AIR MATA MARISA

AIR MATA MARISA
Lega.


__ADS_3

Mbak Nining memelukKu seraya mintak maaf karena melihat air mataku yang mengalir di pipiku.


"jika kamu ngak sanggup cerita atau ngak mau cerita, ngak apa-apa. mbak janji ngak akan bertanya lagi.


maafkan mbak ya."


Agar bisa membuat mbak Nining merasa tidak bersalah, aku tersenyum sembari memegang tangannya.


"Nisa jago kan mengarang cerita, bahkan mbak, ibu dan seluruh warga disini percaya dengan cerita karangan Anisa."


Mbak Nining melepaskan tangannya Nya, kemudian menatapku dengan Kebingungan.


"iya, kamu jago mengarang. lihat tuh fans mu, mereka begitu terhanyut dengan semua alur cerita Mu."


Sanggahan dari mbak Nining, aku balas dengan senyuman.


"dugaan mbak Nining ngak salah, aku yang terlalu jago mengarang cerita.


Fahar Wijaya adalah ayah dari Elfata, mbak ngak salah dengar dan itulah kenyataannya."


Mbak Nining menutup mulutnya, agar tidak mengeluarkan suara. beliau begitu terkejut mendengar pengakuan Ku.


"Almarhumah mama adalah asisten rumah tangga di rumah mewah keluarga Wijaya, bersama mama, kami tinggal di rumah mewah tersebut.


sekitar dua tahun yang lalu, ketika Anisa kelas tiga SMK.


Anisa sudah selesai mengikuti ujian simulasi disekolah, dan akhirnya kami diberikan libur masa tenggang waktu untuk menghadapi ujian nasional.


Hari libur kedua, setelah selesai mencuci piring di dapur dan mama akan pergi belanja bulanan rumah mewah tersebut.


Lalu Anisa ke kamar untuk belajar, dan tiba-tiba saja Fahar Wijaya mendatangi Ku kedalam kamar.


Kemudian Fahar mengunci pintu dan memperkosa Ku sebanyak dua kali, lalu dia tersenyum ketika melihat bercak darah di spray.


Tidak seorangpun yang berani melerai Nya, kekuatan yang tidak sebanding dengan Fahar yang membuat ku harus merelakan kegadisanku di rampas olehnya."


Berat rasanya menceritakan ulang tentang kisah ini, sesak dan menyayat hati.


Mbak Nining memberikan air minum untuk Ku, dan berusaha menenangkan Ku.


"anak-anak kapan pulang nya mbak? kok lama?"


Tiba-tiba saja aku teringat dengan anak-anak karena ini sudah jam sepuluh lewat.

__ADS_1


"ibu loh yang jemput, pasti mereka berdua merayu oma nya untuk melakukan sesuatu atau bermain atau apalah itu.


Mereka bertiga akan pulang jika sudah kelaparan, kamu kaya ngak tahu aja deh."


Lagi-lagi aku hanya tersenyum menanggapi, memang seperti itulah. ketika kedua bocil itu bersama oma Nya, pasti mereka akan lama pulang.


"Anisa di kurang di dalam kamar, sampai ada kepastian tentang perubahan tubuh ku, apakah aku hamil atau tidak.


Jika tidak hamil, maka kami berdua akan di usir. dan jika hamil maka Fahar akan menikahi Ku.


Jika tidak hamil, maka Fahar akan memberikan kompensasi sebesar satu milyar Rupiah.


seketika itu juga Fahar langsung mentransfer uang muka ke rekening mama, senilai dua ratus juta Rupiah.


Hari berganti hari, akhirnya aku dinyatakan hamil.


Fahar langsung menikahi Ku, dan mama jatuh sakit.


Mama merasa bersalah karena telah menolak permintaan Ku, dulu aku mengajak mama pindah dari rumah mewah itu.


tapi mama sudah berjanji kepada Papa nya Fahar, akan terus di rumah itu hingga Fahar menikah.


Mama tidak sanggup melihat penderitaan Ku disana, ibu mertuaku itu sangat kejam, demikian juga dengan Fahar.


