AIR MATA MARISA

AIR MATA MARISA
Kepergian Marisa.


__ADS_3

POV Fahar.**


Sudah menjelang pukul sebelas malam, Fahar mengendarai mobil mewah untuk pulang ke rumahnya.


Berhubung jalanan sudah tidak macet lagi, perjalanan ditempuh hanya dua puluh lima menit saja.


Sesampai di rumah dan langsung menuju kamar dan pandangan nya fokus ke meja rias Marisa, anak babu yang pernah menjadi istrinya.


Diatas meja tertera secarik kertas dan juga flashdisk serta kotak kardus, dengan mata yang berkaca-kaca. Fahar mengambil secarik kertas itu.


'terimakasih mas Fahar atas semua kebaikan mu dan juga kenangan yang sudah mas gores di hatiku.


Terimakasih karena sudah melepaskan Marisa, terimakasih atas perhatian mas untuk beberapa saat untuk Marisa.


Maafkan semua atas segala tutur kata atau tindakan yang salah dari Marisa.


Marisa mintak maaf mas, karena sudah lancang mengambil flashdisk dari Lisa, dan saya minta karena sudah membuka isi dari flashdisk tersebut.


isinya adalah tentang rahasia maminya mas Fahar dan juga keluarga Nya, mudah-mudahan flashdisk bisa berguna untuk mas Fahar.


Mengenai isi dari flashdisk ini, hanya Marisa, Lisa dan nyonya yang tahu isinya. sumpah demi apapun, Marisa tidak menyebarkan Nya.


Sekali lagi saya minta maaf maaf mas, karena tidak menerima pemberian dari mas Fahar.


Jika Marisa menerima Nya, itu artinya akan membuat luka yang lebih dalam untuk diriku mas.


Maaf karena menolak pemberian mu, semua pemberian dari mas Fahar. aku letakkan dalam kardus diatas meja ini.


Saya berharap kalau mas Fahar menepati isi perjanjian pranikah dan juga isi perjanjian yang baru kita tandatangani.


Kalau mas Fahar tidak akan menuntut anak yang Marisa kandung ini, hanya anak ini yang aku miliki saat ini.


Jika kelak nanti kita bertemu, anggap aja Marisa adalah orang lain.


Mas Fahar tidak perlu khawatir tentang Marisa, seperti yang pernah Marisa ucapkan. menderita adalah hal yang biasa bagiKu.


Maaf segala kesalahan Ku, seorang anak babu tidak akan pernah pantas menerima cinta dari pria sempurna seperti mas Fahar.


Semoga pernikahan mas Fahar dengan non Fika berbahagia kelak nantinya.


Dari Marisa.'


Seketika air mata Fahar langsung air matanya mengalir di pipinya, sampai terisak-isak dan terduduk lemas di kursi yang biasa di duduki oleh Marisa.


Perlahan Fahar membuka kardus tersebut, kunci vila, yang diberikan oleh Fahar kepada Marisa.

__ADS_1


Satu set perhiasan yang diberikan saat itu, uang panjar senilai dua ratus juta Rupiah.


Lalu Fahar melihat lemari pakaian Marisa, ternyata pakaian itu tidak yang berkurang. air mata Fahar semakin deras mengalir.


Laptop yang biasa dipakai Marisa juga masih ada diatas meja, tidak ada satu pun benda yang hilang dari kamar mewah itu.


Dalam keadaan rapi dan bersih, Marisa hanya membawa pakaian lamanya dan laptop lamanya.


Semua rapi dan bersih tanpa ada yang hilang, kamar sepi dan air mata Fahar semakin deras mengalir.


"Marisa, kenapa kamu ngak ngerti?"


Ucap Fahar kepada dirinya sendiri, lalu Fahar berteriak memanggil nama Marisa.**


"mas.... mas Fahar, bangun mas.?"


Perlahan Fahar membuka matanya, dikiranya Marisa yang manggil namanya, ternyata itu adalah Sean asisten pribadi Fahar.


"Marisa kemana?"


Fahar bertanya kepada Sean, lalu bangkit dan akhirnya terduduk, dan kemudian dia menolah ke arah asistennya itu.


