You Make Me Crazy

You Make Me Crazy
Ch. 50


__ADS_3

"Masalahnya Ben, aku..." Kai tak menuntaskan kalimatnya, sebab terdengar suara pekikan seorang gadis dari dalam ruang rawat itu. Bersamaan dengan suara benda terjatuh.


Kai mengernyit. Suara yang terdengar itu tampak tak asing lagi di telinganya. Kai pun mengakhiri sambungan telepon seketika itu juga. Dan memilih hendak memastikan pasien di dalam ruangan itu membutuhkan bantuan.


Perlahan Kai mulai memutar handel pintu. Mendorongnya pelan, hingga sedikit terbuka. Agar Kai bisa melihat keadaan dalam ruangan itu.


Tampak seorang pasien sedang duduk di tepian brankar sembari menunduk. Rambut panjangnya yang tergerai menutupi wajahnya.


"Maaf, ada yang bisa saya bantu? Sepertinya anda membutuhkan bantuan. Saya tidak sengaja mendengar suara anda dari luar," ujar Kai mencoba menawarkan sembari menelisik pasien itu dari ambang pintu. Kai hanya takut mengganggu privasi pasien, hingga ia memilih tetap berdiri di ambang pintu.


Pasien itu, Dara, terkejut mendengar suara Kai. Seketika wajahnya semakin tertunduk dalam. Rambut panjangnya ia biarkan saja seperti itu demi menutupi wajahnya. Sungguh ia tidak ingin bertemu Kai dalam keadaan seperti ini. Belum lagi Kai sudah tahu yang sebenarnya.


Bukannya tidak ingin bertemu, hanya saja Dara takut. Ia takut Kai akan membencinya. Ia takut jika Kai mengakhiri hubungan mereka. Ia benar-benar belum siap untuk hal itu.


"Apa anda membutuhkan sesuatu? Saya bisa membantu." Sekali lagi Kai mencoba menawarkan bantuan. Tetapi Dara enggan menggubrisnya. Ia memilih bungkam dan bergeming dari tempatnya.


Sebenarnya Dara ingin mengambil tasnya yang tergeletak di nakas. Tetapi ia tak mampu menggapainya. Ia hanya ingin mengambil ponselnya. Yang kata Riko, rusak akibat terkena air hujan.


Pantas saja, berkali-kali Kai berusaha menghubungi nomor ponselnya. Namun lagi dan lagi hanya suara operator yang terdengar.


"Maaf, apa boleh saya masuk?" tanya Kai akhirnya. Lantaran tak ada sahutan dari pasien yang masih menunduk. Dan tak berani menoleh ke arahnya. Membuat Kai memicing curiga.


Sebab, jika diperhatikan dari postur dan rambut, tampak seperti seseorang yang Kai kenal. Apalagi pasien itu sama sekali tak menggubrisnya. Seakan ada sesuatu yang berusaha dihindarinya.


Kai hendak melangkah masuk, saat tiba-tiba ponselnya berdering. Terpaksa, niatnya untuk menemui pasien itu pun urung. Dan memilih menjawab panggilan yang menampilkan nama Joanna calling.


"Ada apa Jo?" tanya Kai sembari menutup pintu itu perlahan. Kemudian kembali lagi ke ruang rawat Ziyo. Sebab Joanna memberitahukan bahwa Ziyo sudah bangun.


Suara Kai menjawab panggilan itu terdengar jelas oleh Dara. Tak hanya membuat hatinya sakit, bahkan matanya pun mulai berkaca-kaca.


Kai kini lebih peduli terhadap Joanna dan Ziyo. Wajar, karena Ziyo adalah darah dagingnya. Tapi kenapa, harus disaat seperti ini. Disaat cinta itu telah tumbuh bersemi di hatinya. Bahkan seluruh jiwa dan raganya telah ia serahkan. Namun, inikah balasan yang harus ia terima?


Dara hanya bisa membuang napas pelan sembari mengusap dada yang mulai terasa sesak. Air mata yang susah payah ia bendung itu pun kini tertumpah ruah. Tak sanggup rasanya ia menerima semua ini.


Dara pun kembali membaringkan tubuh yang masih terasa lemah. Ia coba pejamkan mata, ia coba melupakan semuanya, meski itu rasanya sulit. Dan ia pun harus bisa menerima kenyataan, jika suatu hari nanti, Kai pada akhirnya menaruh kebencian terhadapnya. Ia bisa apa?


.


.


Keesokan harinya.


Papa Yuda dan Mama Maya tergesa-gesa mengayunkan langkah kakinya menuju ruang rawat Dara. Kabar berita yang mereka terima semalam dari Dokter Rudi sudah cukup membuat mereka cemas. Ditambah lagi, soal hubungan Dara dengan Kai. Yang mereka yakini, bahwa hubungan itu tidak akan mungkin bertahan.


Dara sedang duduk selonjoran, bersandar di kepala tempat tidur saat kedua orang tuanya datang menjenguknya.

__ADS_1


"Dara ... Kamu baik-baik saja sayang?" cemas Mama Maya seraya meraih putrinya ke dalam rangkulannya. Dara membalas pelukan sang Mama.


"Maafin aku, Mah," pinta Dara diiringi rasa sesalnya.


"Dara, ada sesuatu yang ingin Papa tanyakan sama kamu," ucap Papa Yuda dengan wajah serius.