Tentunya dengan kompensasi sebagai bekal hidup, dan jika anakku laki-laki maka Fahar akan mempertahankan Ku.


Fahar akan segera menikah dengan tunangannya yang bernama Fika, karena kesepakatan bisnis.


Fika itu tidak mau melahirkan, dan jadinya saya akan menjadi ibu dari anak-anak mereka kelak Nantinya.


Entah apa yang terjadi, USG kehamilan di percepat. lalu penentuan apakah anak yang aku kandung perempuan atau laki-laki.


Lalu dokter kandungan pilihan mama nya mengatakan kalau anak yang aku kandung adalah perempuan.


tapi jauh sebelum itu, sekretaris Fahar dan orang-orang disekitar ku saat itu mengatakan kalau anak yang aku kandung adalah laki-laki.


Mereka hanya melihat dari bentuk kehamilan, kemudian diriku yang tiba-tiba menjadi dekil dan malas bersolek.


Menurut sekretaris Fahar, anak saya laki-laki. karena dua kakak iparnya serta dari kakak kandungnya, hampir sama seperti fisik Ku.


Sehingga sekretaris itu yakin kalau anak yang kandung adalah laki-laki, demikian juga beberapa orang wanita yang sudah punya anak dan yang sudah memiliki cucu.


Singkat cerita Anisa diceraikan, lalu disuruh untuk segera meninggalkan rumah mewah itu.

__ADS_1


apapun pemberian Fahar, saya tinggalkan. karena Anisa tidak menginginkan itu semua.


Anisa Dwi Armandi adalah nama pemberian almarhum mama, sementara Marisa adalah nama pemberian ayahnya Fahar.


nama Anisa Dwi Armandi, tidak ada yang mengetahui Nya. itu nama yang saya pakai sekarang.


Ijasah SD dan SMP di nyatakan bahwa Marisa adalah orang yang sama dengan Anisa Dwi Armandi.


Tapi ijasah itu saya bakar, agar tidak meninggal jejak.


Alamat rumah Anisa tahu, karena peninggalan almarhumah mama."


Lega rasanya ketika menceritakan semua hal ini, dan terasa puas ketika bisa curhat kepada orang yang benar-benar aku percayai.


"Anisa tidak ingin bertemu lagi dengan Fahar, karena sakit di hati yang membuat seperti tersayat-sayat.


jenazah almarhumah mama tidak bisa singgah di rumah mewah itu, dari rumah sakit langsung ke liang lahat.


Anisa tetap lah anak pembantu bagi Fahar, yang nantinya akan menjadi pabrik anak untuk Nya. untuk menghasilkan anak bagi mereka kelak nanti, untuk penerus keluarga Wijaya itu.


maaf ya mbak, bukan bermaksud untuk membohongi mbak dan ibu, hanya aku yang tidak sanggup untuk menceritakan Nya.


Terlalu sakit dan perih, bagiku Fahar sudah meninggal dan benar-benar meninggal dari hari ini."


"ngak apa-apa, kamu tenang ya, terkadang ada hal yang tidak perlu orang lain ketahui. kamu sudah mengambil jalan yang tepat dan benar.


Kamu wanita yang hebat, mbak benar-benar salut terhadap Mu. kamu kuat dan luar biasa, kamu adalah inspirasi Ku, dan berkat mu, mbak bisa bertahan sampai sekarang.


mbak juga berterimakasih kepada mu, kamu benar-benar membuat tegar dan mengganggap Ku sebagai mbak mu.


Keluarga mbak hidup dengan layak, atas kebaikan Mu."


Lagi-lagi kami berpelukan dan saling menguatkan.


Rasanya benar-benar lega, ternyata curhat bisa melegakan hati yang rapuh.


Kekuatan baru yang aku peroleh dari keluarga Ku ini, penguat hidupku dan semangat diriku.


Tiada henti-hentinya berterimakasih dan mengucap syukur atas semua hikmah yang aku terima saat ini.


Ekonomi yang mempuni, keluarga yang peduli dan anak Ku yang sehat dan pintar.


Semua karena berkat dari Tuhan yang melimpah untukku dan keluarga ku.

__ADS_1


__ADS_2