
Berbagai bujuk rayu yang di ucapkan Fernandes agar bisa mengajak Marisa untuk datang ke rumahnya.
Akhirnya Marisa setuju ke datang ke rumah Fernandes setelah pulang sekolah, dan waktu di tunggu-tunggu telah tiba.
Sebelumnya Marisa pamit ke mama untuk telat pulang karena ada jam pelajaran tambahan dan tugas kelompok yang di selesaikan Nya.
Dengan naik angkutan umum, Fernandes dan Marisa pulang ke rumah Fernandes.
Sesampainya di rumah, mama nya Fernandes menyambut mereka berdua dengan senyuman hangat.
"kebetulan sekali, tante sudah masuk makan enak. yuk makan siang dulu."
Mamanya Fernandes mengajak mereka berdua untuk makan siang, dan secara bersama-sama mereka menuju meja makan.
"loh Papa sudah pulang kerja?"
Fernandes bertanya kepada Papa nya yang sudah berada di meja makan.
"tetangga kita sebelah mau beli rumah, jadi Papa ke sini dan karena mama mu sudah masak makanan siang, ya sekalian aja papa singgah untuk makan."
"kebetulan sekali pah, ini Marisa teman ku pah. ingin melihat rumah karena tabungannya sudah cukup."
"sudah-sudah, kita makan siang ya, nanti aja itu dibahas."
Ucap mamanya Fernandes, yang mengakhiri obrolan anaknya dengan Papa Nya.**
Selesai makan, Papa nya Fernandes langsung menyodorkan brosur rumah yang menurutnya ideal dan Marisa begitu bersemangat.
Semua penjelasan dari Papa nya Fernandes di dengar dengan seksama, lantas Marisa memilih rumah yang tidak jauh dari rumah tempat tinggal Fernandes.
Berhubung waktu sudah menjelang sore, Fernandes memaksa Marisa untuk diantar pulang dengan mengunakan motor besar miliknya.
Sebelum sampai di rumah mewah milik tuan muda Fahar, mereka berdua terlebih dahulu singgah di rumah yang hendak dibeli Marisa.
Setelah puas barulah Fernandes mengantarkan gadis yang disukainya itu pulang.
Fernandes mendesak untuk mengantar Marisa sampai di halaman rumah mewah milik keluarga Wijaya itu.
Sebenarnya Marisa sudah bersikeras untuk menurunkannya di pintu gerbang masuk kompleks mewah tersebut, tapi karena desakan dari Fernandes akhirnya Marisa mengijinkan Nya.
Setelah berpamitan kepada Fernandes, lalu masuk melalui pintu belakang. pintu itu menjadi pintu masuk para asisten rumah tangga.
"siapa yang mengantarkan kamu pulang?"
Marisa begitu terkejut mendengar suara sang tuan muda yang bertanya kepadanya.
"anu tuan muda, itu temannya Marisa. teman satu kelas, tadi ada tugas kelompok dan karena sudah sore dan langsung di antar oleh teman Marisa."
Terlihat kekecewaan dari raut wajahnya sang tuan muda karena Marisa diantar oleh seorang pria.*
__ADS_1
Esok harinya di sekolah, Fernandes menemui gadis yang disukainya dengan membawa coklat kepada Nya.
"loh kok cemburut."
Marisa menghela nafas panjang nya dan kemudian menatap Fernandes.
"Mama tidak henti-hentinya ngomel, karena aduan dari sang tuan muda.
Tuan muda melihat kita kemarin, lalu mengadukannya kepada mama.
lalu mama menolak mentah-mentah penawaran rumah itu, padahal rumah itu adalah rumah impianku.
Jawab Marisa lalu menghela napas berat, dan tatapannya begitu lemas.
"ngapain sih si tuan muda itu ikut campur? emangnya apa hak dia melarang kamu?"
"entahlah, dia itu emang aneh. sulit untuk di mengerti."
Terlihat kekesalan dan kekecewaan Marisa kepada sang tuan muda.
"cabut yuk, kita jalan-jalan ke area taman. disana itu ada permainan yang seru."
