
Ckiiiiiiiit ...
"Apa?"
Suara decitan ban mobil yang direm mendadak itu terdengar memekakkan telinga. Beriringan dengan suara pekikan Mama Maya yang terkejut luar biasa saat mendengar pengakuan Dara atas hubungannya dengan Kai yang telah terlanjur melangkah jauh.
"Dara kamu udah gila ya? Gimana kalau kamu... Hah, kamu bikin Mama jengkel," kesal Mama Maya menatap marah putrinya yang duduk di jok penumpang.
Papa Yuda yang duduk di depan setir pun hanya bisa membuang napasnya kasar. Sungguh ia tak menyangka, putri yang ia bangga-banggakan tega menghancurkan kepercayaannya.
"Astaga Pah, putri kamu itu udah gila," tambah Mama Maya jengkel.
"Dara, kamu serius dengan apa yang kamu bilang tadi?" tanya Papa Yuda.
Dara menundukkan wajah. Rasa bersalah yang mendera membuatnya tak berani menatap papa mamanya. Sebagai seorang putri, ia telah berani merusak kepercayaan orang tua. Betapa ia malu mengakui saat ini.
"Papa nggak habis pikir. Kenapa harus laki-laki itu?" Berkali-kali Papa Yuda mendesah berat. Bingung bahkan tak tahu harus menanggapinya bagaimana.
Sudah terlanjur kepalang basah. Lebih baik mandi saja sekalian?
Tidak!
Harus ada handuk yang bisa mengeringkan.
Laki-laki itu tidak boleh bersama dengan putrinya.
Papa Yuda sampai berpikiran demikian. Lantaran tak habis pikir dengan kelakuan putrinya.
Mungkin memang, bukan sepenuhnya salah Dara, jika ia jatuh cinta. Siapa yang tahu mereka bertemu hingga akhirnya menjalin kasih, jika bukan karena takdir.
Takdir yang mempertemukan demi menguak masa lalu yang terkubur dalam, bahkan hampir dilupakan. Agar mereka bisa saling menerima dan mengikhlaskan.
Mungkin!
"Maafin aku, Pah, Mah." Lirih Dara meminta.
"Papa hanya nggak menyangka. Kamu tega melakukan ini. Sekarang, yang harus kamu pikirkan, bagaimana caranya agar kalian nggak bertemu lagi."
Tak ingin menyalahkan putrinya, mungkin memang ini sudah jalan takdir. Papa Yuda bisa apa.
Dara dan Kai hanyalah insan yang sedang dimabuk asmara. Mereka bahkan tak tahu rahasia apa yang tersembunyi dibalik pertemuan.
"Trus gimana kalau nanti Dara hamil? Papa Mau anaknya Dara lahir tanpa seorang ayah?" tandas Mama Maya.
"Ya ampun, Mah. Belum sampai ke situ kok," protes Dara.
"Belum sampai ke situ gimana? Kalau udah terlanjur ke sana, udah pasti kamu bakalan hamil. Haaah ... Entah apa kata orang nanti saat tahu kamu hamil di luar nikah."
__ADS_1
"Yang harus kita pikirkan sekarang adalah jalan keluarnya. Mikirnya jangan kejauhan begitu. Berharap saja, semoga hal itu nggak terjadi sama Dara," imbuh Papa Yuda.
"Mama cuma mikirin kemungkinan terburuknya aja, Pah."
"Yang terpenting, kita udah sama-sama tahu. Kai adalah keluarga korban kecelakaan itu. Dan Dara adalah penyebabnya. Nggak mungkin Kai bisa semudah itu menerima dan memaafkan Dara. Jadi, Dara harus mengakhiri hubungannya. Papa yakin, suatu hari nanti, hal itu bisa jadi pemicu pertengkaran diantara kalian. Jika seandainya hubungan kalian masih berlanjut."
"Tapi, Pah..." ucapan Dara terpotong.
"Nggak ada tapi-tapian. Pokoknya kamu akhiri hubungan kamu sekarang juga. TITIK!" tegas Papa Yuda tanpa menghiraukan perasaan Dara.
Dara bisa apa jika papanya bersikeras? Meski ia sedikit berjiwa pemberontak, tetapi entah mengapa, untuk hal yang satu ini, ia biarkan saja papanya mengambil keputusan apapun.
.
.
Di lain tepian jalanan. Kai terperanjat kaget mendengar ucapan Joanna. Yang tanpa berpikir panjang terlontar begitu saja dari mulutnya.
Kai bahkan tertawa-tawa laksana orang bodoh yang tak memahami situasi. Sungguh disayangkan, mengapa baru sekarang Joanna menginginkan hal itu darinya. Disaat hati telah ada yang mengisi.
"You're really crazy (kamu benar-benar gila)," umpat Kai. Ia hanya tak habis pikir dengan perubahan sikap Joanna. Yang baginya sungguh membuatnya bingung.
