AIR MATA MARISA

AIR MATA MARISA
Amarah mas Fahar.


__ADS_3

Mas Fahar bersama asistennya yaitu Sean, sudah tiba di depan pintu kamar lama yang kami tempati.


Lisa dan Alex, terlihat kaget melihat kehadiran mas Fahar. setelah berdiam diri untuk sesaat, Sean mengangkat Lisa ke arah sofa di ruang tamu karena kakinya terlikir.


"ada apa? kenapa terjadi kekacauan disini?"


Mas Fahar bertanya kepada kami semua, raut wajahnya yang terlihat penuh amarah.


"maaf tuan muda, ini non Lisa...."


"mpok....... sekali lagi saya ingatkan sama mpok ya, perempuan ini bukan majikan mu. jadi ngak perlu panggil non atau apalah itu, Mpok paham?"


Ucap mas Fahar yang memotong pembicaraan dari mpok Nori, dan si mpok hanya mengangguk.


"begini tuan muda, Lisa datang ke mari dengan marah-marah dan menuduh neng Marisa mencuri flashdisk nya.


Mpok melarang Lisa untuk mengecek sisi tv, karena itu adalah perintah tuan muda. lalu Lisa ingin menggeledah kamar tuan bersama neng Marisa.


tapi neng Marisa tidak mengijinkannya, si neng bersekukuh untuk tidak mengijinkan Lisa menggeledah kamar tanpa seijin dari tuan muda.


Alhasil Lisa hendak menggeledah kamar lama yang di tempati oleh si neng dan almarhumah, berhubung kamar itu sudah kosong dan bersih. maka Lisa geram dan hendak melukai neng Marisa.


Tapi neng Marisa menendang guci dan Lisa tersandung guci tersebut dan jatuh hingga kakinya seperti terkilir."


"begitu ceritanya mpok, baguslah. orang yang bersikap kurang ajar, pantas mendapatkan ganjarannya."


Ucap mas Fahar, dan ucapan itu membuat Lisa terlihat marah yang masih menahan rasa sakit nya.


"mas Fahar, flashdisk itu penting bagi Lisa. istri mas Fahar yang brengsek ini telah mencuri flashdisk Lisa."


"istriku ngak brengsek, yang brengsek itu aku sendiri dan juga kau.


lagian apa buktinya kau menuduh Istriku pencurinya?


Apa Istriku pernah ke rumah mu? atau Istriku pernah menggeledah tas mu?"


"ngak mas Fahar, kemarin itu Lisa kemari dan pastinya flashdisk itu jatuh disini."


"berarti bukan mencuri itu namanya, biar kau puas sekarang kita cek sisi tv. mpok, tolong ambil notebook ku itu."


Sebenarnya deg-degan, tapi jika ketahuan nantinya maka akan membongkar apa yang telah aku lihat.


Semua tergantung keadaan, tapi yang jelas aku tidak mungkin jujur sekarang mengenai flashdisk tersebut.


Mpok Nori sudah tiba dan tampilan sisi tv sudah di putar ulang berdasarkan waktu kedatangan Lisa yang saat itu datang bersama mami nya mas Fahar.

__ADS_1


Setelah diselidiki ternyata saya tidak terbukti mengambil flashdisk tersebut, akhirnya aku bisa tenang.


Karena memang flashdisk itu aku ambil ketika dia hendak terjatuh saat ingin menampar Ku.


tapi adegan dimana Lisa hendak menampar Ku, membuat mas Fahar geram lalu...


plak.... plak ....


Mas Fahar menampar Lisa dua kali di pipinya, dan sorot mata mas Fahar yang masih terlihat marah dan menampar nya kembali.


"jangan sekali-kali kau menyakiti Istriku, di video ini kau hendak menampar Nya. ini peringatan pertama untukmu."


"mas kok tega sama adik sendiri."


"adik? ngak salah itu, saya tidak merasa ada adik. saya tidak tahu kau anak siapa dan saya tidak mau kau anak siapa.


Yang jelas kau dan saudara mu ini hanya parasit.


