You Make Me Crazy

You Make Me Crazy
Ch. 75


__ADS_3

"Mommy, sedang apa Om itu di sini?" Ken menatap lurus Kai yang berdiri memandanginya. Lalu menyunggingkan senyum kepadanya.


Ken terus menatap wajah Kai. Menatapnya datar dan dingin. Entah apa yang ada dalam benak anak kecil itu. Mungkinkah ia tidak suka melihat Kai berada dekat dengan Mommy nya?


Usianya masih terlalu kecil untuk memahami persoalan yang terjadi diantara orang dewasa. Sedari kecil ia menyayangi Riko. Mengira pria itu adalah ayah kandungnya.


Bukan salahnya jika ia terlanjur menyayangi Riko. Anak kecil tidak pantas untuk dipersalahkan. Ia hanyalah korban dari keegoisan orang tuanya. Jadi apapun keputusan yang ia ambil, semua berdasarkan perasaannya semata.


Namun siapa yang peduli perasaan seorang anak kecil seperti dirinya?


"Hai Ken. Maaf, Om nggak ngasih tahu dulu kalau mau datang berkunjung ke rumah Ken. Abisnya Om nggak punya teman main di rumah. Nggak tau kenapa, Om malah kepikiran Ken." Kai mencoba berbasa-basi. Ia mulai merasa tak nyaman saat Ken memberinya tatapan tak suka.


Benarkah Ken tidak menyukainya?


Bukankah, beberapa jam yang lalu saat di bandara, mereka sudah menjalin komunikasi yang baik. Yang sebenarnya, sulit membangun komunikasi dengan seorang anak kecil. Harus lebih berhati-hati dalam memilih kaidah bahasa yang digunakan. Agar maksud tersampaikan dengan baik.


"Benarkah Om adalah Daddy nya Ken?"


Pertanyaan Ken yang membuat Kai terkesima. Lalu hati berdebar-debar menahan rasa haru.


Dara menghela napas panjang. Hendak menjawab pertanyaan Ken. Namun pertanyaan Ken berikutnya membuatnya didera rasa bersalah.


"Kenapa Om ninggalin Ken? Katanya Om adalah Daddy nya Ken. Trus kenapa Om nggak tinggal bersama Mommy dan Ken. Seperti Mommy dan Daddy Ken?"


Deraan rasa bersalah membuat Dara menunduk. Tak sanggup memandang wajah anak kecil itu.


Apa yang terjadi saat ini teramat membingungkan bagi seorang anak kecil seperti Ken. Betul-betul di luar jangkauan nalarnya. Bahkan logikanya pun mungkin terasa sulit untuk menerima.


Tidak ada yang ia pahami dari persoalan asmara kedua orang tuanya. Tapi bukankah sungguh keterlaluan jika seorang anak kecil seperti dirinya menjadi korban keegoisan orang dewasa?


Mengapa orang dewasa tidak berpikir panjang dan lebih memilih mengedepankan ego masing-masing?


"Ken. Kadang, ada hal yang nggak perlu untuk diceritakan. Karena, walau diceritakan pun, Ken nggak akan mungkin mengerti. Tapi, ketahuilah, Om sangat sayang sama Ken dan Mommy. Om sangat rindu sama Ken dan Mommy." Sungguh sulit untuk membuat seorang anak kecil mengerti.


"Tapi Om bukan orang jahat kan seperti kata Daddy?"


Kai tersenyum. Lalu menggeleng pelan.


"Menurut Ken, apa tampang Om ini menunjukkan kalau Om orang jahat? Om tahu, Ken sangat pintar. Ken sudah bisa membedakan mana orang jahat dan mana yang bukan." Sekali lagi Kai menunjukkan senyum termanisnya. Untuk meyakinkan Ken bahwa ia bukan lah orang jahat.


Lalu tak disangka, tiba-tiba Ken membalas senyumannya. Membuat hati dan perasaan Kai menghangat seketika.


"Benar Om Daddy nya Ken? Om sayang sama Ken?"

__ADS_1


Kai mengangguk.


"Ken boleh nggak main sama Om?" Pertanyaan Ken yang mengundang rasa haru di hatinya.


Sekali lagi Kai menjawabnya dengan anggukan kecil dan senyuman lembutnya.


"Ken boleh nggak manggil Om, Daddy?"


Untuk kedua kalinya rasa haru itu menyelimuti hatinya. Bahkan sukses menjatuhkan bulir-bulir air bening itu di wajahnya. Kai sungguh terharu dengan pertanyaan berbalut permintaan anak kecil itu.


Sementara Dara, terkesima. Terkejut bahkan. Ia tak menyangka semudah itu bagi Ken menerima Kai sebagai ayahnya.


Ah, mungkin ia telah menganggap remeh ikatan darah antara Kai dan Ken. Ia anggap enteng ikatan batin antara seorang ayah dan anaknya. Ikatan batin cenderung lebih kuat. Ibarat kata ikatan darah lebih kental dari air.


Namun saat ini ada perasaan bahagia mendera hati. Dara sungguh bahagia melihat ikatan yang perlahan mulai terjalin antara Kai dan Ken. Sehingga tak terasa, buliran air yang menggenang di pelupuk mata itu pun, mulai berjatuhan.


"Mommy sama Daddy kenapa nangis?" tanya Ken memandangi Dara dan Kai bergantian.