"Why only now (kenapa baru sekarang)?" tanyanya mengurai kebingungan yang pun mulai membuatnya gila.
"Demi Zio," jawab Joanna memberanikan diri menatap Kai. Yang tampak merah padam rona wajahnya lantaran menahan geram.
"Kamu mau aku jujur kan? Oke!" Joanna menghela napas sejenak.
"I still loving you (aku masih mencintai kamu)," sambungnya tanpa bertele-tele.
Kai tidak terkejut mendengarnya. Yang ia sayangkan, kenapa Joanna merubah sikapnya justru disaat seperti ini. Disaat ia telah terlanjur mencintai yang lain.
"No (nggak)," ucap Kai.
"Itu yang mau kamu dengar dari aku kan? Aku udah jujur sama kamu. Sekarang, tunggu apa lagi?"
"I will not marry you (aku nggak akan menikahi kamu)." Tanpa basa-basi lagi Kai mengungkapnya. Tanpa peduli perasaan Joanna yang tersakiti.
"Jadi kamu mau Ziyo tumbuh tanpa seorang ayah?"
"Ziyo akan tetap memiliki sosok seorang ayah. Tapi kita nggak harus menikah. Sorry Jo, aku sangat mencintai Dara. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamanya."
"Oooh ... Jadi kamu lebih memilih pembunuh keluarga kamu, dibanding aku? Yang jelas-jelas cinta pertama kamu. Bahkan kita udah punya Ziyo sekarang."
Kai terdiam. Kata PEMBUNUH sungguh tak enak di pendengaran. Dan seketika, ia pun teringat kembali akan kepergian keluarganya dalam kecelakaan tragis itu. Yang jelas penyebabnya adalah Dara. Gadis yang ia cintai.
"Kamu tahu kan, gadis itu yang sudah membunuh keluarga kamu. Gadis itu yang sudah membuat kamu menderita. Kai ... Buka dong mata kamu. Kamu sadar nggak sih?" tambah Joanna. Yang memang sengaja ingin mengingatkan Kai akan kecelakaan itu.
__ADS_1
"Please stop it (tolong hentikan)," pinta Kai.
Tetapi Joanna, masih saja membeberkan perihal kecelakaan itu. Sengaja diulang-ulang agar Kai mulai membenci gadis itu.
"Gadis itu nggak hanya udah bikin kamu menderita. Tapi dia juga udah membuat kamu kehilangan semua anggota keluarga kamu. Dan kamu masih nggak sadar-sadar juga? Orang yang seharusnya kamu benci, malah ka..."
"STOP!" seru Kai lantang dengan amarah yang tak tertahankan lagi.
Joanna bahkan sampai terperanjat kaget. Dipeluknya erat Ziyo demi meredakan amarah Kai jika melihat anak kecil itu.
Amarah Kai memang mulai mereda. Tetapi kekesalannya masih tak menguap. Senantiasa memenuhi ruang di hati. Kesal akan sikap Joanna. Yang bahkan ia sendiri tak mengerti.
Kembang kempis dada Kai saat perlahan amarah mereda. Ia lantas menoleh, menatap Joanna yang tampak ketakutan. Baru kali ini Kai semarah itu terhadapnya. Saat ia mengambil keputusan menikahi Revan dulu, Kai bahkan tak semarah ini.
"Kamu ngebentak aku demi pembunuh itu?" Joanna tampak mulai berkaca-kaca.
"Maaf," ucap Kai singkat.
"Kamu udah berubah Kai. Kamu nggak seperti dulu lagi."
"Aku antar kalian pulang. Tapi maaf, aku nggak bisa mampir. Aku masih ada urusan lain."
Joanna hanya bisa pasrah. Tak ingin lagi memperkeruh suasana.
Kai mulai memacu kembali mobilnya ke jalanan ramai.
.
.
Setelah mengantar Joanna dan Ziyo pulang, Kai kini tengah berdiri di depan pintu rumah Dara. Yang masih tertutup rapat dan tidak menunjukkan tanda-tanda ada penghuni rumah.
Berkali-kali Kai menekan bel pintu, tetapi tidak ada sahutan dari dalam rumah.
Kai akhirnya menyerah setelah hampir dua jam menunggu di depan rumah. Kai hendak beranjak pergi, saat tiba-tiba papa mamanya Dara datang.
Papa mamanya Dara yang baru saja turun dari mobil, sangat terkejut melihat Kai berdiri di depan pintu rumahnya.
Setahu Kai, mereka meninggalkan tempat parkir rumah sakit hampir di waktu yang bersamaan. Lalu di mana Dara? Mengapa gadis tidak kelihatan?
"Saya mau bertemu Dara," pinta Kai menatap sayu.
"Dara nggak mau ketemu kamu lagi," tandas Papa Yuda.
"Tinggalkan Dara. Dia sudah menemukan pria yang tepat," tambahnya. Membuat Kai terhenyak.
TBC
__ADS_1