
Dara masih kebingungan harus berbuat apa sekarang. Meminta bantuan pada Yola, juga percuma. Sama saja. Sudah pasti Yola tidak dapat membantunya. Sebab ia tahu betul, seperti apa kondisi keuangan Yola.
"Mbak. Mau bayar pakai tunai saja?" Tanya kasir itu membuat Dara tersentak kaget.
"I_iya. Saya bayar pakai tunai saja." Jawab Dara ragu. Lantaran uang nya tidak akan cukup untuk membayar tagihan.
Sementara Dara diliputi ketegangan, Kai justru terlihat santai. Kai sudah bersiap pulang, saat Beno datang menemuinya.
"Parah kamu Kai. Kenapa sih kamu melakukan ini?" Tanya Beno penasaran.
"Aku sudah pernah bilang akan membuat perhitungan jika aku bertemu lagi dengan kucing betina itu."
"Tapi nggak gini juga kali Bro. Kasihan tuh. Mungkin saja dia nggak sanggup buat bayar."
"Maka dari itu, aku butuh bantuan kamu. Yah, paling nggak kamu suruh dia melakukan pekerjaan di kafe ini."
"Aku nggak tega Kai."
"Aku rasa ini cukup untuk memberinya pelajaran. Kucing betina itu sudah sangat keterlaluan. Dia sudah mempermalukan aku di minimarket waktu itu. Sekarang, giliran aku yang mempermalukan dia."
"Tapi ini nggak sepadan Kai. Masa cewek secantik itu harus mencuci piring."
Kai terkekeh. "Itu masih pekerjaan yang ringan. Semua cewek pasti bisa mencuci piring. Aku yakin, dia juga pasti bisa."
"Asli, parah kamu Kai. Semua pesanan kamu gratis kok. Jadi cewek itu nggak perlu mencuci piring."
"Sekali ini aja Bro kamu bantu aku."
"Tapi ini keterlaluan Kai."
"Nggak. Ini sepadan atas apa yang dia lakukan waktu itu."
Beno hanya bisa membuang napas nya panjang. Lalu memalingkan wajahnya, memandangi Dara yang masih berurusan di meja kasir.
"Gimana Mbak. Jadi Mbak nya mau bayar pakai apa?" Tanya kasir lagi.
Dara terlihat gelisah. Hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal. Sekarang, ia harus bagaimana.
"Emm ... Maaf. Sebenarnya, saya nggak bawa uang lebih. Apa boleh saya titip KTP saya dulu. Lalu saya balik lagi ke sini untuk melunasi tagihannya." Pinta Dara ragu. Sebab ia tak tau cara ini ampuh atau tidak.
"Tidak bisa Mbak. Meninggalkan KTP, ponsel, atau apapun itu sebagai jaminan, di kafe ini tidak boleh. Kalau Mbak tidak punya uang, kenapa malah makan di kafe Mbak. Udah gitu pesanannya banyak lagi." Ketus kasir itu dengan nada keras. Hingga membuat Dara malu.
"Atau gini aja deh, saya tinggalkan kunci mobil saya. Besok saya balik lagi ke sini untuk melunasinya." Dara masih berusaha berkompromi.
"Mbak tuli ya? Kan sudah saya bilang tadi. Meninggalkan barang apapun sebagai jaminan itu tidak boleh Mbak. Kalau Mbak tidak bisa melunasi tagihannya, maka Mbak harus mencuci piring di kafe ini selama seminggu. Tanpa shif."
__ADS_1
"Apa?" Dara sukses melotot memandangi si kasir. Gila, masa ia harus mencuci piring sepanjang hari tanpa istirahat. Benar-benar gila.
"Mencuci piring selama seminggu? Nggak salah nih? Di rumah aja aku nggak pernah mencuci piring. Enak saja kalau ngomong." Gerutu Dara tak tahu malu.
"Ya sudah kalau memang Mbak keberatan, saya akan panggil keamanan dan meminta keamanan untuk membawa Mbak ke kantor polisi."
"Ka_kantor polisi? Memangnya aku ini buronan apa?" Dara kembali menggerutu.
"Makanya, bayar dulu tagihannya Mbak. Baru Mbak boleh pulang. Kalau tidak, terpaksa saya panggil Bos saya." Ancam kasir itu lagi.
Dara pun semakin berpikir panjang. Tentu saja ia tak mau berakhir di penjara hanya gara-gara tidak bisa membayar tagihan makanan.
"Ada apa ini?"
Suara bas yang terdengar itu sontak membuat Dara memalingkan wajahnya. Memandangi pria yang tiba-tiba saja sudah berdiri di sampingnya.
"Maaf, Pak Beno. Mbak ini tidak bisa membayar tagihan." Ujar si kasir.
Beno, pemilik kafe, sekaligus sahabatnya Kai, menatap Dara dengan seksama. Sejujurnya Beno tak tega ikut-ikutan mengerjai gadis itu. Tapi, apalah daya jika Kai sudah meminta. Maka Beno pun, mau tak mau harus memasang tampang tegas nya di depan Dara.
"Oh ya? Tapi kamu sudah beritahu dia kan apa konsekuensi nya jika tidak bisa membayar?"
