
Entah ada hal apa yang menghebohkan kampus hari ini. Sehingga banyak tatapan menghunus tajam ke arahnya saat ia berjalan menuju ruangan dosen.
Hampir semua mahasiswa memandang aneh kepadanya sembari mereka berbisik-bisik. Kai hanya bisa mengerutkan dahi bingung.
Begitu ia sampai di ruangan dosen, Nadira pun menghadiahinya tatapan yang sama, tajam dan tak suka. Ia lalu memandangi meja Dara yang masih kosong. Dara belum juga datang.
Ia hendak mengambil duduk saat tiba-tiba Nadira berkata,
"Pak Kai ditunggu Dekan di ruangannya."
Ditunggu Dekan di ruangannya?
Ada apa ini?
Apakah Dekan ingin membicarakan perihal kontrak? Ataukah ia telah melakukan kesalahan?
"Baiklah, saya ke sana sekarang."
Namun langkahnya terhenti saat Nadira melontarkan pertanyaan yang membuat jantungnya hampir copot.
"Pak Kai ada hubungan apa dengan Bu Andara sampai bisa ciuman segala?"
Ia mengernyit memandangi Nadira yang menampakkan raut kekecewaannya. Apa Nadira melihat ia dan Dara berciuman di kelas waktu itu? Ataukah Nadira melihat mereka berciuman di pantai? Ataukah Nadira juga melihat saat mereka masuk ke hotel waktu itu?
"Nggak nyangka ya, ternyata selera Pak Kai itu istri orang. Jadi illfeel deh sama laki-laki yang suka mengganggu rumah tangga orang."
Ia semakin mengernyit. Darimana Nadira tahu? Lalu apakah Dekan memanggilnya karena hal ini?
"Maaf, Bu Nadira ini bicara apa ya?" tanyanya memastikan omongan Nadira.
"Sudah tersebar Pak Kai. Banyak yang sudah melihat foto Pak Kai yang sedang berciuman dengan Bu Andara di kelas. Bahkan ada videonya. Idiiiih sangat memalukan."
Sudah tersebar? Bagaimana bisa? Lalu siapa yang memotretnya diam-diam dan menyebarluaskannya?Pantas saja banyak mahasiswa yang menghunus tatapan tajam kepadanya. Rupanya karena hal ini.
Karena hal ini pulalah yang membuat Dekan memanggilnya.
Kini ia tengah duduk tenang di depan Dekan. Hendak mempertanggungjawabkan kehebohan yang terjadi. Bahkan mungkin reputasinya terancam saat ini.
Pak Sutiyoso, Dekan Fakultas Bahasa dan Sastra. Bertubuh gemuk dan berkepala setengah botak. Duduk menatapnya dengan raut kekecewaan.
"Pak Kai sudah tahu alasan saya memanggil Pak Kai ke ruangan saya?" tanya Dekan.
"Iya, Pak. Saya sudah tahu. Maafkan saya yang sudah menciptakan kehebohan ini. Dan saya akan mempertanggungjawabkan perbuatan saya."
"Tanpa perlu saya menjelaskan panjang lebar, tentu Pak Kai sudah tahu apa konsekuensi yang harus Pak Kai terima dari kehebohan yang memalukan ini."
"Saya sudah menghubungi Bu Andara, meminta Bu Andara untuk datang segera. Karena kejadian memalukan ini juga melibatkan beliau," sambungnya menatap serius.
__ADS_1
"Mohon maaf sebelumnya. Saya harus menegaskan satu hal. Saya mohon agar Bapak bisa mempertimbangkan hal ini. Dalam hal ini saya yang bersalah. Untuk itu saya meminta ..."
.
.
Dara terburu-buru melangkahkan kaki keluar rumah. Dekan menghubunginya tiba-tiba. Tidak seperti biasanya. Membuatnya bingung dan bertanya-tanya.
Ken sudah ia titipkan pada Bibi. Bibi yang menjaganya di rumah sakit.
Sejak kemarin ia belum membuka ponselnya. Ada beberapa panggilan tak terjawab dari mamanya. Saat hendak menghubungi mamanya kembali, panggilan Dekan tiba-tiba masuk dan tak bisa ia abaikan.
Rencananya hari ini ia dan Kai akan kembali membesuk Ken di rumah sakit. Setelah itu mereka berencana membicarakan hubungan mereka dengan Riko. Hendak meminta pengertian Riko akan situasi mereka saat ini. Yang tentu saja ingin segera kembali bersama.
Karena hanya Riko yang bisa membatalkan rencana kedua orang tua mereka. Jika Riko tidak menyetujui rencana orang tuanya, tentu saja rencana itu akan mudah untuk dibatalkan.
Riko sudah berangkat lebih dulu. Sepulang dari rumah sakit, pria itu tak pernah bertemu muka lagi dengannya. Riko terkesan menghindarinya. Pagi-pagi sekali Riko turun dari rumah. Entah pria itu sempat sarapan atau tidak.
Jika sebelumnya Riko sering menawarinya berangkat kerja bersama, hari ini ia berangkat ke kampus dengan menggunakan taksi online yang sudah ia pesan melalui sebuah aplikasi.
Dara tengah melangkah menuju ruangan Dekan saat berpasang-pasang mata menghunus tajam ke arahnya. Ia dibuat bingung dengan situasi saat ini.
Tatapan tajam berpasang-pasang mata itu tak pernah lepas darinya. Bahkan saat ia hendak memasuki ruangan Dekan pun, tatapan-tatapan itu masih senantiasa tertuju kepadanya.
"Iiih ... Nggak nyangka ya wanita yang sudah bersuami itu kegenitan banget ya?" Suara-suara sumbang yang ia dengar terlontar dari mulut seorang mahasiswi.
