
Weekend ini Dara tidak punya kegiatan di luar rumah. Waktunya ia gunakan untuk berkebun bersama Papa Yuda di halaman belakang rumah.
Dara dan Papa Yuda tengah membersihkan tanaman dari hama-hama yang mengganggu, saat Mama Maya datang membawakan minuman dingin dan kue buatannya.
Nampan berisikan minuman dan kue itu Mama Maya letakkan di atas meja di teras belakang.
"Dara ... Papah ... Ayo, minum dulu." Mama Maya setengah berteriak memanggil suami dan putrinya itu.
Bergegas Dara dan Papa Yuda menghampiri. Lalu mengambil duduk. Baru kemudian masing-masing mengambil minuman dan kue.
"Gimana, enak kan kue buatan Mama?" tanya Mama Maya sumringah memandangi suami dan putrinya bergantian.
"Lumayan," sahut Dara datar. Membuat Mama Maya memanyunkan bibirnya seketika.
"Kamu ini, mana pernah kamu memuji kue buatan Mama. Padahal Mama tuh bikinnya udah sepenuh hati banget. Masih aja nggak pernah kamu hargai," kesal Mama Maya memasang tampang cemberut.
Dara dan Papa Yuda malah tertawa melihat tingkah Mama Maya yang manjanya layaknya seorang anak kecil.
"Kamu sih Dar, selalu aja godain Mamamu. Tuh lihat, ngambek kan?" seloroh Papa Yuda tertawa kecil.
"Idih, gitu aja kok ngambek Mah. Udah kayak anak kecil aja. Jelek tau muka Mama ditekuk begitu," celoteh Dara menggoda mamanya.
"Kalian tuh ya, nggak pernah sekali aja bikin hati Mama senang." Mama Maya memasang mode merajuk. Hingga refleks Dara pun merangkul mamanya yang masih tampak awet muda itu.
Papa Yuda tersenyum-senyum melihat kedekatan ibu dan anak itu.
"Mama bikin gemes aja deh. Mama kalau mau ngambek tuh lihat-lihat usia dulu dong. Dipertimbangkan plus diperkirakan. Cocok apa enggak." Dara kembali menggoda mamanya. Yang kali ini dibalas dengan sapuan hangat mamanya di kepalanya.
"Mode manja Mama kamu ini yang juga kadang bikin Papa gemes. Sampai Papa jatuh cinta sama Mama kamu," ujar Papa Yuda jujur. Hingga membuat wajah putih Mama Maya bersemu merah jadinya.
Keluarga kecil itu selalu hidup rukun dan damai. Tak pernah ada pertengkaran hebat dalam keluarga itu. Masing-masing selalu berusaha saling mengerti dan saling memahami. Dan yang paling penting adalah saling jujur satu sama lain.
"Ceileeeh ... Udah kayak ABG aja penampakannya." Dara kembali berceloteh sembari melepas rangkulannya.
"Oh ya Dar. Itu baju punya siapa?" tanya Mama Maya mengerutkan dahi.
"Baju yang mana?"
"Kaos oblong hitam. Itu punya kamu ya? Kapan kamu beli baju baru? Kok nggak ngajak-ngajak Mama."
"Ups!" Dara menepuk jidatnya. "Itu bu ..."
"Sejak kapan kamu suka pakai kaos seperti itu? Kayak kaos cowok tau nggak. Apa selera berpakaian kamu udah berubah ya sekarang?" sela Mama Maya cepat.
"Itu punya teman Mah."
__ADS_1
"Sudah Mama cuci. Ada di jemuran sekarang. Mungkin udah kering. Mau Mama setrika bentar lagi."
"Biar aku aja Mah yang nyetrika."
"Eh nggak us..." Belum sempat Mama Maya menyahuti ucapan Dara, gadis itu telah lebih dulu melesat pergi bak angin yang berembus kencang. Secepat kilat Dara mengayunkan langkahnya menuju tempat jemuran.
Mama Maya hanya bisa menggeleng melihat kelakuan putrinya itu.
.
.
Petang ini entah kenapa mendadak Kai merasa kondisi fisiknya kurang fit. Suhu tubuhnya meningkat, badan pun terasa lemas.
Kai menghempas tubuhnya di sofa. Ia sandarkan punggungnya sembari memejamkan mata.
Beberapa hari ini Kai kurang memperhatikan pola makannya. Bahkan ia kurang beristirahat. Jadwal yang hampir penuh setiap harinya membuatnya hanya bisa beristirahat di malam hari saja. Itu pun disaat malam telah larut, ia baru bisa mengistirahatkan raganya setelah menyusun materi untuk esok harinya.
