
Oh astaga.
Sungguh Dara telah dibuat penasaran akan sosok Kai. Bukan hanya penasaran, Dara bahkan telah jatuh cinta. Benar-benar jatuh cinta.
"Untung saja mobilnya mogok pas di parkiran. Kalau mogok nya di tengah jalan, nggak tau deh apa yang bakal terjadi." Kilah Dara lagi demi menutupi modus nya agar bisa dekat dengan Kai.
"Oooh ... Begitu ya. Kamu ada benarnya juga. Kalau mogok nya di tengah jalan, bisa tambah panjang urusannya nanti. Ya sudah, mau pulang bareng kan?"
Dara mengangguk cepat dengan raut sumringah. Disertai tatapan berbinar-binar.
"Ayo." Ajak Kai.
Dengan hati riang gembira Dara pun bergegas naik ke mobil Kai. Sigap Kai membukakan pintu mobil untuk Dara. Membuat hati Dara berbunga-bunga. Merasa sangat dihargai sebagai wanita.
.
Sepanjang perjalanan, degup jantung Dara kian tak beraturan. Berada di dekat Kai rasanya seperti roller coaster yang memacu adrenalin. Ia bahkan gemetaran, panas dingin, lantaran gugup setengah mati.
Jatuh cinta itu sungguh aneh. Bagai hilang akal sehat. Ia yang semula tampil seperti yang ia suka, kini mulai memikirkan penampilan seperti apa yang membuat Kai terkesan. Bahkan tak jarang ia dibuat bingung seperti apa kira-kira riasan yang Kai suka.
"Alamat kamu di mana?" Tanya Kai.
Dara tersentak kaget. Sedikit tak fokus dengan keadaan. Saking berbunga-bunga hati nya saat ini.
"A_apa?" Dara bahkan sampai tergagap.
Kai terkekeh melihat tingkah Dara yang mendadak gugup dan salah tingkah.
"Lagi ngelamunin apa sih?" Tanya Kai.
"Nggak. Aku nggak melamun kok."
"Tapi dari yang aku lihat, kamu seperti orang yang sedang melamun. Apa kamu punya masalah?"
"Iya. Hati ku yang bermasalah." Ucap Dara ceplas-ceplos.
"Hati mu bermasalah? Lagi berantem dengan pacar?"
"Iya. Lagi berantem dengan perasaan."
Kai terkekeh mendengar jawaban nyeleneh Dara.
"Kalau kamu lagi ada masalah, kamu boleh cerita. Aku siap jadi pendengar yang baik."
"Masalahnya aku tuh suka sama kamu." Ucap Dara keceplosan. Tanpa sadar.
"Apa?" Kai terkejut mendengar ucapan Dara. Sesekali diliriknya Dara yang refleks membekap mulutnya sendiri.
"Emm ... Ma_maksud ku, masalahnya aku nggak mau membebani kamu dengan masalah ku. Iya, itu maksud ku." Kilah Dara sembari meringis malu.
Sekilas tingkah Dara seperti orang bodoh. Gesturnya begitu kentara menampakkan ketertarikannya terhadap Kai. Sungguh Dara telah dibuat gila oleh perasaannya sendiri.
"Nggak apa-apa. Dengan kamu cerita, siapa tau beban kamu akan sedikit berkurang. Siapa tau juga aku bisa membantu." Ujar Kai tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan yang membentang lurus di depannya.
Dara mendesah berat. Seolah ada yang tengah membebani nya saat ini. Seakan ada sesuatu hal yang terasa mengganjal di hatinya.
"Gimana mau berkurang, kalau beban nya itu kamu." Sekali lagi Dara keceplosan. Dan lagi-lagi membuat Kai tersentak kaget. Dan merasa aneh disaat yang bersamaan.
Pasalnya, Kai merasa seolah setiap ucapan Dara nyeleneh. Semakin tak masuk akal dan terkesan tidak nyambung.
__ADS_1
"Kamu bilang apa?" Tanya Kai bingung.
"Oh, enggak. Aku bilang, aku nggak mau menambah beban kamu. Itu saja." Lagi-lagi Dara berkilah.
"Oooh ..." Sahut Kai singkat lantas kembali fokus menyetir.
Sesekali Dara melirik Kai sambil tersenyum-senyum. Hatinya kian berbunga-bunga saja kala menatap paras menawan Kai.
"Dara ... Dara. Apa yang terjadi dengan hati mu?" Gumam Dara membatin. Sembari memegangi dada nya yang semakin berdebar-debar. Sekali lagi diliriknya Kai. Dan tanpa sadar senyum nya mengembang begitu saja. Sungguh Dara telah dibuat gila oleh pesona pria itu.
.
.
"Makasih ya?" Ucap Dara begitu turun dari mobil Kai. Tak butuh waktu lama untuk mereka sampai di rumah Dara.
Kai menyunggingkan senyumnya. "Sama-sama."
"Nggak mau mampir dulu?" Tawar Dara. Barangkali saja Kai menerima tawarannya. Meski dengan tak tahu malunya ia menawarkan.
"Lain kali saja."
"Lain kali pasti mampir kan?"
"Of course (tentu saja)."
"Yes!" Seru Dara saking senangnya.
Kai yang sangat jelas mendengarnya hanya bisa tertawa kecil. Baginya tingkah Dara itu seperti tingkah anak kecil yang begitu menggemaskan.
"Kalau aku mampir, memangnya pacar kamu nggak bakal marah?" Tanya Kai.
