AIR MATA MARISA

AIR MATA MARISA
Arah Kaki Melangkah.


__ADS_3

Mas Fahar masih menatapku dengan tatapan aneh itu, dan kemudian mendekati Ku lagi. sebenarnya apa yang di inginkan oleh sang tuan muda ini.


"iya tuan muda, saya hanya sebentar disini. barang-barang saya tidak banyak kok.


lagi pula akan sakit bagiKu jika membawa banyak barang dalam keadaan hamil seperti ini, saya hanya membawa seperlunya aja."


Mas Fahar masih menatapku, dari mata berkaca-kaca kini tatapan seperti tatapan kecewa.


"mas punya sebuah vila di puncak, kamu tinggal aja disana ya. di vila itu ada asisten rumah tangga yang siap melayani mu.


Jika kamu sudah punya tujuan, barulah kamu pergi. mas tidak akan menggangu."


Ucap mas Fahar dan memberikan duplikat kunci villa tersebut, kunci tersebut aku terima dan kemudian tersenyum ke arah mas Fahar.


"terimakasih ya tuan muda."


Lalu mas Fahar pergi dan lagi-lagi pintu kamar dibantingnya, kali ini begitu kuat sampai membuat menangis lagi.


Sambil menangis dan barang-barang peninggalan mama aku susun, merasa sudah cukup dan tidak ada yang ketinggalan lagi.


Lemas rasanya dan aku hanya bisa terduduk lagi di kursi ini, lalu mengambil secarik kertas dan menuliskan salam perpisahan di kertas tersebut.


Hanya ucapan perpisahan yang bisa aku tuliskan di kertas ini, karena aku tidak sanggup untuk bertemu dengan mas Fahar lagi untuk sekedar pamit.


Tas yang aku bawa hanya satu koper kecil dan juga tas ransel yang biasa aku pakai ke sekolah.


Dalam tas ransel ini terdapat buku gambar dan laptop lama Ku, sementara laptop baru yang diberikan oleh mas Fahar aku tinggal di rumah ini.


Rumah benar-benar kosong dan perlahan aku melangkah keluar rumah, berjalan kaki menyusuri area komplek ini.


Setelah mencapai jalan umum dan angkot melintas, lalu naik angkot. berusaha untuk tegar agar tidak menangis, karena penumpang angkot ini lumayan banyak.


Angkot ini menuju sekolah Ku, dimana seharusnya aku tamat tapi gagal karena keadaan yang sulit untuk diceritakan ulang.


Sebelum sampai di depan sekolah, aku minta turun di persimpangan untuk mencari angkutan lagi.


Sudah Tiga kali berganti angkutan, dan Satu terminal besar lalu naik bus besar lagi ke suatu tempat dan akhirnya sampai disebuah terminal yang lebih besar lagi.


Terminal ini adalah angkutan antar provinsi dan aku memilih tempat duduk VIP.


Tiket tertera namaKu, Anisa Dwi Armandi. namaku yang sebenarnya yang terdaftar dalam akta kelahiran dan identitas diri ku yang berupa kartu tanda penduduk yang baru keluar.

__ADS_1


Sesuai dengan sepucuk surat dari almarhumah mama, nama Marisa adalah pemberian dari almarhum tuan Wijaya, papa dari mas Fahar.


Setelah sampai di terminal, kemudian turun lagi dan mencari terminal yang baru dan akhirnya aku naik bus antar provinsi yang baru dengan tujuan yang sama.


Berjam-jam sudah dalam bus antar provinsi ini, lalu penumpang yang baru masuk seorang wanita paru baya dan duduk disamping Ku.


"mau kemana neng?"


Tanya wanita paru baya seraya memperhatikan perut Ku yang buncit, lalu kemudian tersenyum ke arahku.


"pulang kampung Bu."


"kampung mu dimana? suami mu dimana? kok membiarkan kamu sendirian seperti ini?"


Tanya wanita paru baya itu lagi, dan terpaksa aku berbohong.


Suami meninggal dan aku di usir oleh ibu mertua, dan ternyata itu membuat menjadi simpatik.


Ternyata tujuan kami sama, dan akhirnya kami ngobrol dengan santai.


