
POV nyonya Rina.
Setelah Damar selesai menelpon lalu masuk kedalam kamar dimana istrinya berada, ternyata sang nyonya Rina duduk di ranjang.
"sayang, mas sudah menghubungi para awak media dan mereka bersedia datang besok. kamu berakting senatural mungkin, untuk meyakinkan publik kalau Fahar itu tidak punya hati."
Sang nyonya Rina hanya terdiam tanpa menyahut omongan dari suaminya.
"sayang, tadi mas sangat kentang. tolong bantu ya sayang."
Sebenarnya sang nyonya Rina menolak, tapi nafsu suaminya sudah di ubun-ubun. jika menolak kemungkinan akan terjadi kekerasan.
Akhirnya sang nyonya Rina pasrah melayani suami Nya.**
Pagi-pagi sekali sang nyonya Rina sudah membuat persiapan, agar akting nya bisa sempurna dan terlihat natural.
Sudah jam delapan pagi dan nyonya Rina bersiap untuk berangkat ke kantor polisi guna memenuhi panggilan.
Tanpa pendampingan penasihat hukum sang nyonya Rina berani memenuhi panggilan tersebut.
Sang nyonya sudah duduk di meja dimana di hadapan sudah ada dua orang petugas yang akan mengintrogasi nya.
"apakah ibu tidak didampingi oleh penasihat hukum?"
Ucap salah satu petugas yang melakukan interogasi, ekspresi petugas terlihat datar.
"tidak pak, karena saya tidak mampu membayar nya. anak saya Fahar sudah mengambil semuanya."
Jawab sang nyonya Rina, yang sudah mulai berakting.
"baik ibu, kita mulai saja ya. pertama kita pengecekan data administrasi."
Baru aja selesai pengecekan data, sang nyonya Rina sudah menangis tersedu-sedu bahkan sampai suaranya tidak terdengar jelas karena di iringi tangisan.
Alhasil petugas berhenti mengintrogasi sang nyonya Rina, berhubungan para awak media sudah banyak di luar kantor, akhirnya petugas mengijinkan sang nyonya Rina untuk di interview oleh awak media.
"ibu Rina, apa benar ibu digugat oleh anak kandung ibu sendiri? apa alasannya untuk menggugat ibu?"
Sang nyonya Rina berusaha untuk tenang, tapi air matanya mengalir deras di pipinya.
"ini semua berawal ketika Fahar anak saya menikahi anak dari asisten rumah tangga kami.
__ADS_1
Nama menantaku itu Marisa, lalu dia memprovokasi anak saya Fahar. dan Marisa mampu melakukan Nya.
Saya di usir oleh anak saya sendiri dan kemudian anak saya Fahar, mengambil semua apa yang saya miliki.
Kata anak saya, itu semua adalah harta almarhum Papi nya.
Menantaku memang luar biasa, sehingga anak kandung sendiri menggugat saya."
Jawab sang nyonya Rina, lalu menangis lagi dan lagi.
"tolong ibu jelaskan, apa saja yang menjadi keberatan anak ibu, sehingga ibu di gugat?"
Tanya salah satu awak media, dan terlihat petugas yang mendampingi sang nyonya sangat waspada.
"saya di tuduh anak saya menjual saham Papi nya di perusahaan, padahal saya sama sekali tidak mengerti tentang saham.
Saya hanya ibu rumahtangga yang setiap hari mengurus rumah dan sebagainya, tapi tiba-tiba saja ada kabar kalau saya telah mengalihkan saham.
Saya tahu menahu apa itu saham dan cara menjual atau pengalihan nya, tapi anak saya Fahar menuduhku yang nggak-nggak seperti itu."
Padahal surat keterangan panggilan tidak menyatakan seperti itu, sang nyonya di panggil untuk memperjelas kematian suaminya dan perihal penyerobotan lahan yang sekarang dimiliki oleh pak Burhan.
