You Make Me Crazy

You Make Me Crazy
Ch. 62


__ADS_3

"Mommy ... Daddy ..."


Terdengar seruan seorang anak kecil yang tiba-tiba saja sudah berdiri di ambang pintu.


Ken


Bocah kecil itu berlari menghampiri Riko dan Dara yang melangkah hendak memasuki rumah. Begitu dekat, langsung disambut Riko ke dalam gendongannya.


"Jagoan kecil Daddy ngapain aja di rumah?" tanya Riko sembari mereka melangkah bersama memasuki rumah.


"Main game sama nonton kartun," jawab Ken dengan raut gembira.


"Anak ganteng Daddy jangan keseringan main game sama nonton TV. Kasihan tuh matanya."


Sekilas mereka bertiga terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia.


Memang mereka bahagia, tetapi di balik itu ada rahasia yang tidak diketahui banyak orang.


Sementara di luar rumah itu, di dalam mobil hitam yang terparkir di seberang jalan. Kai masih dengan ekspresi kemarahannya saat menyaksikan pemandangan yang telah menyulut api amarahnya.


Bisa-bisanya Dara membohonginya seperti ini. Anak kecil yang ia lihat tadi, sudah pasti itu adalah anaknya.


Teganya Dara memisahkannya dari darah dagingnya sendiri. Ia tak bisa terima. Dara kini sedang berbahagia dengan kehidupan barunya. Sementara ia sendiri, justru tersiksa seorang diri.


Rindu yang terbendung hingga lima tahun lamanya, malah mendapat balasan seperti ini. Cinta yang masih terjaga apik selama lima tahun, justru terkhianati begitu kejamnya.


Kai hanya tak mengerti, Sebesar apakah kesalahan yang ia lakukan hingga Dara membencinya sebesar ini.


Kai tak bisa membiarkan ini terjadi. Dara dan putranya harus kembali kepadanya. Apapun dan bagaimanapun caranya.


.


.


Dara telah selesai membersihkan diri dan hendak naik ke tempat tidur. Saat tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.


Setelah menidurkan Ken, Dara tak berniat melakukan kegiatan apapun lagi. Yang biasanya, di jam seperti ini ia gunakan untuk menyiapkan materi perkuliahan esok hari.


Setelah pertemuannya dengan Kai siang tadi, membuat mood nya hancur, lalu menguap entah kemana.


"Ken?" panggil Dara sembari mengayunkan langkah ke arah pintu. Lalu memutar handel pintu.


Namun saat pintu terbuka, tidak seperti perkiraannya, yang berdiri di ambang pintu adalah Riko. Yang menatapnya sendu dan dalam.


"Dokter?" lirih Dara memanggil. Entah kenapa tatapan Riko kali ini terasa berbeda.


"Apa sesusah itu menyebut namaku?"


"Enggak, aku cuma merasa nggak sopan aja menyebut nama kamu secara langsung."

__ADS_1


"Dara ..." lirih Riko menatap Dara semakin dalam.


"Kamu butuh sesuatu?"


Riko mengangguk pelan. "Aku butuh kamu." Entah perasaan apa ini. Riko tak mampu lagi menahan gejolak di jiwanya. Yang selama lima tahun ini terpasung rindu.


Ia pria dewasa, lagi normal. Hal yang wajar jika ia pun merindukan belai kasih seorang wanita. Hanya saja ia tak sanggup mengungkapnya. Tak ingin menjadikan wanita yang ia kasihi sebagai pelampiasan.


Dara mengerti arti tatapan Riko yang kian terasa sendu. Ia bukan lagi gadis kecil yang tak mengerti apapun. Ia kini wanita dewasa. Yang bisa melihat ada hasrat di balik tatapan Riko.


"Apa yang bisa aku lakukan untuk kamu?"


"Soal lamaranku. Apa kamu yakin?" Entah kenapa Riko merasa, Dara terpaksa menerima lamarannya. Mungkin karena balas budi hingga mau menerimanya.


Dara cukup mengangguk pelan. Karena sejujurnya ia pun tak yakin.


Tapi, apakah ia harus sekejam itu membalas semua kebaikan Riko?


Tak adakah sedikit cinta di hati Dara untuk Riko?


Perlahan Riko membawa jemarinya membelai lembut wajah Dara. Tangannya yang sedikit gemetaran bisa Dara rasakan begitu tangan itu menyentuh kulit.


"Kalau kamu nggak yakin, sebaiknya kamu pikirkan lagi," ucap Riko kemudian menurunkan jemari dan hendak beranjak.


Cepat Dara menahan pergelangan tangan Riko sebelum pria itu berlalu. Ia tahu seperti apa perasaan Riko saat ini.


"Bukankah kamu pernah bilang akan selalu membantuku?" ungkit Dara.


Dara tak langsung menjawab pertanyaan Riko. Ia malah menarik tangan Riko. Membawanya masuk ke dalam kamarnya. Langkah Dara pun terhenti di sisi tempat tidur.