Empat hari tiga malam dalam perjalanan, akhirnya sampai juga di terminal. perjalanan selanjutnya adalah naik feri mengarungi lautan.


Karena terlalu lelah, aku memilih untuk beristirahat disebuah hotel kelas melati di kota ini.


Setelah mendapat kamar, dan langsung masuk kedalam kamar untuk istirahat sejenak.


Mandi lalu ganti pakaian, kemudian turun ke bawah dan bertanya ke resepsionis.


Laundry ekspres dan toko obat, itulah yang aku tanya kepada resepsionis tersebut.


Ternyata hotel kelas melati ini menyediakan jasa laundry juga, dan setelah memberikan pakaian kotor kepada petugas laundry, selanjutnya adalah ke toko obat.


Semua sudah aku dapatkan dan kembali ke hotel, beberapa jam kemudian jasa laundry mengantarkan pakaian Ku yang sudah bersih.


Pakaian sudah bersih, makan sudah dan minuman susu juga sudah. saatnya istirahat karena tubuh ini begitu letih.


Bukannya langsung tidur, lagi-lagi aku hanya bisa menangis dan menangis, sesak dan hati sangat perih.***


Seperti biasanya aku terbangun setengah enam pagi, lalu beres-beres dan kemudian mandi.


Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal dan semuanya tersusun rapi, kemudian keluar kamar hotel.

__ADS_1


Sambil cek out dan menunggu sampai jaminan dikembalikan, aku memilih sarapan yang disediakan oleh hotel.


Semuanya sudah beres dan tiket feri dengan dua tujuan tempat sudah aku booking sebelumnya.


Perjalanan yang cukup melahkan, melewati dua tempat dan dua kali naik feri. akhirnya sampai juga disebuah kota kecil yang indah.


Secarik kertas yang bertuliskan alamat, yang diberikan almarhumah mama sebelum pergi meninggalkan aku untuk selamanya.


Angkutan umum membawa Ku ke alamat tersebut dan ternyata itu adalah sebuah perumahan yang cukup asri.


Rumah nomor 7 blok C sudah ketemu, tidak mewah tapi terlihat cukup nyaman. saatnya melapor ke pak RT.


Lagi-lagi aku berbohong, seperti yang aku ucapkan ke wanita paru baya ketika di bus tersebut.


Karena merasa iba, pak RT memberikan bantuan berupa memanggil orang untuk membersihkan rumah peninggalan atok tersebut.


"Anisa Dwi Armandi adalah nama pemberian atok mu, atok disini adalah orang yang terhormat."


Ucap pak RT yang menemani Ku di teras rumah ini, dan akhirnya rumah ini berhasil dibersihkan dan sudah layak huni.


Luar biasa sekali, perlengkapan perabotan rumah masih lengkap dan itu adalah perabotan jaman dulu dengan kualitas terbaik.


"hanya kompor gas dan juga pompa air yang dibutuhkan. mau dibelikan juga jeng?"


Ucap istri pak RT dan mereka lagi-lagi membantu Ku untuk melengkapi nya, alhasil semua nya sudah lengkap.


Ternyata bukan hanya kompor dan gas yang dibelikan, berikut juga dengan segala kebutuhan makanan.


Warga disini begitu baik dan luar biasa, pertolongan nya begitu hebat dan membuat ku nyaman.


Setelah semua selesai barulah para warga pergi dari rumah ini, dan pertama-tama aku langsung masak untuk makan malam nanti.


Selesai masak lalu mandi dan kemudian istrihat, duduk di meja rias yang unik di kamar utama dan kemudian menyusun rencana untuk besok.


Mencoba merebahkan tubuh dan tiba-tiba saja aku sudah berada di suatu taman yang indah, dan aku melihat mama yang tersenyum.


Kaki ku rasanya sangat berat untuk melangkah, ingin rasanya untuk berlari dan memeluk mama.


Tapi apalah daya, kaki ini tidak bisa bergerak dan aku hanya bisa menatap mama yang tersenyum ke arahku.


Senyuman mama begitu indah, dan aku hanya bisa menangis melihat senyuman mama yang indah itu.

__ADS_1


__ADS_2