
Jauh dari seberang sana ada seseorang yang ketakutan karena melakukan sebuah kesalahan yang fatal.
Fernandes sudah melarikan diri dari pulau itu dengan menaiki kapal nelayan menuju kota seberang.
Duduk di pinggir kapal nelayan dan memandangi luasnya lautan, tanpa terasa air matanya mengalir deras begitu saja.
"ini semua salah mu Marisa, kenapa kamu tidak menerima cintaku.
Aku berjuang untukmu dan si keparat itu yang memiliki mu."
Berbicara kepada dirinya sendiri karena merasa kecewa terhadap keputusan Marisa yang sudah menolaknya.
Teringat kembali di masa sekolah, masa Sekolah menengah kejuruan, atau SMK.
Dimana anak baru sedang di ospek oleh senior dengan game kebersamaan.
Saat itulah pertama kalinya Fernandes mengenal Marisa, gadis cantik nan manis.
Peralihan masa remaja ke fase dewasa, dan menimbulkan benih-benih cinta yang belum terbentuk sempurna.
Fernandes dan Marisa kala satu jurusan yaitu jurusan media Animasi, dan kebetulan satu kelompok untuk game kebersamaan.
Masa ospek telah berakhir dan saatnya memulai pelajaran baru.
"aduh mana ini pulpen Ku, perasaan sudah masuk semua tadi ke tas deh.
loh ini kan tas baru dari bapak, ya ampun lupa deh, tapi ngak apa-apa lah yang penting tas baru."
Ujar Marisa yang baru ingat kalau Ia memakai tas baru yang diberikan oleh majikannya yaitu almarhum papa nya Fahar.
Seperangkat alat sekolah di hadiahkan oleh Papanya Fahar, karena Marisa berhasil memberikan karya yang memukau kepada Papa nya Fahar, berupa karya komik.
"hei Marisa, kenapa?"
Fernandes bertanya kepada Marisa karena melihat gadis yang disukainya itu kebingungan.
"kotak pensil Ku ketinggalan."
"tenang, saya punya banyak pensil dan pulpen, nih silahkan pilih aja."
Fernandes memberikan pulpen dan pensil serta penghapus nya kepada Marisa, karena mereka membutuhkan benda-benda itu untuk belajar membuat karakter di kertas.
Itulah awal mulanya kedekatan mereka berdua, ketika pulang sekolah. Fernandes menawarkan kepada Marisa untuk mengantarnya pulang.
"emangnya kamu punya Surat ijin mengemudi?
ngak mau ah, nanti kita ditangkap polisi, lagi pula helem kamu cuman satu. nanti kalau ditangkap polisi dan itu menjadi beban mama ku, bersekolah disini Marisa sudah sangat-sangat bersyukur.
Marisa nggak mau membuat beban ke mama, aku bisa kok naik angkutan umum."
Marisa menolak tawaran tersebut, walaupun sedikit kecewa karena penolakan. karena Fernandes menyadari kesalahannya yaitu belum punya SIM (surat ijin mengemudi) dan hanya memiliki satu helem.
__ADS_1
"iya.... iya....
kok bego amat ya, masa cuman bawa satu helem aja?"
Fernandes berkata kepada diri sendiri lalu tersenyum ketika melihat Marisa naik angkutan umum, seperti teman-teman yang lainnya.**
Dua hari setelah penolakan tersebut, Fernandes kembali menawarkan tumpangan pada Marisa ketika pulang sekolah.
"Marisa......."
Teriak Fernandes memanggil gadis yang disukainya itu, dan panggilan tersebut dibalas senyuman oleh Marisa.
"Surat ijin mengemudi sudah ada, helem dua. yuk saya antar pulang."
"apa? kamu punya SIM (surat ijin mengemudi)?
Pasti kamu menyogok petugas kan? karena umur kita masih belum bisa menerima SIM Fernandes.
ngak ah...."
Lagi-lagi Marisa menolaknya dan kekecewaan terlihat dari pancaran sorot matanya.
Fernandes pulang sendirian dengan raut wajahnya yang kecewa.
"loh.... loh.....
kenapa wajah kyak ditekuk gitu?"
"iya ma, cewek yang Nandes sukai tidak mau aku antar, alasannya SIM ku itu tembak."
