
Hari berganti hari dan tanpa terasa sudah hampir dua bulan berada di mewah ini, dan secara perlahan Elfata sudah bisa menerima ayah Nya.
Selama ini Elfata sangat protektif terhadap Ku, tidak mengijinkan laki-laki manapun mendekati Ku.
Tapi setelah hampir dua bulan, Elfata akhirnya bisa menerima mas Fahar sebagai ayahnya, mungkin juga karena ikatan batin antara seorang ayah dengan anaknya.
Berkat bantuan dari Renta yang kini sudah masuk ke dalam tim ku, yang bekerja dari kantor mas Fahar.
Karir di bidang karya tulis melonjak dengan drastis, penggemar karya-karya ku semakin bertambah banyak, bahkan mbak Nining kewalahan menghadapi para penggemar ku.**
Hari berganti hari.
Sudah tiga hari ini, mas Fahar sangat berbeda akan sikapnya kepadaKu.
Sepertinya ada sedikit perubahan dari mas Fahar, seolah-olah ada yang di pendamnya dan di inginkan nya lebih dariKu.
Hembusan angin sore hari mengusik siang yang menjadikan malam, sedari tadi bersama Elfata kami menunggu mas Fahar pulang dari kantor.
"itu ayah...."
Ucap Elfata yang langsung berlari menuju ayahnya, dan mas Fahar seolah-olah mengabaikan Elfata yang bersemangat menyambut sang ayah pulang.
Dengan lesunya Elfata berjalan ke arahku, dan raut wajahnya yang kecewa terhadap ayahnya Nya terpancar jelas dari wajahnya.
"ayah kenapa ya? apa ayah kecepaaan?"
Perlahan aku memberikan penjelasan kepada Elfata, dan anak itu pun paham kalau ayahnya kelelahan hari ini.
Elfata langsung masuk ke kamarnya dan aku susul mas Fahar ke kamar.
Terdengar suara shower dari arah kamar mandi, dan pakaian mas Fahar aku sediakan.
Keluar dari kamar mandi dan mas Fahar hanya mengenakan handuk yang dililitkan di pinggangnya, dan tatapan lelah terpancar dari raut wajahnya.
"yuk makan malam, Elfata juga belum makan."
Mas Fahar tidak bergeming dan malah ke arah ranjang dan kemudian rebahan, aku berusaha mendekatinya dan mencoba menempelkan tangan Ku di keningnya.
"apaan sih?"
tanganKu di hempaskan oleh mas Fahar, padahal aku hanya ingin mengecek suhu tubuhnya, karena mas Fahar terlihat lemas.
"mas kenapa? cerita dong, semua masalah pasti ada jalan keluarnya mas."
__ADS_1
Tatapan mas Fahar kepadaKu sangat berbeda, sudah seminggu ini tatapan itu membuatku tidak nyaman.
"kenapa kamu ngak hamil lagi?"
Pertanyaan itu seketika membuat jantung ku berdebar kencang, dan mencoba untuk tenang.
"Hampir dua bulan kita baru bersama lagi mas, emangnya membuat anak bisa secepatnya itu. mas kenapa sih? ada masalah apa?"
Mas Fahar duduk dan tatapan semakin aneh melihat Ku.
"kamu terpesona ya melihat Agam?"
Saya tidak mengenal siapa itu Agam, dan apa hubungannya dengan belum hamil nya diriku ini.
"aku ngak kenal Agam mas, kenapa mas mempertanyakan ini tiba-tiba?"
Raut wajahnya terlihat begitu suram, lalu mas Fahar meraih handphonenya yang terletak di meja kecil sampai ranjang.
"nih lihat, kenapa kamu bisa berpelukan dengan Agam, pemilik platform the Agam, saingan platform perusahaan kita."
Foto yang di tunjukkan mas Fahar, aku perhatikan dengan baik-baik, secara kasat mata saja, bisa terlihat foto itu adalah editan.
"mas gimana sih, lihat dong. foto ini di edit, sepertinya juru edit nya belum jago deh, liat deh mas. blur belum halus, masih miring disana sini.
