You Make Me Crazy

You Make Me Crazy
Ch. 79


__ADS_3

Kai tak memikirkan lagi harga dirinya sebagai lelaki. Yang menjadi prioritasnya saat ini adalah berjuang mendapatkan apa yang ia inginkan.


Perjuangan yang tidak mudah memang. Dimana bukan hanya harga dirinya saja yang akan dipertaruhkan. Tetapi harkat dan martabatnya pun ikut dipertanyakan.


Berjuang atas nama cinta itulah yang kini membawa langkahnya mendatangi sebuah alamat yang susah payah ia peroleh dari salah satu situs online yang memuat berita tentang seorang dokter spesialis jantung ternama.


Di sinilah ia berada malam ini. Dengan mengumpulkan seluruh keberaniannya bertandang ke rumah Dokter Rudi Pradana.


"Mohon maaf yang sebesar-besarnya atas kelancangan saya datang menemui Dokter. Ijinkan saya memperkenalkan diri dulu. Saya adalah..." Namun kalimatnya terputus setelah seseorang tiba-tiba datang menyelanya.


"Cukup! Kamu nggak perlu memperkenalkan diri. Nggak ada yang ingin mengenal kamu di sini." Riko datang dari arah ruang tengah, ikut bergabung bersama Kai dan Dokter Rudi. Yang sedang berbincang di depan pintu rumah.


"Tapi aku rasa ayah mu perlu tahu siapa aku," balas Kai.


"Kalian saling mengenal? Kamu kenal orang ini Riko?" tanya Dokter Rudi penasaran.


Sejak tiba dari Kota B, Riko bertingkah tidak seperti biasanya. Jika biasanya pria itu memilih menghabiskan waktu dengan membaca buku jika tidak sedang praktek. Kali ini Riko lebih memilih mengurung diri di dalam kamarnya. Suatu perubahan yang signifikan semenjak Riko mengenal Dara.


Bahkan tak jarang, wajahnya pun tampak murung. Sehingga mengundang tanya dalam benak sang ayah.


Pernikahannya akan dilangsungkan esok hari. Tapi Riko sedikitpun tidak menampakkan raut bahagianya.


"Saya Kai, Dokter. Saya adalah..."


"Cukup!" sela Riko cepat untuk kedua kali. Sebelum Kai membeberkan perihal hubungannya dengan Dara. Ia tak ingin ayahnya kembali berprasangka buruk tentang Dara.


"Ada apa ini, Riko? Kenapa Papa nggak boleh tahu tentang siapa orang ini? Apa yang kamu sembunyikan dari Papa?" Dokter Rudi semakin dibuat penasaran. Dipandanginya Riko dan Kai bergantian dengan alis saling bertaut.


"Sudahlah, Pa. Orang ini nggak penting. Ayo kita masuk." Riko menarik lengan Dokter Rudi, mengajaknya masuk ke dalam rumah.


Namun langkahnya harus terhenti saat Kai akhirnya membeberkan soal hubungan asmaranya dengan Dara.


"Saya adalah pacarnya Dara, Dokter. Saya ayahnya Ken."


Sontak Dokter Rudi menghempas tangan Riko dari lengannya. Kemudian ia berbalik memandangi Kai dengan raut penuh tanda tanya.


"Saya dan Dara masih saling mencintai, Dokter. Tujuan saya datang kemari adalah untuk memohon pengertian dan kerelaan hati Dokter untuk membatalkan pernikahan itu. Dara nggak mencintai anak Dokter. Dara hanya mencintai saya. Untuk itu saya mohon, batalkan pernikahannya. Karena jika tidak, Dara malah akan menderita," beber Kai tak peduli lagi seperti apa tanggapan Dokter Rudi.


"Apa maksud orang itu, Riko?" Dokter Rudi beralih memandangi Riko. Memberinya tatapan menuntut.


"Jangan dengarkan orang itu Pa. Ayo kita masuk." Riko tak menggubris pertanyaan ayahnya. Kembali ia menarik lengan sang ayah, mengajaknya meninggalkan Kai yang akhirnya telah ditangani oleh satpam rumah itu.


Satpam mengusir Kai kasar, hingga Kai pun tak bisa berbuat lebih. Ia sadar bahwa ia hanyalah tamu di rumah itu.

__ADS_1


"Riko, jelaskan dulu semuanya sama Papa," pinta Dokter Rudi saat mereka tiba di ruang tengah.


"Menjelaskan apa Pa? Papa nggak usah dengerin orang itu. Orang itu hanya orang stres. Dia sangat terobsesi dengan Dara. Tapi Dara selalu saja menolaknya. Jadi, apa lagi yang harus aku jelaskan?" Riko mulai berkilah. Hanya karena cinta ia mulai berubah.


"Tolong jangan berbohong pada Papa. Papa memang sangat ingin melihat kamu menikah. Tapi dengan wanita yang benar-benar mencintai kamu. Rumah tangga tidak akan berjalan dengan semestinya jika tidak ada cinta di dalamnya. Sementara pernikahan butuh saling mencintai. Ibarat sepasang kaki yang berjalan pincang. Akan terhenti di tengah jalan karena kelelahan. Bahkan mungkin tidak akan pernah sampai. Seperti itu juga rumah tangga. Kamu paham?"


Dokter Rudi menghunuskan tatapan tajamnya, membuat Riko menunduk. Tak berani membalas tatapan ayahnya. Tatapan dan kalimat itu serasa memakunya di tempat. Sehingga saat Dokter Rudi meninggalkannya seorang diri, ia masih terpaku di tempatnya. Mencerna dalam-dalam kalimat demi kalimat yang dilontarkan Dokter Rudi untuk menyinggungnya.