"apa kata mama, tapi ya. menurut mama itu gadis yang baik."
"loh kok mama malah mendukungnya?"
Fernandes dengan nama panggilan Nandes, merasa kecewa karena mama nya malah memihak kepada Marisa, gadis yang belum pernah ketemu dengan mama Nya.
"gadis itu secara tidak langsung menyuruh mu untuk tidak naik motor, karena usia mu sayang.
Kamu itu belum bisa menerima SIM, dan sebenarnya mama ngak setuju Nandes itu kesekolah naik motor.
tapi Papa mu itu tuh, kesal deh mama......
gini ya Nandes, mama ngak mendoakan kamu nabrak orang atau kendaraan lain.
jika seandainya itu terjadi, mama dan Papa yang repot, bisa-bisa di penjara karena mengijinkan kamu naik motor, padahal usia mu masih sangat muda."
Fernandes memeluk mamanya yang terlihat ngambek dan Fernandes berjanji tidak akan naik motor lagi.
"bawa dong gadis itu kemari, biar mama mengenal Nya."
Pinta mama nya, dan Fernandes hanya tersenyum menanggapinya.**
__ADS_1
Fernandes sudah tiba disekolah yang diantar oleh Papa nya, karena sekaligus mau kerja juga.
"selamat pagi Marisa."
Sapa Fernandes yang sudah duduk di kursinya dan senyuman Marisa membuat nya semakin bersemangat.
"selamat pagi juga, tumben cepat datang?"
"iya, tadi diantar Papa, karena tidak naik motor lagi, benar kata kamu. berbahaya mengendarai motor karena belum cukup umur."
jawab Fernandes seraya tersenyum, lalu mereka berdua bercengkrama dengan riang.
Hari demi hari kedekatan mereka semakin intens, tanpa di sadari banyak waktu bersama mereka jalani dan sudah naik kelas dua aja.
"bisa ngak aku ke rumah mu? pengen kenalan dengan tante."
Pinta Fernandes di sela-sela jam istrihat ketika mereka berada di kantin sekolah. Seketika Marisa terdiam, kemudian tersenyum kepada Fernandes.
"maaf ya Nandes, kalau rumah sendiri. ngak masalah, tapi aku dan mama numpang di rumah majikan kami.
Mama bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah tuan Wijaya. jadi, saya tidak bisa membawa mu ke sana."
"loh, bukannya kamu sudah punya uang banyak hasil dari menjual komik? kenapa ngak beli rumah aja?
Papa ku bekerja di properti, mau aku kenalin ke Papa?
ntar biar papa yang bantuin untuk beli rumah untuk kalian, mengurus semua administrasi nya dan memilih rumah yang tepat untuk kalian berdua. mau ya."
Marisa menghela napas panjang dan kemudian menatap Fernandes dengan tatapan nya yang sayu.
"Sejak Tuan Wijaya meninggal dunia, keadaan rumah semakin tidak terkendali dan banyak sekali kejadian yang janggal.
Hal itu membuat saya tidak nyaman, sudah beberapa aku membujuk mama untuk pindah rumah.
Sebelumnya itu juga saya sudah melihat dan belajar properti dari internet, ada beberapa rumah yang cocok dengan uang tabungan ku saat ini.
Lagi pula diantara rumah itu, ada bisa jadikan tempat jualan sembako atau apapun itu, karena letaknya strategis.
Tapi mama menolak untuk pindah, sebelum tuan muda Fahar Wijaya menikah.
Almarhum tuan Wijaya, memohon kepada mama, agar selalu stay di rumah sampai tuan muda Fahar menikah.
agak aneh, tapi mama hanya ingin menepati janjinya."
Mereka berdua terdiam lalu Fernandes memegang tangan Marisa.
"ngak apa-apa, nanti aku kenalkan kamu ke Papa ya, barangkali kamu tertarik memilih rumah Nya.
kalau tuan muda itu sudah menikah, kamu dan tante bisa langsung pindah."
Marisa hanya mengganguk setuju, dan bel berbunyi pertanda jam istirahat sudah berakhir dan bersama-sama mereka berdua masuk ke dalam kelas lagi.
__ADS_1