
Waktu semakin cepat berputar. Hingga tak terasa, lima tahun sudah berlalu.
Pagi hari di Bandara kota B, seorang pria dengan tampilan rapi dan kacamata hitam bertengger di hidung lancipnya, terlihat menyeruak dari keramaian. Pandangannya senantiasa menunduk, terfokus pada benda pipih di tangannya.
Tak berapa lama seseorang datang menjemputnya. Pria itu, Kaivan, datang dengan urusan penting menyangkut pekerjaan yang sudah lebih dari lima tahun ini ia tekuni.
Sementara di sudut lain kota B, di sebuah hunian yang terbilang cukup mewah, tampak kesibukan pagi hari yang senantiasa mewarnai keseharian seorang Andara.
Setelah memutuskan pergi meninggalkan kotanya, kini Dara lebih nyaman tinggal di kota B bersama seseorang yang bahkan tak punya ikatan apapun dengannya. Meski sudah lima tahun ini mereka tinggal bersama.
Seorang pria dengan setelan kemeja biru muda, tampak terburu-buru. Ia bahkan hampir saja melewatkan sarapannya jika saja Dara tidak mengingatkannya.
"Pak Dokter ..." panggil Dara setengah berteriak.
Pria yang dipanggil Dara dengan sebutan Pak Dokter itu pun menghentikan langkahnya saat Dara berjalan menghampiri.
"Pak Dokter yang selalu super sibuk, Anda belum sarapan. Apa Anda mau berangkat kerja dengan perut kosong?" Pertanyaan Dara yang bermaksud mengingatkan.
Pria itu, Riko, tersenyum menatap Dara yang berdiri tepat di hadapannya.
"Makasih. Kalau nggak ada kamu, mungkin hidupku nggak akan teratur seperti ini. Kamu itu seperti..." Riko tak menuntaskan kalimatnya. Sebab, sesuatu yang serasa membebani hatinya selama lima tahun ini, masih tersimpan apik dalam sanubarinya. Tak sanggup ia mengungkapnya.
"Aku yang seharusnya berterima kasih sama kamu. Berkat kamu, aku bisa seperti sekarang ini. Kamulah yang selalu ada disaat aku susah. Berkat kamu aku bisa membesarkan Ken dengan baik. Kamu adalah teman terbaikku. Mungkin kata terima kasih nggak akan cukup. Kamu sangat berjasa dalam hidupku," ungkap Dara jujur dan setulus-tulusnya.
Riko menghela napas pelan. Sejujurnya, selama lima tahun tinggal dalam satu atap bersama Dara, sungguh membuatnya tak bisa menahan diri.
Akan tetapi, akal sehatnya masih pada tempatnya. Hingga ia mampu mengendalikan diri dan menjaga perasaannya dengan apik.
"Cuma teman?" tanya Riko tiba-tiba.
"Nggak ada niat buat jadi istri gitu?" tanyanya lagi. Sudah berulang kali Riko menyinggung hal itu. Namun seringkali pula, Dara malah menganggapnya bercanda.
Seperti sekarang ini. Saat Riko kembali menyinggungnya, Dara malah tertawa-tawa menanggapinya.
"Ayolah ... Kamu itu dokter. Banyak perempuan yang tergila-gila sama kamu. Tinggal pilih aja yang mana yang kamu mau," kelakar Dara. Sebab sampai detik ini, Riko tak pernah memperlihatkan kedekatannya dengan seorang wanita. Padahal, di rumah sakit tempatnya bekerja, banyak suster-suster cantik yang menaruh hati padanya.
"Kalau ada kamu diantara pilihan itu, aku pasti bakal milih kamu," balasnya serius. Tetapi malah dianggap Dara sebagai candaan.
"Udahan ah, kok kita malah bahas soal ini sih? Ya udah, ayo kita sarapan. Nanti kamu telat lagi." Dara menggamit lengan Riko, mengajaknya ke meja makan. Dimana seorang anak kecil sedang menyantap rotinya lahap.
