You Make Me Crazy

You Make Me Crazy
Ch. 29


__ADS_3

"Dara?" Sapa Beno menghampiri Dara.


Dara menyunggingkan senyum yang mulai terasa canggung. Hati kian bertanya-tanya akan hubungan Kai dan Joanna. Sebab dari obrolan yang ia dengar, hubungan Kai dan Joanna tak sesederhana yang ia pikir.


Sementara Kai, menatap Dara lurus. Entah kenapa, saat netra nya menangkap hadirnya sosok Dara tiba-tiba, membuat niatnya urung. Yang semula ingin mengejar Joanna, hendak menuntut penjelasan lebih dari wanita itu.


Entah kenapa.


"Mau ketemu Yola?" Tanya Beno.


"Iya. Sekalian mau makan sih ..."


"Ya udah kalau gitu, kita masuk yuk." Ajak Beno, seraya melangkah lebih dulu. Lalu menggamit lengan Kai.


"Ayo, kita makan sama-sama."


Kai tak bisa menolak, lantaran Beno menggamit lengannya kuat. Menariknya paksa untuk ikut bersamanya.


Beno, si pemilik kafe yang malah memesan menu untuk mereka hari ini. Saat pesanannya tiba, Beno kemudian bangun dari duduknya, hendak meninggalkan Dara dan Kai berdua.


"Nikmati saja hidangan spesial dari ku untuk kalian berdua. Jangan sungkan-sungkan kalau pengen nambah lagi. Karena khusus untuk kalian berdua, mau pesan apa pun itu ... Free (gratis)." Ujar Beno antusias.


"Makasih ya." Ucap Dara singkat seraya tersenyum manis.


Sedangkan Kai memasang tampang datarnya. Masih dalam mode diam seribu bahasa, sembari menatap kosong. Dengan berpaling muka.


"Dan jangan malu-malu untuk lebih dekat lagi." Tambah Beno menjeling ke arah Kai. Yang masih berpaling. Seakan enggan menatap lawan jenis yang sedang duduk manis di hadapannya saat ini.


Beno tahu, dalam benak Kai saat ini, ada Joanna. Yang masih menguasai pikirannya.


"Kai." Panggil Beno akhirnya. Membuat Kai tersentak. Refleks memalingkan wajahnya. Mendongak, menatap Beno yang menatapnya pasrah.


"Ada apa?" Kai meninggikan kedua alisnya.


"Aku ke belakang dulu ya. Aku tinggalin kalian berdua, biar ngobrolnya makin enak. Seenak makanan yang ada di hadapan kalian ini. Nggak usah pake jaim. Anggap aja kalian sedang makan di rumah sendiri." Sembari Beno memandangi Kai dan Dara bergantian.


"Siapa tau, suatu hari nanti, kalian berdua bakal serumah. Iya nggak?" Tambah Beno menggoda.


"Maksud kamu apa sih?" Kai seakan tak suka dengan celotehan Beno. Ia tampak tak bersemangat. Meski di hadapannya saat ini telah tersaji hidangan yang menggunggah selera. Dan seorang gadis cantik yang tersenyum manis menatapnya.


"Dasar. Jadi cowok nggak pekaan amat sih. Cari tau aja sendiri. Ya udah, aku tinggal dulu." Beno menepuk-nepuk pundak kekar Kai. Sebelum akhirnya berlalu meninggalkan Kai dan Dara yang masih saling membisu.


Tak ada obrolan pembuka. Padahal, baru beberapa saat yang lalu mereka bertemu.

__ADS_1


Sepulang dari kampus, Dara menyempatkan diri pulang ke rumah. Hanya untuk mengambil jaket nya. Yang ia kenakan saat ini, untuk menutupi t'shirt yang ia pakai. T'shirt milik Kai.


Hingga beberapa menit berlalu, keadaan masih hening. Tak ada satu pun dari kedua nya yang memulai obrolan. Entah kenapa, suasana mendadak canggung dan terasa kaku. Sekaku Dara hendak membuka suara.


"Ka ... Kamu ..." Sekaku itulah Dara, hingga ia tergagap. Tak berani bertanya tentang Joanna, wanita yang ia lihat berdebat dengan Kai beberapa saat lalu.


"Silahkan. Nanti makanannya dingin." Kai mempersilahkan Dara menyantap makanannya.


Dara mengangguk. Lalu mulai menyantap makanannya. Mengikuti Kai yang telah lebih dulu. Rasa penasarannya pun ia kesampingkan sejenak. Ia sadar, ia tak berhak bertanya tentang kehidupan pribadi Kai. Meski kedekatan mulai terjalin diantara mereka. Ia harus tetap menjaga privasi Kai. Dan mengubur dalam-dalam keinginannya untuk bisa lebih dekat lagi dengan Kai.


