You Make Me Crazy

You Make Me Crazy
Ch. 82


__ADS_3

"Aku boleh meminta bantuanmu?" pinta Riko saat itu dengan tampang serius. Sedikitpun tak terlihat bila pria itu sedang main-main.


"Kamu butuh bantuan apa dariku?"


"Tolong gantikan aku sebagai mempelai prianya."


Kai tercengang mendengar permintaan Riko. Yang mungkin hanya sekedar candaan saja. Mana mungkin Riko meminta hal yang tidak masuk akal seperti ini.


Bukankah sudah lama Riko menantikan hari ini?


Lalu mengapa tiba-tiba pria itu merubah keputusannya?


Apa ia tidak salah mendengar?


Ia masih berusaha memahami dan mencerna kalimat permintaan Riko, saat Riko kembali berucap.


"Ada yang bilang, aku ini tampan. Nggak akan sulit bagiku menemukan seseorang yang tulus mencintaiku." Riko mengulas senyum tipisnya saat mengingat setiap ucapan Dara.


"Pernikahan adalah sesuatu yang paling sakral. Hanya sekali dalam seumur hidup. Siapapun pasti menginginkan menikah dengan orang yang mereka cintai. Saling mencintai itu adalah salah satu dasar dalam membangun rumah tangga." Riko menatap Kai sejenak. Ia teringat kembali nasehat ayahnya.


"Ibarat sepasang kaki yang utuh, yang bisa berjalan seimbang untuk sampai pada tujuan. Jika sebelah kakinya pincang, bagaimana bisa sampai pada tujuan? Mungkin saja akan terhenti di tengah jalan karena lelah." Riko menghela napas sejenak.


"Seperti itu juga dalam rumah tangga. Untuk apa membangun rumah tangga bila tidak ada cinta. Mungkin saja nggak akan bertahan lama. Dan aku nggak mau menjalani rumah tangga yang seperti itu. Aku memang mencintai Dara, bahkan sangat mencintainya." Riko kembali melayangkan pandangannya pada Kai yang masih terkejut dengan keputusannya.


"Lalu kenapa kamu menyia-nyiakan kesempatan ini? Dara akan menjadi milikmu seutuhnya," ucap Kai masih tak percaya.


"Justru karena aku sangat mencintainya hingga aku melakukan hal ini. Aku ingin melihat dia berbahagia dengan orang yang dia cintai. Yaitu kamu. Maka dari itu, aku meminta bantuamu untuk menggantikan aku. Dara sangat mencintaimu. Kalian saling mencintai. Bukankah kalian yang seharusnya bersanding di pelaminan itu?" Riko begitu tulus mengutarakan keinginannya. Begitu tulus ia mencintai Dara, hingga ia sanggup merelakannya demi kebahagiaan Dara sendiri.


"Dok, jujur, aku jadi nggak enak hati terhadapmu. Kamu itu pria yang sangat baik. Aku nggak mau berhutang budi padamu."


Riko lantas menghampiri Kai. Ia meraih pundak Kai, menepuknya pelan. Sembari berkata,


"Cinta nggak harus saling memiliki. Melihat dia bahagia bersamamu saja itu sudah cukup buatku. Tolong jaga dia untukku. Oh ya, bersiap-siaplah. Aku akan menemui Dara dulu." Riko hendak beranjak, namun Kai mencekal lengannya.


"Terima kasih kawan. Aku sangat berhutang budi padamu. Aku akan berdoa untukmu, semoga Tuhan mengirimkanmu seseorang yang barhati malaikat sepertimu."


Riko memutar tubuhnya untuk merangkul Kai. Ia menepuk-nepuk pelan punggung Kai.


"Jangan pernah menyakitinya lagi. Jangan tinggalkan dia dalam keadaan apapun. Terkadang dia masih kekanakan. Kamu harus banyak bersabar dalam menghadapinya," tutur Riko dengan rintikan air mata yang tak bisa ia cegah.

__ADS_1


Kai semakin mempererat rangkulannya.


"Thankyou so much Bro. You are the best friend (Terima kasih banyak kawan. Kamu adalah sahabat terbaik)."


"Ada hal yang kamu nggak tahu. Maaf aku yang sudah mencemarkan nama baik kamu di kampus."


"Aku sudah melupakan itu. Apa yang kamu lakukan hari ini luar biasa. Sekali lagi terima kasih."


Riko tersenyum namun hati perih. Akan tetapi, meski ada sedikit rasa perih, bahagia pun tak bisa ia pungkiri. Ia bahagia bisa mengambil keputusan ini. Setidaknya, hanya ini satu-satunya yang bisa ia berikan kepada Dara.


Riko menyeka air matanya, lalu menarik diri dari rangkulan.


"Itu jas pengantinnya." Riko menunjuk setelah jas pengantin yang menggantung di tempat gantungan pakaian.


"Mudah-mudahan pas di badan kamu. Aku akan temui Dara dulu." Riko kemudian bergegas menemui Dara di kamar gantinya.


Ia mendapati Dara sedang bersama Ken saat itu. Setelah menemui Dara, ia lantas menemui orang tua Dara untuk mengutarakan niatnya. Susah payah ia meyakinkan orang tua Dara saat itu untuk menerima Kai sebagai menantu mereka.


