You Make Me Crazy

You Make Me Crazy
Ch. 64


__ADS_3

PLAK!


Suara tamparan keras menggema memenuhi ruang kelas itu.


Kai memegangi pipi kirinya yang sedikit memerah akibat tamparan Dara.


Dara menatap marah Kai. Rongga dadanya masih kembang kempis menahan sejuta amarah yang mulai mencuat perlahan.


"Apa kamu gila? Kamu pikir kamu bisa seenaknya mempermainkan aku seperti ini? Kamu sadar nggak sih aku ini siapa? Kita berada di mana sekarang?" omel Dara saking jengkelnya. Ia sudah tak bisa lagi menahan emosinya.


"Gila?" Kai menyeringai tipis.


"Apa kamu juga sadar, siapa yang udah bikin aku gila?" balas Kai menatap tajam Dara. Guratan amarah itu kini terlihat jelas dari raut wajahnya. Amarah yang ia sendiri tak mampu lagi membendungnya.


Baik Dara maupun Kai saling menatap tajam. Dengan emosi yang coba mereka kendalikan. Sebab situasi dan kondisi saat ini begitu rentan, dan bisa menghancurkan reputasi serta nama baik keduanya.


"Aku sudah pernah bilang sama kamu, jangan pernah temui aku lagi. Aku muak, aku benci melihat kamu," tandas Dara.


"Oh ya? Seberapa bencinya kamu padaku sampai kamu menjadikan laki-laki itu sebagai pelampiasan?"


"Dia suamiku."


"Suami? Oh ya? Atas dasar apa kalian menikah? Cinta? Atau hanya karena saling membutuhkan?" Kai mulai tampak berapi-api. Matanya pun mulai berkaca-kaca.


"Kamu pikir aku nggak tahu, kamu sudah membohongiku?" Rongga dadanya kembang kempis menahan amarah.


Tatapan tajam Kai membuat Dara menelan saliva saja terasa susah. Serasa ada yang tercekat di kerongkongan. Ia bahkan kehilangan kata-kata, saat dilihatnya air mata itu mulai menetes dari pelupuk mata Kai.


"Seperti apa rasanya tidur dengan laki-laki lain? Hah?" tanya Kai dengan bibir bergetar. Tak kuasa ia menahan pilu di hati. Terlebih saat mengingat bayangan Dara dan Riko yang tengah bercumbu malam tadi. Sungguh membuat hatinya serasa diremas.


Perih. Sungguh perih!


"Apa kamu suka cara dia memperlakukan kamu?" Kai benar-benar tak bisa membendung air mata itu. Yang kian berderai. Mengiringi sakit di hati.


Sedangkan Dara, membeku di tempatnya. Ia tak tahu lagi harus menanggapi Kai bagaimana. Jujur, ia tak tega melihat Kai dalam keadaan hancur seperti itu. Pria yang dulu sangat ia gila-gilai itu tengah menahan perih di hatinya.


Tetapi apa yang bisa ia lakukan. Karena sejujurnya, ia pun tak ingin membuat Riko kecewa. Apalagi mengkhianati kebaikan Riko.


"Do you like the way he touches you (apa kamu suka cara dia menyentuh kamu)?"


"What does it taste like (seperti apa rasanya)?" Kai semakin mendekat perlahan. Semakin merapatkan diri. Menatap tajam Dara lebih dekat lagi. Nyaris tanpa jarak, hingga batang hidung pun saling bersentuhan.


"Apa rasanya menyenangkan?" tanyanya lirih. Dengan hati teriris.


Dara masih membisu bagai hilang seribu bahasa. Pertanyaan Kai begitu menohok, serasa menusuk hingga ke dasar kalbu.

__ADS_1


Dara hanya mampu membawa jemarinya, mencoba menghapus air mata di pipi Kai. Namun cepat, Kai menahan tangannya.


"Kenapa? Kamu kasihan melihat aku seperti ini? Hm?" Kai menghunus tatapan tajam.


