You Make Me Crazy

You Make Me Crazy
Ch. 74


__ADS_3

Lalu bagaimana reaksi Ken mendengarnya?


Ken hanyalah seorang anak kecil, meski pemikirannya terkadang hampir menyerupai pemikiran orang dewasa.


Ia hanyalah seorang anak kecil, yang jika mendengar kabar mengejutkan, sudah tentu kaget. Bingung, hati bertanya-tanya, lalu akhirnya sulit menerima. Karena hal yang terjadi antara orang dewasa itu di luar jangkauan nalar seorang anak kecil seperti dirinya.


Ken mematung, mendongak memandangi si Om di depannya. Ia masih dalam mode terkejut, bahkan mungkin shock. Saat perlahan Kai berjongkok, mensejajarkan tinggi dengannya. Agar bisa saling menatap.


Kai menyunggingkan senyum kepadanya. Lalu membawa jemari kokohnya menyentuh puncak kepalanya. Mengusapnya lembut, penuh kasih sayang.


"Ken," panggil Kai menatap sorot matanya.


Ken mematung menatap lekat wajah Kai. Tidak ada ekspresi lebih selain keterkejutannya. Lalu tanpa menunggu apa yang akan dikatakan oleh Kai selanjutnya, ia malah mengayunkan langkah kakinya cepat meninggalkan rumah itu.


"Ken ..." panggil mereka serempak begitu Ken berlari menjauh. Terkejut, memang. Karena yang terjadi sungguh diluar dugaan.


"Ken, kamu mau ke mana sayang?" Dara sudah lebih dulu mengayunkan langkahnya mengejar Ken.


Kai hendak menyusul, namun cekalan tangan Riko pada lengannya membuat langkahnya tak sempat mengayun.


Kai menoleh, menatap wajah Riko yang tampak diliputi amarah.


"Kamu nggak perlu mengejarnya. Nggak usah ikut campur. Semua ini terjadi juga gara-gara kamu. Karena kamu Ken akhirnya kabur dari rumah," tandas Riko tak peduli perasaan Kai.


Kai menghempas tangan Riko dari lengannya. Kemudian berbalik, menatap Riko dengan seringai di wajahnya.


"Mungkin memang sudah saatnya Ken tahu siapa ayah kandungnya. Terima kasih sudah menciptakan masalah ini. Hingga Ken termotivasi untuk mencari ayah kandungnya. Mungkin sudah saatnya kamu mengembalikan yang bukan hak mu. Mengambil hak milik orang lain itu sama artinya dengan mencuri." Kai benar-benar tak berpikir panjang berkata seperti itu terhadap Riko.


Senyum getir pun terbit seketika di paras tampan Riko. Yang malah terlihat berbeda saat ada amarah yang terbendung.


Bukannya ia tak mampu meluapkan amarahnya. Bukannya ia tak mampu beradu dengan pria yang satu ini. Namun, ia adalah pria yang memiliki harga diri sebagai seorang lelaki. Memperebutkan seorang wanita dengan adu jotos itu bukan gayanya.


Jika mengharuskan ada persaingan, ia lebih memilih untuk bersaing secara gentle. Pria sejati tidak akan pernah memaksakan kehendaknya.


Dan semoga, ia masih memiliki banyak stok kesabaran. Sehingga ia masih sanggup bersabar lebih lama lagi menanti cinta seorang wanita yang membuatnya tergila-gila.


Mungkin bukan sekarang, tapi nanti. Semoga nanti, akan ada keajaiban untuknya. Semoga nanti sang Dewi Fortuna berpihak kepadanya.


"Dara yang datang sendiri padaku, ingin ikut bersamaku. Apakah itu artinya aku mencuri?" Seringai di wajah Riko semakin jelas terlihat.


"Bukannya kamu sendiri yang mencampakkannya?" sambungnya sinis.


"Sudahlah. Ini bukan waktunya berdebat." Kai cepat memutar tubuhnya. Lalu bergegas mengayunkan langkah kakinya meninggalkan rumah itu. Hendak mencari Ken. Yang mungkin sudah jauh meninggalkan rumah.


Riko menyusul di belakangnya.


Di jalanan ramai itu Dara histeris, sambil meraung-raung dalam tangisnya. Entah apa yang terjadi, sehingga Dara harus duduk bersimpuh di jalanan. Dalam pangkuannya, seorang anak kecil terbaring tak sadarkan diri dengan bersimbah darah.

__ADS_1


"Tolong ... Tolong ... Tolong anak saya." Dara memekik histeris dengan berderai air mata. Sambil merengkuh Ken dalam dekapannya.


Pemandangan itu seketika membuat Kai dan Riko terkejut bukan kepalang. Cemas bahkan ketakutan. Entah apa yang terjadi dengan Ken, hingga anak kecil itu harus bersimbah darah dalam dekapan Mommy nya. Sementara para warga yang menyaksikan, mulai datang berkerumun.


"Ken," pekik Kai berlari menghampiri. Lalu berjongkok, memastikan keadaan Ken. Sementara Dara terus menangis.


"Apa yang terjadi dengan Ken, Dara?" tanya Kai panik.


Dara menggeleng dengan tangis yang belum mereda.


"Aku nggak tau." Lantaran shock, Dara bahkan tak tahu harus menjawab apa. Yang ada dalam benaknya saat ini hanya lah Ken.


"Ken." Sama hal nya dengan Riko, yang bereaksi sama begitu melihat keadaan Ken.


"Tunggu sebentar. Aku ambil mobil dulu. Ken harus segera di bawa ke rumah sakit. Sebelum dia kehilangan banyak darah." Riko pun bergegas kembali ke rumah.