Lalu apa yang harus ia lakukan untuk membuat Dara bahagia?


Haruskah ia merelakannya saja?


Kira-kira seperti apa rasanya berkorban demi cinta? Apakah rasanya akan sesakit saat ia dikhianati?


Entahlah. Ia sungguh tak tahu. Lagipula, berkorban itu sulit. Tidak semua orang sanggup berkorban. Termasuk dirinya.


.


.


Dara tengah memandangi Ken yang sedang bercanda dengan Mama Maya di ruang tengah. Meski pandangannya tertuju kepada Ken, tetapi sosok Kai senantiasa membayangi pikirannya.


Semoga Kai bisa menemukan solusi yang tepat untuk menggagalkan pernikahan yang tinggal menghitung jam saja. Sebab jika tidak, hidupnya tengah dipertaruhkan saat ini.


Namun rasa iba mendera, jika mengingat Kai tengah berjuang seorang diri. Sementara ia hanya berdiam diri menunggu kehancuran hidupnya sendiri.


"Berikan ke Papa." Papa Yuda membuka telapak tangan kanannya di depan wajahnya. Ia mengernyit kebingungan.


"Berikan apa?" tanyanya bingung. Semenjak ia tiba dari Kota B, papanya sedari tadi memperlihatkan sikap tak ramah kepadanya. Membuatnya bingung dan bertanya-tanya.


"Berikan handphone kamu ke Papa."


"Bu-buat apa?" Jelas Dara tidak ingin memberikan ponselnya. Hanya benda itu satu-satunya yang menjadi alat komunikasinya dengan Kai. Jika ia berikan ke papanya, bagaimana nanti ia bisa saling memberi informasi dengan Kai.


Padahal ia sempat berpikir untuk kabur dari pernikahan itu. Bilamana keadaan benar-benar genting. Dan tak ada seorang pun yang bisa membantu.


Bahkan Tuhan pun seakan telah menutup mata. Keajaiban yang ia harapkan raib entah ke mana.


"Jangan banyak tanya. Berikan saja!" Papa Yuda sudah mulai berani menyentak putri sematawayangnya.


Dara tidak punya pilihan selain memasrahkan diri. Terlebih saat melihat papanya untuk pertamakali menyentaknya seperti itu. Apa lagi yang bisa ia lakukan selain menyerahkan ponselnya.


Ia hanya bisa menghembuskan napas panjang menatap pasrah kepergian papanya membawa serta ponselnya.

__ADS_1


.


.


Hari yang menyeramkan bagi Dara telah tiba. Pagi-pagi sekali ia berangkat bersama Mama Maya dan Ken ke gedung pernikahan untuk bersiap-siap melangsungkan prosesi pernikahannya yang digelar sekaligus. Setelah akad nikah akan diteruskan dengan resepsi.


Dara terduduk lesu di depan cermin. Memandangi pantulan dirinya yang masih dalam keadaan wajah polos namun telah mengenakan kebaya putih nan anggun. Ia tengah menunggu seorang MUA (Make Up Artist) yang akan memoles wajahnya.


"Mommy ..." Ken datang langsung mengambil duduk di pangkuannya.


"Mommy hari ini ada acara apaan sih?" tanya Ken bingung juga ingin tahu.


Tidak mungkin ia memberitahu anak kecil itu tentang pernikahannya. Anak itu sedikit banyak mengerti tentang pernikahan.


"Oooh ... Hari ini tuh Anniversary nya Mommy dan Daddy Ko," kilahnya demi menghindari pertanyaan berlebih.


"Anniversary itu apa sih?"


"Itu adalah ..."


"Oh ya, Ken kangen Daddy. Daddy Ken kemana sih Mommy?" sela Ken sebelum Mommy nya memberikan jawaban.


"Mommy nggak tau." Ia berharap Kai datang seperti seorang Pangeran Berkuda, yang akan membawanya kabur dari pernikahan ini. Mendadak hatinya diliputi kegelisahan. Hingga sedih pun menyertai. Rasanya begitu menyesakkan dada bila mengingat, beberapa jam lagi ia akan menjadi istri orang lain.


Namun ia masih berharap Tuhan akan berbaik hati kepadanya.


Semoga.


"Di depan kok ada keributan ya?" Seorang MUA datang sambil menggeret koper yang berisikan alat tempurnya dalam mengais rejeki.


"Keributan?" ia mengernyit. Mungkinkah itu Kai?


"Tapi di depan sudah ada Pak Riko dan beberapa orang satpam yang menangani keributan."


Hatinya semakin resah dan gelisah. Jika benar itu Kai, artinya Kai benar-benar akan berbuat nekat. Lalu bagaimana jika pihak keamanan gedung malah akan membawanya ke kantor polisi karena membuat keributan pada pernikahan orang.


Oh tidak!


Ini tidak boleh terjadi.


Ia lantas menurunkan Ken dari pangkuan. "Ken tunggu di sini. Mommy ke depan dulu."


Ia hendak keluar kamar saat tiba-tiba Riko datang. Membuat niatnya urung seketika. Apalagi saat melihat raut wajah Riko yang penuh amarah. Seketika ia merinding. Sebab baru pertama kali Riko menampakkan raut mengerikan seperti itu.

__ADS_1


"Kamu mau ke mana?"


TBC


__ADS_2