AIR MATA MARISA

AIR MATA MARISA
Mas Fahar.


__ADS_3

Aku terbangun tepat pukul 5 pagi seperti biasanya, dengan perlahan bangkit dari ranjang agar tidak membangunkan mas Fahar yang masih tertidur.


Menyiapkan keperluan mas Fahar untuk berangkat kerja, lalu membereskan barang-barang yang tidak rapi.


Semuanya sudah siap dan pakaian mas Fahar sudah tersedia diatas meja, lalu menuju kamar mandi.


Setelah selesai mandi lalu berpakaian, jam dingding sudah menunjukkan pukul enam lewat dua puluh menit.


"mas.... mas Fahar, bangun mas."


akhirnya mas Fahar bangun, lalu menatapku dengan tatapan yang agak berbeda dari sebelumnya.


"mas mandi ya, habis itu sarapan."


Mas Fahar kemudian bangkit dari ranjang, handuk bersih aku berikan lalu mas Fahar ke kamar mandi.


Selesai berpakaian lalu mas Fahar keluar kamar yang aku dari belakang, di meja makan yang besar ini, mas Fahar duduk di kursi yang sangat bagus.


Setelah makannya tersaji di piring, lalu aku berdiri di belakangnya. sebagaimana yang dilakukan oleh Almarhumah Mama ku.


"Marisa....


ngapain berdiri di belakang, sini duduk di samping mas. ayok kita sarapan."


"ngak usah mas, nanti aja Marisa makan di dapur bersama.."


Mas Fahar langsung berdiri dan menarik tanganKu, lalu menyuruh Ku untuk duduk di salah satu kuris di dekatnya.


"Bu Ani...


ingat iya, mulai hari ini. Marisa adalah istri Ku, Ia tidak boleh lagi makan di dapur. harus makan disini, paham?"


"iya tuan."


Jawab Bu Ani dengan singkat dan langsung menyajikan makanan di piring Ku.


Memang aku sudah dinikahi oleh mas Fahar walaupun hanya sebatas nikah sirih, tapi hati ini tidak menganggap mas Fahar sebagai Suamiku.


Sadar diri akan keadaan, aku duduk disini hanya sebagai alat untuk mas Fahar. alat untuk melahirkan anak laki-laki untuk Nya, jika janin yang ku kandung ini lahir sebagai perempuan, maka aku pergi dari sisinya untuk selamanya.


Ini bukan kemauan Ku, tapi keadaan dan nasib yang membuat duduk di kursi yang mahal ini.


"kamu harus banyak makan yang bernutrisi, karena calon anakku yang kamu kandung membutuhkan asupan gizi yang baik."

__ADS_1


"iya mas."


Sesegera mungkin aku jawab, karena aku masih menganggap mas Fahar sebagai Sang tuan muda Fahar Wijaya.


Majikan Ku yang sudah menghancurkan harga diriku serta masa depanku.**


Mas Fahar sudah berangkat ke kantor, dan aku melanjutkan aktivitas untuk pergi ke kantor camat bertemu dengan pak Irfan, untuk mengurus surat keterangan waris dari almarhumah mama.


Hanya butuh waktu selama dua puluh menit, akhirnya sampai juga di kantor camat dan langsung bertemu dengan pak Irfan di ruangan nya.


Kemudian menandatangani beberapa formulir yang disediakan oleh pak Irfan, setelah selesai menandatangani formulir tersebut lalu aku serahkan berikut dengan amplop yang berwarna coklat.


"tunggu sebentar ya bu."


ujar pak Irfan lalu beliau beranjak dari tempat duduknya, setelah hampir tiga puluh menit menunggu. akhirnya pak Irfan datang dengan membawa dokumen.


"ini berkas yang ibu butuhkan, surat keterangan kematian dan surat keterangan waris sudah difotocopy sesuai asli, masing-masing sepuluh copy.


Mohon ibu periksa, jika ada kesalahan agar segera di perbaiki kembali."


Ucap pak Irfan dan aku langsung memeriksa dokumen yang aku butuhkan ini.


Sudah lengkap lalu pamit kepada pak Arif, selanjutnya menuju Bank, untuk mengurus semua uang mama.