Tak berapa lama, Riko kembali dengan mengendarai mobilnya. Ia menurunkan kaca jendela.


"Ayo cepat naik. Kita harus segera membawa Ken ke rumah sakit," titah Riko.


Tanpa berlama-lama, Kai segera meraih Ken ke dalam gendongannya. Membawanya naik ke mobil. Disusul oleh Dara kemudian. Begitu semua sudah berada di dalam mobil, Riko segera melarikan mobilnya dalam kecepatan tinggi menunju rumah sakit Sinar Kasih.


.


.


Ken yang saat itu hendak menyeberang jalan, lantaran kurang berhati-hati, ia pun tertabrak mobil yang sedang lewat saat itu.


Bukan hanya Dara sebagai ibunya, Kai sebagai ayah kandungnya, bahkan Riko yang telah menyayanginya sedari kecil pun merasa cemas dan takut.


Ken anak yang cukup keras kepala jika menyangkut sesuatu hal yang diinginkannya. Anak kecil terlalu cepat mengerti segala sesuatu.


Dara duduk di tepian brankar, sementara Kai berdiri di samping Dara. Memandangi Ken yang masih belum sadarkan diri.


Kai mengusap penuh kasih pundak Dara. Memberinya kekuatan dan kesabaran untuk melalui semua ini.


"Maafkan aku atas apa yang terjadi. Nggak seharusnya aku datang ke rumah kalian," ujar Kai mengusap lembut pundak Dara.


"Ini bukan sepenuhnya salah kamu. Sebelum kamu datang, Ken memang sudah tahu kalau Riko bukan Daddy kandungnya." Dengan tidak menyalahkan siapapun, tidak akan menjadikan masalah terlalu rumit.


Memang dalam hal ini, siapakah yang patut dipersalahkan?


Jika bertanya siapa yang bersalah, jelas semua bersalah.


Dara bersalah karena memisahkan Ken dari ayah kandungnya.


Riko bersalah karena tak memasang batasan hubungan antara dirinya dengan Dara. Tidak seharusnya ia membiarkan Dara ikut bersamanya, bahkan tinggal bersamanya hingga bertahun-tahun lamanya.

__ADS_1


Dara yang saat itu terlalu cepat dalam mengambil keputusan. Dara yang saat itu masih terlalu egois. Sehingga apa yang terjadi hari ini juga karena kesalahan Dara.


Lalu bagaimana dengan Kai?


Apakah Kai bersalah?


Kai bersalah karena menelantarkan mereka?


Tidak!


Tidak ada sedikitpun niat Kai untuk menelantarkan Dara dan Ken. Justru Dara sendiri yang menjauh darinya. Tidak sekalipun Dara memberinya kesempatan untuk menyelesaikan masalah diantara mereka. Dara lebih memilih pergi meninggalkannya daripada mendengarkan penjelasannya.


Lantas apa kesalahan Kai?


Kai telah menyakiti Dara. Dan Kai terlalu tergesa-gesa ingin segera memberitahu Ken tentang siapa dirinya yang sebenarnya.


Jika saja Kai menahan diri dan menuruti perkataan Dara, mungkin semua ini tidak akan terjadi.


"Sekarang Ken sudah tahu siapa Daddy kandungnya. Kamu nggak usah menyembunyikan apapun lagi dari Ken. Kamu dan Ken akan ikut bersamaku. Mari kita mulai semuanya dari awal. Mari kita bangun keluarga kecil kita," pinta Kai.


Permintaan Kai membuat Dara terhenyak. Ia lalu menoleh, mendongak memandangi Kai. Yang balas menatapnya.


"Kai, aku ..." Sejujurnya Dara ingin sekali menuruti permintaan Kai. Wanita mana yang tak ingin menghabiskan sisa hidupnya bersama orang yang ia cintai.


Ia sama seperti wanita-wanita lainnya. Ia pun menginginkan hal yang paling diinginkan oleh semua wanita di dunia. Yaitu hidup bersama seseorang yang ia cintai.


Akan tetapi, akankah mudah baginya meraih angan dan mimpinya. Sementara balas budi serasa mengikatnya. Membuat langkahnya terpasung. Hingga akhirnya harus merelakan semua mimpinya karena balas budi.


Salahnya sendiri yang tak pernah berpikir panjang. Haruskah ia beritahu Kai tentang pernikahannya dengan Riko yang telah mengantongi restu dari kedua orang tuanya?


Ingin sekali ia menolak dan membatalkan pernikahan itu. Tetapi bagaimana caranya?


"Dara, sekarang kita sudah bertemu dan berkumpul kembali. Aku yakin, lambat laun, Ken bisa menerimaku sebagai Daddy nya. Bukankah kamu dan dokter itu nggak punya hubungan apapun? Lalu tunggu apa lagi Dara? Mari secepatnya kita resmikan hubungan kita dalam ikatan pernikahan. Kita berdua masih saling mencintai. Lalu tunggu apa lagi?"


"Kai, aku ..." Lagi-lagi Dara tak sanggup memberitahu Kai.


"Baiklah. Kalau kamu takut memberitahu orang tua kamu tentang hubungan kita, kalau begitu biar aku saja. Biar aku yang datang menemui orang tua kamu."


"Kai, masalahnya aku..."


"Mommy ..." Suara Ken memanggilnya membuat kalimatnya terhenti.


Sontak ia menoleh, memandangi Ken yang telah membuka matanya.


"Ken, kamu sudah sadar sayang?"


"Mommy, sedang apa Om itu di sini?"

__ADS_1


TBC


__ADS_2