You Make Me Crazy

You Make Me Crazy
Ch. 48


__ADS_3

"Maafkan saya," sesal Papa Yuda saat ia dan Kai mengobrol berdua di teras belakang rumah. Sedangkan Mama Maya memilih memberi ruang untuk mengobrol pada kedua pria itu. Tanpa tahu apa yang sesungguhnya terjadi.


Kai menghela napas panjang, menghembuskannya perlahan kemudian. Mencoba mengontrol perasaannya saat ini. Yang perlahan amarah mulai mendominasi. Saat Papa Yuda mengungkap yang sebenarnya terjadi.


Joanna benar, penyebab kecelakaan itu bukanlah Papa Yuda, melainkan Dara, putri semata wayangnya.


"Kenapa baru sekarang anda memberitahu saya soal ini?" tanya Kai dengan perasaan terluka. Terluka oleh kebohongan ayah dan anak itu.


"Jujur, saya sangat kecewa. Seharusnya anda jujur sejak awal," sambungnya.


Papa Yuda pun tampak menghela napas berat. Wajahnya tertunduk penuh sesal kini.


"Saya benar-benar minta maaf. Saya melakukannya demi putri saya."


"Tapi nggak seharusnya juga anda berbohong. Anda bahkan sudah menipu banyak orang."


"Kalau saya jujur saat itu, apa yang akan kamu lakukan?"


Pertanyaan Papa Yuda seketika itu juga membuat Kai terdiam. Saat itu ia belum mengenal Dara. Mungkin saja ia akan menuntut keadilan sebagai pihak keluarga korban.


Tetapi kini segalanya terasa berbeda. Bukan hanya mengenal, ia bahkan telah mencintai Dara sepenuh hati. Lantas apa yang harus ia perbuat saat ini?


.


Kai melangkah gontai menyusuri koridor rumah sakit untuk sampai ke ruang rawat Ziyo. Ia memilih kembali membesuk Ziyo setelah berbincang lama dengan Papa Yuda.


Kalau saya jujur saat itu, apa yang akan kamu lakukan?


Pertanyaan Papa Yuda itu masih saja terngiang di telinganya. Jujur saja, ia tak tahu harus melakukan apa. Membenci Dara adalah hal yang tidak mungkin. Sebab cintanya untuk gadis itu begitu dalam. Menjauhi Dara, juga tidak mungkin ia lakukan.


Ceklek


Kai membuka pintu ruang rawat Ziyo begitu ia sampai. Terlihat anak kecil itu tertidur di brankarnya. Sedangkan Joanna sedang duduk di bangku kecil di sisi brankar, sambil menggenggam tangan kecil Ziyo.


"Kai?" panggil Joanna.


Kai menghampiri. "Gimana keadaan Ziyo?" tanyanya memandangi Ziyo.


"Dia baik-baik saja. Kata dokter, besok dia sudah boleh pulang."


Kai lebih mendekat, lalu membawa jemarinya mengusap lembut puncak kepala Ziyo. Sungguh Kai tak tahu harus bagaimana. Di satu sisi ada Ziyo, anak yang seharusnya mendapatkan kasih sayang seorang ayah dan memiliki keluarga yang lengkap. Sementara di sisi lainnya, ada Dara. Gadis yang ia cintai, dan tak ingin kehilangannya.


Kai sungguh bingung. Bahkan frustasi jika memikirkannya. Dan kenyataan tentang Dara pun perlahan seakan mulai membuat perasaannya terhadap gadis itu mulai memudar.


Entah mulai memudar, atau hanya karena kekecewaan yang teramat atas kebohongan ayah dan anak itu. Hingga perasaannya pun serasa mulai berubah.


"Kai," lirih Joanna memanggil.


Kai tidak menoleh. Tatapannya terus tertuju pada Ziyo.

__ADS_1


"Aku minta maaf selalu menghindari kamu dan merahasiakan ini dari kamu," ucap Joanna sambil menatap sayu. Namun Kai, masih tidak menoleh.


"Aku sadar, semakin hari Ziyo semakin tumbuh besar. Suatu hari nanti dia pasti akan bertanya tentang daddy nya. Pertanyaan yang benar-benar aku nggak tau harus menjawabnya bagaimana," sambungnya.


"Jo, aku belum ingin membahas ini sekarang."


"Apa kamu masih memikirkan gadis itu?"


"Aku rasa itu bukan urusan kamu."


"Apa kamu sangat mencintainya? Lebih besar dari cintamu padaku?"


"Joanna, aku..." Kalimat Kai terpotong lantaran terdengar bunyi decitan pintu terbuka.


Seorang dokter tampan datang dengan senyum yang menghiasi wajahnya.


"Selamat malam," sapa dokter tampan itu sembari menghampiri.


Joanna bangun dari duduknya. "Selamat malam, Dok."


"Saya hanya mau memastikan kondisi pasien," ucap dokter, lalu mulai memeriksa kondisi Ziyo.


"Gimana kondisi anak saya Dok?" tanya Joanna cemas.


"Kondisinya sudah stabil. Besok dia sudah boleh pulang. Dan jangan lupa apa yang saya katakan tadi. Hindari seafood sebisa mungkin. Ada beberapa jenis seafood yang menimbulkan alergi bagi anak anda. Seperti kerang, udang, cumi, kalau bisa hindari itu semua," terang dokter.