Sesampai nya di bank dan hanya antri selama hampir lebih empat belas menit, customer servis langsung memanggil nomor antrian ku.


Setelah semua proses yang panjang, dan uang yang ada di rekening bank almarhumah mama sudah menjadi milikku dengan nomor rekening yang baru.


Sebenarnya uang yang ada di rekening mama, sebagian hasil dari karya ku berupa karya komik yang diterbitkan oleh aplikasi online.


Selesai urusan dari bank, tujuan selanjutnya adalah belanja keperluan ku sendiri. karena banyak pakaian ku yang tidak bisa aku pakai lagi karena dalam keadaan hamil seperti ini.


uak Jarvis mengikuti ku dari belakang Ku, karena itu adalah perintah dari mas Fahar.


Kini aku berada di sebuah toko pakaian khusus wanita, salah satu pegawai nya melayani dengan sabar.


"kenapa mbak begitu sabar melayaniku belanja?"


Pegawai toko yang cantik itu tersenyum setelah mendengarkan pertanyaan Ku.


"saya disini khusus melayani wanita yang paling cantik dan sempurna, karena bagiKu. wanita yang hamil itu sangatlah cantik dan sempurna.


Jujur ya Bu, emang sih rada-rada cerewet. tapi itu karena pengaruh hormon. itu juga bukan dari hati ngomong seperti itu, hanya terucap begitu saja.

__ADS_1


Kakak ipar ada dua orang yang sedang hamil juga Bu, dan memang seperti itu adanya. sebelum hamil, kedua kakak ipar ku itu sangat baik dan lembut tapi berubah secara dramatis.


maaf Bu jadi curhat ya, ayo bu sebelah sini. dibagikan sini barang terbaru khusus untuk ibu yang sempurna."


Ujarnya dengan begitu ramah, dan membantuku untuk memilih pakaian yang pas dan bagus untukku.


Rasanya sudah cukup untuk belanja pakaian nya ini, dan pegawai toko yang cantik itu memberikan kursi untukku.


"ibu cantik, duduk disini aja ya. biar aku ambilkan edisi mesin pembayaran Nya."


Aku hanya mengangguk tanda setuju, lalu pegawai cantik nan ramah itu berlalu.


Tidak berapa lama kemudian datang dengan membawa mesin edisi pembayaran dan struk serta belanjaan ku yang banyak.


Tidak tanggung-tanggung totalnya sudah mencapai lima belas juta lebih, dan kartu kredit dari mas Fahar langsung aku berikan kepadanya.


Pegawai yang cantik itu duduk disamping Ku sambil memproses transaksi pembayaran, setelah keluar bukti pembayaran lalu memberikan nya kepadaKu dengan senyumannya yang manis.


"ini bukti transaksi ibu, terimakasih banyak ya Bu. semoga ibu bisa datang kembali kemari untuk belanja."


Karena aku merasa dibantu dan pelayanan yang terbaik, maka aku berikan dia tips. sepuluh lembar uang seratus ribu Rupiah.


"terimakasih ibu, dan inilah hal kedua yang membuat ku bahagia melayani wanita cantik dan sempurna.


Yaitu tips dan juga belanjanya yang banyak, sehingga saya bisa mendapatkan bonus dari toko ini Bu."


"sama-sama mbak, itu karena kerja keras mbak juga, serta kesabaran dan ketekunan mbak dalam melayani wanita hamil seperti saya ini."


"terimakasih ya Ibu, saya bisa bantuin untuk membawa belanjaan ibu ke bagasi mobil ibu."


"ngak perlu mbak, saya juga membawa ajudan kok. tolong panggilkan Bapak-bapak yang duduk dekat security mbak. namanya uak Jarvis."


"siap mbak."


Dengan sigapnya dia melaksanakan permintaan Ku dan tidak berapa lama sudah datang bersama uak Jarvis.


Di depan toko ada juga toko sepatu, kemudian kaki ini Ku langkah kan ke toko tersebut, tapi sepertinya seseorang yang mirip dengan mas Fahar bersama wanita muda nan cantik masuk ke toko tersebut.


Semakin aku perhatikan dan benar itu adalah mas Fahar.


Apa yang dilakukan mas Fahar dengan wanita itu?


apa mas Fahar mempunyai wanita lain?

__ADS_1


__ADS_2