
Fahar masih berdiri saat melihat ku beres-beres dan kemudian memegang tangan Ku.
"jika kamu membutuhkan apapun yang menyangkut nyawa Elfata, tolong hubungi Aku. biar bagaimanapun Elfata adalah anakku dan saya siap melakukan apa saja untuknya.
Elfata lebih memilih Mu, oleh karena itu. saya merelakan Elfata pergi bersama Mu."
Lalu tangan itu aku tepis dan kemudian menatap ke arah matanya.
"iya....
hanya kita bercerai dan tidak akan pernah bersatu lagi.
Walaupun cermin yang retak di lebur kembali, tapi nyata tidak menjamin untuk tidak retak lalu pecah lagi.
Cermin ya cermin, dan sangat sensitif jika terkena benturan.
Kalau tidak pecah ya retak, tapi kali ini cermin itu sudah pecah hingga berkeping-keping.
Elfata juga anak mu, saya tidak akan menghalangi mu untuk bertemu dengan Elfata, tapi bukan untuk engkau milikku."
"bisakah besok pagi kalian berangkat? saya ingin bersama Elfata malam ini."
"tidak pellu, Elfata sudah sangat membenci mu."
Ujar Elfata yang berdiri di depan pintu untuk mengajak Ku pergi dari rumah mewah ini.
"maaf ayah, Elfata dan bunda. tidak cocok tinggal di lumah mewah ini.
Kami beldua mohon pamit, untuk kembali ke lumah kami yang lama.
lumah yang nyaman buat kami beldua, semoga ayah belbahagia dengan pelempuan itu."
Terlihat air mata Fahar menetes di pipinya karena ucapan yang haru dari anaknya, dan ketika hendak memeluk Elfata tapi anaknya malah menghindar.
Kemudian kami pun berangkat dengan menggunakan taksi online ke bandara, dan Elfata tersenyum kepadaku.
"maafkan bunda ya sayang, bunda pikir kita akan bahagia jika bersama ayah mu."
"ngak apa-apa bunda, namanya juga mencoba. setidaknya kita beldua sudah mengetahui sifat ayah yang sebenalnya.
Elfata memilih bunda, kalna bunda mengajali Elfata untuk menjadi plia yang sejati.
bunda segalanya bagi Elfata, dan tidak membialkan bunda menangis lagi."
Ucapan dari Elfata membuat hatiku begitu tenang dan nyaman, tidak penyesalan sedikitpun dengan semua keputusan ini.
__ADS_1
Perceraian yang kedua kalinya dengan pria yang sama dan ini adalah jalan yang tepat, asal aku bersama Elfata anakku yang tampan.
Elfata sudah lebih dari segalanya, aku tidak memerlukan pria lain.**
Perjalanan yang cukup melelahkan dan akhirnya kami sampai juga di rumah yang membuat kami nyaman.
Kami mendapati rumah dalam keadaan bersih dan itu tentunya karena mpok Inam yang selalu membersihkan nya.
"inilah alasannya kenapa ibu melarang mu untuk menjual rumah ini, karena sebenarnya ibu tidak yakin dengan nak Fahar.
Tapi apa salahnya mencoba demi anak, tapi ternyata salah dan kita kembali ke rumah kita yang nyaman ini."
Ucap bu Margona dan aku hanya bisa memeluk nya, anak-anak yang sudah terbangun malah ikut berpelukan dengan kami.**
Mungkin karena kelelahan dan kami semua terbangun kesiangan, dan kami dibangunkan karena aroma masakan mpok Inam.
"yuk kita sarapan, uhmmm......
lebih tepatnya makan siang sih. selamat datang kembali, mpok kangen sama kalian semua."
Masih bau ngences dan kami semua berpelukan dengan erat.
Kami dipertemukan kembali Dengan keluarga yang begitu mencintai kami.
"mpok merasa kesepian setalah kalian meninggalkan mpok. tapi jika datang ke rumah dan rasa kesepian dan kangen terobati sejenak."