Mungkin karena merasa kesal akhirnya Marisa setuju untuk cabut sekolah, mereka berdua berjalan ke arah belakang sekolah dan naik pagar.
"hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha
Ucap Marisa disela-sela tawa nya setelah berhasil melompat pagar tersebut.
Mereka berdua duduk di taman, layaknya sepasang kekasih yang sedang dimabuk kasmaran.
"Marisa, ini adalah formulir beasiswa ke Jepang. kita harus mempersiapkan diri kita mulai sekarang, aku ingin tetap bersamamu Marisa."
Terlihat Marisa tidak begitu lemas, sepertinya ada hal yang mengganjal di pikiran Nya.
"kenapa?"
Tatapan sayu mengarah ke arah Fernandes, dan kemudian tersenyum terpaksa.
"sebenarnya tanpa beasiswa pun Marisa sudah bisa kuliah di Jepang, tapi bagaimana dengan mama ya.
Karena hanya Marisa yang dimiliki oleh mama, ngak tega kalau harus meninggalkan mama sendirian."
"bisa kok kamu aja sekalian ke Jepang, aku meneliti kelompok atau masyarakat Indonesia yang tinggal di Tokyo negara Jepang yang hidup secara berkelompok.
Saat kita kuliah nanti, Tante kita titipkan ke kelompok itu, setelah kita pulang dari kampus baru kita jemput."
Ide terdengar sangat bagus, tapi Marisa masih ragu.
"bagus juga, tapi Marisa ngak yakin kalau mama bersedia meninggalkan rumah mewah itu, tapi nanti deh secara perlahan membujuk mama.
__ADS_1
oh iya, gimana dengan mu? apa om dan tante mengijinkan kamu kuliah ke Jepang?"
"tentunya dong Marisa, kakak ku kebetulan ada di Jepang sedang kuliah juga.
Tahun depan sudah harus balik ke Indonesia, karena kakak adalah beasiswa negara dan wajib bekerja di Indonesia, itu artinya kami gantian menjaga mama dan Papa.
Nanti kamu bujuk tante pelan-pelan ya, kalaupun, siapa tahu setuju."
Merasa bosan di taman lalu mereka ke bioskop, setelah membeli satu stell pakaian dan mereka begitu terlihat begitu bahagia.
Setelah selesai menonton lalu mereka berdua menuju sebuah Kafe dan memesan makanan dan minuman untuk mereka berdua.
"terimakasih ya karena kamu sudah begitu baik dan perduli kepadaku.
Jarang loh orang berteman dengan anak babu seperti saya ini."
"sama aja itu, Papa ku juga babu kok di perusahaan properti itu.
ngak usah minder lah, yang penting pekerjaan orang tua kita itu halal dan tidak menyusahkan orang lain."
hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha
Mereka berdua tertawa lepas, Fernandes begitu lama menatap wajah cantiknya Marisa yang penuh dengan kebahagiaan.
"Napa melihat aku seperti itu?"
Fernandes salah tingkah dan kemudian menutupnya dengan pura-pura tersenyum ke arah gadis yang dihadapannya.
"sudah saatnya pulang nih, yuk pulang."
Fernandes menyetujuinya dan mereka berdua langsung keluar dari kafe tersebut setelah membayar pesanan mereka.
Sebelum pulang, Marisa terlebih dahulu mengganti pakaiannya dengan pakaian sekolah Nya di toilet pusat perbelanjaan itu.
Kemudian mereka berdua bertemu di persimpangan toko di dalam pusat perbelanjaan itu.
"Marisa, kamu bolos sekolah ya? pasti gara-gara si kampret ini kan?."
Sang tuan muda Fahar, memorgoki Marisa yang sedang bolos sekolah.
Terlihat amarahnya begitu memuncak dan Marisa hanya bisa terdiam saat Fahar mengomel.
"Anda siapa melarang Marisa bolos sekolah?"
"diam kamu tuyul, saya tidak urusan dengan Mu.
Dengar ya, jangan kamu bawa merasa jalan sesat. sekali lagi kau buat seperti, habis kau."
Ancam sang tuan muda Fahar kepada Fernandes dan langsung memegang tangan Marisa dan membawanya pulang.
__ADS_1