Mpok......."


mas Fahar lalu berteriak memanggil mpok Nori, padahal mpok Ina berada di belakang mas Fahar bersama Ku.


"iya tuan muda."


"mpok, mulai hari ini jangan pernah ijinkan manusia parasit ini masuk ke rumah ini. Mpok ngak lupa kan pesan Papa ke mpok?"


"bagus, mulai saat ini. mpok Nori yang mengatur semuanya, termasuk mengenai siapa saja yang bisa masuk ke rumah ini.


Kepada mpok lah, aku serahkan untuk menjaga istriku yang sedang mengandung anakku. Mpok paham kan ?"


"paham tuan muda.


uak Jarvis....... pak Mono..... pak Aldin....."


Mereka adalah satpam di rumah, dan ada dua lagi yang bernama pak Edo dan pak Reman.


"iya mpok."


sahut dari pak Mono yang datang bersama pak Aldin, dengan napas yang terengah-engah.


"sesuai dengan perintah tuan muda, dan amanat dari almarhum Tuan Wijaya.


Jika tuan muda Fahar Wijaya sudah menikah, jangan ijinkan masuk ke rumah ini yaitu. nyonya Rina termasuk laki-laki yang sering bersamanya, Lisa, Alex dan Jepri ke rumah.


Karena rumah ini sudah memiliki nyonya yang baru, yaitu neng Marisa. selalu istri dari tuan muda.

__ADS_1


Jadi kedepannya, yang telah mpok sampaikan mohon untuk di laksanakan."


"maaf mpok memotong pembicaraannya, lalu nyonya Rina gimana?"


Ujar pak Mono, dan mas Fahar langsung menghardiknya dengan tajam.


"pak Mono.....


Mpok Ina kan sudah menyampaikan, kalau di rumah ini sudah yang baru, yaitu istriku. laksanakan aja seperti yang mpok Nori katakan. jangan menerima perintah dari siapapun, kecuali dari saya, istriku dan mpok Nori, pak Mono paham?"


"siap, paham tuan muda."


"bagus, sekarang usir kedua parasit ini dari rumah ini."


Pak Mono dan dan pak Aldin, terlihat tersenyum puas setelah ucapan dari mas Fahar, seketika itu langsung bertindak mengusir pemilik suara sumbang itu.


Suara mereka berdua begitu nyaring dan memekakkan telinga ini, tidak berapa lama kemudian. baru suasana agak tenang lalu mas Fahar mendekatiKu.


"ada terluka?"


"ngak mas, Marisa baik-baik aja. terimakasih ya mas karena sudah membela Marisa."


"iya, dan asal kamu itu karena anakKu yang kamu kandung."


"Apapun alasannya tapi Marisa bahagia karena mas Fahar membelaku, terimakasih ya mas."


Seketika mas Fahar langsung terdiam, begitu dengan mpok Nori dan Bu Ani.


"mas Fahar mau makan? atau minum teh?"


"kan sudah mas sampaikan, kamu disini bukan pembantu lagi. tapi kamu istriku, jika mas butuh apapun, tinggal panggil mpok Nori atau Bu Ani aja."


"benar itu, tapi kan Marisa istri mu mas, sudah selayaknya aku melayani mas sebagai suamiku."


"iya tuan muda, benar kata neng Marisa. seorang istri harus melayani suaminya, tolong jangan acuhkan neng Marisa.


Nanti si neng jadi kepikiran akan sikap tuan muda ini, dan itu bisa berpengaruh terhadap bayinya.


Intinya tuan muda harus memperlakukan baik terhadap si neng ya, jika si neng melakukan tugasnya sebagai istri dan terjadi lah kedekatan batin dan berdampak baik untuk anak kalian berdua."


"iya mpok, cerewet amat sih."


"maaf tuan muda, karena mpok lancang. Mpok bukan nya menggurui, anggap aja nasihat dari orang tua."


"iya mpok, terimakasih ya Mpok atas nasihat nya. Marisa, tolong buatkan kami berdua kopi ya"

__ADS_1


Berkat ceramah dari mpok Nori, akhirnya mas Fahar nurut dan mau aku layani sebagai istrinya.


__ADS_2