"Selamat, Dara. Kamu sudah berhasil menghancurkan aku. Kamu senang sekarang?" sambungnya menahan api amarah yang hampir berkobar.


Dara masih membisu. Hanya degup jantungnya yang terdengar samar. Degup jantung itu semakin bertalu saat perlahan Kai mulai mengikis jarak. Bahkan kini nyaris tak ada jarak lagi.


Dengan lembut Kai kembali mendaratkan kecupan. Memagut penuh kasih bibir ranum Dara. Meski bayang malam itu terus mengganggu.


Tak ada penolakan dari Dara. Ia malah membalas pagutan itu sama lembutnya. Entah mengapa. Mungkinkah masih ada cinta di hatinya?


Kai melepas pagutannya sejenak. Dipandanginya Dara lekat-lekat. Ada sedikit rasa bahagia kala Dara membalas ciumannya. Yang membuatnya yakin akan perasaan Dara terhadapnya. Cara Dara membalas ciumannya masih sama seperti dulu. Tak ada yang berbeda.


"Ikut denganku sebentar. Banyak hal yang harus kamu tau," pinta Kai. Kemudian mengambil langkah lebih dulu sembari menyeka air mata yang terlanjur membasahi pipi.


Dara menurut saja. Ia mengekor di belakang Kai dengan jarak cukup jauh. Agar tidak menimbulkan fitnah dan gosip-gosip murahan yang mungkin bisa mencemarkan nama baik.


Terlebih lagi saat ini, begitu mereka keluar dari kelas, banyak pandangan mengintimidasi tertuju ke arahnya. Pandangan itu menghunus tajam kepadanya. Pandangan tak suka, bahkan tampak seperti meremehkannya.


Ah. Mungkin ia saja yang salah mengartikan.


Semoga!


.


.


Kai memilih tempat itu untuk menghilangkan kepenatannya sejenak. Setidaknya, dengan mendengar deburan ombak, merasakan semilir angin menerpa kulit, sedikit membuatnya merasa tenang. Setelah semalaman menahan siksa lantaran amarah yang ia bendung.


Dara menarik tuas, bermaksud turun dari mobil, saat tiba-tiba Kai meraih tengkuknya cepat. Kembali mencuri ciuman dengan rakusnya. Membuat Dara gelagapan, sembari memukul-mukul pelan dada Kai. Ia meronta ingin melepaskan diri.


Dara terengah-engah begitu Kai mengakhiri kecupan rakusnya. Seringai tipis terbentuk di bibirnya melihat ekspresi kesal Dara.


"Dara, tolong jujurlah padaku. Apa kamu masih mencintaiku?" pinta Kai.


Dara menghela napas panjang, sembari memalingkan muka, menghindari tatapan Kai. Yang sudah tentu akan meruntuhkan benteng kokohnya.


"Kenapa kamu pergi meninggalkan aku sampai bertahun-tahun lamanya? Apa salahku sampai kamu tega memisahkan aku dengan darah dagingku?" tanyanya lagi semakin melembutkan tatapan.


"Bukannya kamu udah balikan lagi dengan Joanna? Kalian sudah menikah kan? Itu yang kamu bilang lima tahun lalu waktu aku datang ke rumah kamu. Jadi, buat apa aku mengharapkan kamu lagi?" tutur Dara tak mau menoleh.


"Jadi, hanya karena itu?"


"Aku sangat marah saat melihat kalian sedang ber..." Dara enggan menuntaskan kalimatnya.

__ADS_1


"Sorry. I am so sorry (maaf. Aku sungguh minta maaf). Lagian juga, kenapa kamu nggak pernah mau ngasih aku kesempatan buat jelasin semuanya sama kamu."


"Mau jelasin apa lagi? semuanya udah jelas kok," Dara mencebik sebal. Menekuk wajah cemberutnya. Membuat Kai gemas. Lama Kai merindukan ekspresi menggemaskan itu.