Ia bingung dan tak tahu apa yang terjadi. Mendadak ia merasa seperti seorang tersangka pelaku kejahatan. Sehingga ia harus menerima tatapan menghakimi dari banyak mahasiswa di kampusnya.
Tak ingin mendengar suara-suara sumbang itu lagi, ia memilih segera memasuki ruang Dekan.
Tidak seperti biasanya, manakala ia datang, Dekan akan menyambutnya dengan senyuman. Tetapi kali ini, justru tatapan dingin dan wajah datar Dekan yang ia terima.
"Silahkan duduk Bu Andara," ujar Dekan.
Dengan hati bertanya-tanya Dara lantas mengambil duduk di depan meja Dekan. Entah mengapa, bahkan untuk tersenyum saja hatinya serasa berat.
"Mohon maaf sebelumnya Pak. Kalau boleh saya tahu, ada apa ya Bapak memanggil saya?" tanyanya memberanikan diri.
Dekan mengambil ponselnya, menghidupkannya lalu menyodorkan ponsel itu kepadanya.
Ponsel Dekan yang menyala terang itu memutar video berdurasi pendek sebuah kejadian memalukan antara dirinya dengan Kai di dalam kelas beberapa waktu yang lalu.
Sebuah video yang membuat jantungnya hampir copot. Bahkan serasa berhenti berdetak detik itu juga. Ia hanya bisa menutup mulutnya dengan tangan kedua tangannya. Terkejut buka kepalang.
Dari mana Dekan memperoleh video itu? Lalu siapa yang sudah merekamnya? Lalu apakah video itu sudah tersebar? Hingga sampai kepada Dekan?
Astaga!
__ADS_1
Pantas saja, banyak mahasiswa yang menatap tajam kepadanya. Pantas saja suara-suara sumbang itu terdengar. Yang ternyata ditujukan kepadanya.
Seorang dosen yang melakukan perbuatan memalukan. Yang tentu saja membawa aib dan mencoreng nama baik Universitas tempatnya bernaung saat ini.
Bukan hanya reputasinya saja yang terancam hancur. Bahkan bisa dipastikan ia akan kehilangan pekerjaannya.
"Saya sudah bertemu Rektor bersama dengan Pak Kai. Pak Kai sudah mempertanggung jawabkan perbuatannya," ujar Dekan.
"Ma-maksud Bapak?" Entah mengapa mendadak ia dilanda gelisah. Hati kecilnya tak bisa berbohong, ia mencemaskan Kai.
"Kontraknya sudah dihentikan. Pak Kai sudah dikeluarkan dari kampus ini."
Ini lah yang ia cemaskan. Dan sekarang rasa takut pun mulai menghantui.
"Perbuatannya sangat memalukan. Tapi Bu Andara tidak perlu khawatir. Dalam hal ini, Pak Kai sudah memberi penjelasan. Bahwa dialah yang bersalah. Pak Kai katanya sejak dulu menyukai Bu Andara. Tapi Bu Andara sering menolaknya. Katanya dia sangat terobsesi dengan Bu Andara, sampai dia tega hendak mencabuli Bu Andara."
Ucapan Dekan kali ini membuatnya tak bisa membendung air matanya. Dadanya bergemuruh hebat. Bagaimana bisa Kai menyelamatkan reputasinya dan malah mengorbankan reputasi Kai sendiri.
"Bu Andara masih bisa mengajar di kampus ini. Bu Andara hanyalah korban pelecehan. Dan pelaku sudah mempertanggungjawabkan perbuatannya," ujar Dekan lagi. Membuat hatinya semakin tersayat pilu.
Jika Kai dikeluarkan dari kampus ini, dan Dekan memutus kontraknya. Yang berarti bahwa Kai telah kehilangan pekerjaannya. Yang berarti pula bahwa tidak ada alasan lagi bagi Kai untuk bertahan di kota ini.
Lalu dimanakah Kai saat ini?
Dara semakin diliputi rasa bersalah. Bagaimana bisa Kai melakukan hal ini. Menyelamatkannya tanpa memikirkan dirinya sendiri.
Dara sesenggukan, hanya bisa menumpahkan tangisnya di dalam bilik toilet. Berkali-kali ia berusaha menghubungi ponsel Kai. Namun hanya suara operator yang terdengar menyambutnya.
Sepanjang perkuliahan, hatinya diliputi kegelisahan tak menentu. Memikirkan bagaimana keadaan Kai saat ini. Sehingga sedikit mengganggu konsentrasinya.
Meski Dekan sudah memberi pernyataan bahwa ia hanyalah korban pelecehan, tetapi tetap saja hal itu membuatnya risih berdiri di depan kelas. Sehingga perkuliahannya tidak berlangsung lama. Cepat-cepat ia mengakhiri. Karena tujuannya saat ini adalah menemui Kai.
Semoga saja Kai berada di rumah kontrakannya. Namun saat ia mendatangi kontrakan Kai, tempat itu malah terlihat kosong. Mobilnya terparkir di depan rumah, tetapi pemiliknya entah kemana.
Seorang pria datang menghampirinya.
"Maaf, ada yang bisa saya bantu? Saya makelar, jika anda sedang mencari rumah, kebetulan rumah ini sudah kosong. Dan mobil ini juga hendak dijual. Pemiliknya mempercayakan kepada saya untuk menjualnya," ujar pria itu.
"Lalu pemiliknya ke mana?" tanyanya cemas.
"Sudah ke bandara, Bu."
Ia harus berbuat apa sekarang? Semudah dan secepat itukah Kai pergi meninggalkannya? Bukankah mereka sudah merencanakan untuk membangun keluarga kecilnya?
Lalu mengapa begitu mudahnya Kai mengingkari janjinya.
TBC
__ADS_1