Jelas-jelas ini editan loh mas, mas kenapa sih?
Gini ya mas, aku itu banyak menghabiskan waktu di rumah ini. sesekali lari-lari keliling komplek bersama Elfata, Bani dan juga mbak Nining.
palingan kami belanja, lalu makan di luar, ngantar anak sekolah dan sisanya kita bertiga keluar rumah."
Penjelasannya itu sepertinya tidak membuat puas dan mas Fahar tetap tidak bergeming.
Handphone nya itu diambil lagi dariKu dan diletakkannya di meja kecil itu, dan kemudian menarik selimutnya.
"makan yuk mas, kasihan Elfata nungguin kita di meja makan."
Karena tidak mendapatkan sambutan dari mas Fahar, lalu aku melangkah keluar dari kamar untuk menemui Elfata.
Ternyata Elfata sudah ada di meja makan menunggu Ku dengan wajahnya yang cemberut.
"kita makan di lual yuk bunda, sambil beli pensil walna, yang dekat aja bunda."
Pinta Elfata kepadaKu, lalu kami berdua menemui ayahnya yang saat ini rebahan di ranjang.
__ADS_1
Tapi mas Fahar tidak bersedia ikut kami makan di luar, akhirnya kami putuskan untuk makan berdua.
Kami berdua memang sering menghabiskan waktu bersama, walaupun hanya duduk-duduk di taman atau pun di tempat angkringan atau lesehan, yang penting berdua aja sama Elfata.
Hanya berjalan sekitar sepuluh menit dari area kompleks mewah ini, dan langsung terlihat ada kafe, lalu kami berdua pun langsung menuju kafe tersebut.
Jika sudah bersama Elfata, terkadang aku lupa waktu, setelah kenyang kami berdua berjalan menuju mini market yang tidak jauh dari Kafe.
Pernsil atau crayon langsung di ambil Elfata, begitu juga dengan buku gambar, satu untuknya dan satu untuk Bani.
Tanpa terasa sudah jam sembilan malam, dan kami berdua kembali ke rumah.
"kok lama? ngapain aja kalian berdua?"
Sambutan mas Fahar kepada kami ketika tiba di ruang tengah rumah mewah ini, sambutan yang lebih tepatnya ada membentak kami berdua.
Elfata langsung masuk kamar, karena tatapan ayahnya yang berbeda dari sebelumnya.
"bentar ya mas."
Aku menyusul Elfata yang sudah masuk ke kamarnya, dan benar saja. Elfata terlihat begitu sedih karena ayahnya seperti membentak kami berdua.
"inilah alasannya kenapa Elfata tidak pelnah beltanya kebeladaan ayah, bagi Elfata. bunda sudah cukup.
Elfata ngak pelu ayah, Elfata hanya butuh bunda.
Selama ini, kita beldua baik-baik aja. tapi kenapa ayah sepelti itu?"
Ujar Elfata dengan air matanya yang sudah mengalir di pipinya, perkataan begitu menyusuk di hati.
Dengan segala upaya, aku mencoba menenangkan Elfata agar tidak salah paham kepada ayahnya.
Berbohong adalah jalan satu-satunya, selama ini aku tidak pernah berbohong kepada-nya.
Tidak tahu apa yang terjadi kepada mas Fahar, dan kenapa sikapnya berubah sejak beberapa hari ini.
Mungkin Elfata mencoba mengerti atau hanya pura-pura mengerti, tapi Elfata sudah terlihat tenang.
Membujuk nya untuk sikat gigi dan cuci wajah dan juga tangan serta kaki, lalu mengiringinya ke tempat tidur.
Akhirnya Elfata bisa tidur juga, air matanya mengalir membuat dia mudah tertidur.
Tanpa terasa air mataku mengalir, rasanya sesak aja. ini pertama kalinya aku melihat Elfata sesedih ini.
__ADS_1
Elfata adalah sosok yang cerita dan selalu menjadi pelipur lara hatiku, tapi kali ini aku harus bertindak sebagai penghibur di kala kesedihan Nya.