
Mungkin lantaran rindu hingga pertemuan pun tak cukup hanya sekali.
Padahal, belum lama mereka berpisah, tetapi rindu sudah kepalang membuncah, tak terbendung lagi. Jarak dari ruang tamu ke kamar Kai tak sebegitu jauh, sampai Kai dan Dara tergesa-gesa ingin segera sampai.
Mengunci pintu terburu-buru, Kai dan Dara sudah tak sabar lagi ingin segera memadu kasih. Menuntaskan gairah yang kian bergejolak.
Sekali dorong, tubuh ramping Dara sudah terbaring di tempat tidur, di bawah kungkungan Kai. Saling membuka tautan kancing kemeja masing-masing dengan tak sabaran. Begitu tubuh dalam keadaan tanpa sehelai benang pun, keduanya bersegera melebur dalam satu rasa.
Berbagi peluh berdua, berbagi ******* yang sama, saling bersahutan merdu. Berlomba mendaki puncak asmara.
Selesai bersih-bersih, keduanya masih setia di tempat tidur, duduk selonjoran. Kai menyandarkan punggung di kepala tempat tidur, sedangkan Dara bersandar mesra di dada bidang pria itu sambil bermain ponsel.
"Liatin apaan sih?" tanya Kai sembari membelai lembut puncak kepala Dara. Sambil sesekali menciuminya, menghirup aroma wangi gadisnya.
"Ini, status instagram nya Yola. Dia memposting fotonya lagi makan berdua dengan pacarnya. Tapi yang di foto, malah tangan pacarnya. Itu pasti Beno kan?" Dara memperlihatkan foto di layar ponselnya. Dimana terlihat dua tangan yang saling menggenggam. Di dekatnya ada sebuah desert dengan buah cherry di atasnya.
"So why (terus kenapa)?"
"Aku juga mau," pinta Dara setengah merengek.
"Foto berdua?"
"Bukan. Aku juga mau kita makan malam di luar."
"Oke. Kita ke tempatnya Beno saja. Gimana?"
"Nggak mau ah. Kita cari tempat yang lain saja. Yang lebih romantis."
Kai terkekeh dengan tangan masih setia mengusap lengan Dara.
"Aku nggak tau ada tempat seperti itu. Kalau kamu punya rekomendasi yang bagus, ya udah, kita ke sana saja."
"Oke. Aku tau tempat yang bagus. Kalau gitu, aku siap-siap dulu." Dara bergegas turun dari tempat tidur. Disusul oleh Kai kemudian.
.
.
Kai tertegun dan terdiam begitu mereka tiba di depan sebuah restoran seafood. Resto favorit Dara, Yola, dan Ditha.
"Ini tempat romantisnya?" tanya Kai tak percaya.
Dara tersenyum-senyum memandang ke depan. "Yes. Ini dia resto favorit ku. Makanan di sini tuh enak-enak. Pokoknya pake banget," sahutnya sambil mengacungkan dua jempolnya.
Mungkin hanya Dara yang terlihat senang dan antusias untuk makan malam mereka kali ini. Sedangkan Kai, raut wajahnya tampak mulai berbeda. Seakan ia enggan dan tak bersemangat.
Dara menggamit lengan Kai mesra. Mengajaknya masuk ke restoran tersebut.
"Let's go!" seru Dara bersemangat.
Kai tak bisa berbuat apa-apa selain menuruti saja keinginan gadisnya. Tak kuasa untuk menolak. Sebab tak ingin mengecewakan sang pujaan hati.
"Saya pesan yang ini, yang ini, trus ... Yang ini." Dara menunjuk menu yang tertera dalam daftar menu tanpa bertanya terlebih dahulu kepada Kai. Ia memesan menu yang menurutnya paling istimewa di restoran tersebut.
"Minumnya orange juice aja, dua," tambahnya.
Pelayan restoran pun bergegas ke pantry setelah mencatat semua pesanan Dara.
"Trus, romantisnya di mana?" Kai seakan tak suka Dara mengajaknya ke restoran seafood.
Dara menyunggingkan senyumnya. Entah kenapa, senyuman Dara kali ini serasa sedang meledek. Kai hanya bisa membuang napas pelan.
