
"Apa kamu tau, kalau Ziyo itu, sebenarnya ..." Joanna menghela napas sejenak.
Dan Kai menunggu Joanna menuntaskan kalimatnya. Apa yang ingin disampaikan Joanna membuat Kai penasaran. Jika Ziyo baik-baik saja sekarang, lalu ada apa dengan Ziyo? Apa yang terjadi padanya?
"Kamu mau tau, kenapa aku memilih Revan?" Bukannya melanjutkan kalimatnya, Joanna malah melempar pertanyaan.
"Itu sudah jadi masa lalu. Sudah nggak penting lagi. Aku ingin melangkah maju. Bukannya jalan di tempat, atau mundur ke belakang. Aku juga harus memikirkan masa depanku. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersama dengan orang yang aku cintai," terang Kai panjang lebar.
Terasa perih hati Joanna saat Kai mengutarakan hal itu. Apa Kai benar-benar telah melupakannya?
"Aku punya alasan kenapa aku memilih Revan dibanding kamu. Keputusan yang aku ambil saat itu, juga karena orang tua kamu."
Kai tersentak. Menatap Joanna kian tajam.
"Asal kamu tau saja, kalau Ziyo itu adalah a..." ucapan Joanna terhenti lantaran bunyi dering ponsel Kai yang terdengar kencang.
Kai segera menjawab panggilan sembari melangkah menjauhi Joanna.
Dari yang tampak, Joanna melihat Kai tersenyum-senyum bahagia. Mungkin benar, Kai telah berpaling dari masa lalu.
Sembari menunggu Kai menyelesaikan obrolannya dalam sambungan telepon, Joanna memilih menyelesaikan pesanan Kai. Buket bunga mawar merah sebagai tanda cinta Kai untuk seseorang yang bernama Dara.
Hati Joanna sungguh teriris perih. Sakit melihat Kai kini mencintai wanita lain. Tak bermaksud munafik, masih ada cinta untuk pria itu. Ia hanya tak ingin mengingkari janji. Janji akan menjauhi Kai. Janji tidak akan merusak masa depan Kai. Seperti permintaan orang tua Kai saat itu. Saat ia mengungkap soal kehamilannya.
Pengakuan Joanna saat itu tak mendapat sambutan baik dari kedua orang tua Kai. Kai yang saat itu tengah menimba ilmu di luar negeri, tidak tahu menahu tentang kehamilan Joanna.
Saat itu, Kai dan Joanna telah membuat rencana. Mereka akan segera menikah begitu Kai menyelesaikan studinya. Akan tetapi, sungguh sangat disayangkan, ternyata hubungan mereka tidak mendapat restu dari kedua orang tua Kai. Dengan alasan Joanna bukan wanita yang pantas untuk Kai. Sebab Joanna saat itu bekerja di klub malam. Hingga orang tua Kai pun merasa Joanna bukan wanita baik-baik.
Alhasil, Revan, kakak Kai yang mengetahui hal itu, memutuskan untuk menikahi Joanna. Sebab Revan tak ingin, anak yang dikandung Joanna lahir tanpa seorang ayah.
Revan berani mengambil alih tanggung jawab, yang seharusnya itu menjadi tanggung jawab Kai. Joanna dan Revan pun menikah secara diam-diam.
Memang pernikahan diantara mereka saat itu bukan karena saling mencintai. Tetapi, lama kelamaan, cinta itu pun hadir. Meski dalam hati Joanna, sesungguhnya masih ada Kai.
Saat Revan kecelakaan, bahkan sampai merenggut nyawa, sungguh Joanna sangat terpukul. Entah mengapa, takdir seolah enggan berpihak padanya. Tuhan seakan tak menginginkannya hidup bahagia.
Bahkan sampai saat ini, saat ia telah mengambil keputusan akan memberi Kai kesempatan kedua. Kai justru telah melupakannya. Ia sungguh menyesal, terlambat dalam mengambil keputusan.
Kai telah selesai dengan obrolannya. Begitu pula Joanna, telah menyelesaikan pesanan Kai.
"Aku harus pergi sekarang. Pesananku sudah selesai kan?" Kai melempar senyum saat Joanna menghampirinya dengan seikat bunga mawar merah di tangannya.
"Sudah. Sesuai pesanan. Aku buat khusus untuk yang teristimewa di hati kamu." Sembari menyerahkan bunga itu ke tangan Kai. Entah Joanna sedang menyindir atau memang ucapan itu tulus dari hatinya.
__ADS_1
"Nggak ada kartu ucapannya?" Kai menyadari ada sesuatu yang kurang dalam buket bunga itu. Tidak seperti ucapan Joanna sebelumnya. Yang meminta nama kekasihnya untuk dicantumkan dalam kartu ucapan.
"Kelihatannya kamu buru-buru, jadi aku nggak sempat bikin. Nggak apa-apa kan? Tanpa kartu ucapan pun, aku rasa dia tau, bunga itu memang untuknya." Joanna berkilah demi menutupi cemburunya. Sebab tak sudi menulis nama wanita lain.
"It's okay. Karena aku sendiri yang akan memberikan bunga ini kepada orangnya langsung. Sebagai ungkapan perasaanku untuknya."
"Wow, that's romantic. Something you never did for me (wow, romantisnya. Sesuatu yang nggak pernah kamu lakukan untukku)."
Kai terdiam menatap Joanna. Membuat ingatannya sejenak kembali ke masa lalu.