"Jangan lupa juga, obatnya rutin diberikan. Agar kondisinya lebih baik lagi. Oh ya, kalau begitu, saya permisi dulu. Mari ..."


"Makasih banyak, Dokter."


Dokter itu pun berlalu meninggalkan ruangan itu. Buru-buru si dokter tampan itu membawa langkahnya menuju ruang rawat lain untuk memastikan kondisi pasien yang ia tolong baru-baru ini.


"Malam, Dok."


Begitulah jika dokter yang satu ini sedang bertugas, ia penuh tanggung jawab. Bukan hanya wajah tampannya yang memikat, bahkan sikap dan kebaikan hatinya membuat banyak gadis tergila-gila.


Padahal ia hanyalah seorang dokter anak. Tetapi, saat menemukan seorang gadis yang jatuh pingsan di samping mobilnya, nuraninya tergerak untuk segera menolongnya.


Perlahan dokter tampan itu membuka pintu ruang rawat, dimana seorang gadis yang ia tolong terbaring tak sadarkan diri. Dalam keadaan tangan terpasang selang infus.


Dokter itu memeriksa cairan infus, lalu memeriksa denyut nadi pasien. Kemudian ia duduk di bangku kecil di sisi brankar, sembari menelisik paras cantik yang memucat itu.


Entah kenapa, meski paras itu memucat, namun mampu mengusik perhatiannya. Senyum tipis pun tercetak di bibirnya, saat tiba-tiba mata berbulu lentik itu perlahan mulai terbuka, menatapnya nanar.


"Kamu siapa?" tanya gadis itu kebingungan. Yang tidak lain adalah Dara.


Dara berusaha bangun dari pembaringan. Meski sekujur tubuhnya terasa sakit dan lemah.


"Jangan bangun dulu. Kamu masih harus banyak istirahat," ujar sang dokter mencegah Dara bangun.

__ADS_1


Dara pun menurut. Karena memang kondisi tubuhnya lemah.


"Aku di mana sekarang? Dan kamu siapa?" tanya Dara lagi.


Dokter tampan itu mengulum senyum. "Kamu di rumah sakit sekarang. Dan aku yang sudah menolong kamu saat pingsan tadi. Oh ya, kenapa kamu bisa pingsan di samping mobilku? Kamu nggak berniat ..."


"Ya enggak lah, Dok. Aku ini bukan pencuri. Mana ada pencuri secantik ini," sela Dara ketus dan melupakan ucapan terima kasihnya.


Dokter itu terkekeh mendengar jawaban ketus Dara. Padahal ia hanya ingin bercanda.


"Kalau mencuri hati sih mungkin," kelakar si dokter tampan.


"Memangnya aku ini serigala." Dara memalingkan wajah cemberutnya. Membuat si dokter semakin tersenyum lebar.


"Oh ya, Nona Dara. Besok kamu sudah boleh pulang."


Dara tersentak. Sontak ia menoleh, menatap dokter itu.


"Kamu tau namaku?"


"Ada di KTP kamu."


"Kamu..."


"Sorry, tadi aku membuka tas kamu. Aku hanya ingin mencari tahu identitas kamu. Tadinya aku ingin menghubungi keluarga kamu. Tapi handphone kamu rusak. Mungkin karena kena hujan tadi," sela dokter itu.


"Kamu sembarangan membuka tas orang? Apa kamu juga yang..." Dara menurunkan pandangan. Ia tercengang saat mendapati tubuhnya kini berbalut seragam pasien rumah sakit. Pikiran nyeleneh pun melintasi benaknya seketika.


"Tenang saja. Aku meminta bantuan suster untuk mengganti baju kamu yang basah." Dokter itu mengerti dengan ekspresi wajah Dara.


Dara pun bernapas lega. Membuat dokter tampan itu tersenyum-senyum memandanginya.


"Oh ya, kamu belum cerita, kenapa kamu bisa pingsan di samping mobilku tadi. Apa kamu berniat mencari tumpangan? Kenapa nggak ketok pintu aja tadi. Padahal aku ada di dalam mobil," ujar sang dokter lagi, mengingat kejadian tadi.


Saat Dara menangis sambil meringkuk di sisi mobil dokter itu. Dokter itu ada di dalam mobil dan bersiap untuk pulang. Niatnya pun urung begitu melihat Dara jatuh pingsan. Lalu bergegas turun dari mobil dan membopong Dara, membawanya masuk ke rumah sakit.


"Enggak, siapa juga yang butuh tumpangan."


"Untung aku yang menemukan kamu. Coba kalau dokter lain. Mungkin kamu sudah dijadikan kelinci percobaan. Kamu akan kehilangan sebelah kaki kamu, tangan kamu, mata, gigi, jantung kamu, gi..."


"STOP!" seru Dara lantang menghentikan ocehan dokter itu.


"Oke. Aku ucapkan terima kasih banyak atas pertolongannya. Udah kan?" sambungnya mengerti akan maksud si dokter itu.


Dokter itu menarik sudut bibirnya. "Aku pikir kamu lupa caranya berterima kasih," kelakarnya. Lalu berdiri, lebih mendekat. Tangannya pun ia ulurkan. Sembari berkata,


"Kenalkan, aku Riko," ucap dokter tampan bersneli putih itu mantap. Sembari mengulum senyum menatap Dara.


TBC

__ADS_1


__ADS_2