__ADS_1
"Emang sih, suasananya kurang romantis. Tapi lumayan kan buat kita makan berdua. Soalnya hari ini aku lagi kepengen banget makan seafood."
"Nggak ada resto lain, apa? Resto di pinggiran pantai kan banyak, nggak harus yang ada menu seafood nya. Menu yang lain kenapa nggak di coba dulu?"
"Cuma resto ini yang makanannya paling enak. Percaya deh."
Kai membuang napas berat. Lalu berpaling muka, menyembunyikan raut tak sukanya. Bukan tidak suka dengan makan malam mereka kali ini. Hanya saja, ada hal yang Dara tidak tahu menahu tentangnya. Yaitu, perihal alerginya terhadap seafood.
"Sorry, aku permisi ke toilet sebentar." Kai pun beranjak dari duduk. Mengayunkan langkahnya tergesa-gesa ke toilet resto.
Berkali-kali Kai membuang napas berat sembari memandangi pantulan dirinya di cermin toilet. Kemudian membuka keran air, membasuh wajahnya.
Kai hendak mengambil tisu saat seseorang tiba-tiba menyodorkan tisu kepadanya. Sebab tisu yang ada tak jauh darinya sudah habis.
"Thanks," ucap Kai meraih tisu itu.
"Sendirian?" tanya orang itu tiba-tiba.
Membuat Kai tersentak. Lalu menoleh ke arah sumber suara.
Jack, pria yang belakangan ini sering terlihat bersama Joanna itu tersenyum tipis memandanginya.
"Enggak. Aku sedang bersama seseorang," jawab Kai datar.
"Pacar?"
Kai cukup mengulum senyum sebagai jawaban atas pertanyaan Jack.
"Dan kamu? Sendirian?" Kai melempar pertanyaan yang sama.
"Bersama Joanna."
"Sudah kuduga."
Kai terkekeh, lalu berkata, "kalian memang cocok. Terlihat benar-benar seperti keluarga," cibirnya. Terkesan tak suka dengan kedekatan Jack dan Joanna.
"Sorry, pacarku sedang menunggu." Kai bergegas keluar dari toilet. Tak ingin lagi meladeni pria itu. Pria yang membuatnya muak. Muak dengan tingkahnya yang sok kenal sok dekat.
Memang benar apa yang dikatakan Jack. Di seberang, tak jauh dari mejanya, tampak Joanna dan Ziyo tengah duduk manis menunggu pesanan datang.
Jack datang dan menarik satu kursi di depan Joanna, di sebelah Ziyo.
Entah kenapa, masih ada secuil rasa tak sukanya saat melihat pemandangan itu. Raut wajah Kai pun mendadak berbeda. Seperti sedang menahan amarah.
Dara menyadari perubahan raut wajah itu. Tetapi tak tahu apa sebabnya.
"Kamu kenapa? Nggak suka ya dengan resto nya?" tanya Dara penasaran. Sekaligus tak enak hati memaksa Kai menuruti keinginannya.
Kai tersentak. Mengalihkan pandangan pada Dara yang duduk di depannya.
"Oh, nggak, nggak. Aku cuma ..." Kai tak ingin memberitahu Dara tentang alerginya terhadap seafood. Ia hanya tak mau merusak mood gadis itu.
Merasa Kai sering melirik ke arah belakangnya, Dara pun memalingkan wajah. Mengikuti arah pandang Kai. Dimana ada seorang wanita cantik yang tengah menyuapi seorang anak kecil. Di sebelahnya ada seorang pria yang senantiasa memperhatikan ibu dan anak itu.
Dara mengernyit. Wanita cantik itu pernah ia lihat sebelumnya. Entah di mana, Dara sudah lupa. Akan tetapi, wajah wanita itu tampak tak asing lagi baginya.
"Kamu kenal wanita itu?" tanya Dara berpaling kembali menatap Kai. Yang tampak salah tingkah.
"Enggak, i ... iya." Kai sampai gelagapan lantaran tatapan Dara yang serasa menyelidik.
"Iya atau enggak?" Dara terkesan menuntut jawaban. Sebab entah kenapa, perasaannya mendadak serasa tak enak.
__ADS_1
Dara pun terhenyak. Ia teringat, saat tanpa sengaja pernah melihat Kai berdebat dengan wanita itu di kafenya Beno beberapa waktu lalu. Wanita yang mungkin istimewa bagi Kai dulu.