Kai memang tidak pernah memberi Joanna bunga sebagai tanda cinta. Dikarenakan hubungan jarak jauh yang mereka jalani. Membuat mereka tak bisa sering bertemu.
Kai tak pernah memberinya bunga, kendati ia tahu Joanna sangat menyukai bunga. Karena bagi Kai, sedalam apa perasaannya terhadap Joanna, itu bisa tergambar melalui sikap dan kesetiaannya.
"Maaf. Aku harus pergi. Oh ya ..." Kai merogoh kantong celana bahannya, hendak mengambil dompet.
"Nggak usah. Buat kamu, gratis," sela Joanna cepat sebelum Kai sempat mengambil dompet.
"Really (sungguh)?" Kai sekadar memastikan. Sebab, dari raut Joanna yang sempat terbaca olehnya, sangat jelas menampakkan rasa tak sukanya. Entah untuk hal apa. Kai tak ingin menyimpulkan nya sebagai kecemburuan Joanna.
Joanna mengulum senyum manis yang dipaksakan mengembang. Meski ada rasa sakit yang mendera.
"Thankyou so much. I have to go. Bye (terima kasih banyak. Aku harus pergi. Sampai jumpa)." Kai pun berlalu dengan membawa seikat bunga mawar merah untuk sang pujaan hati.
Joanna hanya bisa memandangi punggung Kai yang semakin menjauh. Sembari menghela napas panjang. Membuang napasnya pelan, berharap perih itu tak semakin menusuk.
.
.
Usai perkuliahan, Kai tengah menunggu Dara di tempat parkir. Berdiri menyandarkan punggung di sisi mobil. Sembari sesekali melirik arloji di pergelangan tangan kirinya.
Beberapa mahasiswi terlihat menyapa dosen muda berparas rupawan itu saat melewati parkiran. Kai cukup menyunggingkan senyum sebagai balasan sapaan.
Di seberang, Dara memperhatikan dengan wajah masam. Sembari melipat tangan di depan dada.
Kai melambaikan tangan begitu pandangannya menangkap sosok Dara berdiri di seberang.
Namun gadis itu, tak lantas membalas lambaian Kai. Dara malah semakin menekuk wajah, memasang tampang cemberut. Lantaran kesal melihat Kai tersenyum kepada wanita lain. Membuat Dara cemburu akan tingkah pria itu.
Dara masih setia dengan tampang kesalnya saat Kai datang menghampiri. Sengaja ia lakukan untuk memperlihatkan rasa cemburunya terang-terangan.
"Kenapa mukanya cemberut begitu?" tanya Kai meledek. Kai tahu apa yang membuat gadisnya kesal. Sebab Dara bukan gadis yang sok jaim.
__ADS_1
"Senang ya liatin cewek lain," sahut Dara kesal.
"Cemburu ya?"
"Ya iya lah. Jelas aku cemburu. Siapa coba yang nggak kesal melihat pacarnya senyum-senyum dengan perempuan lain."
"Aku cuma membalas sapaan mereka. Itu saja, nggak lebih."
"Tapi tetap saja aku nggak suka."
Kai tersenyum lebar melihat tingkah Dara yang selalu berterus terang. Apa adanya tanpa dibuat-buat.
"Aku selalu suka dengan sikap kamu yang seperti ini."
"Kenapa?" Dara mendekatkan wajah dengan kedua alis terangkat.
"So cute (manisnya)."
"Apanya?"
"Tampang kamu." Sembari mencubit gemas kedua pipi Dara. Membuat gadis itu meringis.
"Iiih ... Sakit tau." Sembari mengelus kedua pipinya yang terasa sakit.
Kai pun menarik pergelangan Dara kemudian. Membawanya ke tempat parkir. Kai lantas membuka pintu mobil meminta Dara naik di kursi depan.
Saat pintu mobil terbuka, yang lebih dulu tertangkap pandangannya adalah buket bunga mawar merah. Membuat senyum di bibir Dara terukir seketika.
"Do you like it (apa kamu suka)?" tanya Kai. Dari senyuman manis Dara saja, jelas gadis itu menyukainya.
Kai lantas mengambil bunga itu. Kemudian ia serahkan kepada Dara. Yang menyambutnya dengan senyum lebar dan tatapan berbinar.
"Aku suka bunga. Apalagi mawar. Makasih ya?" Dara tersanjung menerima perhatian tulus Kai. Matanya mulai berkaca-kaca saking terharu dan bahagia.
Kai membawa jemari mengusap wajah Dara penuh kasih. Sembari berkata, "i love you so much, Dara (aku sangat mencintaimu, Dara)."
Mata yang semula berkaca-kaca, kini meneteskan air mata yang tak terbendung lagi. Dara sungguh bahagia menerima cinta sebesar itu dari Kai.
Namun, rasa bahagia itu perlahan memudar, saat ia teringat kembali kecelakaan itu. Membuat rasa takut itu kembali menerjang. Seakan ingin meruntuhkan benteng kokoh yang baru saja ia bangun.
Walau bagaimana pun, ada rasa bersalah di hati. Yang membuatnya tak sanggup menyembunyikan kebenaran lebih lama lagi. Dara hanya takut kehilangan Kai.
Kai mendekat, mengecup lembut kening Dara.
__ADS_1
"I want you. Can we spend time together (aku menginginkanmu. Bisakah kita menghabiskan waktu bersama)?" bisik Kai sensual. Membuat Dara berdebar-debar.
TBC