You Make Me Crazy

You Make Me Crazy
Ch. 17


__ADS_3

Dara pun terhenyak, dan baru menyadari ucapannya.


"Ups! Kepeleset lidah nya." Gumam Dara malu. Bisa-bisanya ia berkata seperti itu di depan Kai. Ia tak bisa menyalahkan siapa-siapa jika nanti Kai berpikiran yang aneh-aneh tentangnya.


Kai menyunggingkan senyumnya, lantas menarik satu kursi kosong di depan Dara dan mendudukkan diri.


Dara berusaha mengatur napasnya yang mulai terasa sesak lantaran diserang rasa gugup mendadak. Bahkan entah kenapa detak jantungnya pun mendadak berpacu.


Masih dengan senyum yang menghiasi paras tampannya, Kai menelisik tampilan Dara yang tampak berbeda hari ini. Tingkah Kai itu malah membuat Dara mengulas senyum manisnya yang ia buat semanis mungkin. Dan mencoba bersikap anggun layaknya wanita dewasa yang santun.


"Kamu berbeda hari ini." Ucap Kai.


"Berbeda? Maksud kamu?" Dara sok kalem. Dan sok tak tahu maksud ucapan Kai tentang penampilannya.


"Kamu cantik dan anggun." Puji Kai tanpa basa-basi lagi.


Otomatis hati Dara senang bukan kepalang mendengarnya. Hingga wajahnya bersemu merah jadinya. Dara tersipu malu, bersikap sok-sok anggun agar terlihat lebih menarik di mata Kai.


Astaga.


Segitu suka nya kah Dara terhadap pria itu hingga sedikit membuatnya seperti kehilangan akal. Tingkah Dara begitu kentara menampakkan ketertarikannya terhadap Kai. Sangat terlihat dari gesturnya.


"Makasih." Ucap Dara malu-malu kucing. Ternyata tidak sia-sia ia berdandan hingga berjam-jam lamanya di depan cermin. Ia bahkan harus meminjam pakaian mama nya untuk tampil santun. Seperti yang Kai suka.


"Gimana tadi kuliahnya? Aman?" Tanya Kai kemudian.


Dara mengangguk malu. "Aman. Berkat kamu."


"Berkat aku? Oh ya?"


"Karena kamu sudah mengingatkan aku agar jangan menjadi gula yang selalu menarik perhatian semut. Penampilan seorang wanita akan selalu menarik perhatian lelaki hidung belang. Apalagi jika seorang wanita tampil sedikit terbuka. Makasih sudah mengingatkan aku tentang itu."


"Ternyata kamu bisa memahami maksud ku. Tapi beneran, kamu cantik." Puji Kai sekali lagi. Otomatis membuat hati Dara semakin berbunga-bunga.


"Kamu bisa aja deh becanda nya." Celetuk Dara. Membuat Kai tergelak.


"Nggak. Nggak becanda. Beneran, kamu cantik." Ucap Kai sambil tertawa kecil.


"Oh ya, kamu sendiri, gimana? Udah selesai?"


"Udah. Dan lumayan menguras tenaga." Sahut Kai sembari tertawa kecil.


Dalam sekejap, keduanya mulai tampak akrab. Terlihat santai menikmati obrolan nya. Bahkan keduanya saling bercanda tawa layaknya dua insan yang sudah saling mengenal jauh sebelumnya.


Di tengah serunya obrolan, Beno pun datang menghampiri.


"Kai. Sorry Bro. Udah lama?" Tanya Beno menyapa.


"Lumayan."

__ADS_1


"Eh, ada Dara. Udah lama Dar?" Tanya Beno beralih pada Dara.


"Lumayan lama." Sahut Dara dengan senyum manisnya.


"Kamu belum pesan makanan Kai? Ya udah, biar aku yang pesan. Kamu ngobrol aja bareng Dara. Aku tinggal ya?" Ujar Beno lalu meninggalkan Kai dan Dara berdua. Dengan harapan Kai mendapat teman baru.


Di depan pantry, pandangan Beno menangkap sosok Yola yang hendak melayani tamu.


"Yol, Yola." Panggil Beno.


Yola pun menghentikan langkahnya lalu bergegas menghampiri Beno.


"Ada apa Pak Beno?" Tanya Yola.


"Oh ya, tolong kamu siapkan spaghetti untuk Kai. Sekarang ya?"


"Kai? Teman Pak Beno itu? Mana orangnya?" Yola memanjangkan leher, celingak-celinguk mencari-cari di meja sebelah mana Kai duduk.


"Ehem, ehem." Deheman Beno pun menyadarkan Yola yang seakan tak mempedulikan Beno lagi. Saking senangnya mendengar Kai datang ke kafe.


Yola meringis malu sambil menggaruk tengkuknya. Salah tingkah lantaran Beno menatapnya tajam.


"Iya Pak Beno. Pesanannya akan segera saya siapkan." Yola pun memutar tubuhnya dan hendak beranjak ke pantry. Tetapi langkahnya kembali terhenti.


"Yola." Panggil Beno.