"Sudah Pak. Saya sudah menjelaskan pada Mbak ini panjang lebar."
"Lalu?"
Beno manggut-manggut. Lalu menatap Dara dengan seksama.
Di seberang, Yola yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya, tanpa sengaja melihat Dara sedang berhadapan dengan Bos nya. Karena penasaran, Yola pun datang menghampiri.
"Dara?" Panggil Yola.
Dara pun menoleh. Menatap penuh permohonan pada Yola. Memang saat ini, Dara sangat membutuhkan bantuan.
"Sahabat kamu Yol?" Tanya Beno.
"Iya, Pak. Ini Dara, sahabat saya." Jawab Yola.
"Maaf Nona Dara. Apa benar apa yang dikatakan karyawan saya?" Beno beralih mengajukan pertanyaan pada Dara.
Dari yang terlihat, Dara tampak gugup. Bahkan tegang. Rona wajahnya saja sampai memucat. Lantaran rasa takut sekaligus malu yang mulai menderanya saat ini.
Sementara di seberang, Kai terlihat santai. Ia tak tertarik sedikitpun untuk menghampiri. Dan kini, ia lebih memilih meninggalkan kafe itu. Melenggang begitu saja tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Dara sempat mengalihkan pandangannya sejenak pada Kai yang melangkah percaya diri meninggalkan kafe. Ia tak mampu berbuat apa-apa. Ia hanya bisa menggeram dalam hatinya. Menahan kesal luar biasa.
__ADS_1
"Ehem ... Begini Pak. Bukannya saya nggak mampu bayar ya, hanya saja saat ini saya nggak bawa uang lebih. Dan kartu kredit saya sedang ada masalah. Saya hanya menawarkan solusi saja. Bukannya saya nggak ada niatan buat bayar." Dara berusaha membela diri, demi harga dirinya.
"Solusi? Solusi yang bagaimana?"
"Bapak silahkan tahan mobil saya dulu. Besok saya bakal balik lagi kesini untuk melunasi tagihannya. Gimana? Solusi yang tepat bukan?" Dara malah sok-sok an merasa diri benar.
Beno tersenyum mendengar tawaran solusi Dara.
"Maaf, bukannya karyawan saya sudah menjelaskannya panjang lebar tadi? Barang jaminan dalam bentuk apapun tidak dibenarkan di kafe ini. Kalau anda tidak mampu membayar tunai, silahkan menggunakan kartu kredit. Tapi kalau kalau kartu kredit pun tidak bisa, maka anda harus terima konsekuensinya. Anda harus mencuci piring di kafe ini selama seminggu."
Dara terkekeh mendengarnya.
"Gila. Masa iya aku harus mencuci piring." Gumam Dara lirih dengan kesalnya.
"Berapa tagihannya?" Tanya Beno pada kasir.
Si kasir pun menyebutkan nominal tagihan Dara yang terbilang cukup fantastis untuk ukuran porsi makan satu orang saja.
"Melihat dari jumlah tagihannya, seharusnya anda mencuci piring di kafe ini selama sebulan. Tapi saya masih berbaik hati. Dan saya hanya memberikan anda waktu satu minggu. Jika anda masih saja menolak, maka saya harus menggunakan jalur hukum." Ujar Beno.
Dara pun hanya bisa menelan saliva nya dalam-dalam. Tak menyangka ia akan terjebak di situasi seperti ini. Benar-benar memalukan.
"Awas kamu ya. Kalau sampai kita bertemu lagi, kali ini aku yang akan membuat perhitungan dengan mu. Dasar kucing got sialan." Gerutu Dara dalam hatinya.
Dara benar-benar kesal dengan apa yang dilakukan Kai terhadapnya. Jika bukan karena harga dirinya yang sedang dipertaruhkan saat ini, sudah pasti Dara tidak akan mau melakukan pekerjaan itu. Lebih baik ia mencuci piring di rumahnya sendiri, dari pada harus dipermalukan seperti ini.
"Baiklah. Saya akan melakukannya." Ucap Dara pasrah dengan nasib nya.
"Oke. Yola ... Dia sahabat kamu kan? Sekarang, kamu ajak dia ke belakang. Tunjukkan padanya apa yang harus dia lakukan." Titah Beno tegas.
"Baik, Pak."
"Silahkan." Beno membuka tangannya. Mempersilahkan Dara mengikuti langkah Yola ke pantry kafe.
Meski kesal dan berat hati, Dara pun mengikuti langkah Yola. Sedangkan Beno tersenyum-senyum melihat wajah cemberut Dara.
Sementara di luar kafe, di dalam mobilnya, Kai menerima panggilan telepon dari Beno.
"Beres. Apa yang kamu minta sudah aku lakukan." ujar Beno dari seberang.
Kai tersenyum puas sudah berhasil mengerjai Dara. Sekilas, ia teringat kembali bagaimana pertama kali bertemu Dara di depan toilet. Lalu di mini market. Sekarang di kafe ini.
"I am sorry." Gumam Kai lirih. Yang sebenarnya juga tak tega mengerjai Dara.
Kai tersenyum-senyum sendiri saat mengingat tingkah konyol Dara di depan kaca jendela tadi.
__ADS_1
TBC