaitu Ken.
yang ia yakini telah terlanjur terikat batin dan emosional terhadapnya. Ia yakin Ken lah alasannya masih bisa bertahan hingga detik ini. Berharap, hati Dara akan luluh melihat ikatan yang terjalin antara dirinya dengan Ken.
Namun harapannya itu, perlahan mulai sirna. Sebab tak jauh di seberang, Ken berdiri termangu memandang ke arahnya.
Wajah anak kecil itu begitu sulit diartikan nalar. Wajah tampan nan imut itu, kini diliputi amarah. Yang orang dewasa mungkin tidak memahami seperti apa perasaan seorang anak kecil jika mengetahui ayah yang selama ini ia sayangi ternyata bukanlah ayah kandungnya.
"Mommy? Daddy?" Ken memanggil dengan suara bergetar. Disertai mata yang mulai berkaca-kaca.
"Ken?" Sontak Riko melepas rangkulannya. Ia hendak menghampiri Ken, tetapi langkahnya terhenti saat melihat raut wajah Ken.
Ada amarah, sedih, bahkan kecewa.
Anak sekecil itu harus merasakan kekecewaan saat tahu ia telah dibohongi oleh orang tuanya sendiri.
"Ken? Udah berapa lama kamu berdiri di situ sayang?" Cepat-cepat Dara menyeka air matanya. Lalu hendak menghampiri Ken. Namun langkahnya pun harus terhenti.
"Mommy jahat!" seru Ken lantang.
Dara terkejut mendengarnya. Mata dan mulutnya membulat. Tak percaya dengan apa yang ia dengar terlontar dari mulut Ken untuk pertamakali nya.
"Ken, kamu kenapa sayang? Apa maksud kamu ngatain Mommy jahat?" Dara berusaha menguasai Ken. Entah sudah berapa lama Ken berdiri di seberang sana. Dan entah sudah berapa banyak yang ia dengar, sehingga mampu membuatnya berpikir bahwa Mommy nya orang jahat.
__ADS_1
"Ken benci Mommy. Ken benci Daddy. Mommy dan Daddy udah bohongin Ken." Raut wajah anak itu menampakkan kekecewaan mendalam. Bagaimana bisa, sang Daddy yang menyayanginya sejak kecil, bukanlah Daddy kandungnya.
Lalu siapakah Daddy kandungnya?
Lantas mengapa anak kecil seperti dirinya harus dibohongi seperti ini?
"Ken. Dengerin Mommy dulu sayang. Ken salah paham." Entah anak kecil itu mengerti ucapannya. Namun belum sempat langkahnya mengayun hendak menghampiri Ken, Ken sudah lebih dulu mengayunkan langkah kakinya cepat meninggalkan tempat itu.
"Ken?" panggil Dara sembari menyusul langkah kaki Ken.
"Ken?" Riko menyusul mengejar Ken yang hendak pergi dari rumah.
Ken tidak mengindahkan Mommy dan Daddy nya yang memanggil-manggil namanya. Bahkan berlari menyusul langkahnya.
Yang ada dalam benaknya saat ini hanyalah pergi meninggalkan Mommy dan Daddy nya yang sengaja membohonginya.
Ia memang hanyalah seorang anak kecil. Tidak mengerti dengan persoalan orang dewasa. Namun karena keseringan menonton berbagai tayangan televisi, sehingga sedikit banyak, ia mengerti arti seorang ayah kandung.
"Ken, dengerin Mommy dulu sayang."
Namun Ken tidak peduli. Yang ada dalam benaknya hanyalah ingin menjauh.
Ia semakin mempercepat langkahnya melewati ruang tengah, ruang tamu, sampai langkahnya terhenti tepat di depan pintu rumah.
Bukan karena ia menghiraukan Mommy dan Daddy nya yang terus memanggil. Namun lebih dikarenakan sesosok pria yang membuat hatinya teduh bila menatap matanya itu tengah berdiri di depan pintu rumahnya.
Kai.
Kai yang tak bisa menahan rindu kepada sang buah hati, mengumpulkan keberanian mendatangi Ken di rumahnya.
Ia tak peduli lagi keadaan. Yang ia tahu, rindunya kepada sang buah hati tak sanggup ia membendungnya lagi.
"Om?" seru Ken menatap sayu. Memasang wajah menghiba. Lalu tanpa terduga, langkahnya mengayun menghampiri Kai. Ia menghambur ke dalam pelukan Kai. Melesat seperti peluru, sehingga Kai hampir saja terhuyung.
Dalam pelukan Kai pecahlah tangisnya. Entah mengapa, pelukan Kai seakan memberinya kenyamanan dan ketenangan jiwa. Yang tak pernah ia rasakan dari pelukan Riko. Meski Riko mencurahkan semua kasih sayangnya segenap jiwa raganya.
Namun pelukan Kai, serasa melindunginya. Ia merasa seperti kembali ke rumah. Menenangkan.
"Ken? Kamu kenapa sayang?" tanya Kai masih mendekap Ken.
Di seberang, langkah kaki Dara dan Riko terhenti begitu melihat Ken malah memeluk Kai.
"Ken, kamu kenapa? Cerita dong sama Om. Om kan sudah jadi teman Ken," rayu Kai begitu Ken menarik diri dari pelukannya. Ia berjongkok, mensejajarkan tinggi badan dengannya.
"Om. Om mau nggak menolong Ken?" pinta anak kecil itu memelas.
"Om akan bantu Ken, apapun itu. Memangnya Ken butuh bantuan apa?"
"Tolong bantu Ken mencari Daddy kandung Ken."
Kai terkesima mendengar permintaan Ken.
__ADS_1
TBC