
POV Fahar.*
Sean tidak menanggapi perkataan dari Fahar, karena menurutnya penyesalan itu hanya karena kebodohan dari Fahar saja.
drrrt.... drrrt.... drrrt....
Handphone yang digenggam oleh Sean bergetar, dikarenakan di hubungi oleh seorang.
Setelah beberapa saat kemudian Sean menatap Fahar dengan raut wajahnya yang kecewa.
"mereka tidak menemukan nya mas, tidak satupun diantara mereka yang melihat mbak Marisa."
Fahar menghela napas panjang setelah mendengar penuturan dari Sean, lalu mpok Nori datang dengan membawa kopi untuk Fahar dan teh untuk Sean.
"si neng keluar dari rumah mengenakan kerudung panjang dan baju longgar tuan muda, lalu memakai kacamata hitam serta menggunakan masker. dari pinggir jalan, si neng naik angkutan umum yang biasa ke sekolah nya."
Ucap mpok Nori sembari menyajikan kopi dan teh itu, lalu Fahar langsung meraih handphone dan mencek sisi TV.
Benar kata mpok Nori, setelah memutar kembali rekaman sisi TV. lalu Fahar screenshot tampilan layar dimana gambar Marisa terlihat jelas.
Kemudian mengirimkan hasil screenshot tersebut ke Sean.
Sean langsung beraksi dan mengirimkan gambar tersebut keberbagai kontak di WhatsApp nya.
Hampir setengah jam mereka berdiam diri di taman tersebut, dan kemudian panggilan telepon masuk ke handphone Sean.
Lagi-lagi hanya wajahnya terlihat kekecewaan dan kemudian menolah ke arah Fahar.
"mbak Marisa hanya pergi ke terminal dekat dari persimpangan jalan ke sekolah Nya, nama mbak Marisa tidak tertera menjadi penumpang.
Segitu jeli nya mbak Marisa untuk menghindari mu mas, mungkin karena mbak Marisa adalah seorang penulis komik yang populer.
Menurut Sean ya mas, kalau mbak Marisa itu masih ada di sekitar sini.
Tidak mungkin seorang wanita hamil bisa berjalan jauh."
ujar Sean, lalu Fahar menoleh nya. tiba-tiba saja dia teringat dengan flashdisk yang ditinggal oleh Marisa diatas secarik kertas diatas meja.
Tanpa bicara Fahar menarik tangan Sean dengan paksa, kemudian menoleh mpok Nori.
"Mpok Nori, tolong cari apapun barang peninggalan Marisa nanti bawa ke kamar Ku."
"baik tuan muda."
Jawab mpok Nori, lalu Fahar dan Sean menuju kamar Nya.
__ADS_1
Sesampai di kamarnya, Fahar langsung mengambil flashdisk dari kardus dan memberikannya kepada Sean.
"tolong buka flashdisk nya, dan mas akan mencari jejak Marisa di laptop ini."
Sean hanya mengangguk dan langsung menghidupkan laptop yang berada diatas meja rias Marisa, sementara Fahar mencoba menghidupkan komputer touchscreen yang biasa dipakai Marisa.
Komputer touchscreen tersebut adalah produk keluaran terbaru dengan kecepatan loading yang maksimal, setelah sistem operasi komputer berjalan. lalu Fahar mengakses folder.
"sial...
Marisa sudah menginstal ulang komputer ini, sepertinya Marisa benar-benar ingin menghindari Ku."
Ucapnya kepada Sean, lalu asisten nya itu yang sekaligus menjadi sahabat nya langsung mengambil alih.
"isi flashdisk ini adalah kejutan buat mas, biar Sean yang mencoba mengembalikan riwayat dari komputer itu."
Fahar memperhatikan dengan seksama file demi file dari flashdisk tersebut, dan tanpa terasa air matanya sudah mengalir di pipinya.
Tapi sepertinya Sean tidak memperdulikan nya, Sean masih fokus ke komputer touchscreen tersebut untuk membalikkan riwayat dari komputer touchscreen tersebut.
Sean berulang kali berdecak kesal dan juga berdecak kagum, terlihat dia sudah mulai kesal karena semua usahanya mengembalikan riwayat dari komputer touchscreen tersebut selalu gagal.
Terus mencoba dengan berbagai cara, dan sudah banyak metode dan cara dilakukan oleh Sean dan itu tidak berhasil juga.
