AIR MATA MARISA

AIR MATA MARISA
Nyonya Rina maju Selangkah


__ADS_3

POV nyonya Rina.


Nyonya Rina terlihat gelisah di kamarnya, lalu pria yang terlihat masih muda memelukNya dari belakang tubuhnya.


"kenapa sayang, kok gelisah amat?" ucap pria itu yang memeluk pinggang dari belakang tubuhnya.


"mas Damar lepas."


Pria yang bernama Damar itu akhirnya melepaskan pelukannya dari pinggang nyonya Rina.


"gara-gara mas nih semuanya, kan aku dah bilang. jangan daftarkan pernikahan kita dulu, jika begini aku kerepotan, bisa-bisa saya hanya gigit jari."


"sudahlah sayang, kan ada mas. apapun permintaan akan mas sanggupi."


"apa? kamu hanya pegawai negeri golongan rendah, gaji mu aja tidak akan cukup untuk membeli peralatan makeup aku. lain lagi dengan anak-anak mu itu."


"hei sayang, itu bukan anakku. Lisa dan Alex adalah anak dari Abang Ku, dimana bapak mereka berdua adalah selingkuhan Mu.


Mas ngak ada kewajiban untuk membiayai hidup mereka, kewajiban itu untuk memenuhi kebutuhan kamu aja."


"karena itu mas, untuk membiayai mereka. aku butuh uang yang banyak. Fahar jadi harapan satu-satunya, tapi karena anak babu itu semuanya jadi berantakan."


"sudah....


untuk apa sih kamu membiayai mereka berdua? anak yang tidak tahu di untung, yang satu aneh dan yang satunya lagi hedon.


apa yang pertahankan dari mereka berdua? toh itu bukan anak mu anak kandung mu sendiri?


Anak kandung itu adalah Fahar, lalu kenapa kamu perduli dengan Lisa dan Alex? siapa mereka berdua?"


Mereka berdua keponakan Mu, dan sudah jadi anakKu."


"ada anak yang selayaknya dianggap anak, tapi mereka berdua melebihi hewan liar."


"jaga mulutmu mas, biar bagaimanapun juga mereka berdua adalah keponakan Mu"


Bantah nyonya Rina, istri dari Damar. tapi ada aneh menurut Damar, karena istrinya begitu membela kedua anak yang tidak tahu di untung itu.


"daripada kamu memikirkan kedua anak berandalan itu, lebih baik kamu melayani suami ini."


Ucap Damar yang kemudian mencumbui area leher milik istrinya, tapi sang Nyonya itu memberontak.


"hei, apa yang terjadi? kenapa kamu menolak? kamu kan biasanya selalu agresif."


"saya lagi ngak mood, saya butuh bantuan mu mas."


"apa yang bisa aku bantu sayang?"


Ucap Damar kepada istrinya, dan lagi memeluk pinggang sang nyonya dari belakang tubuhnya.

__ADS_1


"saya ingin anak babu di usir oleh Fahar dari rumah, caranya adalah anak yang kandungan babu sialan harus perempuan.


Mas harus mendekati klinik langganan keluarga itu, untuk mengambil hasil USG janinnya.


Pastikan itu perempuan, dan jika bukan perempuan. jadikan perempuan, saya tidak mau tahu caranya."


Damar kemudian melepaskan pelukannya, dan menarik tubuh istrinya, lalu mereka saling berhadapan.


"kamu tega sama cucu mu sendiri? Fahar itu anak kandung Mu."


"ngak usah bacot, setelah itu saya bisa menguasai Fahar lagi dan uang kita mengalir lagi sayang.


Profesi mu saat ini tidak bisa menjamin hidup kita, biarlah ini hanya menjadi kedok belaka untuk kita.


Mas sayang sama aku? tunjukkan sayang mas kepadaku."


"okey....


tapi kamu harus berlutut untuk memuaskan Ku, sebagai mana yang biasanya. mas akan memikirkan bagaimana cara nya, kamu tahu kan kalau mas ini bisa melakukan berbagai cara untuk mendapatkan keinginan mu."


Tanpa menanggapi perkataan dari suaminya, Rina langsung berlutut di hadapan Damar dan membuka celana suaminya.