"Oh ya? Tapi, tadi kamu_"
"Tadi kamu salah mengira. Aku belum punya pacar kok. Tapi kalau kamu jadi pacar ku, aku mau kok." Lagi-lagi Dara keceplosan. Entah kenapa mulutnya sulit dikendalikan kali ini.
"Ups!" Dara membekap mulutnya sendiri saking malunya. Bahkan Kai menatapnya dengan kernyitan di dahinya.
"Just kidding (hanya bercanda)." Ucap Dara sembari meringis malu.
Kai pun terkekeh. "Ya sudah. Kalau begitu aku pulang dulu." Pamit nya.
"Iya. Hati-hati ya?"
Belum sempat Kai melangkahkan kakinya, tiba-tiba terdengar suara lembut menyapa.
"Dara ... Kok tamu nya nggak diajak masuk dulu." Seru Mama Maya sembari membawa langkahnya menghampiri Dara dan Kai yang masih berdiri di depan pagar.
"Mama?" Dara tersentak dengan kedatangan mama nya.
"Siang Tante." Sapa Kai santun seraya menyunggingkan senyum manisnya.
Mama Maya balas tersenyum dengan sorot mata berbinar-binar menatap Kai.
"Siang. Teman nya Dara ya? Kok baru kali ini Tante liat kamu."
"Mama nggak usah kepo deh." Ucap Dara agak ketus.
"Kamu ini." Mama Maya memukul pelan lengan Dara.
__ADS_1
"Punya teman secakep ini kenapa nggak bilang-bilang Mama sih." Tambah nya sok-sok kesal.
"Emang harus ya laporan dulu ke Mama?"
"Mama pikir kamu nggak laku." Celoteh Mama Maya, membuat Dara manyun seketika.
Mama Maya pun terkekeh melihat ekspresi putrinya itu.
"Becanda sayang. Anak Mama jadi mirip anak ingusan deh kalau lagi manyun begitu. Nggak malu apa diliatin cowok cakep."
"Mama ... Orang lagi kesel malah diledekin. Jadi makin kesel kan?" Sungut Dara seperti anak kecil yang sedang merajuk.
Kai justru tersenyum-senyum melihat kedekatan ibu dan anak itu. Baginya pemandangan seperti itu sungguh langka.
Melihat kedekatan Dara dan Mama Maya membuat Kai teringat akan ibu nya yang telah pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya. Tak bisa dipungkiri, Kai pun teramat merindukan kasih sayang ibu nya.
Sungguh ia rindu dekapan hangat ibu nya. Ia rindu berbaring di pangkuan ibu nya. Ia rindu bercanda tawa bersama ibu nya. Ibu yang selalu mendukung nya dan selalu ada disaat-saat tersulit dalam hidup nya. Hanya ibu nya yang selalu mengerti dan memahami nya.
Bahkan ayah dan kakak uang selalu ia banggakan pun telah pergi meninggalkannya seorang diri. Membuat hari-hari nya terasa sepi.
"Oh ya, kalau boleh tau, nama nya siapa?" Tanya Mama Maya beralih menatap Kai.
"Kai, Tante." Jawab Kai.
"Oooh ... Kai. Nama yang bagus. Nggak mau masuk dulu. Ngeteh atau ngopi dulu, sambil kita ngobrol sebentar." Tawar Mama Maya antusias.
Dan yang lebih antusias lagi adalah Dara. Tetapi tak berani menampakkannya di depan Kai.
"Maaf, lain kali saja Tante. Saya masih ada urusan lain. Nggak apa-apa kan Tante?" Tolak Kai sopan.
"Oooh enggak. Nggak apa-apa kok. Lain kali kalau kamu mampir, akan Tante bikinkan kamu kue yang paling enak, spesial buat kamu."
"Makasih, Tante. Nanti malah merepotkan Tante."
"Nggak apa-apa. Buat kamu mah nggak masalah. Lagian Tante udah biasa dibuat repot sama Dara. Kamu pasti belum tau kan kalau anak Tante ini sangat ceroboh?"
"Mama ... Malu tau." Kesal Dara sambil mendelik tajam menatap Mama Maya.
Kai tertawa-tawa kecil melihat tingkah ibu dan anak itu.
"Maaf, Tante. Kalau begitu saya permisi dulu. Lain kali saya pasti mampir lagi." Pamit Kai.
"Iya. Hati-hati di jalan ya Nak Kai."
"Permisi Tante, Dara."
Kai pun bergegas naik ke mobil nya. Lalu memacu mobil nya perlahan meninggalkan tempat itu.
"Ups, astaga!" Seru Dara tiba-tiba, membuat Mama Maya tersentak kaget.
"Kenapa kamu?"
Bukannya menjawab pertanyaan Mama Maya, Dara malah menyetop taksi yang kebetulan lewat. Lalu bergegas naik.
"Loh, kamu mau ke mana Dara?" Tanya Mama Maya meneriaki Dara.
"Mau ngambil mobil Ma." Jawab Dara setengah berteriak sebelum akhirnya taksi yang ditumpanginya mulai menjauh. Tujuannya adalah kafe Black Butterfly. Tempat di mana ia sengaja meninggalkan mobil nya demi pulang bersama Kai. Alhasil ia harus kembali lagi ke tempat itu untuk mengambil mobil nya.
Mama Maya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kelakuan putrinya. Bagaimana bisa putrinya pulang diantar seorang pria jika dia sendiri membawa mobil.
__ADS_1
TBC