"tadi malam mpok Nori menghubungi Sean mas, katanya mas teriak-teriak di kamar ini. lalu mas pingsan dan itu sudah berjam-jam, sekarang sudah jam sepuluh pagi."


"mana Marisa?"


"sudah mas usir dari rumah ini, mas ngak udah pura-pura ngak tahu ya. mas sendiri yang melakukan Nya."


"ngak, aku menyuruh Marisa untuk tinggal di villa untuk sementara waktu. aku ngak mengusir Marisa, dia itu Istriku, tidak mungkin mas mengusir istriku sendiri."


Lagi-lagi Sean menarik napas panjang Nya dan sorot matanya yang kesal terhadap Fahar.


"mas maunya sekarang apa? mau aku Carikan mbak Marisa? sudah Sean lakukan mas. itu sudah Sean lakukan mas.


Penerbangan, terminal kecil dan juga terminal besar. tidak ada yang bernama mbak Marisa disana.


Jejak mbak Marisa seperti dihapus oleh air hujan, dan sampai saat belum ada kabar dari pencarian yang Sean sebarkan mas.


Mas kenapa sih bertindak ceroboh seperti ini? apa yang sebenarnya mas rencanakan?"


Fahar terdiam dan tidak menanggapi perkataan dan pernyataan dari Sean, dia seperti patung yang tidak bernyawa di ranjang tersebut.


"Sean sudah membaca perjanjian itu mas, dan itu benar-benar menyakitkan.


Jika seandainya aku menjadi menjadi mbak Marisa, sudah jelas dan tentunya aku melarikan diri dari hidup mas Fahar yang kejam itu.

__ADS_1


mbak Marisa seperti budak yang akan menjadi pabrik anak bagimu, dan betapa hina nya seorang perempuan di mata mu mas.


Hanya karena hasil USG yang tidak akurat dan langsung memutuskan bahwa anak yang di kandung mbak Marisa perempuan, lalu mas mengusirnya layaknya seperti perempuan yang menderita penyakit menular.


Sean mendukung mbak Marisa untuk pergi dari hidup mu mas, karena mbak Marisa pasti terluka hatinya.


Iya memang, mbak Marisa itu anak pembantu mas, mbak Marisa juga pastinya tidak ingin menjadi istri mu.


Setelah mas perkosa, lalu mas usir. mas benar-benar biadab."


Ujar Sean lalu dia menyeka air matanya yang mengalir di pipinya, lalu bangkit berdiri dari pinggir ranjang tersebut.


"Sean, tolong jangan tinggalkan aku sendirian. aku memang salah, tapi jangan tinggalkan Aku."


"walaupun kamu sahabat Ku yang paling berengsek dan aku tidak akan meninggalkan mu dalam keadaan seperti ini.


Hanya ingin keluar aja, sesak rasanya berada di kamar ini."


Sean lalu keluar dan di ikuti oleh Fahar dari belakang, dan mereka berdua menuju taman rumah.


"aku pikir Marisa akan ke villa."


Sean menatap Fahar dan kemudian tersenyum kecut.


"mungkin sudah terlalu sakit hatinya mas, takutnya mas Fahar akan terus-menerus memperlakukan mbak Marisa sebagai budak."


"apa kamu sudah menghubungi nomor handphone Nya?"


Sindiran dari Sean dijawab oleh Fahar dengan pertanyaan.


"ngak aktif mas, tapi Sean sudah meminta orang-orang kita untuk melacak handphone nya mbak Marisa.


Mas, jika seandainya mbak Marisa kita temukan. apa yang akan mas lakukan?"


"aku akan membujuk untuk menikah kembali dengan Ku, dan menjelaskan semua tentang rencana kepadanya.


Saya tidak perduli apapun jenis kelamin dari yang dikandung oleh Marisa."


"lalu kenapa baru sekarang mas mengatakan nya?"


"aku kira Marisa dapat memahami Ku, aku menganggapnya sudah paham. ternyata dia salah menafsirkan apa yang ada dalam pikiranku."


"hadehhh mas.... mas.....


mas pikir mbak Marisa itu dukun, yang mengetahui segala hal yang dalam pikiran mas itu."

__ADS_1


Untuk kesekian kalinya, Sean menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan dengan kasar.


Sean kemudian menatap Fahar dan hanya bisa geleng-geleng kepala.


__ADS_2