"Si Papa kebangetan deh. Bukannya dibiarin Dara nya istirahat dulu. Sola itu nanti saja kita bahas kalau udah nyampe rumah," protes Mama Maya tak terima, sembari mengurai rangkulan. Ia hanya ingin agar putrinya beristirahat dengan nyaman. Tanpa memikirkan suatu hal apapun.


"Tapi, Dara harus tau."


"Ada apa, Pa?" tanya Dara.


"Soal hubungan kamu dengan Kai."


"Papa tau dari mana?"


"Semalam dia datang ke rumah mencari kamu."


Dara bungkam sejenak. Ia menyadari, suatu hari kelak orang tuanya pasti akan mengetahui ini. Entah itu dari dirinya sendiri, maupun dari orang lain.


"Papa, Mama ... Bisa nggak, kita nggak usah bahas soal ini dulu. Aku cuma pengen istirahat," pinta Dara dengan wajah memelas.


Mama Maya kembali merangkul putrinya, mengelus lembut lengannya.


Papa Yuda pun bisa apa. Sama seperti sang istri, orang tua mana yang mau melihat anaknya terluka. Sejenak, obrolannya dengan Kai semalam pun terngiang kembali di telinganya.


"Saya memang mencintai Dara. Tapi saya masih nggak bisa melupakan kecelakaan itu. Saya masih nggak bisa menerima kepergian keluarga saya," ucap Kai malam itu.


"Tinggalkan Dara. Akhiri saja hubungan kalian. Untuk apa melanjutkan hubungan, jika masih menyimpan dendam. Itu artinya, kamu belum memaafkan kami," balas Papa Yuda malam itu.


Ya. Ayah mana yang ingin putri semata wayangnya menderita dengan hubungan yang masih ada sedikit rasa dendam di dalamnya.


Hanya sedikit.


Walaupun begitu, siapa yang bisa menjamin, jika kebencian itu tidak akan tumbuh dan berkembang suatu hari nanti. Seiring waktu, hal itu pasti akan terjadi jika pertemuan tidak bisa dihindari. Untuk itu, bukankah lebih baik di pangkas sedini mungkin. Sebelum kebencian itu kian tumbuh dan berkembang. Yang pada akhirnya akan menggerogoti jiwa dan menghancurkan hubungan.


Ceklek


Terdengar bunyi decitan pintu terbuka. Dari pintu yang terbuka lebar itu, tampak Riko datang bersama seorang dokter lain yang akan memeriksa kondisi kesehatan Dara.


"Selamat pagi," sapa Riko seraya mengulum senyum menghampiri brankar Dara.


"Pagi, Dok," balas Papa Yuda dan Mama Maya berbarengan.


"Maaf, dokter harus memeriksa kondisi Dara dulu sebelum diijinkan pulang," ujar Riko.

__ADS_1


"Oh iya, silahkan Dok."


Dokter yang datang bersama Riko pun mulai memeriksa keadaan Dara.


"Gimana keadaan putri saya, Dok?" tanya Mama Maya cemas.


Dokter itu tersenyum. "Putri Ibu nggak apa-apa. Dia hanya butuh istirahat saja. Oh ya, saya sudah buatkan resep obat yang harus dikonsumsi. Resepnya sudah saya berikan ke Dokter Riko. Putri Ibu sudah boleh pulang sekarang. Kalau begitu, saya permisi dulu. Mari ..." Dokter pun berlalu meninggalkan ruangan itu.


"Makasih banyak, Dok," ucap Mama Maya.


"Oh ya, Dokter ..." Mama Maya tampak menerka-nerka.


"Riko. Nama saya Riko, Bu. Panggi saja Riko."


"Terima kasih banyak atas bantuannya, Dok. Dokter Rudi sudah cerita. Katanya, Dokter yang sudah menolong putri saya."


Riko menyunggingkan senyum manisnya.


"Sudah kewajiban saya sebagai dokter untuk menolong pasien," ucap Riko santun sembari melirik Dara sejenak.


"Tapi, tetap saja, saya mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya. Apa putri saya ini nggak ngerepotin Dokter?"


"Mama apaan sih? Mulai lagi deh." Dara protes. Sebab tak ingin mamanya bertanya yang bukan-bukan kepada Riko. Kebiasaan mamanya kambuh lagi mungkin. Wajar saja, karena Riko adalah seorang dokter muda dan tampan. Yang semua kalangan emak-emak sudah pasti mengidamkan menantu seperti Riko.


Riko tertawa-tawa melihat wajah cemberut Dara. Yang justru terlihat begitu menggemaskan di matanya.


"Terima kasih banyak, Dok. Berkat Dokter, putri saya bisa terselamatkan," ucap Papa Yuda.


"Kalau enggak, mungkin saja putri saya yang keras kepala ini sudah mati membeku," sambungnya bercanda.


"Nggak akan mungkin mati Pa. Palingan juga jadi Princess Elsa doang. Kan enak, biar aku bisa membekukan siapapun yang aku mau," balas Dara dengan candaan pula.


Riko hanya tertawa-tawa kecil melihat kelakuan Dara.


"Iya. Sekalian bekukan saja hati dan pikiran kamu itu. Nggak usah lagi mikirin dia."


Riko mengernyit seketika mendengar kalimat itu. Ia tentu saja sudah bisa menebak penyebab Dara pingsan semalam setelah kelelahan menangis.


Dara hendak membalas ucapan Papanya saat tiba-tiba terdengar suara seseorang yang memanggil namanya.


"Dara ..."


Di ambang pintu yang masih terbuka lebar itu, Kai berdiri.


TBC

__ADS_1


__ADS_2