Kai kemudian mengambil ponsel dari saku celana. Menghidupkannya dan mulai mengutak-atik, mencari sesuatu. Begitu dapat, langsung ia sodorkan ponsel itu di depan wajah Dara. Yang menampilkan dengan jelas foto pernikahan Joanna. Bukan dengan Kai, melainkan dengan Jack.


"Joanna sudah menikah, lima tahun lalu," beber Kai sambil menggulir layar ponsel. Menunjukkan pada Dara bahwa pernikahan Joanna adalah pernikahan yang sah. Baik secara hukum negara dan agama.


Bingung harus menanggapinya seperti apa, Dara memilih turun dari mobil. Bersandar di kap depan mobil seraya memandangi hamparan lautan yang membentang luas di depan mata.


"Dara," panggil Kai begitu turun dari mobil dan menghampiri Dara. Ikut bersandar di kap mobil, di samping Dara.


"Maafkan aku," ucap Dara lirih. Hanya kalimat itu yang terbersit dalam benaknya. Entah mengapa, ada rasa bersalah seketika mendera hati. Rasa sesal pun ikut menyelimuti. Seharusnya sejak awal ia memberikan kesempatan itu kepada Kai. Jika saja hal itu ia lakukan lima tahun lalu, mungkin kini kehidupan yang ia jalani bersama Ken akan jauh berbeda.


Dara menyesali, namun semua telah terlanjur terjadi. Hidup yang kini ia jalani tidak lebih dari palsu belaka. Ia bukanlah istri seorang dokter seperti yang diketahui banyak orang. Hubungan diantara mereka tidak lebih dari sekedar teman.


Akan tetapi, Dara telah terlanjur menerima lamaran Riko baru-baru ini. Lalu apa yang harus ia perbuat? Ia hanya tak ingin membuat Riko kecewa. Ia pun tak ingin membuat Ken kecewa. Yang telah terlanjur terikat batin satu sama lain dengan Riko.


Lantas jawaban apa yang harus ia beri, jika suatu hari Ken bertanya?


Perlahan Kai meraih jemari Dara, menggenggamnya erat. Kemudian mengecupnya lembut.


"Aku masih mencintai kamu Dara. Lima tahun aku terus mencari kamu. Apa itu masih nggak cukup untuk membuktikan cintaku?" ucap Kai.


"Aku dan Joanna memang nggak menikah, tapi kami masih menjalin hubungan baik demi Ziyo," sambungnya.


"Tapi ..."


"Dara please. Lupakanlah masa lalu. Aku sudah melupakan soal kecelakaan itu. Itu nggak sepenuhnya salah kamu. Mungkin memang, itu sudah menjadi takdir keluargaku. Aku hanya melihat sisi positifnya saja. Mungkin inilah cara Tuhan mempertemukan kita," sela Kai cepat.


"Tapi tetap saja, aku bersalah sama kamu."


"Dara, aku sudah melupakan semuanya. Aku sudah memaafkan kamu. Kamu nggak salah." Kai membawa jemarinya menangkup wajah mungil Dara.


Perlahan mulai mendekatkan wajah, mengikis jarak diantara mereka. Kai kembali memagut lembut bibir Dara. Mencurahkan segenap rasa di jiwa yang telah lama membendung rindu. Yang ternyata mendapat sambutan hangat Dara.


Tanpa ia menduga, Dara membalas pagutannya sama lembutnya. Seakan Dara pun teramat merindukannya.


Sejuta rasa pun datang mendera. Yang nyaris membuat jantungnya copot. Saat detak jantung itu mulai menggila, begitu Dara melingkarkan kedua lengan di pundaknya. Lalu membalas pagutannya rakus. Dara semakin antusias menerima sentuhan lembutnya.


Kai melepas sejenak pagutannya, menatap Dara sayu namun dalam. Kemudian berkata,


"Mau ikut bersamaku ke hotel?"


TBC

__ADS_1


Besok up setelah buka puasa. Takut bikin puasa kalian batal🤭**


__ADS_2