"Eh, Pak Beno, ngapain dekat-dekat?" Selidik Yola menaruh curiga.


"Jangan berpikiran macam-macam. Saya cuma mau bertanya sama kamu." Ujar Beno dengan nada suara pelan agar tak ada yang mendengarnya.


"Mau nanya apa sih Pak?" Yola memicing curiga. Dadanya mendadak bergemuruh lantaran degup jantungnya yang entah kenapa berdetak cepat. Terlebih lagi disaat tatapannya tanpa sengaja bertemu tatapan Beno.


"Gila kamu Yol. Kenapa di dekat Pak Beno kamu malah berdebar-debar aneh begini sih?" Gumam Yola membatin. Sembari menelan saliva dalam-dalam.


"Kamu berharap saya bertanya apa sama kamu? Jangan aneh pikirannya ya? Saya itu cuma mau bertanya soal sahabat kamu." Ujar Beno.


"Soal Dara?"


"Iya. Soal Dara."


"Memangnya ada apa dengan Dara? Pak Beno naksir Dara ya?"


"Hus, enak saja kalau ngomong. Saya cuma pengen tau, apa Dara itu sudah punya pacar?" Setengah berbisik Beno menanyakan hal itu.


"Belum, Pak. Dara belum punya pacar. Memangnya kenapa?"


"Enggak. Cuma nanya aja." Sembari menjauhkan diri dari Yola yang semakin memicing curiga menatapnya.


"Pak Beno bikin curiga deh. Ayo, ngaku. Pak Beno naksir Dara kan?" Cecar Yola. Hingga Beno malah salah tingkah. Padahal sebetulnya ia hanya ingin mendekatkan Dara dengan Kai. Dengan harapan agar Kai move on dari masa lalunya. Yang teramat sulit Kai lupakan.

__ADS_1


"Enggak. Kamu salah paham. Saya hanya ..." Kembali Beno mendekat. Setengah berbisik di telinga Yola.


"Saya hanya mau menjodohkan Dara dengan sahabat saya. Itu aja. Nggak ada yang lain."


"Menjodohkan Dara dengan sahabat Pak Beno? Sahabat yang mana? Kai maksud Pak Beno?" Selidik Yola sembari memandangi Kai dan Dara di seberang. Yang tampak akrab dan menikmati obrolan.


"Memangnya siapa lagi?"


"Yaaah ... Pak Beno tega deh." Yola cemberut, kecewa dengan rencana Beno.


"Kok tega? Tega gimana? Nggak ada yang salah kok. Kai itu jomblo, sama dengan Dara. Mereka itu sama-sama jomblo. Jadi nggak salah dong kalau saya mau menjodohkan mereka. Lagian mereka itu terlihat sangat serasi. COCOK. Benar kan?"


"Kenapa harus Dara sih Pak? Padahal saya juga mau kok." Rengek Yola.


"Kamu sama saya aja. Saya juga jomblo kok."


"Apa?" Yola tersentak kaget mendengar ucapan Beno. Entah Beno serius mengatakan itu atau hanya sekedar bercanda. Tetapi sukses membuat Dara semakin gugup.


Sama hal nya dengan Beno. Entah kenapa mulutnya tak terkontrol lagi dan spontan mengucapkan kalimat itu. Alhasil, sama hal nya dengan Yola. Beno pun mendadak gugup dan salah tingkah.


Yola gadis berparas manis. Meski sederhana tapi Yola cukup menarik. Hingga membuat Beno terkadang diam-diam sering memperhatikannya.


.


.


Usai makan siang, Kai dan Dara berjalan bersama menuju tempat parkir. Kai sudah bersiap membuka pintu mobil. Tetapi terhenti, sebab dilihatnya Dara masih belum beranjak dari tempatnya. Gadis itu senantiasa memandanginya. Sepasang netra gadis itu tak pernah lepas darinya.


"Kamu udah mau pulang juga kan? Mau pulang bareng?" Tawar Kai demi mengalihkan perhatian Dara.


Dara pun tersentak. Tersadar dari lamunan indahnya. Yang semua lamunannya hanyalah tentang Kai.


"Ka_kamu bilang apa tadi?" Dara tergagap saking tak memperhatikan. Dan malah asyik dengan lamunannya.


"Mau pulang bareng nggak? Oh, sorry, aku lupa kalau kamu bawa mobil."


"Enggak!" Seru Dara cepat sembari menggeleng.


"Maksud aku, emang aku bawa mobil. Tapi, nggak tau kenapa, mobil nya tiba-tiba mogok pas nyampe parkiran." Tambahnya berkilah.


Kai mengernyit heran. "Oh ya? Kok bisa?"


"Bisa lah ... Demi pulang bareng kamu, apa sih yang nggak bisa." Gumam Dara membatin. Tak berani berkata hal serupa terang-terangan di depan Kai.


Oh astaga.


Sungguh Dara telah dibuat penasaran akan sosok Kai. Bukan hanya penasaran, Dara bahkan telah jatuh cinta. Benar-benar jatuh cinta.


TBC

__ADS_1


__ADS_2