Ujarnya dan hal itu membuat rasa haru yang memenuhi ruang makan ini, Elfata dan Bani langsung memeluk mpok Inam secara bergantian.**
Selesai makan dan bercengkrama, aku dan mbak Nining kembali melihat ruang kerja kami yang berhadapan langsung dengan kebun sayur.
Semuanya masih terjaga kebersihannya dan perlahan kami menghidupkan komputer.
"ya Tuhanku......"
Mbak Nining yang setengah berteriak dan hal membuat ku kaget, begitu dengan mpok Inam, bu Margona dan anak-anak.
Mereka semua langsung menghampiri kami berdua yang ada di ruang kerja ini, dan mpok Inam yang memegang teplon serta bu Margono yang memegang sapu.
Elfata yang memegang cangkul mini dan mas nya yaitu Bani yang memegang seroan kecil datang ke ruangan ini.
Mereka semua lengkap dengan senjatanya yang terlihat siaga untuk menolong kami berdua.
"bude kenapa? apa ada mengganggu?"
Wajah penasaran dari Elfata dan juga yang lainnya dan kami masih menunggu jawaban dari mbak Nining.
__ADS_1
"ini loh Elfata, empat karya bunda mu akan di adopsi menjadi serial film."
"ah....
mama gitu deh, buat kami kaget aja. kami kirain ada maling."
Terlihat Bani dan semuanya terlihat lega dan mbak Nining yang masih melompat-lompat kegirangan yang tiada berkesudahan.
"kalian ngapain bawa cangkul dan seraon gitu. kenapa ngak langsung mandi sayang?"
"Elfata dan mas Bani, kangen kebun sayul kita bunda. tapi kami berdua langsung kemali setelah mendengal suala teliakan dali bude.
Ntal lagi aja mandinya, setelah Oma selesai beles-beles."
Jawab Elfata dengan entengnya lalu menenteng kembali cangkul mini itu di pundaknya kemudian mereka semua pergi meninggalkan kami berdua di ruangan ini.
Mbak Nining masih tersenyum bahagia saat menatap Ku dan senyuman itu aku balas dengan senyuman terbaik dariKu.
"selamat ya Anisa, empat sekaligus karya emas mu di kontrak permanen alias dibeli oleh entertainment itu.
Sepertinya mbak akan lebih sibuk lagi, untung ada ibu mertua yang siap membantu kita ya."
"saya yang lebih bersyukur mbak, karena rejeki yang yang terus mengalir dan punya keluarga yang sangat mencintai Ku dan juga anakku.
Mbak Nining, ibu dan Bani. adalah harta yang ternilai harganya.
Mungkin aku sudah lama rapuh dan bisa jadi berkeping-keping tanpa kalian mbak.
Setelah kejadian waktu, sepertinya dunia ku sempat berhenti berputar. saat itu masih ada mama yang memberi semangat di kala keterpurukan.
Tapi semuanya menjadi sirna ketika mama pergi untuk selamanya, ingin rasanya berlari tapi kaki enggan untuk melangkah.
Semuanya gelap gulita dan tanpa arah jelas, mereka yang selalu menghakimi Ku dan membuat semakin terpuruk.
Sikap Fahar yang tiada menentu membuat Ku semakin ngak karuan, bingung, bimbang dan hampir gila rasanya.
Bertemu dengan ibu dan mbak, adalah suatu mukjizat bagiKu.
Ibarat menemukan emas dan berlian dalam kubangan lumpur yang hitam pekat.
Hidup dalam kesepian yang tiada berarah, lalu aku mengenal ibu dan mbak, yang akhirnya membuat hidup ku menjadi berarti."
Lagi dan lagi kami hanya berpelukan, setidaknya masih ada cahaya untukku. saat ini aku bersama Elfata dan keluarga Ku yang begitu mendukung Ku.
Elfata dan keluargaku saat ini, adalah harapan bagiku, harapan untuk maju dan terus melangkah maju.
__ADS_1