Niat banget ni mbak Marisa untuk menghilangkan jejaknya, belajar dari mana sih mbak Marisa menghilangkan jejak di komputer?
mbak Marisa, mbak Marisa. mbak memang hebat, bisa mengalahkan Sean yang lulusan IT luar negeri."
Ucap Sean, tapi Fahar tidak menanggapi Nya. kemudian dia menatap Fahar yang sudah berderai air matanya.
"sabar ya mas, dengan adanya flashdisk ini. mas Fahar bisa mengambil hikmah dari ini semua."
"iya, kamu benar. kiriman ini ke pengacara kita dan buat perhitungan dengan orang-orang yang terlibat dalam video ini."
"baik mas, ntar biar aku telpon dulu Renta."
tok.... tok...
Mpok Nori datang ke dalam kamar Fahar dengan membawa Renta masuk, dan tangan Renta yang membawa berkas dan plastik kresek yang berwarna pink.
"maaf tuan, mpok tidak menemukan apapun dari kamar lama si neng."
"ngak apa-apa mpok, tolong mpok carikan barang-barang milik Marisa di lemari atau dimana pun itu."
"bentar ya tuan, mpok mau buatkan minuman dulu."
__ADS_1
Ucap mpok Nori lalu tangan nya di tahan oleh Renta.
"jadi benar kata perempuan gila pak? bu Marisa sudah pergi dari rumah ini hanya karena bayi yang kandungannya perempuan?"
Ucap Renta dengan lantangnya, dia seperti tidak terima karena Marisa sudah pergi.
"pak Fahar kok bego banget sih, percaya aja hasil USG.
Dengar ya pak Fahar yang terhormat, anak yang di kandung oleh bu Marisa itu adalah laki-laki."
Ujar Renta yang terlihat dari raut wajahnya penuh dengan amarah, baru kali ini dia berkata tidak sopan kepada Fahar atasnya di kantor tersebut.
"kenapa kamu begitu yakin kalau anak mbak Marisa itu laki-laki?"
Renta menatap tajam ke arah Sean, karena pertanyaan nya yang tiba-tiba dan seperti meragukan perkataan dari Renta.
"pak Sean, kakak ipar tiga, kakak kandung ku satu, serta sepupuku yang lainnya.
Sudah beberapa kali Renta melihat secara langsung bentuk fisik wanita hamil, dan perkiraan mengenai jenis kelamin dari bentuk fisik itu jauh lebih akurat ketimbang USG dokter.
Pak Fahar dan pak Sean, salon langganan saya yang kami datangi bersama bu Marisa, mereka juga berkata kalau anak yang dikandung oleh bu Marisa itu laki-laki.
pak Fahar, apakah dokter nya berkata. kalau hasil USG itu sudah akurat seratus persen?"
Wajah Fahar yang merah begitu dengan matanya, kemudian Fahar menoleh Renta kemudian menggelengkan kepalanya.
Berarti dokter yang didatangi bersama Marisa tidak berkata seratus persen, dan Renta menatap tajam ke arah Fahar.
Lalu Renta kemudian duduk di salah satu sofa di yang ada dalam kamar tersebut yang kemudian di ikuti oleh mpok Nori, kemudian Renta membuka plastik yang pink itu.
hizks.... Hizks.... Hizks.... Hizks....
Sambil melihat plastik kresek yang berwarna pink tersebut, Renta menangis seraya mengeluarkan isinya ke atas meja kecil tersebut.
Kemudian Renta berusaha menenangkan dirinya dan kemudian memperhatikan barang bawaan Nya.
"Renta sudah membeli ikat rambut dan juga jedai rambut untuk bu Marisa, karena rambut bu Marisa selalu urakan dan berantakan.
Itu karena pengaruh hormon dari anak laki-laki yang di kandung Nya."
Ucap Renta seraya menghapus air matanya, lalu kemudian dia berdiri sambil menenteng dokumen yang di tangannya.
"ini dokumen yang harus harus pak Fahar tandatangani, besok bawa ke kantor. Renta mau pulang, saya benar-benar kecewa melihat bapak. permisi."
Ucap Renta yang tiba-tiba meletakkan dokumen tersebut diatas meja lalu pergi dengan langkah nya yang cepat.
__ADS_1