"Dara, apa maksud kamu?" tanya Riko bingung dengan tingkah Dara.


Namun, bukannya menjawab pertanyaan Riko, Dara malah meraih kedua tangan Riko. Membawanya melingkari pinggangnya. Membuat Riko semakin kebingungan.


"Dara kamu..."


"Bantu aku move on dari masa laluku," sela Dara. Sembari membawa kedua lengannya melingkari pundak Riko.


Perlakuan Dara kali ini, sungguh membuat hasrat di jiwanya kian bergejolak. Riko menghela napas panjang. Meminimalisir debaran di dada yang mulai menggila. Detak jantung pun semakin gaduh.


Jantung itu serasa mau copot ketika Dara membawa jemarinya membuka tautan kancing kemejanya satu per satu.


Astaga!


Apa yang ada dalam benak Dara saat ini?


Sudah beberapa kancing terbuka saat Riko menahan tangan Dara yang mulai usil.


"Dara, apa yang kamu lakukan?" tanya Riko semakin tak bisa mengatur napasnya yang mulai memburu. Perlakuan Dara sungguh telah menyulut api gairahnya.

__ADS_1


"Aku tau apa yang ada dalam benak kamu sekarang."


Dara tahu apa yang Riko inginkan saat ini. Ia juga tahu pria itu memendam rasa terhadapnya selama lima tahun.


Tak ada yang salah dengan Riko. Dia adalah pria yang baik, lembut dan penuh kasih sayang. Jadi apa salahnya jika ia mulai membuka hati.


Postur Riko yang tinggi dan tegap, membuat Dara harus sedikit berjinjit untuk bisa mencapai bibir nan menggoda itu. Bibir yang tak pernah menyentuh sebatang rokok pun. Bahkan mungkin hanya Dara satu-satunya wanita beruntung yang bisa menyentuhnya.


Kecupan singkat Dara membuat Riko tertegun. Membuat detak jantungnya semakin menggila. Deru napasnya yang memburu terasa hangat menerpa kulit.


Dara hendak menarik diri. Mengakhiri kecupannya, saat tiba-tiba jemari Riko meraih tengkuknya cepat. Menekannya agar pria itu bisa lebih memperdalam pagutannya.


Dara tak menolak. Ia tahu ini yang Riko inginkan sejak tadi. Hanya saja, pria itu mungkin malu meminta. Sebab status suami istri diantara mereka hanyalah formalitas semata.


Rupanya kepiawaian Riko tak bisa dianggap remeh. Ia begitu lihai memainkan perannya. Sebagai seorang dokter yang kesehariannya disibukkan melayani pasien, nyatanya tak membuat Riko kaku dalam setiap sentuhannya.


Meski jarang sekali terlihat bersama wanita, tapi Riko mampu membuat Dara ikut terhanyut dan mulai mengikuti permainannya.


seiring pagutan yang kian rakus, keduanya perlahan beringsut semakin mendekati tempat tidur. Hingga akhirnya Dara terbaring dengan kedua lengan Riko mengungkungnya.


Entah apa pula yang ada dalam benak Dara. Ia biarkan saja Riko mulai membuka kancing piyamanya satu persatu. Kembali Riko mendaratkan kecupan dari sepanjang leher. Menghirup aroma wangi sabun yang kian membakar gairahnya.


Dara pun dalam sekejap dibuat hanyut dalam permainan Riko. Waras yang susah payah ia jaga, hilang dari akal dalam sekejap.


Mungkin lantaran rindu akan belai kasih, hingga ia sedikitpun tak menolak saat jemari kokoh Riko perlahan mulai bergerilya. Mengusap lembut setiap lekuk tubuh, merasakan halus kulit semulus pualam.


Dara tengah dibuat hanyut oleh sentuhan lembut Riko, saat tiba-tiba ponselnya yang tergeletak di nakas, berbunyi nyaring.


Aktifitas panas yang hampir saja menjerumuskan itu pun harus terhenti.


Bergegas Dara bangun, membenahi baju dan rambut. Lalu meraih ponsel di nakas. Yang menampilkan private number calling.


Dara mengernyit. Lagi-lagi sebuah nomor tak dikenal menghubunginya.


"Siapa?" tanya Riko sembari menautkan kembali kancing kemeja.


"Nggak tau. Nomor nggak dikenal."


"Jawab aja. Siapa tau penting."


"Nggak akh." Mendadak rasa cemas melanda. Dara hanya takut, anggapan buruk pun mulai merajai benak. Bagaiman jika penelepon misterius itu adalah Kai.


Panggilan pertama Dara abaikan. Hingga panggilan kedua pun menyusul tak lama berselang. Terpaksa, ia menanggapi.


"Halo?" sapa Dara takut-takut.


"Dara, ini aku, Kai."


Dara terdiam. Sekujur tubuhnya seketika gemetaran. Rasa takut pun perlahan mulai hinggap.

__ADS_1


"Aku ada di depan rumah kamu sekarang. Aku tunggu kamu. Temui aku sekarang."


TBC


__ADS_2