Kai bangun dari duduknya hendak menuju kamar saat tiba-tiba terdengar bel pintu berbunyi. Dengan lesu, kaki jenjang Kai mengayun menuju ruang tamu, hendak membukakan pintu.
Saat pintu terbuka, tampak sesosok jelita tengah berdiri di hadapan dengan senyum manis terukir jelas di wajahnya.
"Hai ... Sorry, apa kedatanganku mengganggu?" tanya Dara bersemangat.
"Nggak kok. Ada yang bisa aku bantu?"
"Aku hanya ingin mengembalikan ini." Dara menunjukkan paper bag di tangannya.
"Apa itu?"
"Kaos kamu. Sesuai janji, udah aku cuci bersih. Udah aku setrika juga. Pokoknya rapi dan wangi."
"Padahal kamu nggak perlu melakukan itu."
"Oh ya, aku boleh masuk nggak nih?" Dara sok-sok akrab. Dengan tak tahu malunya ia ingin masuk ke rumah pria asing yang bukan muhrimnya itu.
"Oh, boleh. Sorry, sampai lupa. Ayo masuk." Kai melangkah masuk diikuti oleh Dara di belakangnya.
Dara mengekor di belakang Kai sembari netra nya tak lepas dari punggung pria itu. Sampai tiba-tiba, Kai kehilangan keseimbangan tubuhnya dan hampir saja terjatuh saat Dara dengan gerak cepat berhasil menahan tubuh Kai. Agar tak jatuh terjerembab ke lantai.
"Kamu nggak apa-apa Kai?" tanya Dara cemas. Sembari memapah tubuh Kai menuju sofa. Ia baringkan perlahan pria itu. Lalu menaruh paper bag di meja sofa.
"Kamu sakit? Muka kamu pucat banget." Dara lantas menempelkan punggung jemarinya di dahi Kai.
"Badan kamu panas banget lagi." Dara bertambah cemas saat tahu Kai ternyata demam. Wajah Kai bahkan sangat pucat.
__ADS_1
"Duuuh ... Gimana ini? Apa aku bawa ke dokter saja?" gumam Dara cemas. Bukan hanya cemas, Dara setengah panik. Bahkan ia tak tahu mesti berbuat apa.
Sementara Kai terbaring lemah di sofa itu.
"Nggak perlu. Dengan beristirahat sebentar saja aku pasti sembuh. Kamu nggak perlu cemas seperti itu," lirih Kai.
"Tapi badan kamu panas banget Kai. Aku bawa ke dokter, mau ya?"
"Nggak perlu. Aku nggak apa-apa."
"Kalau gitu aku ke apotik sebentar." Dara bergegas bangun dan hendak pergi. Namun tangan kekar Kai yang menahan pergelangan tangannya, membuat langkahnya terhenti.
"Mau ngapain?" lirih Kai bertanya.
"Mau beli obat penurun demam. Kamu harus minum obat."
"Nggak perlu. Tolong bawa aku ke kamarku saja. Aku cuma butuh istirahat."
"Tapi ..."
"Dara ..." sela Kai. Hingga akhirnya Dara pun menuruti permintaannya.
Kembali Dara membantu memapah tubuh lemah Kai menuju kamarnya.
Perlahan Dara membaringkan Kai di tempat tidurnya. Kemudian menyelimutinya.
"Kamu udah boleh pulang sekarang. Makasih ya?" lirih Kai sebelum akhirnya memejamkan matanya.
Entah kenapa, meski Kai telah meminta, namun Dara enggan rasanya meninggalkan pria itu sendirian. Terlebih disaat seperti ini. Bagaimana jika demamnya tambah parah. Bagaimana jika, bagaimana jika, dan bagaimana jika ...
Berbagai pikiran buruk pun berkecamuk di kepalanya. Dan kian menambah kecemasannya. Sejenak dipandanginya wajah rupawan yang kini pucat pasi itu. Sembari menimbang-nimbang. Namun hati teramat berat diajak berkompromi.
Sampai akhirnya, Dara pun memutuskan hendak pergi. Saat tiba-tiba tangan kekar Kai menahan pergelangan tangannya. Membuatnya terkesiap. Kemudian memutar tubuhnya.
"Jangan pergi," pinta Kai. Dengan mata terpejam.
Dara mengernyit tak mengerti. Ia mengira Kai mengigau.
"Please, jangan pergi. Tetaplah di sini bersamaku." Sekali lagi Kai meminta.
"Tapi ..."
"Jangan tinggalkan aku."
TBC
__ADS_1