Anak kecil itu, Ken, adalah anak penurut, pendiam. Wajah tampannya yang sudah terlihat dari kecil membuat banyak guru di sekolahnya geregetan saking gemesnya. Anak itu tampak tenang menikmati sarapannya.
"Ken, kamu udah selesai sarapannya?" tanya Dara sembari menarik satu kursi untuk ia duduk.
"Sarapannya dihabiskan ya?" ujar Riko.
Ken mengangguk sembari mengacungkan jempolnya. Seperti itulah anak kecil itu. Terkadang sikapnya terlihat seperti orang dewasa saja.
"Oh ya, hari ini aku boleh titip Ken di tempat kamu nggak?" tanya Dara sambil mengolesi roti dengan selai.
"Boleh."
"Cuma kali ini. Aku janji. Soalnya hari ini ada kelas tambahan. Setelah itu ada rapat fakultas tentang penambahan dosen baru. Jadi aku mungkin pulangnya telat. Nggak apa-apa kan?"
__ADS_1
Riko mengulum senyum. Kemudian kembali mengunyah makanannya.
"Sorry ya, aku selalu merepotkan kamu."
Riko kembali mengulum senyum.
"Mommy kenapa minta maaf mulu sama Daddy sih? Emang Mommy punya salah apa sama Daddy?" protes Ken tiba-tiba.
Sejak anak itu mulai mengerti, yang selalu ia dengar dari mulut mommy nya adalah kata maaf. Setiap kali mommy nya berbincang dengan daddy nya, kata maaf itu hampir selalu terucap dari bibir mommy nya.
Sejak Ken lahir, Riko lah orang pertama yang selalu setia mendampingi Dara. Menemaninya di kala susah. Banyak orang mengira mereka adalah sepasang suami istri. Namun tidak ada yang tahu, meski mereka tinggal seatap tetapi mereka tidak tidur diatas ranjang yang sama.
Mereka bahkan berada di kamar yang berbeda. Hanya dibatasi oleh dinding yang memisahkan.
"Emm ..." Dara bingung menjawab pertanyaan Ken.
Setelah melahirkan Ken, Dara memutuskan untuk melanjutkan studinya di salah satu universitas ternama di kota B. Tak lama setelah ia menyelesaikan program studi strata 2 nya, ia langsung mendapat tawaran menjadi dosen di kampus tempatnya menimba ilmu.
Dara sadar, ia tak bisa terus menerus bergantung pada Riko dan menyusahkan pria itu. Ia juga harus memikirkan masa depan Ken, putra semata wayangnya. Selama ini, yang Ken tahu, Riko adalah ayah kandungnya.
"Oh ya, Ken, mau Daddy yang nganterin ke sekolah?" tawar Riko demi mengalihkan topik.
"Nanti Daddy telat. Biar diantar Mommy aja," sahut Ken. Kemudian menyudahi sarapannya dengan meminum segelas susu hangat.
"Ya udah, kalau gitu, Daddy berangkat kerja dulu. Kamu yang rajin ya belajarnya. Biar makin pinter." Riko bangun dari duduknya, menghampiri Ken dan mengecup puncak kepala Ken.
"Mommy nya belum Dad," seru Ken menghentikan langkah Riko yang baru saja mengayun.
"Belum dicium."
"Uhuk ... Uhuk ..." Dara tersedak roti yang dikunyahnya. Sembari memukul-mukul pelan dadanya, diraihnya segelas jus. Lalu meneguknya hingga habis tak bersisa.
Duh! Anak kecil ini! Bisa-bisanya dia ngomong seperti itu.
Dara hanya bisa membatin kesal. Sedangkan Riko tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Hingga senyum tipis tercetak di bibirnya.
"Ken, kamu udah selesai kan sarapannya? Ayo kita berangkat yuk," ajak Dara bergegas bangun dari duduknya.
Ken pun turun dari kursi. Kemudian menghampiri Riko.
"Daddy, Ken berangkat sekolah dulu ya? Sekarang, cium Mommy dulu," titah Ken.
Astaga!
Anak kecil ini!
Dara semakin salah tingkah bahkan gugup saat perlahan Riko mulai mendekat.