Kai tampak menghela napas sejenak. Kemudian mengangguk.
"Iya. Aku kenal dia."
Dara terdiam. Darahnya berdesir mendengarnya. Mungkin dugaannya tidak salah. Dari cara Kai menatap wanita itu, ia bisa menyimpulkan, Kai mungkin pernah punya rasa terhadap wanita itu, dulu.
Dara hendak kembali bertanya, saat pesanannya datang. Hingga ia pun terpaksa mengurungkan niatnya. Kendati rasa penasaran kian membumbung.
"Silahkan menikmati," ucap pelayan setelah menyajikan pesanan di meja. Kemudian berlalu.
"Waaah ... Dari aromanya aja udah pasti ini enak banget," ucap Dara sembari menghirup aroma makanan yang menguar.
Di meja itu tersaji hidangan dari kerang laut, udang, dan cumi. Yang kesemuanya itu menimbulkan alergi bagi Kai.
Kai hanya bisa menelan saliva kasar memandangi hidangan yang tersaji di depannya saat ini. Selera makannya benar-benar hilang kali ini. Bahkan perutnya tak lagi lapar.
"A ..." Dara hendak menyuapi Kai sepotong cumi. Tetapi Kai tidak merespon. Ia diam saja memandangi cumi itu di depan wajahnya.
"Ini enak banget loh, Kai. Ayo, cobain," pinta Dara.
"Dara, sorry, aku belum kasih tau kamu sebelumnya. Sebenarnya, aku ..." ucapan Kai terpotong. Sebab di meja seberang, terdengar suara gaduh.
Kai dan Dara pun menoleh. Tampak, Joanna sedang panik dan ketakutan. Begitu pula Jack. Pasalnya, Ziyo yang semula baik-baik saja, mendadak sakit.
Anak kecil itu mendadak terserang sesak napas, sekujur tubuhnya dipenuhi bintik-bintik merah yang terasa perih dan gatal.
"Ada apa ini? Kenapa dengan Ziyo? Tadi dia baik-baik saja. Tapi kenapa sekarang dia jadi kayak gini?" Joanna semakin panik dan ketakutan. Sementara Ziyo, menangis tak henti.
"Tenang dulu, Joanna. Apa Ziyo punya riwayat alergi sebelumnya?" tanya Jack.
"Aku nggak tau. Sebelumnya Ziyo nggak pernah kayak gini. Aku cuma menyuapinya udang tadi. Aku benar-benar nggak tau kalau Ziyo alergi dengan udang."
"Ya sudah. Kalau begitu, kita bawa saja dia ke rumah sakit."
Joanna bergegas bangkit dari duduknya. Sedangkan Jack, membopong Ziyo dan membawanya ke mobil.
Obrolan panik Joanna dan Jack itu sempat tertangkap indera pendengaran Kai. Ziyo adalah ponakannya. Wajar jika saat ini Kai mencemaskan anak kecil itu.
Tanpa aba-aba, Kai pun bangun dari duduknya dan bergegas keluar restoran. Dara yang sedang bersamanya tak ia pedulikan lagi.
"Kai ... Kamu mau ke mana?" pekik Dara memanggil Kai.
Namun Kai tak menghiraukan. Ia percepat langkahnya ke tempat parkir. Bergegas masuk ke mobil. Lalu menghidupkan mesin mobil, memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi mengikuti mobil Joanna diam-diam.
Dara terdiam dan terpaku memandangi kepergian Kai. Yang benar-benar tidak mempedulikannya lagi. Ada rasa sakit yang serasa meremas hati begitu kuat. Hingga perih itu terasa amat menusuk. Begitu pedihnya, hingga ia tak sanggup lagi membendung air matanya.
Entah siapa wanita itu. Wanita yang lebih dipedulikan Kai. Dara tak tahu.
Mungkinkah wanita itu lebih istimewa dibanding dirinya?
Dara hanya bisa menumpahkan air matanya.
TBC
Maaf baru bisa update🙏
Othor lagi sakit gigi. Tetap maksain nulis walau cuma dapat 1 bab saja.
Semoga masih bisa menghibur ya☺️
__ADS_1
Thankyou udah nungguin cerita receh othor remahan kerupuk ini☺️