Sang nyonya melakukan oral terhadap suami barunya itu, laki-laki yang memiliki keinginan berbeda.


Damar akan lebih terpuaskan jika istrinya atau teman tidurnya, melakukan oral terhadapnya.


Sang nyonya melakukan apa yang diperintahkan oleh suaminya, jika ingin mendapatkan apa yang di inginkan olehnya.


**** menjadi kesepakatan bersama, dan saling membuat kesepakatan untuk kepuasan masing-masing bagi pemegang kendali.**


"bangun mas, sudah siang ini. mas harus berangkat ke kantor."


Damar yang baru bangun tidur, langsung meminta jatah kepada istrinya yaitu sang nyonya Rina.


Tapi di tolak oleh Rina sebelum mendapatkan apa yang di inginkan Nya.


Kini sang suami sudah berangkat ke kantor, dan sebelum berangkat ke kantor sang istri sudah membekalinya dengan sekenario yang akan dilaksanakan.


"saatnya menghubungi Fahar."


Ucap Rina yang berbicara sendiri, tapi telpon darinya tidak dijawab oleh Fahar.


Alhasil dia pun mengirimkan pesan ke Fahar, untuk menyuruh nya membawa Marisa ke Klinik untuk melakukan USG terhadap kandungan Marisa.


"iah...... yes .... yes ..... yes ....."


teriak nyonya Rina kegirangan, karena Senin depan anak babu itu akan USG dan ditemani olehnya.


Ini menjadi kesempatan baginya, dan pesan tersebut langsung di kirimkan nya kepada Damar, agar bisa bertindak.

__ADS_1


"hello.... hello...."


Terdengar suara dari arah ruang tamu, tapi ekspresi sang nyonya terlihat tidak begitu baik.


"ngapain sih anak hedon itu datang kemari?"


Ucap nyonya Rina yang ngedumel ketika mendengarkan suara yang tidak lain adalah suara Lisa.


"ngapain? mintak uang lagi?"


"ngak usah pura-pura ngak tahu dong, kok ngak transfer lagi ya? mau tidak mau harus saya datangi kemari."


"kamu itu anak haram, dan saya ngak layak memberikan apapun."


"mau tersebar aib mu itu?"


"apanya yang sebar? laptop dan handphone mu sudah hilang, begitu juga dengan flashdisk itu. apa yang kamu anggarkan sekarang?"


Wajah Lisa terlihat penuh amarah, kaki nya yang belum pulih seutuhnya membuat semakin tidak berdaya, apalagi senjatanya yaitu aib sang mama tiri tidak lagi ada ditangannya.


"tunggu pembalasan Ku ya, akan ku buat kau menderita."


"sebelum kamu melakukan, aku yang terlebih dahulu melakukannya. dasar anak hedon, ******."


Lisa meninggalkan mama tirinya itu, dia tidak menyangka akan apes saat berhadapan seperti ini.


"haaaaaaaa....


satu bocah pengacau sudah aman, sekarang tinggal si anak babu. kita lihat aja siapa yang akan menang."


Ucap Nyonya Rina yang berbicara dengan dirinya sendiri.


"butuh ke salon nih, walaupun tabungan sudah sekarat tapi harus tetap modis."


Ucap Rina lagi, lalu meraih tasnya dan berlalu menggunakan mobilnya.


"permisi Bu, kami mengambil mobil milik ibu ini, karena perintah dari pak Fahar."


Bu Rina sebenarnya sembunyi agar mobilnya tidak disita oleh orang-orang suruhan Fahar, tapi dia kepergok di rumah sendiri.


Alhasil mobil yang biasa dipakainya kini harus disita.


Berulangkali dia memberontak, tapi kekuatan tidak sebanding dengan ketiga orang-orang suruhan dari Fahar.


Percuma teriak maling, karena buku hitam mobil tersebut ada ditangan orang-orang suruhan Fahar.


Mobil tersebut atas nama perusahaan sehingga sang nyonya Rina tidak bisa mengelak lagi.


Orang-orang suruhan Fahar akhirnya berhasil membawa mobil tersebut, dan sang nyonya besar hanya gigit jari melihat mobil kesayangan sudah di sita.

__ADS_1


__ADS_2