Setelah itu ia menghubungi orang tuanya sendiri. Ia mengutarakan hal yang sama, yang awalnya mendapat penolakan dan ditentang keras oleh ayahnya.


Namun, saat ia mengingatkan kembali ucapan ayahnya malam itu, ayahnya pun akhirnya bisa memahami. Lalu memaklumi hingga akhirnya mengikhlaskan. Meski rasanya berat.


Dengan begitu, nama baik kelurga tidak dipertaruhkan. Baik nama baik kelurga Dara maupun nama baik kelurga Riko sendiri. Sungguh sebuah keputusan terberat yang pernah Riko ambil saat itu.


.


.


Dara tengah berdiri di depan jendela kamar hotel yang terletak di lantai 13. Dari jendela itu ia bisa mengamati keadaan di bawah sana.


Namun bukan pemandangan di luar jendela itu yang menjadi pusat perhatiannya. Ia justru menatap kosong ke luar jendela. Pikirannya melambung entah ke mana.


Kai yang datang memeluknya, membuyarkan lamunannya. Kai telah membuka jas dan kemeja pengantinnya. Hanya tinggal menyisakan ********** saja. Sedangkan Dara masih mengenakan kebayanya, sementara sanggul rambutnya telah ia lepas.


Kai menyibak helaian rambut Dara ke samping hingga menampakkan leher jenjangnya. Ia lantas membenamkan wajah di ceruk leher Dara, menghirup aroma wangi istrinya yang membuatnya candu.


"Kai," panggil Dara lirih.


"Hm?" Kai mulai disibukkan dengan awal aktifitas malam mereka. Jemarinya mulai menjelajah.

__ADS_1


"Bolehkah aku bertemu Riko sekali saja."


Aktifitas Kai di ceruk leher Dara terhenti. Ia lantas memutar tubuh Dara untuk berhadapan dengannya. Memberinya tatapan sendu namun bermakna.


"Jangan salah paham dulu. Aku hanya ingin berterima kasih padanya. Hanya itu saja, nggak ada yang lain," terang Dara agar Kai tidak salah memahami.


"Boleh. Kapanpun kamu mau menemuinya, aku ijinkan. Tapi besok saja ya?"


Dara tersenyum lalu mengangguk pelan.


"Makasih."


"Untuk apa?"


"Karena kamu sudah berjuang untukku."


"Kai menggeleng pelan. "Perjuanganku nggak akan ada artinya tanpa pengorbanan Riko. Aku sangat berhutang budi padanya. Entah bagaimana aku harus membalasnya. Kata terima kasih pun nggak akan cukup untuk membalas kebaikannya." Kai kemudian membawa jemarinya menyentuh dagu Dara. Sembari mulai mendekatkan wajahnya perlahan.


"Kenapa kita malah membahas tentang dia? Sekarang adalah waktu untuk kita berdua. Membahas tentang yang lain, nanti setelah kita selesai," sambungnya dengan nada sendu. Disertai tatapan yang yang telah terselimuti gairah.


Dara memahami keadaan Kai saat ini. Yang tak bisa menahan lagi gejolak di jiwanya. Hasrat yang kian membuncah itu tak mampu lagi Kai membendungnya. Sehingga begitu Kai membenamkan ciuman, Dara menerimanya. Ia membalas dengan sentuhan yang sama lembutnya.


Dua bibir tengah saling memagut mesra. Membawa sejuta rasa membasuh dahaga di jiwa.


Sedikitpun Dara tak menolak setiap perlakuan lembut Kai. Pria itu kini telah resmi menjadi suaminya. Bukankah sudah menjadi kewajibannya melayani keinginan suaminya?


Sehingganya, manakala Kai mulai membuka kebayanya, ia diam saja. Bahkan saat Kai kesulitan melepas kebaya dari tubuhnya, ia ikut membantu.


Dan kini keadaanya telah polos tanpa sehelai benangpun. Menampakkan keindahan daksanya yang semakin membuat panas suami yang tengah menikmati pemandangan yang memanjakan mata.


"Gendong, dong," pinta Dara manja. Rasa malu ia buang jauh-jauh. Hari ini adalah hari spesial untuknya dan Kai. Dan lagi mereka telah resmi dalam satu ikatan yang sakral. Jadi untuk apa ia malu. Ia berhak meminta.


"Manjanya istriku ini."


Tak mau membuang-buang waktu lagi, Kai pun meraih Dara dalam gendongannya ala bridal. Ia rebahkan tubuh polos Dara perlahan begitu sampai di tempat tidur yang telah ditaburi kelopak bunga mawar merah.


Kamar hotel itu memang telah dipersiapkan untuk mereka berdua. Suasana yang tercipta sungguh membuat jiwa yang dahaga bagai tersiram air surga. Menyejukkan lagi menyegarkan. Bahkan serasa memabukkan. Mabuk akan pesona indahnya bercinta.


Menyelami dalamnya lautan asmara membuat sepasang pengantin itu tenggelam dalam keindahannya. Dua de sa han uang berpadu di udara, menggema memenuhi ruangan.

__ADS_1


Dengan bermandikan peluh, aktifitas malam pengantin baru itu masih terus berlanjut meski malam semakin merangkak.


TBC


__ADS_2