Dara kini malah terisak. Isakan tangisnya membawa jemari Kai mengelus lembut pundaknya. Lalu merengkuhnya dalam dekapan hangatnya.


"Daddy juga kenapa nangis?" tanya Ken sekali lagi.


"Daddy sangat bahagia. Karena Ken. Ken membuat Daddy dan Mommy bahagia," jawab Kai.


Ken mengulum senyumnya.


"Boleh nggak Daddy peluk Ken?" pinta Kai. Yang ternyata mendapat anggukan setuju dari Ken.


Ken berusaha bangun dari pembaringan dengan sekuat tenaganya. Dengan sigap Kai membantu. Lalu memeluknya begitu ia dalam posisi duduk.


Buliran air bening itu semakin deras berjatuhan. Rasa haru yang menyelimuti membuat Kai mempererat pelukannya.


Jika menangis bisa mengobati segala lara di hati, baginya menangis adalah sebagai ungkapan bahagianya saat ini. Air mata yang berderai adalah air mata bahagia.


Selama lima tahun menahan rindu, Kai hanya bisa membayangkan dan mengira-ngira seperti apa anaknya. Dan kini, ia bisa bertemu dan berkumpul kembali bersama orang-orang yang ia cintai.


"Makasih ya Ken. Ken udah mau nerima Daddy. Mulai sekarang Daddy janji, Daddy nggak akan pernah pergi dari Ken. Daddy akan selalu temenin Ken main," ucapnya penuh rasa haru. Tangannya bergerak mengusap-usap punggung kecil itu.


Yang membuatnya semakin terharu adalah, lengan kecil milik Ken memeluk tubuhnya erat. Untuk pertama kalinya ia merasakan kebahagiaan yang begitu besar. Harunya bertemu Ken melebihi rasa harunya saat mengetahui Ziyo adalah putra kandungnya.


Bahkan bahagianya saat ini melebihi bahagianya saat bersama Ziyo.


"Ken."

__ADS_1


Namun bahagia itu belum seutuhnya ia genggam. Ia menyadari belum ada ikatan yang menyatukan dan mengumpulkan mereka kembali bersama.


Suara Riko yang terdengar memanggil, membuatnya harus mengurai pelukan di tubuh kecil itu. Ia lalu menyeka air mata, kemudian berdiri.


Riko datang menghampiri. Pria itu terlihat tampan mengenakan sneli putih yang menjadi ciri khasnya. Profesinya bisa dikenali dari seragam putih itu.


"Dad ..." dengan gembira Ken ingin menyapa Riko. Namun terhenti saat dilihatnya tatapan Kai tertuju kepadanya. Ia jadi tak enak hati memanggil Riko dengan sebutan Daddy seperti sebelumnya.


"Ken, Ken masih boleh kok manggil Dokter Riko Daddy." Ucapan Kai menerbitkan kembali senyum di wajah Ken.


"Kalau gitu, Ken panggil Daddy Ko aja. Boleh kan?" tanya Ken sumringah.


Kai tersenyum lalu mengangguk. Begitu pun dengan Dara. Tidak melarang keinginan anaknya. Terkecuali untuk hal-hal tertentu ia akan memasang rambu-rambu larangan.


Lalu bagaimana dengan Riko? Akankah situasi ini masih bisa membuatnya tersenyum?


Tentu saja masih bisa. Ia tersenyum menatap Ken, namun menahan getir di dada. Tanpa perlu ia bertanya, jika melihat dari situasi yang ada, mereka bertiga sudah berkumpul kembali. Sudah pasti Ken telah menerima Kai sebagai ayahnya.


Anak kecil itu mengapa begitu cepat mengerti. Tetapi mengertikah ia dengan perasaannya saat ini?


"Ada nggak yang masih terasa sakit?" tanyanya memperhatikan sekujur tubuh Ken. Kepala diperban, tangan dan juga kaki. Tetapi anak kecil itu seperti tidak merasakan perih pada lukanya.


Berbeda dengan dirinya. Yang justru terluka namun tak berdarah. Luka hati kala menyaksikan pemandangan saat. Riko harus bersabar berapa lama lagi?


Ken menggeleng. "Masih terasa pusing. Tapi Ken bisa menahannya. Hari ini Ken sangat senang, berkat Mommy dan Daddy." Ia lalu memandangi Kai.


Membuat hati Riko bagai tersayat sembilu. Ia cemburu. Sangat cemburu. Bagaimana bisa semudah itu Kai merebut mereka kembali dari sisinya.


Beberapa saat yang lalu sebelum ia datang ke ruangan ini. Orang tuanya sempat menghubunginya. Memberinya kabar yang membuatnya senang.


"Riko, pulanglah dalam waktu dekat ini. Ajak Dara dan Ken. Pernikahan kalian akan segera diadakan. Kami sebagai orang tua sudah menyiapkan segalanya. Kalian hanya tinggal membawa diri saja. Oh ya, rahasiakan hal ini dari calon istrimu. Kita beri dia kejutan."


Seperti itulah ucapan Dokter Rudi melalui sambungan telepon.


Haruskah ia tetap merahasiakan hal ini, atau memberitahukannya pada Dara?


Tidak!


Kali ini biarlah ia menjadi egois.


Pernikahan itu adalah hal yang paling diinginkannya. Yaitu bisa memiliki Dara seutuhnya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2