Dari gelagat yang sempat tertangkap indera penglihatannya sekilas, Joanna mungkin seseorang yang spesial buat Kai. Sebab bisa terlihat dari emosi keduanya. Yang menyiratkan seakan mereka saling mengenal dekat. Bahkan mungkin teramat dekat.


Dara membuang napas pelan. Entah kenapa, serasa ada yang mengganjal hatinya saat ini. Sekelebat bayangan Joanna sepintas lalu, membuat darahnya berdesir. Perlahan rasa kecewa mulai menusuk hati.


Mungkinkah Dara cemburu?


Di seberang, Beno mengamati keadaan keduanya. Yang tampak tenang menikmati santap siangnya. Masih tak ada obrolan yang terjadi.


Beno mendesah berat melihat keadaan Kai dan Dara.


"Kai ... Kai ... Kapan sih kamu sadar Bro." Keluh Beno seraya menggelengkan kepalanya.


"Pak Beno kenapa sih?"


"Yol ... Saya pengen ngomong sama kamu." Ucap Beno.


"Bapak mulai lagi deh. Maaf Pak, saya nggak punya waktu mengobrol dengan Bapak." Dengan gerak cepat, Yola berbalik dan hendak beranjak pergi. Tak sempat kakinya mengayun, Beno telah lebih dulu mencekal lengannya.


"Lepasin deh Pak. Nanti kalau ada yang lihat, gimana? Memangnya Bapak mau digosipin macem-macem?" Kesal Yola menghempas tangan Beno.


"Seribu macem pun saya nggak peduli. Oh ya, ngomong-ngomong ... Kamu belum menjawab pertanyaan saya."


"Pertanyaan yang mana?"


"Pura-pura lupa, atau kamu memang sudah pikun?"


"Benar, Pak. Saya nggak tau pertanyaan Bapak yang mana."


"Ngomong-ngomong, jangan panggil Bapak dong. Saya belum setua itu Yola. Sekarang, berikan saya jawabannya."


"Jawaban apa sih Pak Beno?" Yola memicing tajam.


Beno membuang napasnya kasar. "Kamu benar-benar lupa?"

__ADS_1


Yola mengangguk.


"Ish ... Pelit amat jadi manusia."


"Beneran deh Pak. Saya lupa."


"Sudahlah. Lain kali saja kita bicara. Dasar, cewek nggak peka." Beno pun berlalu, meninggalkan Yola yang tersenyum-senyum geli. Lantaran sudah berhasil mengerjai Beno.


Yola bukannya lupa akan pertanyaan Beno. Hanya saja sungguh tak ingin menjawabnya.


.


Dara menyudahi kegiatannya, saat ia rasa perutnya telah cukup kenyang. Begitu pula dengan Kai.


Namun obrolan masih belum jua terdengar diantara keduanya. Sampai tiba-tiba, Kai lah yang memulainya lebih dulu. Saat matanya melihat ada noda saus di sudut bibir Dara.


"Sorry ... Ada itu di bibir kamu." Ucap Kai.


Dara sontak menatap Kai. Yang menatapnya sembari mengarahkan telunjuknya ke dagu Dara.


"Itu? Itu apa?" Tanya Dara.


"Ada saus."


"Di mana?" Dara mengusap pipi kanannya.


"Di situ." Kai menunjuk sudut bibir kiri Dara.


Dara malah mengusap pipi kanannya. Berikut dagunya.


"Bukan di situ. Ke atas sedikit." Kai memberi petunjuk. Dan lagi-lagi Dara malah mengusap kembali pipi nya dan melewati sudut bibirnya.


"Nggak ada tuh." Ucap Dara tak percaya.


Kai pun segera mengambil tissue di depannya dan mulai mengulurkan tangannya. Sembari tubuhnya condong ke depan.


Refleks, Kai membersihkan noda saus itu di sudut bibir Dara tanpa permisi. Membuat Dara terkesiap. Seraya menatap lekat wajah Kai. Diikuti degup jantungnya yang kian menggila dikala tatapan saling bertemu. Saat Kai mengangkat pandangannya. Menatap sepasang mata Dara.


Menelisik paras cantik Dara menghadirkan desiran aneh dalam darahnya. Membuat hatinya berdebar-debar. Membuat degup jantungnya bertalu-talu bak genderang yang saling bersahutan.


Kai menelan salivanya sepat melihat bibir merah Dara yang menggoda. Membuat bayangan kekhilafan malam itu berkelebat sepintas lalu.


Kai merasa ada yang aneh dengan dirinya saat ini.

__ADS_1


TBC


__ADS_2