Mau bagaimana lagi, anak kecil itu cara berpikirnya sudah seperti orang dewasa saja.
"Ken, Daddy buru-buru nih. Daddy berangkat dulu ya?" Riko mencoba menghindari perintah anak kecil itu.
Sama hal nya dengan Dara. Ia berusaha menghindari. Tetapi Ken, masih saja bersikeras ingin melihat Riko mengecupnya.
__ADS_1
"Ken sering lihat di TV kayak gitu. Daddy cium Mommy dulu sebelum berangkat kerja," ucap Ken mendesak.
"Kalau enggak, Ken nggak mau ke sekolah ah. Mendingan Ken main aja di rumah," rajuk anak kecil itu sembari menekuk wajah cemberutnya.
"Oke, oke, ya udah. Sekarang, Daddy cium Mommy nih ya," Riko akhirnya menyerah. Kembali ia mendekatkan wajah perlahan.
Dara masih menunduk. Ia dibuat gugup sekaligus malu dengan situasi ini. Bagaimana bisa Ken meminta hal yang aneh seperti ini.
Dengan lembut, Riko meraih dagu Dara. Menekannya pelan sampai wajah Dara terangkat. Dengan lembut pula ia mendaratkan satu kecupan di kening Dara dengan hati berdebar-debar.
Sementara Dara yang dibuat gugup setengah mati, ia coba pejamkan mata. Ada desiran aneh dalam dada saat Riko mengecupnya. Dara hanya tak tahu, entah itu desiran apa. Yang ia tahu, Riko sudah banyak membantunya. Wajar saja jika ia merasa tak enak hati menolak kebaikan dan kelembutan pria itu.
Saat kecupan diakhiri, dua pasang mata tanpa sengaja saling bertemu. Saling menatap dalam, dengan hati berdebar-debar.
Ken tersenyum-senyum melihat Mommy dan Daddy nya saling menatap satu sama lain. Kemudian berlalu meninggalkan Riko dan Dara yang masih saling menatap.
.
.
Setelah mengantar Ken ke sekolahnya, Dara bergegas ke kampus dengan memesan taksi online.
Sampai di kampus rapat fakultas akan di mulai. Di ruang rapat itu, Dekan Fakultas mulai memimpin rapat.
Setelah beberapa menit rapat berlangsung, tiba-tiba seseorang masuk ke ruangan itu. Yang disambut Dekan dengan ramah.
"Mari, silahkan Pak," ucap Dekan.
Dara menunduk, asik berbalas pesan dengan Riko yang meski sibuk melayani pasien, masih sempat meluangkan waktu mengobrol dengan Dara via chat.
Seorang pria berpostur tinggi tegap tersenyum menyambut uluran tangan Dekan. Garis-garis ketampanannya terlihat jelas saat dia tersenyum. Membuat para dosen wanita terpukau melihat senyum menawan itu.
"Maaf, saya terlambat. Saya pikir jalanan kota ini tidak ada kemacetan. Tapi ternyata saya salah," ucap pria itu. Yang membuat Dara tertegun detik itu juga.
Pasalnya, suara itu sangat tak asing di telinganya.
"Tidak apa-apa Pak Arsenio. Rapatnya baru saja di mulai. Oh ya, silahkan duduk."
Pria itu mengedarkan pandangan. Dan terhenti tepat di satu kursi kosong di sebelah Dara.
Pria itu pun bergegas mengambil duduk di sebelah Dara. Membuat Dara mendadak gugup setengah mati.
"Oh ya, Bu Andara, bisa rapatnya kita mulai lagi?" tanya Dekan lantaran Dara masih saja menunduk. Seakan tidak memperhatikan jalannya rapat.
Tak enak hati dengan Dekan, Dara akhirnya mengangkat wajahnya.
"Iya, Pak, silahkan."
"Dara?" seru pria itu.
Namun Dara enggan berpaling. Mendadak jantungnya semakin berdetak cepat. Suara itu sudah tak asing lagi di telinganya. Sebab pemilik suara itu, siapa lagi kalau bukan Kai.
TBC
__ADS_1