
"Dara?" seru pria itu.
Namun Dara enggan berpaling. Mendadak jantungnya semakin berdetak cepat. Suara itu sudah tak asing lagi di telinganya. Sebab pemilik suara itu, siapa lagi kalau bukan Kai.
Tatapan Kai yang semula teduh, kini menajam. Menatap Dara dengan amarah tertahan. Selama lima tahun ini ia seperti orang gila yang terus mencari-cari keberadaan Dara.
Bukan hanya sahabat-sahabatnya yang tidak mau memberitahu ke mana Dara pergi. Bahkan orang tua Dara pun tidak mau memberitahunya di mana Dara berada.
Dan kini, entah kebetulan atau memang sudah takdir, mereka bertemu kembali di waktu dan tempat yang tak terduga.
"Oh iya. Perkenalkan, ini adalah Pak Kaivan Arsenio. Dosen kontrak yang sempat saya bicarakan tempo hari. Beliau ini adalah orang yang sangat berkompoten di bidangnya. Saya berharap Pak Kai bisa menjadi dosen tetap di Universitas ini," ujar Dekan memperkenalkan Kai.
Kai mengulas senyum manisnya sembari mengedarkan pandangan. Memandangi satu persatu dosen yang hadir dalam rapat itu.
Pandangan terakhirnya bergulir pada Dara yang masih saja enggan memalingkan muka.
"Bu Andara ..." panggil Dekan.
"Iya, Pak."
"Pak Kai hanya ingin menyapa."
Astaga!
Situasi macam apa ini?
Sungguh Dara tak ingin bertemu kembali dengan pria itu. Pria yang sukses menorehkan luka di hatinya. Luka yang masih terlalu sulit disembuhkan.
Akhirnya, tanpa bermaksud tak sopan, Dara pun menoleh. Menatap Kai yang menatapnya sayu dengan senyum terukir di bibirnya.
Tatapan yang semula tajam, mendayu seketika. Saat menatap wajah yang telah lama ia rindukan.
Kai menghela napas panjang berkali-kali. Berusaha menetralisir sejuta rasa yang mendadak mendera hati. Antara bahagia, marah, bahkan terkejut.
Jika saja dalam ruangan itu hanya ada mereka berdua, ingin rasanya Kai memeluk Dara erat. Mencurahkan segala isi di hati yang menyiksanya selama lima tahun ini.
Dara menghilang bagai di telan bumi, tanpa kabar dan berita. Pertemuan mereka kali ini, sungguh satu keajaiban untuk Kai.
Cepat Dara kembali berpaling muka. Setelah beberapa detik lamanya saling menatap.
Tidak seperti Kai, yang susah payah menahan agar tidak menumpahkan air mata. Dara justru berusaha menahan sejuta amarah. Kehadiran Kai sungguh sangat mengusik ketenangan jiwanya.
Hadirnya Kai sama seperti membuka kembali luka lama. Luka yang bahkan hingga kini belum mengering.
"Baiklah, rapatnya kita mulai lagi," ujar Dekan memimpin rapat.
__ADS_1
Sepanjang rapat, Kai tidak memusatkan perhatiannya. Perhatiannya malah terusik pada makhluk manis yang duduk di sebelahnya. Sesekali Kai melirik bahkan berpura-pura menjatuhkan benda, seperti pulpen. Berharap Dara membantu memungutnya. Agar mereka tanpa sengaja bertemu tatap.
Akan tetapi usahanya nihil. Dara sama sekali tak memedulikannya. Membuat Kai kecewa.
.
.
Setelah dua jam lamanya, akhirnya rapat pun usai. Masih ada satu jam lagi untuk Dara mengisi mata kuliah Bahasa Indonesia. Biasanya ia akan menunggu di ruangan dosen. Tetapi semenjak ada Kai, ia jadi enggan menunggu di ruangan itu.
Dara berniat pergi ke rumah sakit tempat Riko bekerja. Kebetulan, Ken ada di tempat Riko. Setelah ia meminta bantuan wali kelas Ken untuk mengantarkan anak kecil itu.
Dara hendak memesan taksi online saat tiba-tiba sebuah tangan kekar menarik lengannya kuat. Menyeretnya paksa sampai ke halaman parkir.
Kai.
Pria itu dengan semangatnya menyeret Dara sampai ke mobilnya yang terparkir. Menghempasnya, menyandarkan wanita itu di sisi mobil, lantas mengungkungnya dengan kedua tangannya menempel di sisi mobil.
"Kamu ini sudah gila ya?" umpat Dara lantang. Disertai amarah yang tak tertahan lagi.
"Iya. Dan kamu yang sudah membuat aku gila," balas Kai lantang pula.
Kembang kempis dada Kai, deru napasnya kian memburu lantaran menahan amarah, bahagia, sedih. Bahkan sejuta rasa datang mendera. Membuatnya mengharu biru karena pertemuan kembali sejak lima tahun lamanya berpisah.
"Kamu sungguh tega meninggalkan aku," ucap Kai lirih. Bibirnya bahkan bergetar saat berucap. Matanya pun mulai berkaca-kaca.
"Pernah nggak kamu dengerin aku? Pernah nggak kamu mengerti aku? Pernah nggak kamu kasih aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya sama kamu?" pertanyaan Kai begitu menohok. Membuat Dara terdiam.
"Enggak kan? Justru kamu lebih memilih pergi meninggalkan aku daripada ngasih aku kesempatan buat jelasin semuanya sama kamu," sambungnya.