"mohon ibu, seperti yang ibu ucapkan tidak sesuai dengan surat panggilan dari pihak penyidik.
ibu bersama suami ibu yang bernama Damar, serta adik kandung ibu yang bernama Edo di laporkan atas kasus, kematian almarhum pak Wijaya yang merupakan ayah kandung anak laki-laki ibu.
ibu juga di laporkan atas kasus penyelewengan dana pajak perusahaan anak ibu, penjualan lima karya ke platform lain serta penyerobotan tanah alias mafia.
Tapi kenapa pernyataan ibu barusan berbeda dengan surat panggilan ini?"
Pertanyaan dari awak media ini membuat sang nyonya panik dan tiba-tiba saja ada lima orang pria datang membawa sang nyonya masuk kedalam ruang lagi untuk menghindari para awak media.
"nama saya Jason dan ini empat orang adalah rekan saya dan kami berlima adalah kuasa hukum ibu Rina."
Ucap Jason kepada petugas itu dan petugas terlihat kebingungan akan hal yang sudah terjadi.
"tadi saudari Rina mengatakan bahwa beliau tidak mampu membayar penasihat hukum, tapi kenapa sekarang bapak-bapak mengaku sebagai penasihat hukumnya?
Apa maksud semua ini? apa sebenarnya maksud bapak-bapak? kalian mau mempermainkan kami?"
Ujar petugas tersebut, karena merasa ada yang aneh, di awal disebutkan bahwa sang nyonya Rina tidak mampu membayar penasihat hukum, kini sudah lima orang yang mendampinginya.
__ADS_1
Kelima penasihat hukum itu berdalih sebagai relawan atau dari lembaga bantuan hukum, yang secara sukarela membantu sang nyonya besar.
Aneh lagi ke lima penasihat hukum itu sudah mengantongi surat kuasa dari sang nyonya, tapi sepertinya sang nyonya tidak terkejut akan hal itu.
Alhasil untuk kali ini sang nyonya Rina masih berhasil dibawa pulang ke rumah, dan nantinya pihak sang nyonya Rina akan membawa bukti sanggahan.
Ternyata sang nyonya Rina dibawa ke suatu tempat, dan itu adalah kantor pak Burhan, ayah dari Fika.
Sorot tatapan mata dari Burhan terlihat penuh amarah, dan sang nyonya Rina hanya terdiam ketika berhadapan dengan pak Burhan.
"bego di pelihara, ngapain sih memenuhi panggilan itu? bawa-bawa media lagi. Kan jadi anda yang kena imbasnya, lihat itu siaran berita, sudah berkembang narasi dan opini yang buruk.
Dasar bodoh, idiot, otak ************. seharusnya kau mati bersama suami mu yang bodoh itu."
Ucap Burhan yang terlihat emosi, dan sang nyonya terlihat gemetaran.
tok.... tok... tok.... tok.....
"masuk".
Suara kuat dan lantang dari Burhan, untuk menyuruh masuk yang mengetuk pintu. dan itu adalah asisten Nya.
Pria paru baya yang selalu bersama Nya, terlihat wajahnya penuh dengan kwatir.
"kantor pusat akan digeledah dari pihak instansi pemerintah terkait pak."
ujar Pria paru baya dengan nada bicaranya yang ketakutan.
"lihat ulah mu, puas kau. dasar otak jongkok."
Makian dari pak Burhan yang tiada habisnya kepada sang nyonya Rina yang terpojokkan dan gemetaran saat berhadapan dengan pak Burhan.
Terlihat pak Burhan menghubungi seseorang dan lagi-lagi itu dilakukannya, beliau terlihat sibuk dengan handphone genggam miliknya.
Pak Burhan terdengar ngamuk-ngamuk saat menelpon seseorang melalui handphone Nya.
Sang nyonya Rina terlihat semakin ketakutan, dikala pak Burhan melotot ke arahnya sambil marah-marah saat menelpon.
Sepertinya pak Burhan menyuruh orang-orang terkait yang bisa menghentikan atau meminta untuk tidak menggeledah kantor Nya.
Mungkin tidak mendapatkan respon yang buruk, alhasil membuat marah-marah dan terdengar mengungkit masalah bersama.
__ADS_1