"Trus apa? Apa yang mau kamu jelasin. Bukannya semuanya udah jelas? Kamu lebih memilih perempuan itu daripada aku. Iya kan?" Dara sungguh tak bisa menahan amarahnya. Entah kenapa, bahkan air matanya sudah mengering.
Sejak Ken lahir, Dara sudah memutuskan tidak akan menumpahkan air matanya lagi untuk pria itu. Pria yang sudah membuatnya terluka. Sebisa mungkin, meski sulit, ia harus melupakan Kai. Baginya kini yang terpenting adalah masa depan Ken. Ia tidak akan pernah membiarkan Kai menemui Ken.
"Benar kamu sudah menikah?" tanya Kai penasaran. Sebab sepengetahuannya, menurut informasi yang ia dapatkan, Dara sudah menikah.
"Kamu sendiri bukannya sudah menikah dengan Joanna?" Dara malah balik bertanya, alih-alih menjawab pertanyaan Kai.
"Dara, banyak hal yang kamu nggak tau. Kamu pikir kita bertemu hari ini, di tempat ini, itu karena kebetulan? Enggak. Kamu salah," sembari menggeleng pelan. Kai lalu membawa jemarinya mengusap lembut wajah Dara.
"Pertemuan kita hari ini, itu juga berkat usahaku selama lima tahun ini," sambungnya.
Ya.
Selama lima tahun ini Kai berusaha keras menemukan Dara. Bahkan setiap malam ia habiskan dengan berselancar di dunia maya. Demi mencari kemungkinan Dara menggunakan sosial media. Setidaknya ia bisa mencari sedikit informasi tentang Dara. Ia bahkan membuat banyak akun palsu agar bisa menemukan Dara.
__ADS_1
Namun sayang, semua usahanya nihil. Sampai suatu ketika, di hari pernikahan Beno dan Yola. Seseorang datang membawa kotak hadiah untuk Yola. Yang katanya, pengirimnya dari luar kota. Dengan nama Leandra.
Kai yakin pengirimnya itu tidak lain adalah Dara. Karena Yola adalah sahabat dekat Dara. Mana mungkin Dara mengabaikan pernikahan sahabatnya itu.
Kai bahkan sampai memohon pada orang yang mengantarkan kotak hadiah itu agar memberitahu alamat pengirim kotak itu.
Karena pengirimnya memesan via telepon dari luar kota, pembayarannya pun via transfer. Pengantar kotak itu tidak tahu menahu. Tetapi memberitahu Kai tempat dimana hadiah itu di pesan.
Kai pun mendatangi toko itu. Susah payah ia membujuk dan memohon meminta alamat yang dirahasiakan. Pemilik toko hanya memberitahunya dari kota mana pemesan hadiah itu menghubunginya. Pemilik toko juga memberinya nomor telepon yang digunakan.
"Ada satu kesalahan yang kamu lakukan. Hingga akhirnya aku bisa menemukan kamu," ucap Kai.
Namun sayang, saat itu Dara menggunakan fasilitas kampus. Hingga Kai kesulitan mencari tahu pasti keberadaan Dara.
Akan tetapi Kai tidak kehabisan akal. Dalam benaknya mulai berpikir, kenapa Dara menggunakan fasilitas kampus saat itu. Ia lantas mulai mencaritahu tentang universitas tempat Dara bekerja saat ini.
Sampai akhirnya ia mengetahui bahwa Dara adalah salah satu dosen di universitas itu. Kai pun mulai berusaha mencari cara agar bisa menyusul Dara ke kota B.
Hingga suatu ketika, keberuntungan berpihak padanya. Fakultas tempat Dara mengajar saat ini sedang membutuhkan dosen untuk mata kuliah Bahasa Inggris. Iseng saja ia mengirimkan lamaran via email saat itu.
Dan lagi-lagi keberuntungan masih berpihak padanya. Seminggu setelah ia mengajukan lamarannya, tiba-tiba ia mendapat pesan balasan bahwa ia diterima dan ditawari kontrak selama dua semester.
Tanpa berpikir panjang, Kai langsung menerima tawaran itu. Dengan harapan bisa menemukan Dara secepatnya. Dan satu keberuntungan mereka bertemu hari ini.
Akan tetapi, akankah keberuntungan itu juga masih berpihak pada cintanya?
"Dara, aku masih mencintai kamu," ucap Kai lirih, menatap Dara sayu. Sembari mengusap lembut sebelah pipi Dara.
Namun Dara, malah menatap dingin Kai yang tengah berusaha mencurahkan segala isi di hati.
"Tapi aku benci kamu," tandas Dara tak peduli perasaan Kai.
Kai diam sejenak dengan mata mulai berkaca-kaca. Dan Dara tidak peduli.
"Sorry, aku nggak punya banyak waktu. Aku harus pergi." Dara hendak melangkah pergi setelah menghempas kasar kedua lengan Kai yang mengungkungnya. Namun Kai menarik kasar lengannya.
"Aku rindu kamu, Dara," ucap Kai demi mencegah kepergian Dara.
Namun Dara tak peduli. Ia kembali memutar tubuh, hendak pergi meninggalkan Kai. Dan lagi-lagi Kai menarik kasar lengannya. Menghempasnya, sampai punggung Dara kembali menempel di sisi mobil.
"Apa sih mau kamu?" sentak Dara.
"Kasih tau aku, dimana anakku?"
Dara pun terdiam detik itu juga.
__ADS_1
TBC